KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 11


__ADS_3

BILLIE TIDAK BEGITU yakin apa yang ia lakukan pada pergelangan kakinya saat menabrak rumah kartu Andrew, tapi rasanya hanya sedikit lebih sakit daripada sebelumnya, jadi pada hari terakhir sebelum pesta ia memutuskan dirinya sudah cukup kuat untuk berkuda, asalkan ia melakukannya dengan duduk menyamping.


Ia benar-benar tidak punya pilihan. Sungguh, kalau ia tidak keluar ke tanah di barat untuk memonitor perkembangan tanaman barley, ia tidak tahu siapa yang akan melakukannya. Tapi turun dari kuda masih sulit, yang artinya ia harus mengajak pengurus kuda. Dan mereka berdua tidak menikmatinya. Hal terakhir yang pengurus kuda itu inginkan adalah menginspeksi barley, dan hal terakhir yang Billie inginkan adalah diawasi oleh pengurus kuda sementara ia menginspeksi barley.


Suasana hati kuda betinanya juga sedang jelek, sehingga lengkap sudah mereka menjadi tiga serangkai pemarah. Sudah begitu lama sejak Billie duduk di pelana menyamping, dan Argo sama sekali tidak menyukainya.


Begitu juga Billie. Ia belum lupa betapa bencinya ia berkuda dengan pelana menyamping, tapi ia sudah lupa betapa parah sakitnya keesokan harinya ketika sudah lama tidak menunggang kuda. Pinggul dan paha kanannya mengerang kesakitan pada setiap langkah. Tambahkan faktor pergelangan kakinya yang masih berdenyut, maka sungguh menakjubkan bagaimana ia tidak berkeliaran di sekitar rumah seperti pelaut yang mabuk.


Atau mungkin memang seperti itu. Para pelayan memberinya tatapan aneh saat berjalan turun keesokan paginya untuk sarapan.


Ia rasa kondisinya yang terlalu pegal untuk kembali ke pelana adalah yang terbaik. Ibunya sudah menjelaskan bahwa ia harus terus berada di Aubrey Hall sepanjang hari. Ada empat Bridgerton yang saat ini berada di rumah, kata ibunya, dan keempatnya akan berdiri di jalan masuk dan menyambut setiap tamu.


Maka Billie berdiri di antara ibunya dan Georgiana pada pukul satu siang, ketika Duchess of Westborough tiba dengan kereta kudanya yang megah, ditemani putri-putrinya—satu sudah bertunangan, satu belum—dan keponakan perempuan.


Billie berdiri di antara ibunya dan Georgiana pukul setengah dua, saat Henry Maynard lewat dengan kereta beroda dua yang meriah bersama kawan baiknya Sir Reginald McVie.


Dan ia berdiri di antara ibunya dan Georgiana pukul tiga lewat dua puluh menit, ketika Felix dan Mary tiba bersama tetangga mereka Edward dan Niall Berbrooke, yang berasal dari keluarga baik-baik dan kebetulan sudah cukup umur untuk menikah.


“Akhirnya,” gerutu Lord Bridgerton, mencoba meregangkan lehernya yang kaku sementara mereka dalam barisan kecil dan rapi menunggu kereta Felix dan Mary berhenti, “seseorang yang kukenal.”


“Ayah mengenal keluarga Berbrooke?” tanya Georgiana, mencondongkan badan ke depan untuk berbicara dengan ayahnya melewati kakak dan ibunya.


“Ayah mengenal Felix dan Mary,” jawab Lord Bridgerton. Dia menoleh kepada istrinya. “Kapan keluarga Rokesby tiba?”


“Satu jam sebelum makan malam,” jawab istrinya tanpa berpaling. Kereta berhenti, dan karena dia tuan rumah yang sempurna, matanya terarah ke pintu, menunggu para tamu.


“Ingatkan aku mengapa mereka tidur di sini?” tanya suaminya.


“Karena itu akan membuat pesta menjadi jauh lebih meriah.”


Lord Bridgerton mengernyit, tetapi dengan bijak memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.


Akan tetapi Billie tidak memiliki pengendalian diri yang sama. “Kalau itu aku, aku akan lebih memilih tidur di tempat tidurku sendiri,” katanya sambil menarik-narik lengan gaun katun bercoraknya.


“Tapi itu bukan kau,” balas ibunya masam, “dan berhentilah bergerak-gerak.”


“Aku tak bisa menahannya. Rasanya gatal.”


“Kurasa gaun itu tampak cantik pada dirimu,” komentar Georgiana.


“Terima kasih,” jawab Billie, sesaat tercengang. “Aku tidak begitu yakin dengan bagian depannya.” Ia menunduk. Bagian depannya ditutupi dengan gaya menyilang, seperti syal. Ia tak pernah memakai sesuatu seperti itu, meskipun ibunya meyakinkan model ini sudah populer beberapa tahun.


Apakah ia menampilkan terlalu banyak belahan dada? Billie meraih peniti yang mengamankan kain linen di dekat pinggangnya. Kelihatannya ia bisa membetulkannya dengan sedikit


“Hentikan,” ibunya mendesis.


Billie mendesah.


Kereta itu akhirnya berhenti, dan Felix turun lebih dulu, kemudian mengulurkan tangan untuk membantu istrinya. Mary Maynard—sebelumnya Rokesby—mengenakan jaket bepergian dan syal yang bahkan Billie bisa sadari mengikuti mode terbaru. Pakaian Mary terlihat sempurna di tubuhnya, Billie menyadari. Mary tampak bahagia dan bahagia mulai dari rambut keriting cokelat terangnya sampai ke ujung sepatu elegannya.


“Mary!” sapa Lady Bridgerton antusias, melangkah maju dengan lengan terentang. “Kau tampak bersinar-sinar!”


Georgiana menyikut Billie. “Apa itu berarti seperti yang kupikirkan ?”


Billie memberinya senyuman miring dan kedikan bahu—kode universal untuk aku-sama-sekali-tidak-tahu. Apa Mary hamil? Dan kalau ya, bagaimana ibunya bisa tahu sebelum dirinya?


Georgiana memiringkan badan sedikit, berbisik dari sudut mulutnya. “Dia tidak terlihat—”


“Well, kalau ya,” potong Billie, berbisik dari sudut mulutnya, “pasti belum lama.”


“Billie!” seru Mary, yang bergegas menyapanya dengan pelukan.


Billie mencondongkan badan ke depan, berbicara dengan nada rendah. “Ada sesuatu yang ingin kaukatakan padaku?”


Mary bahkan tidak pura-pura salah mengerti. “Aku tidak tahu bagaimana ibumu bisa tahu,” katanya.


“Apa kau memberitahu ibumu?”


“Ya.”


“Well, itu dia jawabanmu.”


Mary tertawa, mata biru Rokesby-nya berkerut seperti George saat dia—


Billie mengerjap. Sesaat… Apa itu tadi? Sejak kapan George memiliki hak mengganggu pikirannya? Mungkin hubungan mereka sedikit lebih baik daripada sebelumnya, namun tetap saja, dia bukan pengalih perhatian yang menggembirakan.


Mary, Billie mengingatkan diri dalam hati. Ia sedang berbicara dengan Mary. Atau lebih tepatnya, Mary sedang berbicara dengannya.


“Aku sangat senang bertemu denganmu,” Mary berkata. Dia menggenggam kedua tangan Billie.


Billie merasakan sesuatu yang hangat dan menggelenyar di belakang matanya. Ia tahu ia merindukan Mary, tapi ia tidak sadar betapa ia sangat merindukannya sampai saat ini. “Aku setuju,” katanya, berusaha keras menahan nada tercekat karena emosi dari suaranya. Tidak akan bagus untuknya kalau ia banjir air mata di jalan masuk.


Tidak akan bagus untuknya kalau ia banjir air mata, titik. Ya ampun, ibunya mungkin akan memanggil dokter sebelum air mata pertama sampai ke dagunya. Billie Bridgerton bukan gadis cengeng.


Ia tidak pernah menangis. Apa gunanya?


Billie menelan ludah, dan entah bagaimana berhasil mengembalikan cukup keseimbangannya untuk tersenyum kepada Mary dan berkata, “Surat rasanya tidak sama.”


Mary memutar bola mata. “Terutama bila kau yang menjadi penulisnya.”

__ADS_1


“Apa?” Mulut Billie menganga. “Itu tidak benar. Aku penulis surat yang brilian.”


“Saat kau menulisnya,” balas Mary.


“Aku mengirim surat setiap dua—”


“Setiap tiga.”


“—setiap tiga minggu,” Billie menyelesaikan, menjaga agar suaranya tetap terdengar marah untuk menutupi kenyataan ia telah mengubah ceritanya. “Tanpa henti.”


“Kau benar-benar harus berkunjung,” kata Mary.


“Kau tahu aku tidak bisa,” jawab Billie. Mary sudah mengundangnya berkunjung selama lebih dari setahun, tapi sulit sekali bagi Billie untuk pergi. Selalu ada sesuatu yang harus dilakukan di sekitar estat. Dan sungguh, bukankah lebih masuk akal jika Mary datang ke Kent, tempat dia sudah mengenal semua orang?


“Kau bisa, hanya saja kau tak mau,” Mary berkeras.


“Mungkin di musim dingin, saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak,” kata Billie.


Alis Mary terangkat tak percaya.


“Aku pasti akan berkunjung musim dingin terakhir,” Billie berkeras, “tapi tidak ada gunanya. Kau sudah memutuskan untuk pulang di waktu Natal.”


Ekspresi tak percaya Mary sama sekali tidak berubah, dan dia meremas tangan Billie untuk terakhir kalinya sebelum menoleh kepada Georgiana. “Ya ampun,” katanya, “kurasa kau sudah lebih tinggi hampir sepuluh senti sejak terakhir kali aku melihatmu.”


“Tidak mungkin,” jawab Georgiana sambil tersenyum. “Kau baru datang bulan Desember.”


Mary melihat bergantian dari satu saudara perempuan ke saudara perempuan yang lain. “Kurasa kau akan menjadi lebih tinggi daripada Billie.”


“Berhenti mengatakan itu,” perintah Billie.


“Tapi itu benar.” Mary menyeringai, sangat menikmati rengutan di wajah Billie. “Kami semua akan lebih tinggi darimu.” Dia berbalik kepada suaminya, yang sedang memperkenalkan Berbrooke bersaudara kepada Lord dan Lady Bridgerton. “Sayang,” panggilnya, “tidakkah menurutmu Georgiana sudah tumbuh begitu pesat sejak terakhir kali kita bertemu dengannya?”


Billie menahan senyum saat mengamati kilasan tatapan tak mengerti melintasi wajah Felix sebelum dia dengan hati-hati membuat wajahnya tampak penuh sayang dan sabar.


“Aku sama sekali tidak tahu, tapi kalau kau mengatakannya, itu pasti benar,” katanya.


“Aku benci saat dia melakukan itu,” kata Mary kepada Billie.


Billie tidak repot-repot menyembunyikan senyumnya.


“Billie,” kaca Felix sambil melangkah maju menyapa mereka. “Dan Georgiana. Senang bisa bertemu lagi dengan kalian berdua.”


Billie menekuk lutut memberi hormat.


“Izinkan aku memperkenalkan Mr. Niall Berbrooke dan Mr. Edward Berbrooke,” Felix melanjutkan, memberi isyarat kepada dua pria berambut pirang kecokelatan di sampingnya. “Mereka tinggal hanya beberapa kilometer dari kami di Sussex. Niall, Ned, ini Miss Sybilla Bridgerton dan Miss Georgiana Bridgerton, teman-teman Mary sejak kecil.”


“Miss Bridgerton,” salah satu pemuda Berbrooke berkata, dan membungkuk di atas tangannya. “Miss Georgiana.”


“Apa orangtuaku sudah tiba?” tanya Mary.


“Belum,” Lady Bridgerton memberitahu. “Kami mengharapkan kedatangan mereka sebelum makan malam. Ibumu lebih suka bersiap-siap dari rumah.”


“Dan saudara-saudaraku?”


“Datang bersama orangtuamu.”


“Kurasa itu masuk akal,” kata Mary sedikit menggerutu, “tapi kau akan mengira Andrew bisa berkuda lebih dulu kemari dan mengucapkan salam. Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.”


“Dia tidak banyak berkuda sekarang,” kata Billie apa adanya. “Lengannya, kau tahu.”


“Pasti itu membuatnya gila.”


“Kurasa ya, kalau dia tidak begitu pandai menarik keuntungan dari lukanya.”


Mary tertawa dan mengaitkan lengan dengan Billie. “Mari pergi ke dalam dan mengobrol. Oh, kau terpincang-pincang!”


“Kecelakaan konyol,” sahut Billie sambil mengibaskan tangan. “Sudah hampir sembuh.”


“Well, kan pasti punya banyak hal untuk kauceritakan padaku.”


“Sebenarnya, tidak,” jawab Billie sementara mereka menaiki tangga teras depan. “Tidak ada yang berubah di sini. Tidak juga.”


Mary memberinya tatapan bertanya. “Tidak ada?”


“Selain Andrew berada di rumah, semua masih sama seperti dulu.” Billie mengedikkan bahu, bertanya-tanya dalam hati apakah seharusnya ia kecewa dengan semua hal yang tetap sama. Menurutnya ia telah menghabiskan sedikit lebih banyak waktu bersama George, tapi itu tidak bisa dihitung sebagai peristiwa.


“Ibumu tidak mencoba menikahkanmu dengan pendeta yang baru?” goda Mary.


“Kami tidak memiliki pendeta baru, dan aku yakin dia mencoba menikahkanku dengan saudara Felix.” Ia mengedikkan kepala. “Atau salah satu Berbrooke bersaudara.”


“Henry bisa dikatakan sudah bertunangan,” kata Mary penuh otoritas, “dan kau tidak mau menikah dengan salah satu Berbrooke bersaudara. Percayalah.”


Billie memberinya lirikan dari samping. “Tolong beritahu.”


“Hentikan,” omel Mary. “Bukan sesuatu yang tak senonoh. Atau bahkan menarik. Mereka berdua menyenangkan, tapi pikirannya sangat tumpul seperti tongkat.”


“Ayo, kita pergi ke kamarku,” Billie membawa mereka berdua ke tangga utama. “Dan kau tahu,” ia menambahkan, hanya untuk menentang, “beberapa tongkat sebenarnya cukup tajam.”


“Tidak dengan Berbrooke bersaudara.”

__ADS_1


“Kenapa kau menawarkan untuk mengajak mereka, kalau begitu?”


“Ibumu memohon! Dia mengirimiku tiga lembar surat.”


“Ibuku?” ulang Billie.


“Ya. Dengan tambahan dari ibuku.”


Billie meringis. Kekuatan gabungan dari Lady Rokesby dan Lady Bridgerton bukan sesuatu yang bisa diabaikan dengan mudah. “Dia membutuhkan lebih banyak pria terhormat,” lanjut Mary. “Kurasa dia tidak mengira Duchess of Westborough akan membawa kedua anak perempuannya dan keponakan perempuannya. Lagi pula, Niall dan Ned menyenangkan. Mereka akan menjadi suami yang baik untuk seseorang.” Dia memberi Billie tatapan penuh arti. “Tapi bukan untukmu.”


Billie memutuskan tidak ada gunanya untuk tersinggung. “Kau tidak melihatku menikah dengan seseorang yang menyenangkan?”


“Aku tidak melihatmu menikah dengan seseorang yang hampir tak bisa membaca namanya sendiri.”


“Oh, ayolah.”


“Baiklah. Aku melebih-lebihkan. Tapi ini penting.” Mary berhenti di tengah tangga utama, memaksa Billie berhenti di sampingnya. “Kau tahu aku mengenalmu lebih daripada siapa pun.”


Billie menunggu sementara Mary memberinya tatapan serius. Mary suka memberikan nasihat. Billie tidak terlalu suka menerimanya, tapi sudah begitu lama sejak ia menikmati kehadiran sahabatnya. Hanya untuk kali ini ia bisa bersabar. Bahkan tenang.


“Billie, dengarkan aku,” kata Mary dengan nada mendesak yang terdengar janggal. “Kau tak bisa memperlakukan masa depanmu dengan begitu sembrono. Pada akhirnya kau harus memilih suami, dan kau akan gila bila tidak menikah dengan pria yang paling tidak memiliki kepintaran yang setara denganmu.”


“Itu mengisyaratkan bahwa aku menikah dengan seseorang.” Atau, Billie tidak menambahkan, mungkin ia memiliki pilihan untuk suami.


Mary terenyak. “Jangan katakan hal-hal seperti itu! Tentu saja kau akan menikah. Kau hanya perlu menemukan pria yang tepat.”


Billie memutar bola mata. Mary sudah sejak lama terjangkit penyakit yang sepertinya menyerang semua individu yang baru menikah: demam untuk melihat semua orang menikah dan hidup bahagia. “Mungkin aku akan menikah dengan Andrew,” Billie mengedikkan bahu tak peduli. “Atau Edward.”


Mary tertegun menatapnya.


“Apa?” akhirnya Billie bertanya.


“Kalau kau bisa mengatakannya seperti itu,” kata Mary dengan nada tak percaya sengit, “seolah kau tidak peduli Rokesby yang mana yang akan kautemui di altar, kau tidak berhak menikah dengan mereka berdua.”


“Well, aku memang tidak peduli. Aku mencintai mereka berdua.”


“Sebagai saudara. Ya ampun, kalau kau akan melihatnya dari sudut pandang itu, sekalian saja kau menikah dengan George.”


Langkah Billie terhenti. “Jangan bodoh.”


Ia, menikah dengan George? Itu menggelikan.


“Sungguh, Mary,” katanya dengan sedikit desisan tegang di dalam suaranya. “Itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan lelucon.”


“Kau bilang satu Rokesby akan sama baiknya dengan yang lain.”


“Tidak, kau yang mengatakannya. Kubilang antara Edward atau Andrew akan sama saja.” Sungguh, ia tidak mengerti mengapa Mary begitu kesal. Pernikahan dengan salah satu saudara itu akan memberi efek yang sama. Billie akan menjadi Rokesby, dan ia serta Mary akan menjadi saudara yang sesungguhnya. Menurut Billie itu terdengar indah.


Mary memukul dahi dan mengerang. “Kau sangat tidak romantis.”


“Aku tidak menganggap itu sebagai kekurangan.”


“Tidak, kau tidak akan melihatnya,” gerutu Mary.


Mary memaksudkannya sebagai kritik, namun Billie hanya tertawa. “Beberapa dari kita perlu melihat dunia dengan kepraktisan dan akal sehat.”


“Tapi tidak dengan kebahagiaanmu sebagai bayarannya.”


Untuk waktu yang sangat lama, Billie tidak mengatakan apa-apa. Ia merasa kepalanya sedikit bergerak ke samping, matanya menyipit sambil berpikir sementara ia mengamati wajah Mary. Mary menginginkan yang terbaik untuknya; ia mengerti itu. Tapi Mary tidak tahu. Bagaimana mungkin dia bisa tahu?


“Siapa kau,” tanya Billie lembut, “sampai bisa memutuskan apa yang membuat orang lain bahagia?” Ia memastikan menjaga kata-katanya tetap lembut, nada suaranya tidak terdengar tajam. Ia tidak mau Mary merasa diserang dengan pertanyaan itu; ia tidak bermaksud bertanya seperti itu. Tapi ia mau Mary berpikir soal ini, berhenti sejenak dan mencoba memahami bahwa meski persahabatan mereka sangat dalam, pada dasarnya mereka orang yang berbeda.


Mary mengangkat kepala dengan sorot mata terluka. “Aku tidak bermaksud—”


“Aku tahu kau tidak bermaksud seperti itu,” Billie meyakinkan. Mary selalu merindukan cinta dan pernikahan. Dia menginginkan Felix sejak pertama kali bertemu pria itu—pada umur dua belas tahun! Saat Billie berusia dua belas tahun yang ia pikirkan hanya anak-anak anjing di gudang dan apakah ia bisa memanjat pohon ek tua lebih cepat daripada Andrew.


Sejujurnya, ia masih memikirkan hal itu. Akan menjadi pukulan besar baginya bila Andrew bisa sampai di puncak sebelum dirinya. Bukan berarti mereka akan mengadakan tes dalam waktu dekat, dengan pergelangan kakinya dan lengan Andrew. Tapi tetap saja, hal-hal seperti ini penting.


Bukan berarti Mary akan melihatnya seperti itu.


“Maafkan aku,” kata Mary, namun senyumnya tampak sedikit terlalu kaku. “Aku tidak berhak bersikap begitu serius saat aku baru saja tiba.”


Billie hampir bertanya apa itu artinya Mary punya rencana untuk bersikap demikian nanti. Namun ia tidak melakukannya.


Pengendalian diri yang hebat. Sejak kapan ia belajar bersikap begitu dewasa?


“Kenapa kau tersenyum?” tanya Mary.


“Apa? Aku tidak tersenyum.”


“Oh, kau tersenyum.”


Dan karena Mary sahabatnya, bahkan saat wanita itu berusaha memberitahunya bagaimana menjalani hidupnya, Billie tertawa dan kembali mengaitkan lengan mereka. “Kalau kau harus tahu, aku sedang memberi selamat pada diriku sendiri karena tidak membuat komentar sok pintar kepadamu,” katanya.


“Pengendalian diri yang hebat,” kata Mary, mengulang pikiran Billie dengan tepat.


“Aku tahu. Sama sekali tidak seperti diriku.” Billie menelengkan kepala ke ujung koridor. “Bisakah kita melanjutkan ke kamar tidurku? Kakiku sakit.”


“Tentu saja. Bagaimana sampai kakimu terluka?”

__ADS_1


Billie tersenyum masam sambil melanjutkan langkahnya. “Kau tak akan percaya siapa yang berakhir menjadi pahlawanku…”


"JANGAN LUPA PIKE,KOMEN,VOTE,FAVORITE,AND RATE YA"


__ADS_2