KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 6


__ADS_3

GEORGE MEMAKSA WAJAHNYA menampilkan ekspresi tenang. Ibunya bermaksud baik; selalu. Tapi dia wanita. Dia tak akan pernah bisa mengerti apa artinya berperang untuk raja dan negara. Dia tak akan bisa mengerti apa artinya tidak bisa melakukannya.


“Tidak penting apa yang kuinginkan,” geramnya. Ia menenggak brendinya banyak-banyak. Kemudian menenggaknya lagi. “Aku dibutuhkan di sini.”


“Dan karenanya aku bersyukur,” ibunya mengumumkan. Dia beralih ke ketiga wanita lain dengan senyum penuh tekad, tapi sorot matanya tampak terlalu cerah. “Aku tidak membutuhkan semua anak laki-lakiku pergi berperang. Kalau Tuhan bersedia, semua omong kosong ini akan selesai sebelum Nicholas cukup umur untuk masuk tentara.”


Awalnya tidak ada yang bicara. Suara Lady Manston terdengar sedikit terlalu keras, kata-katanya sedikit terlalu melengking. Itu salah satu momen kikuk ketika orang-orang tidak tahu harus berbuat apa untuk memecahkannya. George akhirnya menyesap minuman dan berkata dengan nada rendah, “Akan selalu ada omong kosong di antara laki-laki.”


Sepertinya itu melepaskan sedikit ketegangan di udara, dan tentu saja, Billie mendongak ke arahnya dengan dagu terangkat menantang. “Wanita akan melakukannya dengan lebih baik kalau kami diizinkan untuk memerintah.”


George membalas serangan Billie dengan senyum ramah. Gadis itu mencoba memancingnya. Ia menolak untuk menurut.


Tetapi ayah Billie memakan umpannya. “Aku yakin begitu,” sahutnya, dengan cukup nada menenangkan dalam suaranya untuk memberitahu semua orang dia tidak bersungguh-sungguh.


“Pasti lebih baik,” Billie berkeras. “Yang pasti akan ada lebih sedikit perang.”


“Aku harus setuju dengannya di sana,” Andrew mengangkat gelas ke arah Billie.


“Itu bisa diperdebatkan,” kata Lord Manston. “Kalau Tuhan ingin wanita memerintah dan berperang, Tuhan pasti membuat mereka cukup kuat untuk menghunus pedang dan senapan.”


“Aku bisa menembak,” kata Billie.


Lord Manston menoleh ke arahnya dan mengerjap. “Ya, mungkin kau bisa,” katanya, hampir seolah sedang memikirkan kejanggalan dalam ilmu sains.


“Billie menangkap rusa jantan musim dingin yang lalu,” kata Lord Bridgerton, mengedikkan bahu seolah ini kejadian normal.


“Benarkah?” tanya Andrew kagum. “Bagus sekali.”


Billie tersenyum. “Dagingnya lezat.”


“Aku tak percaya kau mengizinkan dia pergi berburu,” kata Lord Manston kepada Lord Bridgerton.


“Tidak ada yang bisa menghentikan Billie,” gumam George pelan. Ia berbalik tiba-tiba dan melintasi ruangan untuk mengambil minuman lagi.


Ada keheningan panjang. Keheningan yang menyesakkan. George memutuskan kali ini ia tidak peduli.


“Bagaimana kabar Nicholas?” tanya Lady Bridgerton. George tersenyum ke arah gelasnya. Wanita itu selalu tahu cara membelokkan percakapan dari topik sulit. Benar saja, senyum di depan publiknya yang sempurna terdengar dalam suaranya saat dia menambahkan, “Tingkahnya lebih baik daripada Edmund dan Hugo, aku yakin.”


“Aku yakin tidak,” balas Lady Manston sambil tertawa.


“Nicholas tidak akan—” Georgiana mulai berkata.


Tapi suara Billie muncul paling keras. “Sulit membayangkan ada orang yang dihukum lebih sering daripada Andrew.”


Andrew mengangkat sebelah tangan. “Aku yang memegang rekor.”


Mata Georgiana membelalak. “Di antara para Rokesby?”


“Di antara semua orang.”


“Itu tidak mungkin benar,” ejek Billie.


“Yakinlah, itu benar. Ada alasan mengapa aku keluar sekolah lebih awal, kau tahu. Menurutku kalau aku berkunjung ke sana, mereka tidak akan mengizinkanku melewati gerbang.”


Billie dengan senang hati menerima segelas anggur yang akhirnya dibawakan seorang pelayan kemudian mengangkatnya ke arah Andrew untuk memberi hormat skeptis. “Itu hanya menunjukkan sang kepala sekolah harus diberi tepuk tangan untuk akal sehatnya.”


“Andrew, berhenti melebih-lebihkan,” kata Lady Manston. Wanita itu memutar bola mata sambil menoleh lagi ke arah Lady Bridgerton. “Dia memang dikirim pulang dari Eton lebih dari sekali, tapi yakinlah, dia tidak diusir keluar.”


“Bukan karena kurang berusaha,” celetuk Billie.


George mengembuskan napas panjang dan berbalik ke arah jendela, mengarahkan pandangan ke dalam malam segelap tinta. Mungkin ia pria brengsek—pria brengsek yang kebetulan tidak pernah dikirim pulang dari Eton atau Cambridge—tapi ia benar-benar tidak ingin mendengar gurauan yang tak ada habisnya dari Andrew dan Billie.


Itu tidak pernah berubah. Billie akan mengucapkan sesuatu yang sangat pintar, kemudian Andrew akan bermain sebagai anak nakal, kemudian Billie akan mengucapkan sesuatu yang menjatuhkan, kemudian Andrew akan tertawa dan mengedip, kemudian semua orang akan tertawa dan mengedip, dan kejadiannya selalu, selalu, sama.


Dan ia begitu bosan dengan itu semua.


George melirik singkat ke arah Georgiana, yang duduk muram di salah satu kursi yang menurut pendapatnya paling tidak nyaman di rumah itu. Bagaimana mungkin tidak ada yang menyadari gadis itu tidak dilibatkan dalam percakapan? Billie dan Andrew menerangi ruangan dengan kecerdikan dan kegembiraan mereka, dan Georgiana malang tidak bisa ikut serta. Bukan berarti dia terlihat mencoba melakukannya, tapi pada umur empat belas tahun, bagaimana dia berharap bisa bersaing?


Tiba-tiba, George melintasi ruangan ke sisi gadis kecil itu dan membungkuk. “Aku melihat kucing itu,” ujarnya, kata-katanya menghilang ke dalam rambut merah jahe Georgiana. “Kucing itu melesat pergi ke dalam hutan.”


Kucing itu tidak melakukannya, tentu saja. George sama sekali tak tahu apa yang terjadi dengan kucing itu. Sesuatu yang melibatkan belerang dan amarah setan, kalau ada keadilan di dunia ini.


Georgiana tersentak, kemudian menoleh ke arah George dengan senyum lebar yang membingungkan karena kemiripannya dengan senyum kakaknya. “Benarkah? Oh, terima kasih karena memberitahuku.”


George menoleh ke arah Billie sambil menegakkan badan. Gadis itu mengamatinya dengan sorot tajam, menegurnya tanpa suara karena berbohong. George membalas ekspresi itu dengan sikap angkuh yang setara, alisnya yang terangkat nyaris menantang Billie untuk membuka kebohongannya.


Namun gadis itu tidak melakukannya. Sebaliknya dia mengabaikan George dengan kedikan sebelah bahu yang begitu samar sehingga tidak ada yang akan menyadarinya selain George. Kemudian dia menoleh kembali ke arah Andrew dengan pesona dan kilaunya yang biasa. George mengembalikan perhatian kepada Georgiana, yang jelas lebih pintar daripada yang ia sadari, karena gadis muda itu mengamati yang terjadi dengan keingintahuan yang perlahan-lahan bangkit, matanya bergerak bolak-balik ke mereka semua, seolah mereka pemain di lapangan. George mengedikkan bahu. Bagus untuk Georgiana. Ia senang gadis itu memiliki otak. Dia akan membutuhkannya dengan keluarganya. George menyesap brendi lagi, tenggelam dalam pikirannya sampai percakapan di sekeliling berubah menjadi dengungan rendah. Ia gelisah malam ini, tak seperti biasanya. Di sinilah dirinya, dikelilingi orang-orang yang dikenal dan dicintai seluruh hidupnya, dan yang ia inginkan hanya… Ia tertegun menatap ke arah jendela, mencari jawaban. Yang ia inginkan hanyalah… Ia tidak tahu, itu dia masalahnya. Di sana. George tidak tahu apa yang ia inginkan, hanya saja yang ia inginkan tidak ada di sini.


Hidupnya, ia menyadari, telah mencapai tingkat kedangkalan yang baru.


“George? George?”


Ia mengerjap. Ibunya memanggil namanya.


“Lady Frederica Fortescue-Endicott bertunangan dengan Earl of Northwick,” kata ibunya. “Apa kau sudah dengar?”


Ah. Jadi ini yang akan menjadi percakapan malam ini. George menghabiskan minumannya. “Belum.”


“Putri tertua Duke of Westborough,” kata ibunya kepada Lady Bridgerton. “Gadis muda yang sangat memesona.”


“Oh, tentu saja, gadis yang cantik. Rambut gelap, kan?”


“Dan mata biru yang sangat indah. Dia juga bernyanyi semerdu burung.”


George menahan desahannya.


Ayahnya memukul punggungnya. “Sang duke memberinya maskawin besar,” katanya, langsung ke intinya. “Dua puluh ribu dan sepetak properti.”


“Karena aku sudah melewatkan kesempatanku, tidak ada untungnya membuat katalog sifat-sifatnya,” kata George dengan senyum tenang diplomatis.


“Tentu saja tidak,” sahut ibunya. “Sudah terlambat untuk itu. Tapi kalau kau mendengarkanku musim semi yang lalu—”


Gong tanda makan malam berbunyi—untunglah—dan ibunya pasti memutuskan tidak ada gunanya mendesak usaha perjodohannya lebih lanjut karena kata-kata berikut yang keluar dari mulutnya berhubungan dengan menu malam itu, dan tidak adanya ikan segar di pasar minggu itu.


George berjalan kembali ke sisi Billie. “Bolehkah?” gumamnya, dan mengulurkan kedua tangan.


“Oh,” seru Billie pelan, meski George tak bisa membayangkan kenapa gadis itu terkejut. Tidak ada yang berubah selama lima belas menit terakhir; siapa lagi yang akan membawanya ke ruang makan?


“Betapa gagahnya kau, George,” kata ibunya, menyambut tangan sang suami dan membiarkan pria itu menuntunnya menyeberangi ruangan.


Ia tersenyum datar. “Kuakui memiliki Billie Bridgerton di bawah belas kasihanku terasa memabukkan.”


Lord Bridgerton tertawa. “Nikmati selagi kau bisa, Nak. Dia tidak suka kalah.”


“Apa ada yang menyukai kekalahan?” balas Billie.


“Tentu saja tidak,” jawab ayahnya. “Lebih pada pertanyaan seberapa anggunnya seseorang bisa menyerah.”


“Aku sangat ang—”


George mengangkat gadis itu ke dalam gendongan. “Apa kau yakin kau ingin menyelesaikan kalimat itu?” gumamnya. Karena mereka semua tahu. Billie Bridgerton jarang bisa bersikap anggun saat kalah.


Billie menutup mulutnya rapat-rapat.


“Dua poin untuk kejujuran,” kata George.


“Apa yang harus dilakukan untuk bisa mendapatkan tiga poin?” balas Billie ketus.

__ADS_1


George tertawa.


“Lagi pula,” kata Billie kepada ayahnya, pada dasarnya tidak bisa melepaskan perdebatan apa pun, “aku tidak kehilangan apa-apa.”


“Kau kehilangan kucing itu,” kata Georgiana.


“Dan kehormatanmu,” tambah Andrew.


“Itu baru pantas mendapatkan tiga poin,” kata George.


“Kakiku terkilir!”


“Kami tahu, Sayang,” kata Lady Bridgerton, menepuk ringan lengan putrinya. “Tak lama lagi kau akan merasa lebih baik. Kau bilang begitu.”


Empat poin, George hendak berkata, tapi Billie mendelik ke arahnya dengan sorot membunuh.


“Jangan berani-berani,” geram gadis itu.


“Tapi kau membuatnya begitu mudah.”


“Apa kita sedang mengolok-olok Billie?” tanya Andrew, menjajari mereka saat memasuki koridor. “Karena kalau ya, kuberitahu, aku terluka kau memulainya tanpaku.”


“Andrew,” geram Billie.


Andrew meletakkan tangannya yang sehat ke atas jantung, pura-pura tersinggung. “Terluka. Terluka, kubilang.”


“Bisakah kalian tidak mengolok-olokku?” tanya Billie dengan suara jengkel. “Hanya untuk satu malam?”


“Kurasa, tapi George jauh dari mengasyikkan,” sahut Andrew.


George hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian ia melihat wajah Billie. Gadis itu kelelahan. Dan kesakitan. Yang Andrew terima sebagai balasan yang biasa sebenarnya adalah permohonan Billie untuk dibebaskan.


Ia mendekatkan bibir ke dekat telinga gadis itu, merendahkan suaranya menjadi gumaman pelan. “Apa kau yakin kau cukup kuat untuk makan malam?”


“Tentu saja!” jawab Billie, malu karena George bertanya. “Aku baik-baik saja.”


“Tapi apa kau baik-baik saja?”


Bibir Billie menegang. Kemudian bergetar.


George memperlambat langkah, membiarkan Andrew berjalan di depan mereka. “Tidak ada yang memalukan dari memerlukan istirahat, Billie.”


Billie mendongak ke arah George, ada sesuatu yang hampir terlihat malu-malu di matanya. “Aku lapar,” ia berkata.


George mengangguk. “Aku bisa meminta bangku kecil diletakkan di bawah meja supaya kau bisa mengangkat kakimu.”


Billie mengerjap kaget, dan sejenak George berani bersumpah bisa mendengar suara napas gadis itu berembus melewati mulutnya. “Itu akan sangat menyenangkan,” katanya. “Terima kasih.”


“Tak masalah.” George berhenti sejenak. “Kau memang terlihat cukup cantik dalam gaun itu, omong-omong.”


“Apa?”


George sama sekali tak tahu kenapa ia mengatakannya. Dan menilai dari ekspresi shock di wajah Billie, gadis itu juga tidak.


George mengedikkan bahu, berharap punya tangan yang bebas untuk memperbaiki cravat-nya. Entah mengapa rasanya terlalu ketat. Dan tentu saja ia akan memberikan pujian tentang gaun Billie; bukankah itu yang dilakukan pria terhormat? Ditambah lagi, gadis itu terlihat seperti membutuhkan sedikit dorongan. Dan gaun itu memang sesuai untuknya. “Warnanya bagus,” George berimprovisasi. Terkadang ia juga bisa memesona. “Warnanya, eh… menonjolkan warna matamu.”


“Warna mataku cokelat.”


“Masih tetap membuat warnanya menonjol.”


Billie terlihat sedikit cemas. “Ya Tuhan, George. Apa kau pernah memuji wanita?”


“Apa kau pernah menerima pujian?”


George terlambat menyadari betapa mengerikan kata-katanya itu terdengar, dan ia tergagap mengucapkan sesuatu yang dimaksudkan untuk mendekati permintaan maaf, tapi Billie sudah berguncang dengan tawa. “Oh, maafkan aku,” dia tersedak, menyeka air mata dengan bahu karena kedua tangannya melingkari leher George. “Oh, itu lucu. Wajahmu…”


“Oh, sudah jelas.”


George menggeleng. “Sungguh, aku minta maaf.”


“Kau sungguh pria terhormat,” goda Billie.


“Ini mengejutkanmu?”


“Tidak sama sekali. Kurasa kau akan mati sebelum menghina wanita, meski tidak sengaja.”


“Aku cukup yakin pernah menghinamu di suatu titik dalam sejarah kita.”


Billie menepisnya. “Aku tak yakin aku masuk hitungan.”


“Kuakui, malam ini kau terlihat lebih seperti wanita daripada biasanya,” kata George.


Ekspresi Billie berubah tajam. “Ada hinaan di suatu tempat di sana, aku yakin.”


“Atau pujian.”


“Tidak, kurasa tidak ada,” Billie pura-pura memikirkannya dengan serius.


George tertawa, puas dan terdengar serak, dan baru setelah kegeliannya memudar menjadi tawa kecil ia menyadari betapa asing rasanya. Sudah begitu lama sejak ia melepaskan diri untuk tertawa, membiarkan tawa itu menggelitik seluruh tubuhnya.


Jauh dari tawa tertahan di depan publik yang bisa ditemui di London.


“Aku pernah menerima pujian, tapi kuakui aku tidak ahli dalam menerimanya,” kata Billie, suaranya melembut saat menambahkan. “Paling tidak, tidak untuk warna gaunku.”


George memperlambat langkah lagi sambil berbelok dan pintu ruang makan muncul dalam pandangan. “Kau tak pernah pergi ke London untuk Season, ya?”


“Kau tahu aku tidak pernah.”


George bertanya-tanya dalam hati mengapa. Mary pernah menghadirinya, dan dia serta Billie biasanya melakukan semuanya bersama-sama. Tapi sepertinya tidak sopan kalau ia bertanya, setidaknya tidak sekarang, saat makan malam akan dimulai.


“Aku tidak mau,” kata Billie.


George tidak menunjukkan bahwa ia tidak meminta penjelasan.


“Aku pasti payah di sana.”


“Kau pasti akan menjadi udara segar,” ia berbohong. Billie akan sangat buruk melakukannya, kemudian George pasti akan diwajibkan menjadi penyelamatnya di depan publik, memastikan kartu dansa gadis itu paling tidak setengah terisi, kemudian membela kehormatannya setiap kali pemuda tak berotak berasumsi Billie tak memiliki moral karena dia sedikit terlalu keras dan terlalu bebas.


Pasti akan melelahkan.


“Maaf,” gumamnya, berhenti untuk meminta pelayan membawakan bangku. “Apa sebaiknya aku terus menggendongmu sampai dia kembali?”


“Menggendongku?” ulang Billie, seolah tiba-tiba dia kehilangan kemampuan berbahasanya.


“Ada yang salah?” tanya ibu George, mengamati mereka dengan keingintahuan yang tidak ditutupi lewat ambang pintu yang terbuka. Dia, Lady Bridgerton, dan Georgiana sudah berada di tempat duduk masing-masing. Para pria menunggu Billie diturunkan.


“Duduk, please,” George menyuruh mereka, “Aku sudah meminta pelayan laki-laki membawakan sesuatu untuk diletakkan di bawah meja. Supaya Billie bisa mengangkat kakinya.”


“Kau baik sekali, George,” kata Lady Bridgerton. “Aku seharusnya memikirkannya.”


“Kakiku pernah terkilir,” kata George, sambil membawa Billie masuk ruangan.


“Dan aku belum pernah,” balas Lady Bridgerton, “meskipun orang akan berpikir seharusnya aku sudah menjadi ahlinya sekarang.” Dia menoleh kepada Georgiana. “Kurasa kau mungkin satu-satunya anakku yang tulang atau sendinya belum pernah patah atau terkilir.”


“Itu keahlian spesialku,” sahut Georgiana datar.


“Harus kukatakan, kalian berdua tampak serasi,” kata Lady Manston, melihat ke arah George dan Billie dengan senyum tenang menipu.

__ADS_1


George memelototi ibunya. Jangan. Ibunya mungkin ingin melihatnya menikah, tapi wanita itu tidak akan mencoba langkah ini.


“Jangan menggoda,” kata Billie dengan nada menegur penuh sayang dalam suaranya untuk menghentikan arah pikiran tersebut. “Siapa lagi yang akan membawaku kalau bukan George?”


“Sayangnya, lenganku retak,” gumam Andrew.


“Bagaimana lenganmu bisa patah?” tanya Georgiana.


Andrew mencondongkan badan ke depan, matanya berkilat-kilat seperti lautan. “Bergulat dengan hiu.”


Billie mendengus.


“Tidak,” kata Georgiana, tak merasa terkesan, “apa yang sebenarnya terjadi?”


Andrew mengedikkan bahu. “Aku tergelincir.”


Ada jeda sejenak. Tak ada yang mengharapkan sesuatu sebiasa itu.


“Ikan hiu membuat ceritanya menjadi lebih baik,” Georgiana akhirnya berkata.


“Memang, bukan? Kebenaran jarang semenarik yang kita sukai.”


“Kupikir paling tidak kau jatuh dari tiang kapal,” kata Billie.


“Deknya licin,” kata Andrew blakblakan. Dan sementara semua orang memikirkan kedangkalan semua ini, dia menambahkan, “Memang seperti itu. Air, kau tahu.”


Pelayan kembali dengan bangku kecil empuk. Bangku itu tidak setinggi yang George suka, tapi ia masih berpikir itu lebih baik daripada membiarkan kaki Billie menjuntai.


“Aku terkejut Admiral McClellan mengizinkanmu memulihkan diri di rumah,” kata Lady Manston saat pelayan merangkak di bawah meja untuk meletakkan bangku di tempatnya. “Bukan berarti aku mengeluh. Senang melihatmu di tempatmu yang seharusnya di Crake.”


Andrew memberi ibunya senyum simpul. “Pelaut bertangan satu tidak terlalu berguna.”


“Bahkan dengan semua bajak laut berkaki pasak kayu?” tanya Billie saat George meletakkannya di tempat duduknya. “Kupikir kehilangan salah satu lengan atau kaki di laut bisa dibilang persyaratan.”


Andrew menelengkan kepala dan merenung. “Tukang masak kami kehilangan sebelah kupingnya.”


“Andrew!” seru ibunya.


“Mengerikan sekali,” sahut Billie, matanya bercahaya dengan kesenangan menakutkan. “Apa kau ada di sana saat itu terjadi?”


“Billie!” seru ibunya.


Billie menoleh dan melihat ibunya, lalu memprotes, “Ibu tak bisa mengharapkanku mendengar tentang pelaut tanpa telinga dan tidak bertanya.”


“Meskipun begitu, ini bukan percakapan yang pantas untuk makan malam keluarga.”


Penemuan antara klan Rokesby dan Bridgerton selalu digolongkan sebagai penemuan keluarga, tak peduli tak ada setetes pun darah dibagi di antara mereka. Paling tidak, tidak dalam seratus tahun terakhir.


“Aku tak bisa membayangkan di mana percakapan ini pantas dilakukan, kecuali kita semua pergi ke tempat penginapan umum,” kata Andrew.


“Sayang sekali aku tidak diizinkan pergi selarut ini,” kata Billie.


Andrew memberinya seringai lancang. “Alasan nomor 738 kenapa aku senang tidak terlahir sebagai wanita.”


Billie memutar bola mata.


“Apa kau diizinkan pergi ke sana siang hari?” tanya Georgiana.


“Tentu saja,” sahut Billie, tapi George melihat ibu Billie tidak terlihat senang soal itu.


Begitu juga Georgiana. Bibirnya merengut frustrasi, dan sebelah tangannya berada di atas meja, telunjuknya mengetuk-ngetuk alas meja dengan tak sabar.


“Mrs. Bucket membuat pai daging **** yang paling lezat,” kata Billie. “Setiap kamis.”


“Aku sudah lupa,” Andrew bergidik mengingat kuliner lezat itu. “Bagaimana kau bisa lupa? Itu surga di dalam kulit pai.”


“Setuju. Kita harus makan bersama-sama. Bagaimana kalau saat ma—”


 “Wanita bisa berdarah-darah,” sembur Georgiana.


Lady Bridgerton menjatuhkan garpunya.


Billie menoleh ke arah adiknya dengan kaget dan waspada. “Apa?”


“Wanita juga bisa terlibat dalam kekejaman penuh darah,” kata Georgiana, nada suaranya mendekati nada ganas.


Billie seperti tidak tahu harus berbuat apa. Biasanya George akan menikmati ketidaknyamanan gadis itu, tapi percakapan ini berbelok tajam menjadi percakapan ganjil sehingga yang bisa ia rasakan hanyalah simpati.


Dan lega karena bukan ia yang menanyai gadis itu.


“Apa yang kaukatakan tadi,” kata Georgiana. “Soal wanita, dan bagaimana kami akan lebih jarang memulai perang dari laki-laki. Kurasa itu tidak benar.”


“Oh,” kata Billie, tampak sangat lega. Sejujurnya, George juga lega. Karena satu-satunya penjelasan lain untuk wanita mengeluarkan darah adalah percakapan yang tidak ingin ia nikmati di meja makan.


Atau di mana pun.


“Bagaimana dengan Ratu Mary?” lanjut Georgiana. “Tidak ada yang bisa menyebutnya orang yang cinta damai.”


“Mereka tidak memanggilnya Bloody Mary karena iseng,” sahut Andrew.


“Tepat sekali!” Georgiana setuju sambil mengangguk-angguk antusias. “Dan Ratu Elizabeth menenggelamkan seluruh armada.”


“Dia memerintahkan orang-orangnya untuk menenggelamkan armada,” Lord Bridgerton mengoreksi.


“Dia yang memberi perintah,” balas Georgiana sengit.


“Georgiana benar,” kata George, senang bisa memberikan pujian pada tempatnya.


Georgiana memberinya tatapan berterima kasih.


“Benar sekali,” Billie tersenyum.


Mendengarnya, Georgiana tampak kesenangan.


“Aku tidak bermaksud mengatakan wanita tidak bisa bertindak kejam,” kata Billie, sekarang setelah Georgiana selesai dengan argumennya. “Tentu saja kita bisa, bila diberi motivasi yang sesuai.”


“Aku bergidik memikirkannya,” gumam Andrew.


“Kalau seseorang yang kucintai berada dalam bahaya, aku cukup yakin aku akan melakukan kekerasan,” kata Billie bersungguh-sungguh.


Selama bertahun-tahun George akan memikirkan saat itu. Sesuatu berubah. Sesuatu terguncang dan berputar. Udara meretih dengan listrik, dan semua orang—setiap Rokesby dan Bridgerton yang berada di meja—hampir seperti duduk dalam waktu yang terhenti, seolah menunggu sesuatu yang tidak mereka pahami.


Bahkan Billie.


George mengamati wajah gadis itu. Tidak sulit membayangkannya sebagai pejuang, kuat dan protektif terhadap orang-orang yang dia cintai. Apakah ia termasuk di dalamnya? George rasa ya. Siapa pun dengan nama belakang yang sama dengannya akan berada dalam perlindungan gadis itu.


Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bahkan bernapas sampai Lady Manston mengeluarkan tawa yang tak lebih dari embusan napas, kemudian mengumumkan, “Sungguh topik yang membuat depresi.”


“Aku tidak setuju,” kata George halus. Ia mengira gadis itu tidak mendengarnya. Tapi Billie mendengarnya. Bibirnya terbuka, dan mata gelapnya menatap George dengan sorot terkejut dan ingin tahu. Dan mungkin sedikit rasa terima kasih.


“Aku tidak mengerti kenapa kita membicarakan hal-hal ini,” Lady Manston melanjutkan, bertekad untuk menyetir percakapan kembali ke hal-hal ringan dan manis.


Karena ini penting, pikir George. Karena ini berarti sesuatu. Karena tidak ada yang berarti selama bertahun-tahun, tidak untuk mereka yang ditinggalkan di belakang. Ia sudah muak merasa tak berguna, berpura-pura dirinya lebih berharga daripada adik-adiknya berdasarkan kelahirannya.


George menunduk melihat supnya. Ia kehilangan selera makan. Dan tentu saja tepat saat itulah Lady Bridgerton berseru, “Kita harus mengadakan pesta


JANGAN LUPA LIKE,KOMEN,RATE,VOTE,AND FAVORITE YA!!!!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2