
PESTA?
Billie dengan hati-hati meletakkan serbet, kegelisahan samar mengguyurnya. “Ibu?”
“Pesta di rumah,” ibunya mengklarifikasi, seolah itulah yang Billie tanyakan tadi.
“Pada saat seperti ini?’ tanya ayah Billie, sendok supnya berhenti sebentar dalam perjalanan ke mulut.
“Kenapa tidak?”
“Biasanya kita mengadakan pesta pada musim gugur.”
Billie memutar bola mata. Alasan tipikal laki-laki. Bukan berarti ia tidak setuju. Hal terakhir yang ia inginkan sekarang di Aubrey Hall adalah pesta. Semua orang asing itu bergerak ke sana kemari di rumahnya. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk memainkan peran putri tuan rumah yang patuh. Ia akan terjebak dalam gaunnya sepanjang hari, tak bisa mengurusi tanggung jawab mengurus estat yang sangat nyata.
Ia mencoba menatap mata ayahnya. Tentunya ayahnya menyadari betapa buruk ide ini, tak peduli musimnya. Tapi Lord Bridgerton tidak memedulikan apa pun kecuali istrinya. Dan supnya.
“Andrew tidak akan berada di rumah saat musim gugur,” Lady Bridgerton mengingatkan. “Dan kita harus merayakannya sekarang.”
“Aku suka pesta,” kata Andrew. Itu benar, namun Billie merasa pria itu mengatakannya lebih untuk meredakan ketegangan di meja. Karena keadaan cukup tegang. Dan sudah jelas bagi Billie tidak ada yang tahu sebabnya.
“Sudah beres, kalau begitu,” kata Lady Bridgerton. “Kita akan mengadakan pesta di rumah. Pesta kecil saja.”
“Definisikan kecil,” sahut Billie cemas.
“Oh, entahlah. Selusin tamu, mungkin?” Lady Bridgerton beralih kepada Lady Manston. “Bagaimana menurutmu, Helen?”
Lady Manston tidak mengejutkan siapa pun saat menjawab, “Kurasa kedengarannya menyenangkan. Tapi kita harus bertindak cepat, sebelum Andrew dikirimkan kembali ke laut. Laksamana sangat eksplisit saat mengatakan cutinya diberikan selama masa pemulihan dan tidak lebih lama daripada itu.”
“Tentu saja,” gumam Lady Bridgerton. “Bagaimana kalau seminggu lagi?”
“Seminggu? seru Billie. “Ibu tak mungkin bisa menyiapkan rumah dalam waktu satu minggu.”
“Oh, omong kosong. Tentu saja aku bisa.” Ibunya memberi Billie tatapan meremehkan dan geli. “Aku terlahir untuk hal-hal semacam ini.”
“Itu benar, Sayang,” sahut ayahnya penuh sayang.
Ayahku tidak akan bisa membantu, Billie menyadari. Kalau ia ingin menghentikan kegilaan ini, ia harus melakukannya sendiri. “Pikirkan tamu-tamunya, Mama.” ia berkeras. “Tentunya kau harus memberi mereka waktu. Orang-orang menjalani kehidupan yang sibuk. Mereka pasti punya rencana.”
Ibunya mengibaskan tangan seolah itu tidak penting. “Aku tidak berencana mengirimkan undangan ke seberang negeri. Kita punya cukup waktu mencapai teman-teman di daerah di dekat sini. Atau London.”
“Siapa yang akan kauundang?” tanya Lady Manston.
“Kau, tentu saja. Katakan kau akan datang dan menginap di tempat kami. Akan jauh lebih menyenangkan bila semua orang berada di bawah satu atap.”
“Itu sepertinya tidak perlu,” kata George.
“Benar sekali,” Billie menyetujui. Demi Tuhan. tempat tinggal mereka hanya terpisah kurang dari lima kilometer.
George memberinya tatapan tajam.
“Oh, please,” sahut Billie tak sabar. “Kau tak mungkin merasa tersinggung.”
“Aku bisa,” sahut Andrew sambil menyeringai lebar. “Bahkan kurasa aku akan merasa tersinggung, hanya untuk bersenang-senang.”
“Mary dan Felix,” kata Lady Bridgerton. “Kita tak mungkin mengadakan perayaan tanpa mereka.”
“Akan menyenangkan bisa melihat Mary,” aku Billie.
“Bagaimana dengan Westborough?” tanya Lady Manston.
George mengerang. “Tentunya kapal itu sudah berlayar pergi, Ibu. Tidakkah Ibu baru saja memberitahuku Lady Frederica sudah bertunangan?”
“Benar.” Lady Manston berhenti sejenak, mengangkat sendok sup ke mulutnya dengan lembut. “Tapi dia punya adik perempuan.”
Billie tersedak dengan tawa, kemudian cepat-cepat mengatur raut wajahnya menjadi kerutan di dahi saat George melemparkan delikan marah.
Senyum Lady Manston mengembang menjadi mengerikan. “Dan sepupu.”
“Tentu saja,” sahut George pelan.
Billie pasti sudah mengekspresikan semacam simpati, tapi tentu saja itu saat ketika ibunya sendiri memilih untuk berkata, “Kita juga harus menemukan beberapa pemuda baik.”
Mata Billie membelalak ketakutan. Seharusnya ia tahu gilirannya akan tiba. “Ibu, jangan,” dia memberi peringatan.
Memberi peringatan? Memerintah mungkin lebih tepat.
Bukan berani itu ada efeknya untuk antusiasme ibunya. “Kalau tidak itu akan tidak seimbang,” katanya tajam. “Lagi pula, kau tidak akan menjadi lebih muda.”
Billie memejamkan mata dan menghitung sampai lima. Antara itu atau memukul leher ibunya.
“Bukankah Felix memiliki saudara laki-laki?” tanya Lady Manston.
Billie menggigit lidah. Lady Manston tahu persis Felix memiliki saudara laki-laki. Felix Maynard menikah dengan putrinya satu-satunya. Lady Manston mungkin juga mengetahui nama dan usia semua sepupu Felix sebelum tinta di surat pertunangan kering.
“George?” tanya ibunya. “Bukankah dia punya?”
Billie tertegun dan menatap Lady Manston dengan takjub. Tekad wanita itu pada satu tujuan akan membuat seorang jenderal Angkatan Darat bangga. Apa itu semacam sifat bawaan dari lahir? Apakah para wanita keluar dari rahim dengan dorongan untuk menjodohkan pria dan wanita menjadi pasangan-pasangan yang rapi? Dan kalau ya, bagaimana mungkin dirinya dilewatkan?
Karena Billie tidak tertarik dengan perjodohan, untuk dirinya atau orang lain. Kalau itu membuatnya menjadi gadis aneh dan tidak feminin, ya sudah. Ia lebih suka berada di luar di atas kudanya. Atau memancing di danau. Atau memanjat pohon.
Atau apa saja, sungguh.
Bukan untuk pertama kalinya Billie bertanya-tanya dalam hati apa yang Tuhan pikirkan saat ia terlahir sebagai wanita. Ia jelas gadis paling tidak feminin dalam sejarah Inggris. Untung orangtuanya tidak memaksanya debut di London saat Mary melakukannya. Pasti akan buruk sekali. Ia pasti akan menjadi bencana.
Dan tidak ada yang akan menginginkan dirinya.
“George?” kata Lady Manston lagi, ketidaksabaran menajamkan suaranya.
George tersentak, dan Billie menyadari pria itu tadi menatapnya. Ia tak bisa membayangkan apa yang pria itu lihat di wajahnya… apa yang George kira dia lihat di sana.
“Dia punya,” George membenarkan, lalu menoleh ke arah ibunya. “Henry. Dia dua tahun lebih muda daripada Felix, tapi dia—”
“Bagus sekali!” seru Lady Manston sambil bertepuk tangan.
“Tapi dia apa?” tanya Billie, dengan nada mendesak. Karena yang mereka bicarakan ini berpotensi membuatnya malu.
“Hampir bertunangan,” George memberitahu. “Atau begitulah yang kudengar.”
“Itu tidak masuk hitungan sampai pertunangannya resmi,” sahut ibu George ringan.
Billie menatap Lady Manston tak percaya. Kalimat itu datang dari wanita yang merencanakan pernikahan Mary sejak pertama kali Felix mencium tangannya.
“Apa kita menyukai Henry Maynard?” tanya Lady Bridgerton.
“Kita menyukainya,” Lady Manston mengonfirmasi.
“Kupikir dia bahkan tidak yakin Felix memiliki saudara,” kata Billie.
Di sampingnya, George tertawa pelan, dan Billie merasakan kepala pria itu bergerak mendekatinya. “Taruhan sepuluh pound ibuku tahu setiap detail hubungan asmara Henry saat ini sebelum dia bahkan menyinggung namanya,” gumam George.
Bibir Billie berkedut dengan senyuman samar. “Aku tidak akan menerima taruhan itu.”
“Gadis pintar.”
“Selalu.”
George terkekeh, kemudian berhenti. Billie mengikuti arah pandangan pria itu ke seberang meja. Andrew mengamati mereka dengan ekspresi janggal, kepalanya ditelengkan sedikit ke samping dan dahinya berkerut serius.
__ADS_1
“Apa?” tanya Billie, sementara para ibu melanjutkan rencana mereka.
Andrew menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”
Billie merengut. Ia bisa membaca Andrew seperti punggung tangannya. Pria itu sedang merencanakan sesuatu. “Aku tidak menyukai ekspresi wajahnya,” gumamnya.
“Aku tak pernah menyukai ekspresi wajahnya,” kata George.
Billie melirik George. Betapa aneh ikatan kecil konyol ini dengan George. Biasanya ia merasakannya dengan Andrew yang sering berbagi gumaman ejekan dengannya. Atau Edward. Tapi bukan George.
Tidak pernah dengan George.
Dan meskipun menurutnya ini hal bagus—tidak ada alasan mengapa ia dan George harus terus berselisih paham—ini masih membuatnya merasa janggal. Kehilangan keseimbangan.
Hidup terasa lebih baik saat berjalan tanpa kejutan-kejutan. Sungguh.
Billie menoleh kepada ibunya, bertekad meloloskan diri dari perasaan gelisah yang menjadi-jadi. “Apa kita benar-benar harus mengadakan pesta? Tentunya Andrew bisa merasa dirayakan dan dikagumi tanpa dua belas rangkaian makanan dan pertandingan memanah di halaman.”
“Jangan lupakan kembang api dan parade,” cetus Andrew. “Dan aku mungkin ingin diarak dengan tandu.”
“Kau ingin mendukung sesuatu seperti ini?” tanya Billie, memberi isyarat ke arah Andrew dengan gerakan tangan gusar.
George mendengus ke dalam supnya.
“Apa aku akan diizinkan hadir?” tanya Georgiana.
“Tidak pada malam hari, tapi tentunya pada beberapa acara hiburan di sore hari,” jawab ibunya.
Georgiana bersandar ke belakang dengan senyuman puas. “Kalau begitu kurasa itu ide hebat.”
“Georgie,” kata Billie.
“Billie,” ejek Georgiana.
Billie ternganga kaget. Apa seluruh dunia bergeser dari sumbunya? Sejak kapan adik perempuannya melawan seperti itu?
“Kalau begitu sudah beres, Billie,” kata ibunya dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Kita akan mengadakan pesta, dan kau akan menghadirinya. Dengan menggunakan gaun.”
“Ibu!” teriak Billie.
“Kurasa itu bukan tuntutan yang tak masuk akal,” ibunya melihat ke sekitar meja meminta konfirmasi.
“Aku tahu cara bersikap di pesta di rumah.” Ya Tuhan, apa yang ibunya pikir akan ia perbuat? Datang ke makan malam dengan sepatu bot di bawah gaunnya? Membuat anjing-anjing berpacu di ruang duduk?
Billie tahu aturan. Sungguh. Dan ia bahkan tidak keberatan dalam keadaan yang tepat. Fakta bahwa ibunya mengira ia begitu ceroboh… Dan wanita itu mengatakannya di depan semua orang yang Billie sayangi…
Rasanya lebih menyakitkan daripada yang bisa ia bayangkan.
Tetapi kemudian hal paling aneh terjadi. Tangan George menemukan tangannya dan meremasnya. Di bawah meja, tempat tidak ada yang melihat. Kepala Billie tersentak dan menoleh ke arah pria itu—ia tak bisa mencegahnya—tapi George sudah melepaskan tangannya dan mengatakan sesuatu kepada Lord Manston tentang harga brendi Prancis.
Billie tertegun memandangi supnya.
Hari yang luar biasa.
MALAM ITU, SETELAH para pria pergi menikmati minuman dan para wanita berkumpul di ruang duduk, Billie menyelinap pergi ke perpustakaan, menginginkan tak lebih dari tempat yang damai dan hening.
Meskipun ia tidak yakin apakah ini bisa dibilang menyelinap pergi saat ia harus memohon seorang pelayan untuk membawanya ke sana.
Tetap saja, ia selalu menyukai perpustakaan di Crake House. Tempat itu lebih kecil daripada perpustakaan di Aubrey Hall, dan tidak sama mengesankan. Hampir terasa nyaman. Lord Manston memiliki kebiasaan untuk tertidur di sofa kulit lembut, dan begitu Billie duduk di sana ia mengerti alasannya. Dengan api di perapian dan selimut rajutan dihamparkan di atas kedua kaki, itu tempat sempurna untuk mengistirahatkan mata sampai orangtuanya siap pulang ke rumah.
Tapi ia tidak mengantuk. Hanya lelah. Ini hari yang panjang, dan seluruh tubuhnya nyeri karena jatuhnya, dan ibunya begitu tidak sensitif, dan Andrew bahkan tidak menyadari ia tidak sehat, dan George menyadarinya, kemudian Georgiana berubah menjadi seseorang yang tidak ia kenali, dan—
Dan, dan, dan. Semuanya dan malam ini, dan jumlahnya melelahkan.
“Billie?”
Billie memekik pelan sambil terbangun ke posisi duduk tegak. George berdiri di ambang pintu, ekspresinya tak terbaca dalam cahaya lilin yang berkelap-kelip temaram.
“Maaf. Bukan itu niatku.” George bersandar ke ambang pintu. “Kenapa kau ada di sini?”
“Aku membutuhkan sedikit ketenangan.” Billie masih belum bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, tapi bisa membayangkan wajah geli George, jadi ia menambahkan, “Bahkan aku pun membutuhkan ketenangan kadang-kadang.”
George tersenyum samar. “Kau tidak merasa terkungkung?”
“Tidak sama sekali.” Billie mengangguk, menerima serangan balasan itu.
George mengambil beberapa saat untuk memikirkannya, kemudian berkata, “Apa kau mau kutinggalkan sendiri?”
“Tidak, tidak apa-apa,” Billie membuat dirinya sendiri terkejut dengan pernyataannya. Kehadiran George anehnya terasa menenangkan, seperti yang tak pernah ia alami dengan Andrew atau ibunya.
“Kau kesakitan,” kata George, akhirnya melangkah masuk ruangan.
Bagaimana pria itu bisa tahu? Tidak ada yang tahu. Akan tetapi, George selalu memiliki kebiasaan memperhatikan yang menggelisahkan. “Ya,” jawab Billie. Tidak ada gunanya berpura-pura yang sebaliknya.
“Sangat kesakitan?”
“Tidak. Tapi lebih daripada sedikit.”
“Seharusnya kau beristirahat malam ini.”
“Mungkin. Tapi aku bersenang-senang, dan kurasa ini sebanding. Aku senang melihat ibumu begitu bahagia.”
George menelengkan kepala. “Menurutmu dia bahagia?”
“Tidakkah menurutmu begitu?”
“Karena melihat Andrew. mungkin, tapi dalam beberapa hal kehadiran bocah itu hanya mengingatkannya bahwa Edward tidak ada di sini.”
“Kurasa begitu. Maksudku, tentu saja dia lebih suka memiliki dua anak laki-lakinya di rumah, tapi pengingat ketidakhadiran Edward tentunya dikalahkan kebahagiaan kehadiran Andrew.”
Bibir George setengah mengerut masam. “Dia memang memiliki dua anak laki-laki di rumah.”
Billie tertegun sesaat dan memandanginya sebelum—”Oh! Maafkan aku. Tentu saja. Aku memikirkan anak-anak laki-laki yang biasanya tidak ada di rumah. Aku… Ya Tuhan, aku benar-benar minta maaf.” Wajahnya merah padam. Untunglah cahaya lilin menyembunyikan rona di wajahnya.
George mengedikkan bahu. “Tak perlu dipikirkan.”
Tapi Billie tak bisa tidak memikirkannya. Tak peduli betapa tenang wajah George, Billie tak bisa menahan pikiran bahwa ia menyakiti perasaan pria itu. Dan ini gila; George Rokesby tidak cukup memedulikan opini baiknya untuk merasa terganggu dengan apa pun yang Billie ucapkan.
Namun tetap saja, ada sesuatu dalam ekspresi wajah pria itu…
“Apa itu mengganggumu?” tanya Billie.
George melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, berhenti di samping rak-rak tempat brendi berkualitas disimpan. “Apa yang menggangguku?”
“Ditinggalkan.” Billie menggigit bibir. Pasti ada cara yang lebih baik untuk mengatakannya. “Terus tinggal ketika semua orang pergi,” ia memperbaiki.
“Kau ada di sini,” George mengingatkan.
“Benar, tapi aku bukan hiburan. Untukmu, maksudku.”
George terkekeh. Well, tidak juga, tapi dia mendengus kecil, dan dengusannya terdengar geli.
“Bahkan Mary pergi ke Sussex,” Billie menggeser posisinya supaya bisa mengamati pria itu dari punggung sofa.
George menuang brendi untuk diri sendiri, meletakkan gelas sambil mengembalikan tutup karaf anggur. “Aku tak bisa menyesali pernikahan bahagia adik perempuanku. Dengan teman terdekatku, pula.”
“Tentu saja tidak. Aku juga tidak. Tapi aku masih merindukannya. Dan kau masih satu-satunya Rokesby yang terus berada di sini.”
__ADS_1
George membawa gelasnya ke bibir, namun tidak menyesap. “Kau suka bicara langsung ke inti, ya?”
Billie menahan diri.
“Apa itu mengganggumu?” pria itu bertanya.
Billie tidak berpura-pura salah memahami pertanyaan itu. “Saudara-saudaraku belum semuanya pergi. Georgiana masih ada di rumah.”
“Dan kau punya begitu banyak kesamaan dengannya,” sahut George datar.
“Lebih daripada yang kukira,” Billie memberitahu. Itu benar. Georgiana dulu anak yang lemah dan sakit-sakitan, dikhawatirkan oleh orangtuanya, terjebak di dalam rumah sementara anak-anak yang lain berlarian liar menjelajahi desa.
Billie tak pernah membenci adik perempuannya; namun pada saat yang sama, ia tidak mendapati Georgiana sangat menarik. Pada sebagian besar waktu, ia bahkan lupa adiknya ada di sana. Ada jarak sembilan tahun di antara mereka. Sungguh, kesamaan apa yang mungkin mereka miliki?
Tetapi kemudian semua orang pergi, dan sekarang Georgiana akhirnya cukup dewasa untuk menjadi menarik.
Sekarang giliran George yang berbicara, tapi sepertinya pria itu tidak menyadari fakta ini, dan kebisuan memanjang cukup lama untuk samar-samar menjadi mengganggu.
“George?” gumam Billie. Pria itu menatapnya dengan cara yang sangat janggal. Seolah Billie teka-teki—bukan, bukan itu. Seolah George sedang berpikir dalam, dan kebetulan ia menghalangi pandangan pria itu.
“George?” ulang Billie. “Apa kau baik—”
Tiba-tiba pria itu mendongak. “Kau harus bersikap lebih baik kepadanya.” Kemudian, seolah baru saja mengucapkan hal yang sangat mengguncang, George memberi isyarat ke brendi. “Apa kau mau segelas?”
“Ya,” jawab Billie, meskipun ia menyadari kebanyakan wanita akan menolak, “dan apa maksudmu aku harus bersikap lebih baik dengannya? Kapan aku pernah bersikap jahat?”
“Tidak pernah,” George menyetujui, menuang sedikit brendi ke dalam gelas, “tapi kau mengabaikannya.”
“Tidak.”
“Kau melupakannya,” George meralat. “Itu sama saja.”
“Oh, dan kau begitu memperhatikan Nicholas.”
“Nicholas berada di Eton. Aku tak mungkin menyiraminya dengan perhatian dari sini.”
Dia mengulurkan brendi. Billie melihat isi gelasnya jauh lebih sedikit daripada gelas George tadi.
“Aku tidak mengabaikannya,” gerutu Billie. Ia tidak suka ditegur, terutama oleh George Rokesby. Terutama saat pria itu benar.
“Tidak apa-apa,” kata George, mengejutkan Billie dengan sikap baiknya yang tiba-tiba. “Aku yakin keadaannya berbeda saat Andrew tidak berada di rumah.”
“Apa hubungannya Andrew dengan semuanya?”
George menoleh ke arahnya dengan ekspresi antara kaget dan geli. “Sungguh?”
“Aku tidak tahu apa yang kaubicarakan.” Pria yang menjengkelkan.
George meneguk minumannya, kemudian—tanpa berbalik ke arah Billie—berhasil melontarkan tatapan merendahkan. “Seharusnya dia menikahimu dan menyelesaikannya.”
“Apa?” Keterkejutan Billie tidak dibuat-buat. Bukan soal ia mungkin menikah dengan Andrew. Ia selalu mengira suatu hari nanti ia akan menikah dengan pria itu. Atau Edward. Ia tidak peduli yang mana; semuanya sama saja. Tapi bahwa George mengatakannya dengan cara seperti itu…
Billie tidak menyukainya.
“Aku yakin kau sadar bahwa aku dan Andrew tidak memiliki kesepakatan,” katanya, cepat-cepat mendapatkan kembali keseimbangannya.
George membantah dengan memutar bola mata. “Kau bisa saja mendapatkan yang lebih buruk.”
“Dia juga.” balas Billie.
George terkekeh. “Benar.”
“Aku tidak akan menikah dengan Andrew,” ujar Billie. Belum, paling tidak. Tapi kalau Andrew meminta…
Mungkin ia akan menjawab ya. Itu yang diharapkan semua orang.
George menyesap brendi, mengamati Billie dengan penuh tanya dari atas pinggiran gelas.
“Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah bertunangan dengan seseorang yang akan pergi,” kata Billie, tak bisa membiarkan suasana tetap hening.
“Oh, entahlah,” sahut George serius. “Banyak istri militer yang mengikuti suaminya. Dan kau lebih berani daripada kebanyakan wanita.”
“Aku suka di sini.”
“Di perpustakaan ayahku?” celetuk pria itu.
“Di Kent,” jawab Billie lancang. “Di Aubrey Hall. Aku dibutuhkan.”
George mengeluarkan suara merendahkan.
“Sungguh!”
“Aku yakin begitu.”
Punggung Billie menegang. Kalau pergelangan kakinya tidak sedang berdenyut, mungkin ia sudah melompat berdiri. “Kau sama sekali tak tahu apa saja pekerjaanku.”
“Tolong jangan beritahu.”
“Apa?”
George mengibaskan tangan. “Kau memiliki ekspresi di wajahmu.”
“Ekspresi ap—”
“Ekspresi yang mengatakan kau akan memulai ceramah yang sangat panjang.”
Mulut Billie ternganga shock. Dari semua hal congkak dan merendahkan… kemudian ia melihat wajah pria itu. George menikmatinya!
Tentu saja. George hidup untuk membuat Billie jengkel. Seperti jarum. Jarum yang berkarat dan tumpul.
“Oh, demi Tuhan, Billie,” pria itu bersandar ke rak buku sambil tertawa pelan. “Tak bisakah kau menerima olok-olok? Aku tahu kau membantu ayahmu dari waktu ke waktu.”
Dari waktu ke waktu? Billie mengurus tempat sialan itu. Aubrey Hall akan hancur tanpa arahan darinya. Ayahnya bisa dikatakan telah menyerahkan pembukuan kepadanya, dan manajer estat sudah sejak lama berhenti memprotes karena harus mengikuti perintah wanita. Untuk semua tujuan praktis, Billie dibesarkan sebagai putra sulung ayahnya. Kecuali ia tidak bisa mewarisi apa-apa. Dan pada akhirnya Edmund akan beranjak dewasa, menempati posisi yang seharusnya. Adiknya tidak bodoh; dia akan belajar mengerjakan apa yang harus dilakukan dengan cukup cepat, dan saat dia berhasil… saat Edmund menunjukkan kepada seluruh Aubrey betapa cakap dirinya, semua orang akan mengembuskan napas lega dan mengatakan sesuatu seperti aturan alam telah dipulihkan.
Billie akan menjadi kelebihan.
Digantikan.
Buku kas akan pelan-pelan ditarik dari hadapannya. Tidak ada yang akan memintanya memeriksa pondok atau menyelesaikan perselisihan. Edmund akan menjadi penguasa manor, dan Billie akan menjadi kakak perempuan yang sudah tua, yang diam-diam dikasihani dan diejek orang-orang.
Oh Tuhan, mungkin sebaiknya dia menikah dengan Andrew.
“Apa kau yakin kau tidak sakit?” tanya George.
“Aku baik-baik saja,” jawab Billie kaku.
George mengedikkan bahu. “Tiba-tiba kau terlihat agak sakit.”
Tiba-tiba Billie memang merasa agak sakit. Masa depannya akhirnya menari-nari di hadapannya, dan tidak ada yang cerah dan indah soal itu.
Ia menghabiskan sisa brendinya.
“Berhati-hatilah,” George memperingatkan, tapi Billie sudah terbatuk-batuk, tak terbiasa membuat tenggorokannya terbakar. “Sebaiknya diteguk pelan-pelan,” pria itu menambahkan.
“Aku tahu,” geram Billie, menyadari dirinya terdengar seperti idiot.
“Tentu saja,” gumam pria itu, kemudian begitu saja Billie merasa lebih baik. George Rokesby kembali menjadi pria angkuh dan sombong. Semua kembali normal. Atau hampir normal.
__ADS_1
Cukup normal
jangan lupa like,komen,rate,vote,favorite,dan lainnya ya!!!!!