KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 8


__ADS_3

LADY BRIDGERTON MULAI merencanakan serangannya terhadap Season keesokan paginya. Billie terpincang-pincang masuk ke ruang makan kecil untuk sarapan, siap menerima tugas, namun yang membuatnya lega sekaligus takjub, ibunya berkata tidak membutuhkan bantuannya dalam perencanaan. Yang dia minta hanyalah Billie menuliskan undangan untuk Mary dan Felix. Billie mengangguk, menunjukkan persetujuan penuh terima kasihnya. Itu sesuatu yang bisa ia lakukan.


“Georgiana sudah menawarkan diri untuk membantuku,” kata Lady Bridgerton sambil memberi isyarat kepada pelayan agar menyiapkan piring sarapan. Meski Billie tangkas dalam menggunakan tongkatnya, tapi ia tidak bisa menyiapkan makanannya sendiri dari bufet sambil menjaga keseimbangan dengan sepasang tongkat.


Ia menoleh kepada adiknya, yang tampak sangat senang dengan prospek tersebut. “Itu akan sangat mengasyikkan,” kata Georgiana.


Billie menelan jawabannya. Ia tak bisa memikirkan hal yang lebih tidak menyenangkan, tapi ia tak perlu menghina adiknya dengan mengatakannya. Kalau Georgiana ingin menghabiskan sore menulis undangan dan merencanakan menu, dia boleh melakukannya.


Lady Bridgerton menyiapkan secangkir teh untuk Billie. “Bagaimana kau berencana akan menghabiskan harimu?”


“Aku tidak yakin,” sahut Billie, mengangguk berterima kasih kepada pelayan yang meletakkan piring di hadapannya. Ia memandang penuh rindu ke luar jendela. Matahari baru mulai bercahaya menembus awan, dan dalam waktu sejam embun pagi akan sudah menguap. Hari sempurna untuk berada di luar ruangan. Di atas kuda. Menjadi berguna.


Dan ada banyak hal yang harus ia lakukan. Salah satu penyewa sedang memperbaiki atap pondok, dan meskipun para tetangganya tahu mereka diharapkan menawarkan bantuan, Billie masih menduga John dan Harry Williamson akan mencoba mengelak dari tugas itu. Seseorang harus memastikan kakak-beradik itu mengerjakan bagian mereka, seperti juga seseorang harus memastikan tanah di bagian barat ditanami dengan benar dan taman mawar dipangkas sesuai spesifikasi ibunya.


Seseorang harus melakukan itu semua, dan Billie tidak tahu siapa kalau bukan dirinya.


Tapi tidak, ia terjebak di dalam rumah dengan kaki bengkak, dan itu bahkan bukan salahnya. Baiklah, mungkin itu sedikit salahnya, tapi jelas lebih besar salah kucing itu, dan rasanya benar-benar menyakitkan—kaki Billie, bukan kucing itu, meskipun dia cukup picik untuk berharap makhluk kecil menyebalkan itu juga punya alasan untuk berjalan terpincang-pincang.


Ia berhenti sejenak memikirkannya. Kalau benar-benar dipikirkan…


“Billie?” gumam ibunya, memandanginya dari atas pinggiran cangkir teh dari porselen campur abu tulang.


“Kurasa aku bukan orang yang sangat baik,” renung Billie.


Lady Bridgerton tersedak begitu keras sehingga teh tersembur keluar dari hidungnya. Sungguh pemandangan yang tak biasa, dan bukan pemandangan yang Billie harap akan ia lihat dalam hidupnya.


“Aku bisa menguatkan pendapatmu soal itu,” celetuk Georgiana.


Billie melemparkan rengutan ke arah adiknya yang, setelah dipertimbangkan lagi, agak kekanak-kanakan.


“Sybilla Bridgerton,” suara ibunya bernada tidak bersedia dibantah. “Kau orang yang sangat baik.”


“Kalau tidak,” wanita itu melanjutkan, suaranya melompat-lompat dengan tekanan suara jangan-berani-berani-menentangku, “itu akan menjadi cerminan buruk untukku, dan aku menolak percaya bahwa aku ibu yang selalai itu.”


“Tentu saja tidak,” sahut Billie cepat-cepat. Sangat cepat.


“Kalau begitu aku akan mengulang pertanyaanku,” kata ibunya. Dia menyesap teh dengan halus dan menatap putri tertuanya dengan ketenangan menakjubkan. “Apa rencanamu hari ini?”


“Well,” Billie berdalih. Ia melirik adiknya, tapi Georgiana sama sekali tidak membantu. Gadis itu hanya mengangkat bahu dengan kedikan kecil tak berdaya yang bisa saja berarti mulai dari aku-tak-tahu-apa-yang-terjadi-dengannya sampai aku-sangat-menikmati-kegelisahanmu.


Billie merengut. Bukankah menyenangkan kalau semua orang mengatakan apa yang mereka pikirkan?


Ia menghadap ibunya, yang masih mengamatinya dengan ekspresi tenang menipu. “Well,” tundanya lagi. “Aku mungkin akan membaca buku?”


“Buku,” ulang ibunya. Wanita itu menepuk-nepuk ujung mulut dengan serbet. “Mengasyikkan sekali.”


Billie mengamati ibunya dengan hati-hati. Balasan-balasan sarkastis muncul di benaknya, namun meski ibunya bersikap tenang, ada kilatan di mata wanita itu yang memberitahu Billie menutup mulut adalah pilihan yang bijaksana.


Lady Bridgerton meraih poci teh. Dia selalu minum lebih banyak teh saat sarapan dibanding semua anggota keluarga digabung menjadi satu. “Aku bisa merekomendasikan sesuatu, kalau kau mau,” katanya kepada Billie. Dia juga biasanya membaca lebih banyak buku daripada semua anggota keluarga digabung menjadi satu.


“Tidak. tidak perlu,” jawab Billie, memotong sosisnya menjadi bulatan-bulatan. “Ayah membawakan volume terakhir Precott’s Encyclopaedia of Agriculture saat dia di London bulan lalu. Aku seharusnya sudah mulai membacanya, tapi cuaca begitu cerah sehingga aku belum sempat melakukannya.”


“Kau bisa membaca di luar,” saran Georgiana. “Kita bisa memasang selimut. Atau menyeret sofa panjang ke luar.”


Billie mengangguk linglung sambil menusuk sepotong sosis. “Kurasa lebih baik kalau aku tetap di dalam.”


“Kau bisa membantuku merencanakan hiburan untuk pesta,” kata Georgiana.


Billie memberinya tatapan meremehkan. “Kurasa tidak.”


“Kenapa tidak, Sayang?” imbuh Lady Bridgerton. “Mungkin akan mengasyikkan.”


“Ibu baru saja mengatakan padaku bahwa aku tidak perlu ikut dalam perencanaan.”


“Hanya karena kurasa kau tidak mau.”


“Aku memang tidak mau.”


“Tentu saja tidak, tapi kau mau menghabiskan waktu dengan adikmu,” sambung ibunya lancar.


Oh, sial. Ibunya memang hebat. Billie memasang senyum di wajah. “Tak bisakah aku dan Georgie melakukan hal lain?”


“Tentu saja, kalau kau bisa meyakinkannya untuk membaca risalah pertanian dari balik punggungmu,” sahut Lady Bridgerton, tangannya dikibaskan dengan halus di udara.


Halus seperti peluru, pikir Billie. “Aku akan membantu dengan beberapa perencanaan,” ia menyerah.


“Oh, itu akan sangat bagus!” seru Georgiana. “Dan juga sangat membantu. Kau pasti memiliki lebih banyak pengalaman dalam hal semacam ini dibanding aku.”


“Tidak juga,” jawab Billie terus terang.


“Tapi kau pernah menghadiri pesta-pesta.”


“Well, ya, tapi…” Billie tidak bersusah payah mengakhiri kalimatnya. Georgiana tampak begitu bahagia. Rasanya akan seperti menendang anak anjing bila memberitahu Georgiana bahwa ia benci diseret ke pesta-pesta rumah oleh ibu mereka. Atau kalau benci adalah kata yang kuat, ia jelas tidak mengalami waktu yang menyenangkan. Ia benar-benar tidak suka bepergian. Ia tahu itu tentang dirinya.


Dan Billie tidak menikmati menghabiskan waktu dengan orang-orang tak dikenal. Ia bukan gadis pemalu; tidak sama sekali. Ia hanya lebih suka berada di tengah-tengah orang-orang yang ia kenal.


Orang-orang yang mengenalnya.


Hidup jauh lebih mudah seperti itu.


“Kau bisa melihatnya seperti ini,” kata Lady Bridgerton kepada Billie. “Kau tidak mau mengadakan pesta di rumah. Kau tidak menyukai pesta di rumah. Tapi aku ibumu, dan aku sudah memutuskan untuk mengadakannya. Karena itu, kau tak punya pilihan kecuali menghadirinya. Kenapa tidak mengambil kesempatan ini untuk membuat acara ini menjadi sesuatu yang mungkin akan kaunikmati?”


“Tapi aku tidak akan menikmatinya.”


“Kau jelas tidak akan menikmatinya dengan sikap seperti itu.”


Billie mengambil waktu untuk mengembalikan ketenangannya. Dan menahan desakan untuk berdebat dan membela diri serta mengatakan pada ibunya ia tidak bersedia diajak bicara seolah dirinya masih kecil…


“Aku akan senang bisa membantu Georgiana asalkan aku diberi waktu untuk membaca bukuku,” sahut Billie kaku.


“Aku tidak akan berani menjauhkanmu dari Prescott’s,” gumam ibunya.


Billie melotot ke arah ibunya. “Seharusnya Ibu tidak mengejeknya. Buku seperti itulah yang membuatku bisa meningkatkan produktivitas di Aubrey Hall sampai sepuluh persen. Belum lagi perbaikan-perbaikan untuk perkebunan milik penyewa. Mereka semua sekarang bisa makan lebih baik setelah—”


Billie menghentikan ucapannya sendiri, lalu menelan ludah. Ia baru saja melakukan sesuatu yang ia katakan tidak akan ia lakukan.


Berdebat.


Membela diri.


Bertingkah seperti anak kecil.


Billie menjejalkan sebanyak mungkin sarapannya ke mulut dalam waktu tiga puluh detik, kemudian berdiri dan menyambar tongkatnya yang disandarkan ke meja. “Aku akan berada di perpustakaan kalau ada yang membutuhkan.” Kepada Georgiana ia menambahkan, “Beritahu aku kapan rumputnya cukup kering agar kita bisa menghamparkan selimut.”


Georgiana mengangguk.


“Ibu,” kata Billie kepada ibunya dengan anggukan untuk menggantikan tekukan lutut memberi hormat yang biasa ia berikan saat hendak pergi. Satu lagi hal yang tidak bisa ia lakukan dengan tongkat.


“Billie,” kata ibunya, suara wanita itu terdengar mencoba mendamaikan. Dan mungkin sedikit frustrasi. “Aku berharap kau tidak akan…”


Billie menunggu ibunya menyelesaikan kalimatnya, namun wanita itu hanya menggeleng.


“Lupakan,” katanya.


Billie mengangguk sekali lagi, menekan tongkat ke lantai untuk keseimbangan sambil berbalik dengan kaki yang sehat. Tongkatnya memukul lantai dengan suara keras, kemudian ia mengayunkan tubuh di antaranya, bahunya tegang dan kaku saat mengulang gerakan tersebut sampai ke pintu.


Sulit sekali rasanya berjalan keluar dengan penuh martabat saat menggunakan tongkat.


.


GEORGE MASIH TIDAK yakin bagaimana Andrew bisa membujuknya menemani adiknya itu ke Aubrey Hall untuk kunjungan pagi, tapi di sinilah dirinya, berdiri di pintu utama sambil menyerahkan topi kepada Thamesly, kepala pelayan keluarga Bridgerton sejak sebelum ia lahir.


“Kau melakukan perbuatan baik, Pak Tua,” Andrew memeluk bahu George dengan kekuatan yang lebih besar daripada yang diperlukan.


“Jangan panggil aku seperti itu.” Ya Tuhan, ia benci sebutan itu.


Tapi itu hanya membuat Andrew tertawa. Tentu saja. “Siapa pun dirimu, kau masih berbuat baik. Billie akan gila karena bosan.”


“Tak ada salahnya dia mengalami sedikit kebosanan dalam hidupnya.” gerutu George.


“Benar, tapi aku prihatin pada keluarganya,” Andrew menyerah. “Hanya Tuhan yang tahu kegilaan macam apa yang akan dia timbulkan pada mereka kalau tidak ada yang datang menghiburnya.”


“Kau berbicara seolah dia masih kecil.”


“Anak kecil?” Andrew berbalik menatap George, wajahnya memasang ekspresi tenang penuh teka-teki yang cukup George kenal sehingga ia sangat curiga. “Tidak sama sekali.”


“Miss Bridgerton berada di perpustakaan,” Thamesly memberitahu mereka. “Kalau Anda berdua mau menunggu di ruang duduk, saya akan memberitahukan kehadiran Anda.”


“Tidak perlu,” sahut Andrew riang. “Kami akan bergabung dengannya di perpustakaan. Hal terakhir yang kami inginkan adalah memaksa Miss Bridgerton berjalan terpincang-pincang lebih daripada yang diperlukan.”


“Anda baik sekali, Sir,” gumam Thamesly.


“Apa dia masih kesakitan?” tanya George.


“Saya tidak tahu,” jawab kepala pelayan itu diplomatis, “tetapi mungkin patut diingat bahwa cuaca hari ini sangat cerah, dan Miss Bridgerton berada di dalam perpustakaan.”

__ADS_1


“Jadi dia menderita, kalau begitu.”


“Sangat, My Lord.”


Menurut George inilah alasan ia membiarkan Andrew menyeretnya dari penemuan mingguannya dengan manajer estat ayah mereka. Ia tahu pergelangan kaki Billie tidak mungkin mengalami banyak perubahan. Semalam bengkaknya terlihat parah, meski dibungkus meriah dengan pita merah muda konyol oleh gadis itu. Luka seperti itu tidak sembuh dalam semalam.


Dan meskipun dirinya dan Billie tidak pernah berteman, tepatnya, George merasakan tanggung jawab aneh atas kesehatan gadis itu, paling tidak sehubungan dengan situasinya saat ini. Apa bunyi peribahasa Cina itu? Kalau kau menyelamatkan satu nyawa, kau akan bertanggung jawab atas nyawa itu untuk selamanya. Ia jelas tidak menyelamatkan hidup Billie, tapi ia terjebak di atas atap bersama gadis itu, dan…


Dan sialan, ia tak tahu apa artinya ini, hanya saja menurutnya ia harus memastikan gadis itu merasa paling tidak sedikit baikkan. Meskipun Billie gadis paling menjengkelkan dan membuatnya mengertakkan gigi di sebagian waktu.


Ini tetap hal yang benar untuk dilakukan. Itu saja.


“Oh, Billie…” panggil Andrew saat mereka berjalan ke bagian belakang rumah. “Kami datang untuk menyelamatkanmu…”


George menggeleng-geleng. Ia tak tahu bagaimana adiknya bisa selamat di Angkatan Laut. Andrew sama sekali tidak bisa bersikap serius.


“Billie…” panggil Andrew lagi, suaranya melantunkan nada konyol. “Di manaaaaaaaa kau?”


“Di perpustakaan,” George mengingatkan.


“Well, tentu saja, tapi bukankah ini lebih mengasyikkan?” sahut Andrew dengan senyuman lebar yang membutakan.


“Tentu saja,” dia tidak menunggu jawaban.


“Billie!” panggilnya lagi. “Oh, Billiebilliebilliebill-”


“Demi Tuhan!” Kepala Billie muncul dari balik ambang pintu perpustakaan. Rambut cokelatnya ditarik ke belakang ke dalam sanggul longgar khas wanita yang tidak memiliki rencana untuk bertemu siapa-siapa. “Suaramu cukup keras untuk membangunkan orang mati. Apa yang kaulakukan di sini?”


“Begitukah caramu menyapa teman lama?”


“Aku bertemu denganmu semalam.”


“Benar sekali.” Andrew membungkuk dan mendaratkan ciuman ala saudara ke pipi Billie. “Tapi kau tidak melihatku untuk waktu yang sangat lama. Kau harus mengisi persediaan.”


“Persediaan kehadiranmu?” tanya Billie ragu.


Andrew menepuk-nepuk lengannya. “Kita sangat beruntung kau mendapat kesempatan ini.”


George memiringkan badan ke kanan supaya bisa melihat Billie dari belakang adiknya. “Boleh aku mencekiknya atau kau yang akan melakukannya?”


Gadis itu menghadiahinya senyum jahat. “Oh, itu harus dilakukan bersama-sama, bukankah menurutmu begitu?”


“Supaya kalian bisa membagi kesalahan?” celetuk Andrew.


“Supaya kami bisa berbagi kegembiraan,” Billie mengoreksi.


“Kau melukaiku.”


“Dengan senang hati, yakinlah.” Billie melompat-lompat ke kiri dan menoleh ke arah George. “Apa yang membawamu kemari pada pagi yang indah ini, Lord Kennard?”


George mengernyit menatap Billie yang memanggilnya dengan gelarnya. Bridgerton dan Rokesby tak pernah bersikap formal saat hanya ada kedua keluarga. Bahkan sekarang, tidak ada satu pun yang berkedip karena Billie hanya bersama dua pria lajang di perpustakaan. Akan tetapi ini bukan sesuatu yang akan diizinkan selama pesta yang akan datang. Mereka semua menyadari sikap santai mereka tidak akan bisa dilakukan jika ada orang lain.


“Diseret oleh adikku, sayangnya,” aku George. “Ada sedikit kecemasan atas keselamatan keluargamu.”


Mara Billie menyipit. “Sungguh.”


“Nah, nah, Billie,” kata Andrew. “Kita semua tahu kau tidak cocok terjebak di dalam ruangan.”


“Aku datang untuk keselamatannya,” kata George seraya menyentakkan kepala ke arah Andrew. “Meskipun aku yakin luka apa pun yang kautimbulkan padanya akan bisa dibenarkan.”


Billie melempar kepala ke belakang dan tertawa. “Ayo, bergabunglah denganku di perpustakaan. Aku harus duduk.”


Sementara George memulihkan diri dari pemandangan luar biasa dari Billie yang bergembira, gadis itu melompat-lompat kembali ke meja baca terdekat, memegangi rok biru muda di atas pergelangan kaki agar lebih mudah bergerak.


“Kau seharusnya menggunakan tongkatmu,” katanya.


“Tidak sebanding untuk jarak sependek itu,” sahut Billie, lalu duduk kembali di kursinya. “Lagi pula, tongkat-tongkat itu jatuh dan mengambilnya jauh lebih merepotkan.”


George mengikuti arah pandangan Billie ke tempat tongkat-tongkatnya tergeletak menyerong di lantai, saling menumpuk. Ia membungkuk dan mengambilnya, meletakkannya lembut di samping meja perpustakaan. “Kalau kau membutuhkan bantuan, seharusnya kau memintanya,” katanya pelan.


Gadis itu menatapnya dan mengerjap. “Aku tidak membutuhkan bantuan.”


George hendak memberitahu Billie agar tidak bersikap begitu defensif, tetapi kemudian ia menyadari gadis itu tidak sedang bersikap defensif. Billie hanya menyatakan fakta. Fakta yang gadis itu lihat.


George menggeleng-geleng. Billie bisa bersikap begitu harfiah.


“Apa?” tanya gadis itu.


George mengedikkan bahu. Ia tak tahu apa yang gadis itu bicarakan.


“Apa yang hendak kaukatakan?” tuntut Billie.


Sudut-sudut mulut gadis itu mengenang. “Itu tidak benar. Kau jelas hendak mengatakan sesuatu.” Harfiah dan ngotot. Kombinasi mengerikan.


“Apa tidurmu nyenyak?” tanya George sopan.


“Tentu saja,” jawab Billie dengan cukup lengkungan di alisnya untuk memberitahu dia sadar George mengubah topik pembicaraan. “Sudah kubilang kemarin. Aku tak pernah mengalami sulit tidur.”


“Kau bilang kau tak pernah mengalami kesulitan untuk tidur,” koreksi George, sedikit terkejut karena mengingat perbedaan itu.


Gadis itu mengedikkan bahu. “Sama saja.”


“Rasa sakit tidak membangunkanmu?”


Billie menunduk ke arah kakinya seolah lupa kakinya ada di sana. “Kelihatannya tidak.”


“Kalau aku boleh menyela,” Andrew membungkuk memberi hormat kepada Billie dengan ayunan lengan yang terlihat bodoh, “kami datang untuk menawarkan bantuan dan pertolongan dalam hal apa pun yang kau anggap penting.”


Gadis itu memberi Andrew tatapan yang biasanya George simpan untuk anak-anak nakal. “Apa kau yakin kau ingin membuat janji sebesar itu?”


George membungkuk sampai bibirnya berada di ketinggian yang sama dengan telinga Billie. “Tolong diingat dia menggunakan ‘kami’ sebagai kiasan yang berlebihan, bukan sebagai kata ganti jamak.”


Billie menyeringai. “Dengan kata lain, kau tidak mau menjadi bagian di dalamnya?”


“Tidak sama sekali.”


“Kau menghina sang lady,” sahut Andrew tanpa sedikit pun nada memprotes dalam suaranya. Dia bertengger malas di salah satu kursi berlengan indah milik keluarga Bridgerton, kaki-kaki panjangnya direntangkan ke depan sehingga hanya tumit sepatunya yang menyentuh karpet.


Billie memberinya tatapan jengkel sebelum kembali kepada George. “Kenapa kau datang ke sini?”


George duduk di meja di seberangnya. “Seperti yang dia katakan, tapi tanpa hiperbola. Kami berpikir kau mungkin perlu ditemani.”


“Oh.” Gadis itu sedikit terenyak, jelas kaget mendengar keterusterangan George. “Terima kasih. Kau baik sekali.”


“Terima kasih, kau baik sekali?” ulang Andrew. “Siapa kau?”


Billie memalingkan kepala dengan cepat. “Apa aku seharusnya menekuk kaki memberi hormat?”


“Itu akan menyenangkan,” sahut Andrew.


“Mustahil dilakukan dengan tongkat.”


“Well, kalau itu masalahnya…”


Billie menoleh ke arah George lagi. “Dia *****.”


George mengangkat kedua tangan. “Aku tidak akan membantah.”


“Keadaan menyedihkan dari anak laki-laki paling muda,” Andrew mendesah.


Billie memutar bola mata, dan mengedikkan kepalanya ke arah Andrew sembari berbicara dengan George, “Jangan mendorongnya.”


“Dikeroyok,” Andrew melanjutkan, “tidak pernah dihormati…”


George menjulurkan leher, mencoba membaca judul buku yang dibaca Billie. “Apa yang kaubaca?”


“Dan kelihatannya diabaikan juga,” Andrew melanjutkan.


Billie membalik bukunya sehingga huruf-huruf dengan tinta emas menghadap ke arah George. “Prescott’s Encyclopaedia of Agriculture.”


“Jilid empat,” George mengangguk setuju. Ia memiliki jilid satu sampai tiga di perpustakaan pribadinya.


“Ya, ini baru saja diterbitkan,” Billie mengonfirmasi.


“Pasti baru sekali, atau aku pasti sudah membelinya saat terakhir kali aku berada di London.”


“Ayahku membawakannya dari perjalanan terakhirnya. Kau bisa membacanya setelah aku selesai kalau kau mau.”


“Oh, tidak, aku yakin aku harus memilikinya sendiri.”


“Sebagai referensi,” Billie mengangguk menyetujui.


“Ini mungkin percakapan paling membosankan yang pernah kualami,” kata Andrew dari belakang mereka.


Mereka mengabaikannya.

__ADS_1


“Apa kau sering membaca buku berat seperti itu?” George mengangguk ke arah buku karangan Prescott’s itu. Ia selalu mengira wanita lebih menyukai buku-buku puisi tipis atau drama karangan Shakespeare dan Marlowe. Itu yang sepertinya dinikmati ibu dan saudara perempuannya.


“Tentu saja,” jawab Billie, merengut seolah George menghinanya dengan pertanyaan itu.


“Billie membantu ayahnya dalam manajemen tanah,” ujar Andrew, yang tampaknya bosan mengejek mereka. Dia mendorong dirinya berdiri dan berjalan ke dinding dengan rak-rak, memilih buku dengan acak. Dia membalik-balik beberapa halaman, mengernyit, dan mengembalikannya.


“Ya, kau pernah menyinggung kalau kau membantunya,” kata George. Ia menatap Billie. “Luar biasa sekali dirimu.”


Mata Billie menyipit.


“Itu bukan hinaan, hanya observasi,” kata George sebelum Billie sempat membuka mulut kecilnya yang gegabah.


Gadis itu tidak terlihat yakin.


“Harus kauakui, kebanyakan wanita muda tidak membantu ayah mereka seperti itu,” kata George lancar. “Karena itu, kau luar biasa.”


“Aku bersumpah, George,” ujar Andrew, mendongak dari buku yang sedang dibalik-baliknya, “kau bahkan memberikan pujian seperti ******** sombong.”


“Aku akan membunuhnya,” gerutu George.


“Kau harus mengantre,” komentar Billie. Tetapi kemudian dia merendahkan suaranya. “Tapi itu ada benarnya.”


George terenyak. “Apa?”


“Kau memang terdengar sedikit…” Billie mengibaskan tangan di udara alih-alih menyelesaikan kalimatnya.


“Seperti ********?” bantu George.


“Tidak!” jawab Billie dengan cukup kecepatan dan keyakinan yang cukup untuk membuat George memercayainya. “Hanya sedikit…”


George menunggu.


“Apa kau membicarakanku?” tanya Andrew yang kembali duduk di kursi dengan buku di tangannya.


“Bukan,” jawab mereka serempak.


“Aku tidak keberatan kalau percakapannya bersifat pujian,” pria itu bergumam.


George mengabaikannya, dan terus menatap Billie. Dahi Billie berkerut. Dua garis kecil terbentuk di antara alisnya, melengkung berhadapan seperti jam pasir, dan bibirnya mengerut menjadi rengutan serius, hampir seperti sedang menunggu ciuman.


George sadar ia tak pernah memperhatikan Billie saat sedang berpikir.


Kemudian ia tersadar betapa janggalnya pengamatannya itu.


“Kau memang terdengar sedikit sombong,” Billie akhirnya menjawab. Suaranya pelan, dimaksudkan hanya untuk telinga mereka berdua. “Tapi kurasa itu bisa dimengerti?”


Bisa dimengerti? George mencondongkan ke depan. “Kenapa kau mengatakannya seolah itu pertanyaan?”


“Entahlah.”


George bersandar ke belakang dan bersedekap, mengangkat sebelah alis untuk menandakan bahwa ia menunggu Billie melanjutkan.


“Baiklah,” sahut Billie, dengan tidak begitu anggun. “Kau yang tertua, sang pewaris. Kau Earl Kennard yang brilian, tampan, oh, dan kita tak boleh lupa, siap menikah.”


George merasakan senyuman perlahan-lahan melebar di wajahnya. “Menurutmu aku tampan?”


“Ini tepat seperti yang kubicarakan!”


“Juga brilian,” gumam George. “Aku sama sekali tak menyangka.”


“Kau bertingkah seperti Andrew,” gerutu Billie. Entah mengapa, ini membuat George terkekeh. Mata Billie menyipit menjadi delikan.


Senyum George melebar menjadi seringai. Demi Tuhan, rasanya menyenangkan bisa mengolok-olok gadis itu.


Billie mencondongkan badan ke depan, dan saat itu George menyadari betapa baiknya orang bisa berbicara dengan gigi dikertakkan. “Aku mencoba bersikap pengertian,” gadis itu menggeram.


“Maafkan aku,” sahut George segera.


Bibir Billie merapat. “Kau bertanya padaku. Aku mencoba memberimu jawaban serius dan jujur. Kupikir kau berhak mendapatkannya.”


Well, sekarang George merasa seperti ********.


“Maafkan aku,” katanya lagi, kali ini lebih dari sekadar sikap sopan yang sudah tertanam.


Billie mengembuskan napas, menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Dia berpikir lagi, George menyadari. Betapa menakjubkan rasanya melihat orang lain berpikir. Apa semua orang seekspresif ini saat sedang memikirkan ide-ide mereka?


“Itu karena caramu dibesarkan,” akhirnya Billie berkata. “Kau sama sekali tidak bisa disalahkan seperti…” dia mengembuskan napas lagi, namun George bersabar. Billie akan menemukan kata-kata yang tepat.


Dan setelah beberapa saat, gadis itu berhasil mendapatkannya. “Kau dibesarkan—” Tapi kali ini dia tiba-tiba berhenti.


“Untuk menjadi sombong?” katanya pelan.


“Untuk menjadi percaya diri,” Billie mengoreksi, namun George merasa pernyataannya lebih mendekati apa yang hendak Billie katakan. “Itu bukan salahmu,” gadis itu menambahkan.


“Sekarang siapa yang bersikap merendahkan?”


Gadis itu memberinya senyum masam. “Aku, aku yakin. Tapi itu benar. Kau tak bisa menahannya seperti aku tak bisa menahan diri menjadi…” Billie mengibaskan kedua tangan lagi, yang tampaknya menjadi gerakan untuk menggambarkan semua hal yang terlalu kikuk untuk dikatakan keras-keras.


“Diriku,” akhirnya dia menyelesaikan.


“Dirimu.” George mengatakannya dengan lembut. Ia mengatakannya karena harus mengatakannya, bahkan jika ia tidak tahu alasannya.


Billie mendongak menatap George, tapi hanya dengan matanya. Wajahnya tetap sedikit menunduk, dan George mendapatkan perasaan yang sangat janggal bahwa kalau ia tidak membalas pandangan gadis itu, kalau ia tidak bertahan, Billie akan mengembalikan pandangan ke kedua tangannya yang digenggam erat-erat, dan momen itu akan hilang selamanya.


“Siapa dirimu?” bisiknya.


Billie menggeleng. “Aku tidak tahu.”


“Apa ada yang lapar?” tiba-tiba Andrew bertanya.


George mengerjap, mencoba menyadarkan diri dari mantra apa pun yang dilontarkan kepadanya.


“Karena aku lapar,” Andrew melanjutkan. “Kelaparan. Sangat. Aku hanya makan satu sarapan pagi ini.”


“Satu sarapan?” Billie mulai bertanya, tapi Andrew sudah berdiri, dan melompat ke sampingnya.


Pria itu meletakkan kedua tangan di meja, dan memajukan badan untuk bergumam, “Aku berharap aku akan diundang untuk minum teh.”


“Tentu saja kau diundang untuk minum teh,” kata Billie, namun dia terdengar sama terguncang seperti yang George rasakan. Dia mengernyit. “Tapi ini sedikit terlalu pagi.”


“Tidak pernah terlalu pagi untuk minum teh.” Andrew mengumumkan. “Tidak kalau tukang masakmu membuat biskuit.” Dia menoleh kepada George. “Aku tidak tahu apa yang dia masukkan ke dalamnya, tapi rasanya lezat sekali.”


“Mentega,” sahut Billie linglung. “Banyak sekali.”


Andrew menelengkan kepalanya. “Well, itu masuk akal. Semua terasa lebih lezat dengan banyak mentega.”


“Sebaiknya kita meminta Georgiana untuk bergabung,” Billie meraih tongkatnya. “Aku seharusnya membantunya merencanakan hiburan untuk pasta rumah itu.” Dia memutar bola mata. “Perintah ibuku.”


Andrew terbahak. “Apa ibumu bahkan mengenalmu?”


Billie melemparkan sorot jengkel ke belakang.


“Serius, Billie-kambing, apa yang kau ingin kami lakukan? Pergi ke tanah di bagian selatan dan menanam barley?”


“Hentikan,” kata George.


Andrew berbalik. “Kenapa?”


“Jangan ganggu dia.”


Andrew tertegun dan memandanginya begitu lama sehingga George mau tidak mau berpikir apakah ia telah berbicara dengan bahasa asing.


“Ini Billie,” akhirnya Andrew berkata.


“Aku tahu. Dan sebaiknya kau jangan mengganggunya.”


“Aku bisa menghadapi perangku sendiri, George,” kata Billie.


George menoleh ke arah gadis itu. “Tentu saja kau bisa.”


Bibir Billie terbuka, namun sepertinya dia tak tahu bagaimana meresponsnya.


Andrew melihat bolak-balik ke antara mereka berdua sebelum menunduk kecil. “Maafkan aku.”


Billie mengangguk kikuk.


“Mungkin aku bisa membantu dalam perencanaannya,” saran Andrew.


“Kau jelas akan lebih baik melakukannya dibandingkan diriku,” kata Billie.


“Well, itu tidak perlu dikatakan lagi.”


Billie menusuk kaki Andrew dengan salah satu tongkatnya.


Dan seperti itu, George menyadari, semua kembali normal.

__ADS_1


Hanya saja itu tidak terjadi. Tidak untuknya


jangan lupa kaya biasanya ya!!


__ADS_2