KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 20


__ADS_3

GEORGE SELALU MENJADI yang pertama di keluarganya untuk sarapan, tapi saat ia melangkah ke ruang makan informal keesokan paginya, ibunya sudah berada di meja, menyesap secangkir teh.


Tidak mungkin ini kebetulan.


“George, kita harus bicara,” panggil ibunya segera setelah melihatnya.


“Ibu,” gumam George, melangkah ke bufet untuk mengisi piringnya. Apa pun yang membuat ibunya marah, George sedang tidak ingin mendengarnya. Ia lelah dan mudah marah. Ia mungkin hanya nyaris melamar seseorang kemarin malam, tapi ia jelas telah ditolak.


Bukan kejadian yang menghasilkan mimpi indah. Ataupun tidur yang nyenyak.


“Seperti yang kauketahui, malam ini ada pesta dansa Lady Wintour,” ibunya langsung melompat ke topik pembicaraan.


George menyendok beberapa telur setengah matang ke piringnya. “Percayalah itu belum hilang dari benakku.”


Bibir ibunya mengencang, namun tidak menegurnya untuk sarkasmenya. Sebaliknya wanita itu menunggu dengan tidak sabar sampai George bergabung di meja.


“Ini soal Billie,” kata ibunya.


Tentu saja.


“Aku mencemaskannya.”


Begitu juga dengan George, tapi ia ragu untuk alasan yang sama. Ia memasang senyum sopan di wajah. “Ada masalah apa?”


“Dia akan membutuhkan seluruh bantuan yang bisa dia dapatkan malam ini.”


“Jangan konyol,” George mencemooh, tapi ia tahu apa maksud ibunya. Billie tidak ditakdirkan untuk London. Dia gadis desa, dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Dia tidak memiliki kepercayaan diri, George. Para pemangsa akan melihat hal itu dengan segera.”


“Apa Ibu pernah bertanya-tanya mengapa kita memilih untuk bergaul dengan para pemangsa ini?” tanyanya geli.


“Karena setengah dari mereka sebenarnya lembut seperti burung merpati.”


“Merpati?” George memberi ibunya tatapan tak percaya.


Ibunya mengibaskan sebelah tangan. “Mungkin merpati pos. Tapi bukan itu intinya.”


“Aku tidak akan pernah seberuntung itu.”


Ibunya memberinya tatapan tajam untuk menjelaskan bahwa meskipun dia mendengar apa yang George katakan, dia memilih mengabaikannya dengan anggun. “Kesuksesan Billie berada di tanganmu.”


George tahu ia akan menyesal telah mendorong ibunya untuk menjelaskan maksudnya, namun ia tak bisa menghentikan dirinya dari bertanya, “Maaf, apa maksud Ibu?”


“Kau tahu seperti aku bahwa cara paling pasti untuk memastikan kesuksesan seorang gadis debutan adalah pria yang memenuhi syarat—seperti dirimu—memperhatikannya.”


Entah mengapa, ini membuat George sangat jengkel. “Sejak kapan Billie menjadi gadis yang akan debut?”


Ibunya memandanginya seolah ia *****. “Untuk apa lagi menurutmu aku mengajaknya ke London?”


“Aku yakin Ibu berkata ingin dia temani?” balas George.


Ibunya mengibaskan tangan mendengar sesuatu yang jelas menurutnya merupakan omong kosong. “Gadis itu membutuhkan sedikit polesan.”


Tidak, pikir George, Billie tidak membutuhkannya. Ia menusukkan garpunya ke sosis dengan terlalu kuat. “Dia baik-baik saja apa adanya.”


“Kau baik sekali, George,” jawab Lady Manston, memeriksa muffin-nya sebelum memutuskan menambahkan sedikit mentega, “tapi yakinlah, tidak ada wanita yang mau menjadi ‘baik-baik saja.’”


George memasang wajah sabar. “Apa maksud Ibu?”


“Aku membutuhkanmu untuk melakukan bagianmu malam ini. Kau harus berdansa dengannya.”


Ibunya membuatnya terdengar seolah bagi George itu sebuah tugas. “Tentu saja aku akan berdansa dengannya.” Rasanya akan sangat janggal setelah mempertimbangkan semuanya, tapi meskipun begitu, mau tak mau ia menantikannya. Ia sudah ingin berdansa dengan Billie sejak pagi itu di Aubrey Hall ketika gadis itu mendongak menatapnya sambil berkacak pinggang dan menuntut, “Apa kau pernah berdansa denganku?”


Saat itu, George tak percaya ia belum pernah melakukannya. Setelah bertahun-tahun bertetangga, bagaimana mungkin ia belum pernah berdansa dengan Billie?


Tapi sekarang ia tak percaya ia pernah mengira ia pernah. Kalau ia pernah berdansa dengan Billie, dengan musik membasuh mereka saat ia meletakkan tangan di pinggul gadis itu… itu bukan sesuatu yang bisa ia lupakan.


Dan George menginginkannya. Ia ingin menggenggam tangan Billie dan berdansa dengan gadis itu melewati barisan, melangkah dan membungkuk, merasakan keanggunan bawaan dalam diri Billie. Tapi lebih daripada itu, ia ingin Billie merasakannya. George ingin gadis itu tahu dia sefeminin dan seelegan yang lain, bahwa dia sempurna di mata George, bukan hanya ‘baik-baik saja,’ dan kalau saja ia—


“George!”


Ia menengadah.


“Tolong perhatikan,” kata ibunya.


“Maaf,” ia bergumam. George sama sekali tidak tahu sudah berapa lama ia larut dalam pikirannya sendiri, meskipun secara umum, dengan ibunya bahkan satu atau dua detik melamun sudah tidak bisa ditoleransi.


“Aku tadi mengatakan kau harus berdansa dua kali dengan Billie,” kata ibunya dengan agak kesal.


“Akan kulakukan.”


Mata ibunya menyipit; dia jelas curiga dengan betapa mudahnya dia mendapatkan keinginannya. “Kau juga harus memastikan untuk memberi jarak paling tidak sembilan puluh menit di antara dansa.”


George memutar bola mata dan tidak bersusah payah menyembunyikannya. “Sesuai perintah Ibu.”


Lady Manston mengaduk sedikit gula ke dalam tehnya. “Kau harus terlihat perhatian.”


“Tapi tidak terlalu perhatian?”


“Jangan menggodaku,” ibunya memperingatkan.


George meletakkan garpu. “Ibu, yakinlah aku juga menginginkan kebahagiaan untuk Billie sama seperti dirimu.”


Ini sepertinya sedikit menenangkan ibunya. “Baiklah, aku senang kita sepakat,” katanya. “Aku ingin tiba di pesta dansa pukul setengah sepuluh. Ini akan memberi kita kesempatan untuk membuat kemunculan yang pantas, tapi masih cukup awal sehingga tidak begitu menyulitkan untuk membuat perkenalan. Keadaan bisa menjadi terlalu bising pada acara-acara seperti ini.”


George mengangguk setuju.


“Kurasa kita sebaiknya berangkat pukul sembilan—pasti akan ada antrean kereta di luar Wintour House dan kau tahu betapa lamanya itu—jadi kalau kau bisa siap pukul delapan lewat empat puluh lima—”


“Oh, tidak, maafkan aku,” George memotong, memikirkan pesan konyol yang harus ia sampaikan kepada Robert Tallywhite. “Aku tak bisa menemanimu. Aku harus pergi sendiri ke pesta.”


“Jangan konyol,” kata ibunya. “Kami membutuhkanmu untuk mendampingi.”


“Aku berharap aku bisa melakukannya,” kata George jujur. Tak ada yang akan lebih ia sukai dari Billie muncul dalam gandengannya, tapi ia sudah memikirkan masak-masak jadwal malam ini, dan ia memutuskan penting untuknya tiba sendiri. Kalau ia datang dengan kedua wanita itu, ia harus meninggalkan mereka di pintu. Dan Tuhan tahu itu tidak akan terjadi tanpa interogasi penuh dari ibunya.


Tidak, lebih baik tiba di sana lebih awal supaya ia bisa menemukan Tallywhite dan mengurus semuanya sebelum mereka berdua tiba.


“Apa yang mungkin lebih penting daripada menemani aku dan Billie?” tuntut ibunya.


“Aku sudah punya janji,” jawab George, mengangkat cangkir tehnya ke mulut. “Tidak bisa dihindari.”


Bibir ibunya menipis. “Aku sangat kecewa.”


“Aku menyesal karena mengecewakan.”


Ibunya mulai mengaduk teh semakin kencang. “Aku mungkin salah soal ini, kau tahu. Dia bisa saja menjadi kesuksesan instan. Kami bisa saja dikelilingi para pria terhormat sejak saat kami tiba.”


“Nada suara Ibu seperti mengimplikasikan bahwa itu hal yang buruk,” kata George.


“Tentu saja tidak. Tapi kau tidak akan di sana untuk menyaksikannya.”


Sebenarnya, itu hal terakhir yang ingin George lihat. Billie, dikelilingi sekelompok pria yang cukup tajam untuk menyadari betapa berharganya gadis itu? Itu mimpi buruk.


Dan bisa diperdebatkan, ternyata. “Sebenarnya,” George memberitahu ibunya, “mungkin aku akan tiba di Wintour House sebelum kalian.”


“Well, kalau begitu aku tidak melihat alasan mengapa kau tidak bisa berputar kembali dari urusanmu dan menjemput kami dalam perjalanan.”


George berusaha tidak mencubit hidung. “Ibu, itu tidak bisa. Tolong terima itu dan ketahuilah aku akan menemuimu di pesta, tempat aku akan berdansa dengan penuh perhatian dengan Billie sampai para pria di London akan mengantre hanya untuk jatuh di kakinya.”


“Selamat pagi.”


Mereka berdua berbalik dan melihat Billie berdiri di ambang pintu. George berdiri menyambut. Ia tidak yakin seberapa banyak yang gadis itu dengar, di luar sarkasmenya, dan ia khawatir Billie akan salah menerima.


“Betapa baiknya kau bersedia untuk mengurusku malam ini,” kata Billie, nada suaranya begitu manis dan ramah sehingga George tidak bisa mengukur ketulusannya. Gadis itu melangkah ke bufet dan mengambil piring. “Kuharap itu bukan tugas yang terlalu sulit.”

__ADS_1


Ah, itu dia.


“Sebaliknya,” George menjawab. “Aku sangat menantikan menjadi pendampingmu.”


“Tapi tidak terlalu sehingga kau mau menemani kami di kereta,” ibunya bergumam.


“Hentikan,” sergahnya.


Billie berbalik, matanya bergerak dari satu Rokesby ke Rokesby lain dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan.


“Dengan menyesal aku memberitahumu bahwa aku punya janji yang tidak bisa dibatalkan malam ini,” George memberitahu, “yang artinya aku tidak akan bisa pergi ke Wintour House bersamamu. Tapi aku akan menemuimu di sana. Dan kuharap kau akan menyimpan dua dansa untukku.”


“Tentu saja,” Billie bergumam. Akan tetapi, tak banyak yang bisa dia katakan.


“Karena kau tidak bisa menemani kami malam ini…” Lady Manston memulai.


George nyaris melempar serbetnya.


“…mungkin kau bisa membantu kami dengan cara lain.”


“Kumohon, beritahu bagaimana aku bisa membantu,” sahutnya.


Billie mengeluarkan suara yang mungkin dengusan. George tidak yakin. Tapi jelas merupakan sifat Billie untuk menemukan kelucuan dari kesabaran George yang mulai hilang dalam menghadapi ibunya.


“Kau mengenal semua pria muda lebih baik dariku,” Lady Manston melanjutkan. “Apa ada yang sebaiknya kami hindari?”


Semuanya, George ingin berkata.


“Dan apa ada yang sebaiknya kami cari? Yang mungkin bisa Billie jadikan pilihan?”


“Yang mungkin aku—apa?”


Billie pasti benar-benar terkejut, pikir George. Gadis itu menjatuhkan tiga iris daging asap ke lantai.


“Jadikan pilihan, Sayang,” kata Lady Manston. “Itu ungkapan. Tentunya kau pernah mendengarnya.”


“Tentu saja aku pernah mendengarnya,” Billie bergegas mendekat dan meletakkan piring di meja. “Akan tetapi, aku tidak melihat apa hubungannya denganku. Aku tidak datang ke London untuk mencari calon suami.”


“Kau harus selalu mencari calon suami, Billie,” kata Lady Manston, kemudian berpaling kembali kepada George. “Bagaimana dengan anak laki-laki Ashbourne? Bukan yang paling tua, tentu saja. Dia sudah menikah, dan meskipun kau sangat menyenangkan,”—ini dia katakan dari balik bahunya kepada Billie yang masih terperanjat—”kurasa kau tidak bisa menggaet pewaris gelar duke.”


“Aku cukup yakin aku tidak mau melakukannya,” kata Billie.


“Kau praktis sekali, Sayang. Gelar itu sangat berlebihan.”


“Kata istri seorang earl,” komentar George.


“Keduanya sama sekali tidak sama,” sahut Lady Manston. “Dan kau tidak menjawab pertanyaanku. Bagaimana dengan anak laki-laki Ashbourne?”


“Tidak.”


“Tidak?” ulang ibunya. “Tidak, yang berarti kau tidak memiliki pendapat?”


“Tidak, yang berarti tidak. Dia bukan untuk Billie.”


Yang, George tidak bisa tidak melihat, sedang mengamati pembicaraan antara ibu dan anak dengan campuran rasa ingin tahu dan gelisah.


“Ada alasan khusus?” tanya Lady Manston.


“Dia berjudi,” George berbohong. Well, mungkin bukan kebohongan. Semua bangsawan berjudi. Ia sama sekali tidak tahu apakah orang yang mereka bicarakan melakukannya dengan berlebihan.


“Bagaimana dengan pewaris Billington? Kurasa dia—”


“Juga tidak.”


Ibunya mengamatinya tanpa ekspresi.


“Dia terlalu muda,” kata George, berharap itu benar.


“Benarkah?” Ibunya mengernyit. “Kurasa mungkin begitu. Aku tak ingat tepatnya.”


“Tentu saja punya,” Lady Manston menepuk-nepuk tangannya. “Tapi belum saatnya.”


Mulut Billie terbuka, tapi dia tampak seolah tidak tahu harus berkata apa.


“Bagaimana bisa, saat kau tidak mengenal siapa pun selain kami?” lanjut Lady Manston.


Billie memasukkan sepotong daging asap ke mulut dan mulai mengunyah dengan kekuatan mengesankan. George curiga ini dilakukan untuk mencegah gadis itu mengucapkan sesuatu yang akan disesalinya.


“Jangan khawatir, Sayang,” kata Lady Manston.


George menyesap tehnya. “Menurutku dia tidak terlihat khawatir.”


Billie melemparkan tatapan berterima kasih.


Ibunya mengabaikannya sepenuhnya. “Kau akan mengenal semua orang sebentar lagi, Billie. Kemudian kau bisa memutuskan dengan siapa kau ingin mengenal lebih jauh.”


“Aku tidak tahu aku berencana untuk berada di sini cukup lama untuk membentuk opini dengan cara apa pun,” kata Billie, suaranya—menurut pendapat George—tetap terdengar datar dan tenang.


“Omong kosong,” kata Lady Manston. “Serahkan saja semuanya kepadaku.”


“Kau bukan ibunya,” kata George pelan.


Dan membuat ibunya mengangkat alis dan berkata, “Tapi bisa saja.”


Membuat George dan Billie menatapnya syok dengan mulut ternganga.


“Oh, ayolah, kalian berdua,” kata Lady Manston, “tentunya tidak mengejutkan kalau sejak lama aku mengharapkan aliansi antara Rokesby dan Bridgerton.”


“Aliansi?” ulang Billie, dan yang bisa George pikirkan hanyalah itu kata yang buruk dan klinis, kata yang tak akan pernah bisa mencakup seluruh perasaan yang sekarang ia miliki untuk Billie.


“Perjodohan, pernikahan, terserah seperti apa kau ingin menyebutnya,” kata Lady Manston. “Kita sangat dekat. Tentu saja aku ingin menjadi keluarga.”


“Kalau ini membuat perbedaan, aku sudah menganggapmu keluarga,” sahut Billie pelan.


“Oh, aku tahu, Sayang. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku hanya selalu berpikir akan sangat indah bila bisa membuatnya resmi. Tapi tak penting. Selalu ada Georgiana.”


Billie berdeham. “Dia masih sangat muda.”


Lady Manston tersenyum jail. “Begitu juga Nicholas.”


Ekspresi di wajah Billie begitu mendekati ngeri sehingga George nyaris tertawa. Mungkin ia sudah tertawa kalau ia tidak cukup yakin wajahnya sendiri memasang ekspresi yang sama.


“Kulihat aku sudah membuatmu shock,” kata ibunya. “Tapi ibu mana pun akan memberitahu—tidak pernah terlalu pagi untuk merencanakan masa depan.”


“Aku tidak akan merekomendasikan untuk menyinggung hal ini dengan Nicholas,” gumam George.


“Atau Georgiana, aku yakin,” ibunya berkata, dan menuangkan secangkir teh lagi untuk dirinya sendiri. “Kau mau secangkir, Billie?”


“Eh… ya, terima kasih.”


“Oh, dan itu satu hal lagi,” kata Lady Manston sambil menuangkan sedikit susu ke dalam cangkir teh Billie. “Kita harus berhenti memanggilmu Billie.”


Billie mengerjap. “Maaf, apa?”


Teh dituang, kemudian Lady Manston mengulurkan cangkirnya dan berkata, “Mulai hari ini kita akan menggunakan nama aslimu. Sybilla.”


Mulut Billie menganga sesaat—tapi terlihat jelas—sebelum dia berkata, “Itu nama yang ibuku gunakan untuk memanggilku saat dia sedang marah.”


“Kalau begitu kita akan memulai tradisi baru yang lebih bahagia.”


“Apa ini benar-benar perlu?” tanya George.


“Aku tahu akan sulit untuk diingat,” kata Lady Manston, akhirnya meletakkan cangkirnya di dekat piring Billie, “tapi kurasa itu yang terbaik. Untuk nama, Billie begitu, well… aku tak tahu apakah aku akan menyebutnya kelaki-lakian, tapi kurasa itu tidak mewakili dengan tepat keinginan kami untuk menggambarkan dirimu.”


“Nama itu mewakili dengan tepat siapa dirinya,” George bisa dikatakan menggeram.

__ADS_1


“Ya ampun. Aku sama sekali tak tahu kau akan merasa begitu yakin soal ini,” ibunya berkata, dan mengamatinya dengan ekspresi polos. “Tapi tentu saja, itu tidak terserah padamu.”


“Aku lebih suka dipanggil Billie,” kata Billie.


“Aku tidak yakin itu juga terserah dirimu, Sayang.”


Garpu George jatuh ke piring dengan suara keras. “Kalau begitu terserah siapa?”


Ibunya menatapnya seolah ia baru saja menanyakan pertanyaan paling bodoh. “Aku.”


“Ibu,” ulangnya.


“Aku tahu bagaimana semuanya bekerja. Aku sudah pernah melakukannya, kau tahu.”


“Bukankah Mary menemukan suaminya di Kent?” George mengingatkan.


“Hanya setelah dia dipoles di London.”


Ya Tuhan. Ibunya sudah gila. Itu satu-satunya penjelasannya. Dia bisa ngotot, dan dia bisa sangat teliti bila berhubungan dengan masyarakat kelas atas dan etiket, tapi dia tak pernah berhasil menyatukan keduanya dengan begitu tidak rasional.


“Tentunya itu tidak penting,” kata Billie. “Bukankah sebagian besar orang juga akan memanggilku Miss Bridgerton?”


“Tentu saja,” aku Lady Manston, “tapi mereka akan mendengar kami berbicara denganmu. Ini bukan seperti mereka tidak akan tahu nama depanmu.”


“Ini percakapan paling bodoh,” gerutu George.


Ibunya hanya meliriknya tajam. “Sybilla,” katanya, menoleh ke arah Billie, “aku tahu kau tidak datang ke London dengan niat mencari calon suami, tapi tentunya kau melihat kesempatan itu setelah kau ada di sini. Kau tidak akan pernah menemukan begitu banyak pria terhormat memenuhi syarat di satu tempat di Kent.”


“Entahlah, di sana sangat penuh pria terhormat saat semua Rokesby berada di rumah,” gumam Billie di atas tehnya.


George mendongak tajam ketika ibunya tertawa kencang. “Benar sekali, Billie,” katanya dengan senyum hangat (kelihatannya lupa dia bermaksud memanggilnya Sybilla), “tapi sayangnya, saat ini aku hanya punya satu Rokesby di rumah.”


“Dua,” sahut George tak percaya. Kelihatannya kalau kau tak pernah pergi, kau tidak masuk hitungan berada di rumah.


Alis ibunya terangkat. “Aku sedang membicarakanmu, George.”


Well, sekarang ia merasa seperti orang bodoh.


George berdiri. “Aku akan memanggil Billie dengan nama yang dia inginkan. Dan aku akan menemuimu di Wintour House sesuai janji, saat pesta sudah dimulai. Kalau kau mengizinkan, ada banyak hal yang harus kukerjakan.”


Sebenarnya tidak, tapi George rasa dia tak akan bisa mendengar satu kata lagi dari ibunya mengenai debut Billie.


Semakin cepat mereka melewati hari menyebalkan ini akan semakin baik.


.


BILLIE MENGAMATI GEORGE berjalan pergi, dan ia tidak akan mengatakan apa-apa, sungguh, tapi bahkan saat ia mencelupkan sendok ke dalam bubur, ia mendengar dirinya berseru, “Tunggu!”


George berhenti di pintu.


“Hanya sebentar,” Billie cepat-cepat menurunkan serbetnya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang akan ia katakan, tapi ada sesuatu di dalam dirinya dan ini jelas harus dikeluarkan. Ia menoleh kepada Lady Manston. “Permisi. Aku hanya akan membutuhkan waktu sebentar.”


George keluar dari ruang makan kecil dan memasuki koridor yang memberi mereka sedikit privasi.


Billie berdeham. “Maaf.”


“Untuk apa?”


Pertanyaan bagus. Billie tidak merasa menyesal. “Sebenarnya,” ia berkata, “terima kasih.”


“Kau berterima kasih kepadaku,” kata pria itu pelan.


“Karena membelaku,” katanya. “Memanggilku Billie.”


Bibir George melengkung dengan senyum setengah masam. “Kurasa aku tidak bisa memanggilmu Sybilla meski aku mencoba.”


Billie membalas dengan ekspresi yang sama. “Aku tidak yakin aku akan menjawabnya kalau datang dari suara selain suara ibuku.”


George mengamati wajahnya sejenak, kemudian berkata, “Jangan biarkan ibuku mengubahmu menjadi seseorang yang bukan dirimu.”


“Oh, kurasa itu tidak mungkin di waktu setelat ini. Aku jauh terlalu terbiasa dengan caraku.”


“Pada usia 23 yang mengesankan?”


“Sangat mengesankan bila kau wanita yang belum menikah,” balas Billie. Mungkin seharusnya ia tidak mengatakannya; ada terlalu banyak setengah-lamaran dalam sejarah mereka. (Satu, pikir Billie, sudah terlalu banyak. Dua bisa dikatakan menandainya sebagai keajaiban alam.)


Tapi Billie tidak menyesal mengucapkannya. Ia tak bisa menyesalinya. Tidak kalau ia ingin mengubah salah satu setengah-lamaran itu menjadi sesuatu yang nyata.


Dan ia menginginkannya. Ia terjaga hampir di setengah malam—well, dua puluh menit paling tidak—memarahi dirinya karena bisa dikatakan memastikan George tidak akan melamarnya. Kalau ia membawa kemeja dari rambut yang akan membuatnya gatal-gatal (dan kecenderungan untuk pilihan yang tidak perlu), ia pasti sudah melakukannya.


George mengernyit, dan tentu saja benaknya berpikir tiga kali lipat lebih cepat. Apa pria itu bertanya-tanya mengapa ia membuat komentar mengenai statusnya yang hampir menjadi perawan tua? Mencoba memutuskan bagaimana merespons? Memperdebatkan kewarasannya?


“Dia membantuku memilih gaun cantik untuk malam ini,” semburnya.


“Ibuku?”


Billie mengangguk, kemudian mengeluarkan senyum menggoda. “Meskipun aku membawa celana panjangku ke kota hanya untuk berjaga-jaga bila aku harus membuatnya shock.”


George terbahak. “Benarkah?”


“Tidak,” aku Billie, hatinya tiba-tiba terasa lebih ringan setelah pria itu tertawa, “tapi kenyataan aku mempertimbangkannya berarti sesuatu, bukan?”


“Tentu saja.” George menunduk melihatnya, mata pria itu begitu biru dalam cahaya pagi, dan humornya digantikan dengan sesuatu yang lebih serius. “Tolong izinkan aku untuk meminta maaf atas nama ibuku. Aku tidak tahu apa yang menguasainya.”


“Kurasa mungkin dia merasa”—Billie mengernyit sejenak, memilih kata yang terbaik—”bersalah.”


“Bersalah?” Wajah George menunjukkan keterkejutannya. “Untuk apa?”


“Karena tak satu pun saudaramu melamarku.” Satu hal lagi yang mungkin sebaiknya tidak dikatakan. Tapi yang terjadi, Billie memang berpikir Lady Manston merasa seperti itu.


Dan saat ekspresi George berubah dari ingin tahu menjadi sesuatu yang mungkin saja cemburu… well, Billie mau tak mau merasa sedikit senang.


“Jadi menurutku dia mencoba menebusnya untukku,” katanya berani. “Ini bukan seperti aku menunggu salah satu dari mereka untuk melamarku, tapi menurutku dia merasa aku menunggu mereka, jadi sekarang dia ingin memperkenalkanku—”


“Cukup,” George nyaris membentaknya.


“Apa?”


Pria itu berdeham. “Cukup,” kata George dengan suara yang lebih tenang. “Itu menggelikan.”


“Bahwa ibumu merasa seperti itu?”


“Bahwa dia berpikir memperkenalkanmu dengan segerombolan pria pesolek tak berguna adalah ide yang masuk akal.”


Billie mengambil beberapa saat untuk menikmati pernyataannya, kemudian berkata, “Dia bermaksud baik.”


George mencemoohnya dengan nada keras.


“Sungguh,” Billie berkeras, tak bisa menahan senyumnya. “Dia hanya menginginkan apa yang dia pikir terbaik untukku.”


“Apa yang dia pikir.”


“Well, ya. Kau tak mungkin bisa meyakinkannya yang sebaliknya. Itu sifat Rokesby, aku khawatir.”


“Kau mungkin baru saja menghinaku.”


“Tidak,” Billie mempertahankan wajah tanpa ekspresinya dengan mengesankan.


“Aku akan membiarkan komentarmu berlalu.”


“Kau sangat baik, Sir.”


George memutar bola mata dengan lancang, dan sekali lagi Billie merasa lebih tenang. Mungkin ini bukan cara wanita yang lebih halus menggoda, tapi hanya ini yang ia ketahui.


Dan sepertinya berhasil. Soal itu ia yakin.

__ADS_1


Mungkin ia memang memiliki sedikit intuisi feminin.


__ADS_2