
“APA YANG KAULAKUKAN?” Billie nyaris memekik.
George melompat berdiri dengan kecepatan yang sangat berbahaya, dan sekarang pria itu melihat ke ujung atap dengan kerutan penuh kalkulasi di dahinya.
Sungguh, kelihatannya seolah dia sedang mengerjakan persamaan matematika rumit.
“Mencoba turun dari atap terkutuk ini,” geram George.
“Kau akan membunuh dirimu sendiri.”
“Mungkin saja,” pria itu menyetujui dengan muram.
“Well, aku merasa begitu spesial,” balas Billie.
George berbalik, menatap Billie dengan mata setengah tertutup yang menyorotkan superioritas. “Apa kau mengatakan kau ingin menikah denganku?”
Billie bergidik. “Tidak akan pernah.” Namun pada saat yang sama, seorang wanita tidak ingin berpikir pria lebih suka melemparkan diri dari atas atap hanya untuk menghindar dari kemungkinan tersebut.
“Dalam hal itu, Madam, kita sepakat,” kata George.
Dan rasanya menyakitkan. Oh, betapa menyakitkan. Ah, ironis. Billie tidak peduli bila George Rokesby tidak mau menikahinya. Ia bahkan tidak menyukai pria itu di sebagian besar waktu. Dan ia tahu saat pria itu memutuskan untuk memilih pasangan, gadis yang sangat beruntung itu sama sekali tidak akan seperti dirinya.
Tapi tetap saja, rasanya menyakitkan.
Calon Lady Kennard pasti lembut, feminin. Dia pasti telah dilatih mengurus rumah megah, bukan perkebunan di estat. Dia pasti mengenakan gaun model terbaru, rambutnya dibedaki dan ditata rumit, dan bahkan kalau dia memiliki tulang punggung sekuat baja, dia akan menyembunyikannya di balik aura ketidakberdayaan yang lembut.
Pria seperti George suka berpikir diri mereka maskulin dan kuat.
Ia mengamati saat pria itu berkacak pinggang. Baiklah, George memang maskulin dan kuat. Tapi dia seperti yang lain; dia pasti menginginkan wanita yang menggoda dari balik kipas. Amit-amit kalau sampai dia menikahi seseorang yang cakap.
“Ini bencana,” tukas pria itu sebal.
Billie menahan diri untuk tidak berkata ketus. “Kau baru menyadarinya sekarang?”
Jawaban pria itu adalah rengutan yang tidak dewasa. “Kenapa kau tidak bisa bersikap baik?” sembur Billie.
“Baik?” ulang George.
Oh Tuhan, kenapa ia mengatakannya? Sekarang ia harus menjelaskan. “Seperti anggota keluargamu yang lain,” Billie menjelaskan.
“Baik,” kata George lagi. Dia menggeleng-geleng, seolah tidak memercayai keberanian Billie. “Baik.”
“Aku baik,” kata Billie. Lalu ia menyesali kata-katanya itu, karena ia bukan orang baik. Setidaknya tidak pada sebagian besar waktu, dan ia punya firasat bahwa saat ini ia tidak sedang bersikap baik. Tapi tentu saja ia tidak bisa disalahkan sekarang, karena yang ia hadapi adalah George Rokesby, dan Billie tak bisa menahan diri.
Dan sepertinya pria itu juga tak bisa menahan diri.
“Pernahkah terpikir olehmu, bahwa aku bersikap baik pada semua orang kecuali dirimu?” kata George dalam suara yang jelas-jelas sengaja diwarnai nada kasar.
Itu menyakitkan. Seharusnya tidak menyakitkan, karena mereka tidak saling menyukai, dan itu seharusnya tidak menyakitkan karena Billie tidak ingin kata-kata itu menyakitinya.
Tapi ia tidak akan menunjukkan perasaannya.
“Kurasa kau mencoba menghinaku,” katanya, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
George menatapnya, menunggu kalimat lanjutan.
Billie mengedikkan bahu.
“Tapi…?” pancing George.
Billie mengedikkan bahu lagi, berpura-pura mengamati kukunya. Yang berarti ia benar-benar memandangi kukunya, yang ternyata sangat kotor.
Satu hal lagi yang membedakan dirinya dengan calon Lady Kennard.
Billie menghitung sampai lima dalam hati, menunggu George menuntut penjelasan dengan nada tajam yang telah pria itu sempurnakan sebelum dia cukup tua untuk bercukur. Namun dia tidak mengatakan apa-apa, dan akhirnya Billie-lah yang kalah dalam kontes bodoh apa pun yang bergolak di antara mereka. Ia mengangkat kepala.
George bahkan tak menatapnya.
Terkutuk.
Dan terkutuklah Billie, karena ia tak bisa menahan diri. Ia tahu siapa pun yang punya sedikit pengendalian diri pasti tahu kapan harus menutup mulutnya, tapi tidak, ia harus membuka mulut dengan amat sangat bodoh dan berkata, “Kalau kau tak bisa mengumpulkan—”
“Jangan katakan,” George memperingatkan.
“—kemurahhatian jiwa untuk—”
“Kuperingatkan kau, Billie.”
“Benarkah?” balasnya. “Kupikir kau sedang mengancamku.”
“Aku akan melakukannya,” George nyaris membentak, “kalau kau tidak menutup—” Pria itu menghentikan diri dengan makian pelan, dan memalingkan wajah ke arah lain.
__ADS_1
Billie mengambil benang yang terlepas dari stokingnya, bibirnya mengerut gemetar dengan amarah. Seharusnya ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu bahkan saat bicara, karena meskipun George angkuh dan menjengkelkan, dirinyalah yang membuat pria itu terjebak di atas atap, dan ia tidak berhak bersikap begitu menjengkelkan dan membangkitkan kemarahan pria itu.
Namun ada sesuatu dalam diri George—semacam bakat khusus yang hanya dia miliki—yang melucuti pengalaman dan kedewasaan yang Billie miliki bertahun-tahun dan membuatnya bertingkah seperti anak berumur enam tahun. Kalau George orang lain—siapa saja—Billie akan dipuji sebagai wanita paling berakal sehat dan ringan tangan dalam sejarah umat Kristen. Cerita akan menyeba-r-begitu mereka berhasil turun dari atap—mengenai keberanian dan kecerdikannya. Billie Bridgerton… begitu banyak akal, begitu bijaksana… Itu yang semua orang katakan. Orang-orang memiliki alasan untuk mengatakannya, karena ia memang banyak akal, dan ia memang bijaksana.
Hanya saja tidak dengan George Rokesby.
“Maafkan aku,” gumamnya pelan.
Perlahan-lahan George berpaling, seolah otot-ototnya tak memercayai pendengarannya.
“Kubilang aku minta maaf,” ulang Billie, kali ini lebih keras. Rasanya seperti penawar racun, namun itu hal yang benar. Tapi amit-amit kalau sampai pria itu membuatnya mengatakannya lagi, karena hanya sebesar itu harga diri yang bisa Billie telan sebelum dirinya tersedak. Dan pria itu harus tahu.
Karena George juga sama.
Mata mereka bertemu, dan mereka menunduk, kemudian setelah beberapa saat George berkata, “Kita tidak sedang dalam keadaan terbaik saat ini.”
Billie menelan ludah. Menurutnya mungkin ia harus berkata lebih banyak, namun penilaiannya sejauh ini tidak menguntungkannya, jadi sebagai gantinya ia mengangguk, bersumpah ia akan terus menutup mulut sampai—
“Andrew?” kata George lirih.
Billie tersentak.
“Andrew!” George hampir berteriak.
Mata Billie bergerak-gerak panik ke arah pepohonan di ujung ladang, dan benar saja… “Andrew!” ia berteriak, dan karena refleks ia mulai berdiri sebelum teringat pergelangan kakinya.
“Aduh!” ia berteriak, dan jatuh terduduk.
George bahkan tidak melirik ke arahnya. Pria itu terlalu sibuk di pinggir atap, melambai-lambaikan kedua tangan penuh semangat.
Tak mungkin Andrew bisa melewatkan mereka, berteriak-teriak seperti sepasang banshee gila, tapi kalau Andrew mempercepat langkahnya, Billie tidak bisa melihatnya. Tapi itu Andrew. Mungkin seharusnya ia senang pria itu tidak terbahak-bahak melihat keadaan mereka.
Andrew tak akan membiarkan mereka melupakan sesuatu seperti ini.
“Halo yang di sana!” panggil Andrew begitu sudah melewati setengah jarak di antara mereka.
Billie menoleh ke arah George. Ia hanya bisa melihat sisi wajah pria itu, namun George terlihat lega dengan kemunculan adiknya. Dan anehnya juga terlihat muram. Tidak, tidak aneh sama sekali, Billie menyadari. Olok-olok apa pun yang akan Billie terima dari Andrew, George akan menerimanya seratus kali lipat.
Andrew mendekat, ada semangat di langkahnya meski dengan lengan berbalut kain penyangga. “Dari semua kejutan menyenangkan,” dia mengumumkan, wajahnya nyaris terbelah dengan seringai. “Kalau kupikir dan pikir dan pikir…”
Dia berhenti, mengangkat satu telunjuk dengan elegan, tanda universal untuk meminta waktu sejenak, Billie menyadari. Kemudian dia menelengkan kepala seolah kembali ke pembicaraan semula, dan berkata, “dan pikir lagi—”
“Oh, demi Tuhan,” geram George.
“Turunkan kami dari atap sialan ini,” bentak George.
Billie bersimpati dengan nada suara pria itu.
“Aku selalu berpikir kalian berdua akan menjadi pasangan hebat,” komentar Andrew licik.
“Andrew,” geram Billie.
Dia dihadiahi senyuman. “Sungguh, kau tak perlu melakukan hal seekstrem ini untuk mendapatkan privasi. Kami akan dengan senang hati membantu.”
“Hentikan,” perintah Billie.
Andrew mendongak, tertawa meski sambil mengernyit. “Apa kau sungguh ingin menggunakan nada suara itu, Billie-kambing? Akulah yang berada di atas tanah.”
“Kumohon, Andrew,” kata Billie, mencoba sebisa mungkin untuk terdengar beradab dan masuk akal. “Kami akan sangat menghargai bantuanmu.”
“Well, karena kau meminta dengan sangat manis,” gumam Andrew.
“Aku akan membunuhnya,” geram Billie pelan.
“Aku akan mematahkan tangannya yang satu lagi,” gerutu George.
Billie tersedak menahan tawa. Tidak mungkin Andrew bisa mendengar mereka, namun ia tetap menunduk ke bawah, dan saat itu ia menyadari dahi Andrew berkerut, tangannya yang sehat berkacak pinggang.
“Apa lagi sekarang?” tuntut George.
Andrew tertegun memandangi tangga, mulutnya berkerut penasaran. “Aku tidak yakin apa terpikir oleh kalian berdua, tapi ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah menggunakan sebelah tangan.”
“Keluarkan tangan yang satu lagi dari kain penyangga,” kata George, tapi kata-kata terakhirnya ditenggelamkan pekikan Billie, “Jangan keluarkan dari kain penyangga!”
“Apa kau sungguh-sungguh ingin terus berada di atas atap?” desis George.
“Dan membuat lengannya terluka lagi?” balas Billie. Mungkin mereka hanya bercanda soal mematahkan lengan Andrew yang masih sehat, tapi sungguh. Pria itu pelaut di Angkatan Laut. Penting untuk tulangnya sembuh dengan sempurna.
“Kau akan menikah denganku demi menyelamatkan tangannya?”
“Aku tidak akan menikah denganmu,” balas Billie ketus. “Andrew tahu di mana kita berada. Dia bisa pergi mencari bantuan kalau kita memerlukannya.”
__ADS_1
“Pada saat dia kembali dengan orang yang bisa membantu, kita sudah berjam-jam berada di tempat ini berdua.”
“Dan kurasa kau memiliki pendapat yang sangat tinggi soal kemampuan maskulinmu sehingga kau mengira orang-orang akan percaya kau berhasil merusak nama baikku di atas atap.”
“Percayalah, pria berakal mana pun tahu nama baikmu sama sekali tidak bisa dirusak,” desis George.
Dahi Billie sejenak berkerut bingung. Apakah pria itu memuji moralitasnya? Tetapi—
Oh!
“Kau sangat menyebalkan,” ia menggelegak dengan amarah. Karena itu satu-satunya pilihan jawabannya. Entah bagaimana menurutnya—Kau sama sekali tak tahu berapa banyak pria yang ingin merusak nama baik-ku tidak akan memberinya poin untuk kecerdikan dan martabat.
Dan kejujuran.
“Andrew,” panggil George, dengan suara aku-anak-laki-laki-paling-tua miliknya yang paling angkuh, “aku akan membayar seratus pound agar kau mau melepas kain penyangga itu dan meletakkan tangga kembali ke tempatnya.”
Seratus pound?
Billie menoleh ke arahnya tak percaya. “Apa kau sudah gila?”
“Entahlah,” pikir Andrew geli. “Mungkin melihat kalian berdua saling bunuh sebanding dengan seratus pound.”
“Jangan bersikap menyebalkan,” George melemparkan tatapan penuh amarah ke arah adiknya.
“Kau bahkan tidak akan menjadi ahli waris,” Billie mengingatkan, bukan berarti Andrew pernah berharap bisa menggantikan ayahnya sebagai Earl of Manston. Dia jauh terlalu menyukai hidup bebasnya untuk tanggung jawab seperti itu.
“Ah, ya, Edward,” desah Andrew berlebihan, merujuk kepada anak laki-laki Rokesby nomor dua, yang dua tahun lebih tua darinya. “Itu memang merusak kesenangan. Akan terlihat mencurigakan bila kalian berdua mati dalam keadaan yang memancing tanda tanya.”
Ada jeda kikuk ketika mereka semua menyadari bahwa Andrew telah, mungkin, bercanda terlalu jauh untuk itu. Edward Rokesby mengambil rute paling membanggakan untuk anak kedua dan menjadi kapten di Resimen tentara ke-54 Kerajaan Inggris. Dia dikirim ke koloni Amerika lebih dari setahun lalu dan mengabdi dengan gagah berani di Perang Quaker Hill. Dia terus tinggal di Rhode Island selama beberapa bulan sebelum dipindah ke markas Inggris di New York Town. Kabar mengenai kesehatan dan keselamatannya tiba terlalu jarang untuk semua orang.
“Kalau Edward meninggal,” kata George kaku, “kurasa keadaannya tidak akan pernah digambarkan sebagai ‘memancing keingintahuan’.”
“Oh, ayolah, berhenti bersikap begitu serius sepanjang waktu,” Andrew memutar bola mata ke arah kakaknya.
“Kakakmu mempertaruhkan nyawanya untuk Raja dan Negara,” kata George, dan sungguh, pikir Billie, suaranya terdengar tegang dan kaku, bahkan untuk dirinya.
“Begitu juga aku,” sahut Andrew dengan senyum dingin. Dia mengangkat lengannya yang terluka ke arah atap, lengannya yang terlipat dan dibalut menggantung ke bahu. “Atau paling tidak satu atau dua tulang.”
Billie menelan ludah dan menoleh ragu-ragu ke arah George, mencoba mengukur reaksi pria itu. Seperti yang biasa terjadi pada anak laki-laki ketiga, Andrew melewatkan universitas dan langsung masuk ke Angkatan Laut Kerajaan sebagai taruna. Dia diangkat menjadi letnan setahun yang lalu. Andrew tidak mendapati dirinya berada dalam bahaya sesering Edward, namun tetap saja, dia mengenakan seragamnya dengan bangga.
George, di lain pihak, tidak diizinkan untuk bertugas; sebagai pewaris gelar earl dia dianggap jauh terlalu berharga untuk melemparkan diri ke hadapan peluru-peluru senapan Amerika. Dan Billie bertanya-tanya dalam hati… apa itu mengganggunya? Bahwa adik-adiknya mengabdi untuk negara dan dia tidak? Apakah dia bahkan ingin ikut berperang?
Kemudian Billie bertanya-tanya dalam hati… kenapa ia tak pernah memikirkan hal ini? Benar, ia tidak mendedikasikan banyak waktu memikirkan George Rokesby kecuali pria itu berdiri di hadapannya, namun hidup keluarga Rokesby dan Bridgerton begitu terjalin erat. Sepertinya aneh ia tidak mengetahui hal ini.
Matanya perlahan-lahan bergerak dari satu saudara ke saudara yang lain. Mereka tidak berkata apa-apa selama beberapa saat. Andrew masih terus menatap dengan mata sebiru esnya yang penuh tantangan, dan George membalas dengan… well, bukan amarah tepatnya. Paling tidak, sudah tidak lagi. Tapi juga bukan penyesalan. Atau harga diri. Atau apa pun yang bisa Billie identifikasi.
Ada jauh lebih banyak hal dalam percakapan ini dari yang tampak di permukaan.
“Well, aku sudah mempertaruhkan nyawa dan kakiku untuk kucing yang tak tahu berterima kasih,” Billie mengumumkan, ingin mengarahkan percakapan kembali ke topik yang tak begitu kontroversial. Yaitu, penyelamatan dirinya.
“Itukah yang terjadi?” gumam Andrew, yang membungkuk ke atas tangga. “Kukira kau tidak suka kucing.”
George menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang melebihi kejengkelan. “Kau bahkan tidak suka kucing?”
“Semua orang suka kucing,” sahut Billie cepat-cepat.
Mata George menyipit, dan Billie tahu tak mungkin pria itu percaya senyum ramahnya bukan usaha untuk menenteramkan, tapi untungnya Andrew memilih saat itu untuk mengeluarkan makian pelan, membuat mereka berdua mengalihkan perhatian ke perjuangannya dengan tangga.
“Apa kau baik-baik saja?” panggil Billie.
“Serpihan kayu,” jawab Andrew ketus. Dia mengisap sisi jari kelingkingnya. “Sialan.”
“Serpihan itu tidak akan membunuhmu,” bentak George.
Andrew mengambil waktu beberapa saat untuk mendelik marah ke arah kakaknya.
George memutar bola mata. “Oh, demi Tuhan.”
“Jangan membuatnya gusar,” desis Billie.
George mengeluarkan geraman janggal, namun dia terus membisu, bersedekap sambil memandangi adiknya di bawah.
Billie beringsut-ingsut ke pinggir atap supaya bisa melihat Andrew lebih baik sementara pria itu menyelipkan salah satu kaki ke bawah tangga kemudian membungkuk memegang anak tangganya. Dia menggeram keras sambil mengangkat tangga ke atas. Andrew melakukannya dengan salah, namun tak banyak yang bisa dilakukan oleh pria berlengan satu.
Tapi paling tidak dia pria berlengan satu yang kuat, dengan usaha besar serta bahasa yang tidak pantas, dia berhasil meletakkan tangga di sisi bangunan.
“Terima kasih,” George menghela napas, meskipun dari nada suaranya Billie tidak yakin pria itu berterima kasih pada adiknya atau Tuhan.
Dengan Andrew menahan tangga—dan tidak ada kucing sebagai penghalang—perjalanan ke bawah jauh lebih mudah daripada usaha pertama. Tapi rasanya menyakitkan. Demi Tuhan, nyeri di pergelangan kaki Billie membuatnya sesak napas. Dan tidak ada yang bisa ia lakukan soal itu. Ia tak bisa melompati anak-anak tangga, jadi dengan setiap langkah ia harus meletakkan beban di pergelangan kakinya yang terkilir.
Pada saat tiba di anak tangga ketiga dari bawah, Billie hampir tak bisa menyembunyikan suara tangisnya.
__ADS_1
Tangan-tangan kuat mendarat di pinggangnya. “Aku sudah memegangmu,” kata George pelan, dan Billie membiarkan dirinya pingsan