
SEPULUH MENIT KEMUDIAN George, Andrew, dan Billie berdiri di halaman, mengamati sementara seorang pelayan berjalan susah-payah ke arah mereka, menyeret set Pall Mall.
“Aku suka Pall Mall,” Billie mengumumkan, menggosok-gosokkan kedua tangan dalam udara sore yang dingin. “Ini ide brilian.”
“Ini idemu,” George mengingatkan.
“Tentu saja,” sahutnya riang. “Oh, lihat, itu dia Georgiana.”
George menaungi mata seraya melihat ke seberang halaman. Benar saja, Georgiana sedang menuntun Lady Alexandra ke arah mereka. Dan, kalau ia tidak salah, salah satu Berbrooke bersaudara.
“Terima kasih, William,” kata Billie saat si pelayan meletakkan set peralatan bermain.
Pelayan itu mengangguk. “Milady.”
“Tunggu sebentar,” kata Andrew. “Bukankah kita mematahkan salah satu palu pemukulnya tahun lalu?”
“Ayah membelikan set baru,” Billie memberitahu.
“Warna yang sama?”
Billie menggeleng. “Kami tidak memesan warna merah kali ini.”
George menoleh. “Kenapa tidak?”
“Well,” Billie mencoba mengelak, tampak sedikit malu-malu, “kita mengalami kesialan dengan warna merah. Bolanya terus berakhir di danau.”
“Dan menurutmu warna yang berbeda mungkin akan memperbaiki masalah itu?”
“Tidak, tapi aku berharap warna kuning akan lebih mudah ditemukan dari permukaan,” jawab Billie.
Beberapa saat kemudian, Georgiana dan kelompok kecil pemainnya tiba di tempat. George mengambil langkah naluriah ke arah Billie, tapi ia terlambat. Lady Alexandra sudah memegang lengan jasnya.
“Lord Kennard,” katanya. “Betapa menyenangkan bisa bermain Pall Mall. Terima kasih sudah mengundangku.”
“Sebenarnya itu undangan dari Miss Georgiana,” jawabnya.
Wanita itu tersenyum mengerti. “Atas perintahmu, aku yakin.”
Billie terlihat seperti akan muntah.
“Dan Letnan Rokesby,” Lady Alexandra melanjutkan, tangannya seperti cakar kecil yang memegang erat lengan George bahkan saat menoleh kepada Andrew. “Kita hampir tak mendapat kesempatan berbicara semalam.”
Andrew membungkuk dengan seluruh kesopanannya.
“Apa kau mengenal Lord Northwick?” tanya wanita itu.
George berusaha menangkap mata adiknya. Ini bukan jalan percakapan yang ingin mereka kejar.
Untungnya bagi mereka semua, si pelayan baru saja menarik penutup set Pall Mall, dan Billie mengambil alih dengan efisien.
“Ini dia,” katanya, menarik salah satu palu dari posisinya. “Andrew sudah menjanjikan warna hijau untuk Georgiana, jadi coba kita lihat, Mr. Berbrooke akan memakai warna biru, Lady Alexandra bisa memakai warna merah muda, aku kuning, Letnan Rokesby warna ungu, dan Lord Kennard warna hitam.”
“Bisakah aku mendapatkan warna ungu?” tanya Lady Alexandra.
Billie menatap Lady Alexandra seolah wanita itu minta Magna Carta direvisi.
“Aku suka warna ungu,” kata Lady Alexandra tenang.
Punggung Billie menegang. “Bicarakan dengan Letnan Rokesby. Tak ada bedanya untukku.”
Andrew memberi Billie tatapan penasaran, kemudian menawarkan palunya kepada Lady Alexandra sambil membungkuk sopan. “Sesuai keinginan sang lady…”
Lady Alexandra mengangguk anggun.
“Baiklah,” kata Billie sambil mendengus, “Georgiana warna hijau, Mr. Berbrooke warna biru, Letnan Rokesby merah muda, aku kuning, Lord Kennard hitam, dan Lady Alexandra”—dia memberi wanita itu lirikan tajam—”warna ungu.”
George mulai menyadari Billie benar-benar tidak menyukai Lady Alexandra.
“Aku belum pernah memainkan ini,” kata Mr. Berbrooke. Dia mengayunkan palunya beberapa kali, hampir menyambar kaki George. “Kelihatannya menyenangkan.”
“Benar,” sahut Billie pendek. “Peraturannya sangat sederhana. Orang pertama yang memukul bolanya melewati semua gawang dalam urutan yang benar menang.”
Lady Alexandra melihat ke kelompok gawang yang saat itu terpasang di set. “Bagaimana kita bisa tahu urutan yang benar?”
“Tanya saja aku,” kata Billie. “Atau Letnan Rokesby. Kami sudah memainkan ini jutaan kali.”
“Siapa dari kalian yang biasanya menang.” tanya Mr. Berbrooke.
“Aku,” mereka berdua menjawab.
“Tidak satu pun,” sahut George tegas. “Mereka jarang berhasil menyelesaikan sebuah permainan. Sebaiknya kalian semua berhati-hati dengan kaki kalian. Permainan ini mungkin akan berubah mematikan.”
“Aku tak sabar,” kata Georgiana, nyaris berdengung dengan kegembiraan. Dia menoleh kepada Lady Alexandra. “Kau juga harus memukul tiang di bagian akhir. Billie tidak menyinggung soal itu.”
“Dia suka melewatkan beberapa peraturan,” cetus Andrew. “Supaya dia bisa memberimu penalti saat kau menang.”
“Itu tidak benar!” protes Billie. “Paling tidak di setengah kali aku mengalahkanmu aku melakukannya tanpa bermain curang.”
“Kalau kau akan bermain Pall Mall lagi, aku akan meminta aturan permainan dibacakan lagi semuanya,” George memberi saran kepada Lady Alexandra. “Tak ada satu pun yang kau pelajari di sini yang bisa diaplikasikan.”
“Asal kau tahu, aku pernah bermain,” kata Lady Alexandra. “Lord Northwick punya satu set.”
Georgiana menoleh ke arahnya dengan wajah bingung. “Kukira Lord Northwick bertunangan dengan kakakmu.”
“Memang,” jawab Lady Alexandra.
“Oh. Kukira…” Georgiana berhenti sejenak, mulutnya terbuka selama satu atau dua detik sebelum akhirnya berkata, “Kau sering sekali membicarakannya.”
“Dia tidak memiliki saudara perempuan,” sahut Lady Alexandra datar. “Tentu saja, kami menjadi sangat dekat.”
“Aku punya saudara perempuan,” cetus Mr. Berbrooke.
Ini disambut dengan kebisuan sesaat, kemudian Georgiana berkata, “Menyenangkan sekali.”
“Nellie,” pria itu mengkonfirmasi. “Kependekan dari Eleanor. Dia sangat tinggi.”
Sepertinya tidak ada yang tahu harus berkata apa setelahnya.
“Well, kalau begitu,” Andrew memecah momen yang kini terasa kikuk. “Sudah waktunya memasang gawang-gawang.”
“Tidak bisakah pelayan yang melakukannya?” tanya Lady Alexandra.
Billie dan Andrew menoleh ke arahnya seolah wanita itu sudah gila.
George tak tega melihatnya, dan melangkah maju untuk bergumam, “Mereka sangat pemilih dalam peletakan gawang.”
Dagu Lady Alexandra terangkat sedikit. “Lord Northwick selalu mengatakan gawangnya harus dipasang berbentuk salib.”
“Lord Northwick tidak ada di sini,” sahut Billie ketus.
Lady Alexandra terkesiap.
“Well, memang tidak,” protes Billie, sambil melihat kepada pemain yang lain untuk penegasan.
__ADS_1
George menyipitkan mata, terjemahan visual atas rusuk yang disikut, dan Billie pasti menyadari dia melanggar batas-batas yang menggelikan, tapi tetap batas. Dia tuan rumah, dan dia harus bersikap seperti itu.
Tapi ini tetap mengagumkan untuk dilihat. Billie terlahir untuk bersaing, dan dia tak pernah dikenal sebagai orang sabar. Dan dia jelas tidak ingin mengikuti saran Lady Alexandra. Tetap saja, dia menegakkan bahu dan memasang senyum yang hampir terlihat ramah di wajahnya saat berbalik menghadapi tamunya.
“Kurasa kau akan menyukainya seperti ini,” katanya sopan. “Dan kalau tidak, kau bisa memberitahu Lord Northwick soal itu, kemudian kau akan tahu pasti bahwa susunan versinya lebih bagus.”
George mendengus.
Billie mengabaikannya.
“Gawang-gawangnya,” Andrew mengingatkan semua orang.
“George dan aku akan melakukannya,” kata Billie sambil menyambarnya dari tangan Andrew.
George menatapnya dengan sedikit puas. “Oh, kita akan melakukannya, ya?”
“Lord Kennard,” kata Billie dengan gigi dikertakkan, “apa kau mau berbaik hati membantuku memasang gawang-gawang ini?”
George melirik pergelangan kakinya yang terluka. “Maksudmu karena kau tidak bisa berjalan?”
Billie memberinya senyum yang terlalu manis. “Karena aku sangat menyukai kehadiranmu.”
George hampir tergelak.
“Andrew tidak bisa melakukannya, dan tak ada yang tahu harus dipasang di mana,” dia melanjutkan.
“Kalau kita bermain dengan bentuk salib,” kata Lady Alexandra kepada Mr. Berbrooke, “kita semua bisa memasang gawangnya.”
Mr. Berbrooke mengangguk.
“Kita akan memulai dari bagian tengah,” Lady Alexandra memberi instruksi, “kemudian bergerak ke cabang-cabangnya kemudian ke bagian altar.”
Mr. Berbrooke menunduk melihat palunya dan mengernyit bingung. “Tidak terlihat seperti permainan yang berbau gereja.”
“Bisa saja,” jawab Lady Alexandra.
“Tapi kami tidak mau,” tukas Billie tajam.
George menyambar lengan Billie. “Gawang-gawangnya,” katanya, menarik Billie pergi sebelum kedua wanita itu bertengkar.
“Aku benar-benar tidak menyukai wanita itu,” gerutu Billie begitu mereka keluar dari jarak pendengaran.
“Benarkah?” gumam George. “Aku tidak akan pernah mengira.”
“Bantu saja aku dengan gawangnya,” Billie berbelok menuju pohon ek besar di pinggir halaman. “Ikuti aku.”
George mengamati gadis itu berjalan beberapa langkah. Billie masih terpincang-pincang, tapi entah bagaimana terlihat berbeda. Lebih kikuk. “Apa kau melukai dirimu lagi?”
“Hmmm? Oh, itu.” Billie mengeluarkan dengusan jengkel. “Itu karena pelana menyamping.”
“Apa?”
Billie mengedikkan bahu. “Aku tak bisa menaikkan kakiku yang terkilir ke atas sanggurdi. Jadi aku harus menunggang kuda dengan pelana menyamping.”
“Dan kau harus berkuda karena…”
Billie menatapnya seolah George idiot. Dan George cukup yakin itu tidak benar.
“Billie, apa yang begitu penting sampai kau harus berkuda dengan pergelangan kaki yang terluka?” ia menyambar pergelangan tangan gadis itu sehingga gerakan mereka berdua terhenti.
“Karena barley,” jawab Billie pendek.
George pasti salah dengar. “Apa?”
“Seseorang harus memastikan tanaman itu ditanam dengan benar,” kata Billie, dengan tangkas melepaskan tangannya dari genggaman George.
Billie mengernyit. “Aku tidak tahu apa yang kau pikir kulakukan sepanjang hari saat tidak sedang terbang ke sana kemari di pesta-pesta di rumah, tapi aku orang yang sangat sibuk.” Sesuatu berubah dalam ekspresi di wajah Billie; sesuatu yang tidak bisa George kenali, kemudian gadis itu berkata, “Aku orang yang berguna.”
“Aku tak bisa membayangkan ada yang berpikir sebaliknya,” sahut George, meskipun ia merasa sebelumnya ia berpikir seperti itu, dan belum terlalu lama.
“Apa yang kalian berdua lakukan di sana?” teriak Andrew.
“Aku akan membunuhnya,” kata Billie dengan nada mendidih.
“Gawang-gawangnya,” kata George. “Katakan saja padaku di mana kau mau memasangnya.”
Billie memisahkan satu gawang dari yang lain dan mengulurkannya. “Di sana. Di bawah pohon. Tapi di atas akar. Pastikan kau memasangnya di atas akar. Kalau tidak akan terlalu mudah.”
George nyaris mengangkat tangan memberi hormat.
Saat ia kembali dari tugasnya, Billie sudah setengah jalan melintasi padang rumput, menusukkan gawang ke tempatnya. Gadis itu meninggalkan sisanya di tumpukan, jadi George membungkuk dan membawa semuanya.
Billie mendongak sambil menancapkan gawang kuat-kuat. “Apa masalahmu dengan Sir Reginald?”
George mengertakkan gigi. Seharusnya ia tahu ia tidak akan bisa meloloskan diri dengan mudah. “Tidak ada,” ia berbohong. “Aku hanya berpikir dia tidak akan menikmati permainan ini.”
Billie berdiri. “Kau tak tahu itu.”
“Dia menghabiskan waktu selama kompetisi memanah duduk di kursi di halaman dan mengeluh kepanasan.”
“Kau juga duduk-duduk saja.”
“Aku menikmati matahari.” Hari itu memang cerah, tapi George tidak akan memberitahu Billie alasan sebenarnya ia terjebak di kursinya.
“Baiklah,” Billie menyetujui, “Sir Reggie mungkin bukan kandidat terbaik untuk Pall Mall. Tapi aku masih berpendapat kita bisa memilih yang lebih baik daripada Lady Alexandra.”
“Aku setuju.”
“Dia—” Billie mengerjap. “Kau setuju?”
“Tentu saja. Kemarin aku harus menghabiskan waktu sepanjang malam berbicara dengannya, seperti yang kaukatakan dengan fasih.”
Billie terlihat seperti akan melemparkan kedua tangan ke atas dengan frustrasi. “Kalau begitu kenapa kau tidak mengatakan apa-apa saat Georgiana mengusulkan dia?”
“Dia tidak jahat, hanya menjengkelkan.”
Billie menggerutu pelan.
George tidak bisa menahan senyum geli yang melebar di wajahnya. “Kau benar-benar tidak menyukainya, ya?”
“Ya.”
George tertawa kecil.
“Hentikan itu.”
“Tertawa, maksudmu?”
Billie menusukkan gawang ke tanah. “Kau sama buruknya denganku. Orang akan mengira Sir Reggie telah berkhianat bila melihat caramu menanganinya.”
Menanganinya? George berkacak pinggang. “Itu sama sekali berbeda.”
Billie menengadah dari pekerjaannya. “Bagaimana bisa berbeda?”
__ADS_1
“Dia bodoh.”
Tawa Billie tersembur pendek. Suaranya tidak terdengar feminin, namun ketika tawa itu dilontarkan olehnya, terdengar memesona. Billie mencondongkan badan mendekati George, ekspresinya menantang. “Kurasa kau cemburu.”
Perut George bergolak. Tentunya Billie tidak menyadari… Tidak. Pikiran-pikiran yang ia miliki tentang gadis itu… kegilaan sesaat. Itu diakibatkan oleh kedekatan. Pasti karena itu. Ia telah menghabiskan lebih banyak waktu dengan Billie dalam minggu terakhir ini dibanding selama bertahun-tahun. “Jangan gila,” ia mencemooh.
“Entahlah,” goda Billie. “Semua wanita berkumpul di sisinya. Kau sendiri bilang dia memiliki senyum yang tampan.”
“Oh, kubilang ya?” tukas George sebelum menyadari ia tidak ingat persis apa yang ia katakan tadi. Untungnya, Billie sudah memotongnya.
“Satu-satunya wanita yang belum jatuh ke dalam sihirnya adalah Lady Alexandra yang termasyhur.” Billie menoleh ke belakang. “Mungkin karena dia terlalu sibuk berusaha mendapatkan perhatianmu.”
“Apa kau cemburu?” balas George.
“Yang benar saja,” ejek Billie, bergerak ke titik berikut.
George mengikuti, satu langkah di belakang. “Kau tidak bilang tidak…”
“Tidak,” jawab Billie dengan penekanan. “Tentu saja aku tidak cemburu. Sejujurnya kurasa pikiran perempuan itu sedikit terganggu.”
“Karena dia mencoba mendapatkan perhatianku?” George tidak tahan untuk bertanya.
Billie mengulurkan tangan dengan satu gawang lagi. “Tentu saja tidak. Mungkin itu hal paling masuk akal yang pernah dia lakukan.”
George berhenti sejenak. “Kenapa kedengarannya seperti hinaan?”
“Bukan,” Billie meyakinkan. “Aku tidak akan pernah bersikap begitu ambigu.”
“Tidak, itu benar,” gumam George. “Kau menghina dengan gamblang.”
Billie memutar bola mata sebelum kembali ke topik
Lady Alexandra. “Yang kumaksud adalah obsesinya dengan Lord Northwick. Pria itu bertunangan dengan kakaknya, demi Tuhan.”
“Ah, itu.”
“Ah, itu,” tiru Billie, sambil menusukkan gawang lain ke tanah. “Apa sih masalah perempuan itu?”
George diselamatkan dari keharusan menjawab oleh Andrew, yang meneriakkan nama mereka lagi, bersama peringatan berapi-api untuk bergegas.
Billie mendengus. “Aku tak percaya dia mengira bisa mengalahkanku dengan lengan yang patah.”
“Kau tentu sadar kalau kau menang—”
“Saat aku menang.”
“Kalau kau menang, kau akan tampak seperti juara paling buruk, mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain.”
Billie menatap George dengan mata lebar dan polos. “Aku sendiri hampir tak bisa berjalan.”
“Kau, Miss Bridgerton, memiliki pemahaman menguntungkan terhadap realita.”
Billie menyeringai. “Menguntungkan untukku, benar.”
George menggeleng, tersenyum meski tidak bermaksud melakukannya.
“Nah, sekarang,” Billie merendahkan suara meskipun tidak ada seorang pun berada dalam jarak pendengaran, “kau berada dalam timku, bukan?”
George menyipitkan mata. “Sejak kapan ada tim?”
“Sejak hari ini.” Billie mendekat. “Kita harus menghancurkan Andrew.”
“Kau mulai membuatku takut, Billie.”
“Jangan bodoh, kau sama kompetitifnya denganku.”
“Kau tahu, kurasa tidak.”
“Tentu saja begitu. Kau hanya menunjukkannya dengan berbeda.”
George berpikir mungkin gadis itu akan menjelaskan, tapi tentu saja tidak.
“Kau tidak menginginkan Andrew menang, kan?” tanya Billie.
“Aku tak yakin seberapa besar aku peduli.”
Billie terenyak.
George tertawa. ia tak bisa menahannya. Billie tampak begitu terhina. “Tidak, tentu saja aku tidak mau dia menang,” katanya. “Dia adikku. Tapi di saat bersamaan, aku tidak yakin aku merasa perlu menjalankan spionase demi memastikan hasilnya.”
Billie menatapnya dengan sorot mata berat dan kecewa.
“Oh, baiklah,” George menyerah. “Siapa anggota tim Andrew, kalau begitu?”
Wajah Billie langsung berubah cerah. “Tidak ada. Itu bagusnya. Dia tidak tahu kita sudah bersekutu.”
“Hal ini tidak mungkin akan berakhir dengan baik,” George mengatakannya kepada dunia.
Ia cukup yakin dunia tidak mendengarkan.
Billie meletakkan gawang terakhir ke tempatnya. “Aku meletakkan gawang yang satu ini dengan kejam,” dia memberitahu. “Kalau kau memukul terlalu jauh kau akan masuk ke semak mawar.”
“Aku akan mempertimbangkannya.”
“Silakan.” Billie tersenyum, dan napas George tercekat. Tidak ada yang tersenyum seperti Billie. Tidak ada. Ia mengetahuinya selama bertahun-tahun tapi… baru sekarang…
Ia mengutuk dirinya dalam hati. Ini pasti daya tarik paling merepotkan dalam sejarah manusia. Billie Bridgerton, demi Tuhan. Billie adalah segalanya yang George inginkan dalam wanita. Dia keras kepala, sembrono, dan kalau dia pernah memiliki saat misterius dan feminin dalam hidupnya, George belum pernah melihatnya.
Meskipun begitu…
Ia menelan ludah.
Ia menginginkan Billie. Ia menginginkannya seperti ia tak pernah menginginkan hal lain dalam hidupnya. Ia menginginkan senyum Billie, dan ia menginginkannya secara eksklusif. Ia menginginkan Billie dalam pelukannya, di bawah tubuhnya… karena entah bagaimana ia tahu di tempat tidurnya, Billie akan menjadi segalanya yang misterius dan feminin.
George juga tahu setiap aktivitas mengasyikkan ini bisa dilakukan dengan syarat ia menikahi Billie, dan ini sangat menggelikan sampai—
“Oh, demi Tuhan,” gumam Billie.
George tersentak dari pikirannya.
“Andrew menuju kemari,” katanya. “Tahan!” teriaknya. “Aku bersumpah,” katanya ke George, “dia sangat tidak sabaran.”
“Kata si—”
“Jangan bilang aku sama saja.” Billie mulai berjalan kembali ke awal rangkaian gawang. Sebisa mungkin; dia benar-benar terlihat konyol dengan jalan terpincangnya di dua bagian.
George menunggu sesaat, tersenyum ke arah punggung gadis itu. “Apa kau yakin kau tidak mau menggunakan palu hitam?”
“Aku membencimu!” seru gadis itu.
George tidak bisa menahan senyumnya. Itu pernyataan benci paling meriah yang pernah ia dengar.
“Aku juga membencimu,” gumamnya.
__ADS_1
Tapi ia juga tidak bersungguh-sungguh
JANGAN LUPA KAYA YANG BIASANYA!!