KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 21


__ADS_3

Malam itu


Di Pesta Dansa Wintour


.


SEMBILAN PULUH MENIT kemudian, George masih belum bertemu Tallywhite.


George menarik-narik cravat-nya, yang ia yakin diikat pelayan pribadinya lebih erat daripada biasanya. Tidak ada yang istimewa dari Pesta Musim Semi Lady Wintour; bahkan, ia bisa mengatakan acara itu begitu biasa sampai terasa membosankan, namun ia tak bisa mengenyahkan sensasi janggal menusuk-nusuk yang terus merayapi lehernya. Ke mana pun ia berbalik, rasanya seolah seseorang mengamatinya dengan aneh, mengawasinya dengan keingintahuan yang jauh lebih besar daripada yang ditimbulkan oleh penampilannya.


Jelas, semua ini imajinasinya, yang mengarah ke poin yang lebih penting—bahwa ia jelas tidak cocok untuk hal-hal semacam ini.


George mengatur waktu kedatangannya dengan hati-hati. Jika terlalu awal, ia akan menarik perhatian yang tidak diinginkan. Seperti kebanyakan pria lajang seusianya, biasanya ia menghabiskan beberapa jam di kelab sebelum memenuhi tugas sosialnya. Kalau ia muncul di pesta dansa pukul delapan tepat, ia akan terlihat aneh. (Dan ia harus menghabiskan dua jam berikut membuat percakapan dengan bibi buyutnya yang hampir tuli, yang legendaris atas ketepatan waktu dan napas harumnya.) P


Tapi George juga tidak mau mengikuti jadwalnya yang biasa, yang berarti tiba setelah pesta berjalan lama. Akan terlalu sulit menemukan Tallywhite dalam ruangan yang penuh sesak, atau lebih buruk lagi, ia bisa melewatkan pria itu.


Jadi setelah pertimbangan hati-hati, George melangkah masuk ke ruang pesta Wintour kira-kira satu jam setelah pesta dimulai. Masih terlalu awal, tapi sudah ada cukup banyak orang bergerak ke sana kemari di sekitar agar George tetap tak terlihat menonjol.


Bukan untuk pertama kali ia bertanya-tanya dalam hati apakah mungkin ia terlalu berlebih dalam memikirkan semua ini. Sepertinya persiapan mentalnya terlalu banyak untuk tugas mengucapkan sebaris sajak kanak-kanak.


Pengecekan waktu sekilas memberitahunya sekarang hampir pukul sepuluh malam, yang artinya kalau Billie belum tiba, tak lama lagi gadis itu akan sampai. Ibunya bermaksud datang pukul sembilan tiga puluh, tapi George mendengar banyak gerutuan mengenai barisan panjang kereta yang mengantre di luar Wintour House. Billie dan ibunya hampir pasti terjebak di dalam kereta kuda Manston, menunggu giliran turun.


Ia tidak punya banyak waktu kalau ia ingin urusan ini beres sebelum mereka tiba.


Dengan ekspresi bosan, George terus bergerak di sekeliling ruangan, menggumamkan salam sopan saat berpapasan dengan kenalan lama. Seorang pelayan sedang berputar membawa bergelas-gelas punch, jadi ia mengambil satu, hanya membasahi bibirnya seraya mengamati ruangan pesta dari pinggiran gelas. Ia tidak melihat Tallywhite, tapi ia melihat—sialan, apa itu Lord Arbuthnot?


Kenapa dia meminta George mengantarkan pesan kalau dia sendiri bisa melakukannya?


Tapi mungkin ada alasan mengapa Arbuthnot tidak boleh terlihat bersama Tallywhite. Mungkin ada orang lain di sini, seseorang yang tidak boleh tahu dua orang itu bekerja sama. Atau mungkin Tallywhite-lah yang tidak tahu apa-apa. Mungkin dia tidak tahu Arbuthnot-lah yang memberikan pesan.


Atau…


Mungkin Tallywhite memang tahu Arbuthnot adalah kontaknya, dan semua ini adalah rencana untuk menguji George supaya mereka bisa menggunakannya untuk pekerjaan ke depan. Mungkin George tanpa sengaja memasuki karier dalam spionase.


Ia menunduk ke punch di tangannya. Mungkin ia membutuhkan… Tidak, ia jelas membutuhkan sesuatu dengan kadar alkohol yang lebih tinggi.


“Minuman busuk apa ini?” George menggerutu, dan meletakkan gelasnya.


Dan saat itulah ia melihatnya.


George berhenti bernapas. “Billie?”


Billie tampak menakjubkan. Gaunnya warna merah tua gelap, pilihan warna penuh energi yang tak biasa untuk gadis yang belum menikah, tapi untuk Billie warna itu sempurna. Kulitnya seputih susu, matanya berkilau, dan bibirnya… George tahu Billie tidak mewarnainya—gadis itu tidak akan memiliki kesabaran untuk hal semacam itu—tapi entah bagaimana bibirnya terlihat lebih hidup, seolah menyerap sebagian warna rubi brilian dari gaunnya.


George telah mencium bibir itu. Ia mencicipinya dan memujanya, dan ia ingin memuja Billie dengan cara-cara yang tak pernah gadis itu impikan.


Tapi aneh; ia tidak mendengar kedatangan Billie diumumkan. Ia terlalu jauh dari jalan masuk, atau mungkin ia hanya terlalu terbenam dalam pikirannya sendiri. Tapi di sinilah Billie, berdiri di samping ibunya, begitu cantik, begitu berseri-seri sampai George tak bisa melihat yang lain.


Tiba-tiba seluruh dunia terasa seperti tugas yang menyulitkan. George tidak mau berada di sini di pesta dansa ini, dengan orang-orang yang tidak ingin ia ajak bicara dan pesan yang tidak ingin ia sampaikan. Ia tidak ingin berdansa dengan wanita-wanita muda yang tidak ia kenal, dan ia tidak mau berbasa-basi dengan orang-orang yang ia kenal. George hanya menginginkan Billie, dan ia menginginkan gadis itu untuk dirinya sendiri.


George melupakan Tallywhite. Ia melupakan kacang polong, bubur, dan puding, dan ia berjalan melintasi ruangan dengan penuh maksud kerumunan orang seperti meleleh dari jalannya.


Dan entah bagaimana, secara menakjubkan, yang lain belum menyadari kehadiran Billie. Gadis itu begitu cantik, begitu hidup dan asli dan tak biasa di ruangan penuh boneka lilin. Dia tidak akan bisa bersembunyi lama.


Tapi belum. Tak lama lagi George harus bersaing dengan segerombolan pemuda penuh nafsu, tapi untuk saat ini, Billie masih miliknya.


Tapi Billie terlihat gugup. Tidak kentara; George yakin ia satu-satunya yang bisa melihatnya. Dengan Billie, kau harus mengenalnya. Gadis itu berdiri penuh kebanggaan, punggung tegak dan kepala terangkat tinggi, tapi matanya bergerak ke sana kemari, melirik kerumunan orang.


Mencarinya?


George melangkah maju.


“George!” seru Billie senang. “Eh, maksudku, Lord Kennard. Betapa menyenangkan dan”—Billie memberinya senyum rahasia—”tak mengejutkan bertemu denganmu.”


“Miss Bridgerton,” sahut George pelan, membungkuk di atas tangan gadis itu.


“George,” ibunya mengangguk menyapa.


George membungkuk untuk mencium pipi ibunya. “Ibu.”


“Bukankah Billie terlihat cantik?”


George mengangguk perlahan, tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. “Ya,” katanya, “dia terlihat… cantik.” Tapi itu bukan kata yang tepat. Kata itu jauh terlalu membosankan. Cantik bukan kecerdasan yang memberi mata Billie kedalaman, dan bukan juga kecerdikan di balik senyumnya. Billie cantik, tapi dia bukan hanya cantik, dan karena itulah George mencintainya.


“Kuharap kau menyimpan dansa pertamamu untukku,” ujar George.


Billie menoleh kepada Lady Manston untuk konfirmasi.


“Ya, kau boleh menggunakan dansa pertamamu dengan George,” sahut Lady Manston dengan senyum sabar.


“Ada begitu banyak aturan,” kata Billie malu-malu. “Aku tak ingat apakah karena suatu alasan aku seharusnya menyimpanmu untuk nanti.”


“Apa kau sudah lama di sini?” tanya Lady Manston.


“Kurang-lebih satu jam,” jawab George. “Urusanku menghabiskan lebih sedikit waktu daripada yang kuantisipasi.”


“Urusan?” tanya ibunya. “Kukira pertemuan.”


Kalau George tidak begitu terpikat dengan Billie, mungkin ia memiliki perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengerahkan kejengkelannya mendengar ini. Ibunya jelas memancing informasi, atau paling tidak berusaha menegurnya. Tapi ia tak bisa membuat dirinya peduli. Tidak ketika Billie mendongak menatapnya dengan mata berkilauan.


“Kau memang terlihat cantik,” katanya.


“Terima kasih.” Billie tersenyum kikuk, dan mata George jatuh ke kedua tangan gadis itu, yang dengan gugup membalik-balik lipatan-lipatan roknya. “Kau juga terlihat tampan.”


Di samping mereka, Lady Manston tampak berseri-seri.


“Kau ingin berdansa?” semburnya.


“Sekarang?” Senyum Billie tampak menggemaskan. “Apa ada musik?”


Tidak ada. Ini bukti betapa George telah menjadi bodoh karena cinta karena ia bahkan tidak merasa malu. “Mungkin berjalan mengelilingi ruangan,” ia menyarankan. “Para musisi akan mulai tak lama lagi.”


Billie menoleh kepada Lady Manston, yang mengibaskan tangan memberi persetujuan. “Pergilah, tapi tetap dalam pandangan,” katanya.


George tersentak dari kabut lamunannya cukup lama untuk melemparkan tatapan dingin ke arah ibunya. “Aku tidak akan bermimpi melakukan apa pun yang bisa merusak reputasinya.”


“Tentu saja tidak,” sahut ibunya riang. “Aku ingin memastikan dia terlihat. Ada banyak pemuda memenuhi syarat di sini malam ini. Lebih daripada yang kuharapkan.”


George menyambar lengan Billie.


“Aku melihat pewaris Billington,” Lady Manston melanjutkan, “dan kau tahu, kurasa dia tidak terlalu muda.”


George memberinya tatapan menghina samar. “Kurasa dia tidak mau menjadi Billie Billington, Ibu.”


Billie tersedak dengan tawa. “Oh, ya ampun, aku bahkan belum memikirkannya.”


“Bagus.”


“Dia Sybilla sekarang,” kata Lady Manston, mendemonstrasikan bakatnya untuk hanya mendengar apa yang dia inginkan. “Dan Sybilla Billington terdengar menyenangkan.”


George menoleh ke arah Billie dan berkata, “Tidak.”


Billie merapatkan bibir, terlihat sangat geli.


“Nama belakangnya Wycombe,” kata Lady Manston. “Asal kau tahu.”


George memutar bola mata. Ibunya memang ancaman. Ia mengulurkan lengan. “Mari, Billie?”


Billie mengangguk dan berputar sehingga mereka menghadap ke arah yang sama.


“Kalau kau bertemu anak laki-laki Ashbourne…”


Tapi George sudah membawa Billie pergi.


“Aku tak tahu seperti apa anak laki-laki Ashbourne,” kata Billie. “Apa kau tahu?”


“Sedikit buncit,” George berbohong.


“Oh.” Billie mengernyit. “Aku tak bisa membayangkan kenapa ibumu memikirkan pria itu untukku, kalau begitu. Dia tahu aku sangat aktif.”


George mengeluarkan gumaman yang dimaksudkan untuk menyampaikan persetujuannya dan melanjutkan perjalanan pelannya di pinggiran ruang pesta, menikmati sensasi memiliki tangan gadis itu di lengannya.

__ADS_1


“Ada barisan panjang kereta untuk masuk kemari,” kata Billie. “Aku memberitahu ibumu sebaiknya kami keluar dan berjalan, karena cuacanya begitu indah, tapi dia tidak mau melakukannya.”


George tertawa kecil. Hanya Billie yang bisa memberikan saran seperti itu.


“Sungguh,” gerutu Billie, “kau akan mengira aku meminta apakah kita bisa mampir dan bertemu Raja untuk secangkir teh dalam perjalanan.”


“Well, mengingat istana berada di seberang kota…” goda George.


Billie menyikut rusuknya. Tapi dengan ringan, sehingga tidak ada yang melihat.


“Aku senang kau tidak memakai rambut palsu,” kata George. Rambut Billie ditata rumit, mengikuti tren, tapi itu rambutnya, dan hanya dibedaki ringan. George suka bagaimana warna cokelat mewahnya memancar; itu Billie tanpa tipuan, dan kalau ada satu hal yang menegaskan diri Billie, itu adalah dia tidak memiliki tipuan.


George ingin Billie menikmati waktunya di London, tapi ia tidak mau gadis itu berubah karenanya.


“Sangat tidak mengikuti mode, aku tahu,” sahut Billie sambil menyentuh ikal panjang rambutnya yang digerai di bahu, “tapi aku berhasil meyakinkan ibumu ada kemungkinan besar aku akan melangkah terlalu dekat ke lentera dan membuat diriku terbakar.”


George menoleh tajam.


“Mengingat sejarahku saat diperkenalkan di istana, itu tidak semustahil yang terdengar,” kata Billie.


George mencoba tidak tertawa. Sungguh-sungguh mencoba.


“Oh, silakan,” kata Billie. “Butuh waktu selama ini untukku bisa membuat lelucon tentang hal itu. Lebih baik kita terhibur karenanya.”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” George bertanya. “Atau apakah sebaiknya aku tidak tahu?”


“Oh, kau pasti ingin tahu,” sahut Billie sambil meliriknya dengan lancang. “Percayalah. Kau pasti ingin tahu.”


George menunggu.


“Tapi kau tidak akan mengetahuinya sekarang,” Billie mengumumkan. “Seorang wanita harus memiliki rahasia, atau begitulah yang ibumu terus katakan padaku.”


“Entah bagaimana kurasa membakar aula istana St. James bukanlah jenis rahasia yang ada di benaknya.”


“Mengingat betapa inginnya dia agar aku terlihat seperti wanita muda yang anggun dan halus, kurasa mungkin memang itulah yang ada di benaknya.” Billie melirik George dengan ekspresi angkuh. “Lady Alexandra Fortescue-Endicott tidak akan pernah tanpa sengaja membakar seseorang.”


“Tidak. Kalau dia melakukannya, kubayangkan dia akan melakukannya dengan sengaja.”


Billie mendengus tertawa. “George Rokesby, itu hal yang sangat buruk untuk diucapkan. Dan mungkin tidak benar.”


“Kau tidak berpikir seperti itu?”


“Meski menyakitkan untukku mengakuinya, tidak. Dia tidak sejahat itu. Atau sepintar itu.”


George terdiam sejenak, kemudian bertanya, “Itu memang kecelakaan, bukan?”


Billie memberinya tatapan tajam.


“Tentu saja,” kata George, tapi tidak terdengar seyakin yang seharusnya.


“Kennard!”


Mendengar namanya, George dengan enggan menjauh dari Billie. Dua teman universitasnya—Sir John Willingham dan Freddie Coventry—berjalan melewati kerumunan. Mereka berdua sangat menyenangkan, sangat terhormat, dan tipe pria yang ibunya akan inginkan untuk diperkenalkan kepada Billie.


George mendapati ia ingin memukul salah satu dari mereka. Tidak penting yang mana. Siapa saja bisa, asalkan ia bisa membidik wajahnya.


“Kennard,” Sir John menghampiri sambil tersenyum lebar. “Sudah lama sekali. Aku tidak mengira kau ada di kota.”


“Urusan keluarga,” kata George tanpa memberi penjelasan.


Sir John dan Freddie mengangguk lalu mengatakan sesuatu untuk menyetujui, kemudian mereka menoleh ke Billie dengan penuh harap.


George memaksakan senyuman dan berbalik ke arah Billie. “Boleh kuperkenalkan Sir John Willingham dan Mr. Frederick Coventry.” Gumaman-gumaman terdengar, kemudian berkata, “Gentleman, ini Miss Sybilla Bridgerton dari Aubrey Hall di Kent.”


“Kent, katamu,” setu Freddie. “Kalau begitu kalian bertetangga?”


“Benar,” sahut Billie manis. “Aku mengenal Lord Kennard sepanjang hidupku.”


George mencoba menahan rengutannya. Ia tahu Billie tidak bisa menggunakan nama depannya dalam acara seperti ini, tapi rasanya masih menjengkelkan dipanggil begitu formal.


“Kau memang pria beruntung, memiliki keindahan seperti ini begitu dekat di rumah,” kata Freddie.


George melirik Billie untuk melihat apakah gadis itu terkejut dan ngeri dengan pujian penuh gula itu seperti dirinya, tapi Billie masih tersenyum ramah, terlihat seperti debutan lembut dan ramah.


“Apa kau mengatakan sesuatu?” gadis itu bertanya.


George menirukan senyuman Billie, sama-sama ramah. “Hanya bahwa aku memang beruntung.”


Alis Billie terangkat. “Aneh betapa aku mungkin melewatkan kalimat sepanjang itu.”


George melirik gadis itu tajam.


Yang dibalas dengan senyum penuh rahasia.


George merasakan sesuatu tenang di dalam dirinya. Sekali lagi semua baik-baik saja di dunia. Atau paling tidak saat ini. Dunia memang berantakan, tapi di sini, saat ini, Billie tersenyum penuh rahasia…


Denganku ia merasa senang.


“Boleh aku berdansa denganmu, Miss Bridgerton?” Sir John bertanya pada Billie.


“Denganku juga,” Freddie langsung menimpali.


“Tentu saja,” jawab Billie, sekali lagi dengan begitu manis sampai George ingin muntah. Gadis itu tidak terdengar seperti dirinya sendiri.


“Dia sudah menjanjikan dansa pertamanya untukku,” potongnya. “Dan set setelah makan malam.”


Billie mengamatinya dengan agak terkejut, karena dia tidak menjanjikan set setelah makan malam, namun dia tidak menyangkal.


“Meskipun begitu, ada lebih dari dua dansa di pesta dansa,” kata Freddie dengan lancar dan geli.


“Aku akan senang bisa berdansa dengan kalian berdua,” kata Billie. Dia melihat ke sekeliling ruangan seolah mencari sesuatu. “Kurasa tidak ada kartu dansa malam ini…”


“Kita bisa bertahan tanpa kartu itu,” sahut Freddie. “Yang harus kita ingat hanya setelah selesai dengan Kennard, kau akan berdansa denganku.”


Billie memberinya senyum ramah dan mengangguk anggun.


“Kemudian giliranmu dengan Sir John,” Freddie mengingatkan. “Tapi kuperingatkan, dia penari yang mengerikan. Kau harus mengawasi jemari kakimu.”


Billie tertawa mendengarnya, penuh dan parau, dan sekali lagi dia menjadi begitu bercahaya dengan kecantikannya sehingga George setengah tergoda untuk melempar selimut untuk menutupinya, hanya untuk mencegah orang lain menginginkannya.


Seharusnya ia tidak merasa marah karena Billie mendapatkan waktunya untuk bersinar. George tahu itu. Billie pantas dikagumi dan dipuja, mendapat momen yang sangat pantas untuknya sebagai bintang pesta. Tapi demi Tuhan, ketika gadis itu tersenyum kepada Sir John atau Freddie, dia terlihat bersungguh-sungguh.


Siapa yang tersenyum seperti itu kecuali bermaksud melakukannya? Apa dia bahkan tahu senyum seperti itu bisa mengarah ke mana? Dua pria itu akan berpikir Billie tertarik. George tiba-tiba membayangkan buket-buket mengisi serambi depan Manston House, para pemuda mengantre demi hak istimewa untuk mencium tangannya.


“Ada yang salah?” tanya Billie pelan. Sir John dan Freddie sedang teralihkan perhatiannya oleh kenalan lain dan sedikit memutar badan, jadi kata-katanya hanya untuk George.


“Tentu saja tidak,” George menjawab, suaranya terdengar sedikit tajam daripada biasa.


Billie mengernyit cemas. “Apa kau yakin? Kau—”


“Aku baik-baik saja,” George membentak.


Alis Billie terangkat. “Jelas sekali.”


George merengut.


“Kalau kau tidak mau berdansa denganku…” Billie memulai.


“Menurutmu ini soal itu?”


“Jadi memang ada sesuatu!” Ekspresi Billie penuh kemenangan; dia seharusnya memegang palu Pall Mall di tangan untuk melengkapi penampilannya.


“Demi Tuhan, Billie, ini bukan kompetisi,” gumam George.


“Aku bahkan tidak tahu apa ini.”


“Seharusnya kau tidak tersenyum seperti itu kepada pria lain,” ujar George dengan suara rendah.


“Apa?” Billie terenyak kaget, dan George tidak yakin apa karena tidak percaya atau marah. “Itu akan memberi mereka kesan yang salah.”


“Kupikir tujuan semua ini adalah agar aku menarik perhatian para pria,” Billie mendesis.

__ADS_1


Kemarahan, kalau begitu. Dan sangat banyak.


George memiliki cukup akal sehatnya untuk tidak menyemburkan komentar yang begitu bodoh, “Ya, tapi jangan terlalu banyak.” Sebagai gantinya ia memperingatkan, “Jangan terkejut kalau mereka datang ke rumah besok.”


“Sekali ini, bukankah itu tujuannya?”


George tidak memiliki jawaban, karena memang tidak ada jawaban. Ia bersikap seperti orang *****, itu sudah jelas untuk mereka berdua.


Ya Tuhan, bagaimana percakapannya bisa memburuk seperti ini?


“Billie, begini,” katanya, “Aku hanya—”


Ia mengernyit. Arbuthnot berjalan ke arahnya.


“Kau hanya…” Billie mendesak.


George menggeleng, dan Billie cukup cerdas untuk tahu gerakan itu tidak ada hubungannya dengannya. Dia mengikuti arah pandangan George kepada Arbuthnot, tapi pria tua itu berhenti dan berbicara dengan orang lain.


“Siapa yang kau lihat?” tanya Billie.


George berbalik dan mengarahkan seluruh perhatiannya kepada Billie. “Tidak ada.”


Billie memutar bola mata mendengar kebohongannya yang jelas.


“Kennard,” kata Freddie Coventry, yang kembali ke sisi mereka sementara Sir John berjalan pergi, “Kurasa orkestra sudah kembali ke posisi mereka. Sebaiknya kau membawa Miss Bridgerton ke lantai dansa atau aku terpaksa menuduhmu mencurangi perjanjian.” Dia mencondongkan badan ke arah Billie dan pura-pura memberitahu sebuah rahasia, “Kennard tidak memperlakukanmu dengan benar kalau meminta dansa pertama kemudian meninggalkanmu di antara gadis-gadis yang tidak berdansa.”


Billie tertawa, tapi hanya tawa kecil, dan di telinga George kedengarannya tidak terlalu tulus. “Dia tidak akan pernah melakukannya,” kata Billie, “meski hanya karena ibunya akan menegurnya.”


“Oh-ho!” Freddie terkekeh. “Jadi seperti itu.”


George tersenyum kaku. Ia ingin mencekik Billie karena mengebiri dirinya dengan begitu efisien di depan teman-temannya, tapi ia masih sangat menyadari kehadiran Arbuthnot, hanya beberapa meter, barangkali mencoba mendapatkan waktu berbicara empat mata dengannya.


Suara Freddie merendah menjadi gumaman menggoda. “Kurasa dia tidak ingin berdansa denganmu.”


Billie menoleh kepada George, dan ketika mata mereka bertemu, George merasa ia telah menemukan dunianya. Ia membungkuk memberi hormat dan mengulurkan tangan, karena sialan, ia telah menunggu momen ini untuk waktu yang terasa bertahun-tahun.


Tapi tentu saja saat itu Arbuthnot akhirnya tiba. “Kennard,” ia memanggil, sapaan ramahnya tepat seperti yang mungkin diharapkan dari seseorang ketika menyapa anak temannya. “Senang bertemu denganmu di sini. Apa yang membawamu ke kota?”


“Dansa dengan Miss Bridgerton,” sahut Freddie dengan nada malas, “tapi sepertinya dia tak bisa membawa Miss Bridgerton ke lantai dansa.”


Arbuthnot terkekeh. “Oh, aku yakin dia tidak seceroboh itu.”


George tidak bisa memutuskan siapa yang ingin ia bunuh lebih dulu.


“Mungkin sebaiknya aku berdansa denganmu,” kata Billie kepada Freddie.


Lupakan kedua pria itu. George akan membunuh Billie lebih dulu. Apa yang dia pikirkan? Ini terlalu lancang, bahkan untuknya. Wanita terhormat tidak mengajak pria berdansa, terutama bila mereka baru berkenalan lima menit.


“Wanita yang mengungkapkan pikirannya,” kata Freddie. “Betapa menyegarkan. Aku bisa melihat mengapa Lord Kennard memujimu.”


“Dia membicarakanku?”


“Tidak kepadanya,” sahut George ketus.


“Well, seharusnya dia melakukannya,” Freddie menggerak-gerakkan kedua alis dengan gaya menggoda. “Kau jelas akan menjadi topik yang lebih menarik daripada percakapan terakhir kami, yang aku yakin tentang bubur gandum.”


George cukup yakin itu tidak benar, tapi sepertinya tidak ada cara untuk memprotes tanpa terlihat kekanak-kanakan.


“Ah, tapi aku mendapati gandum sangat menarik,” kata Billie, dan George hampir tertawa, karena ia satu-satunya yang tahu Billie tidak bercanda. Kesuksesan panen ayahnya baru-baru ini bisa menjadi bukti.


“Sungguh wanita yang tak biasa,” Freddie bersorak.


Orkestra mulai membuat suara-suara mengerang yang selalu mengawali musik yang sesungguhnya, dan Billie menoleh kepada George, menunggunya mengulangi bungkukkan hormat dan menuntunnya berdansa.


Tapi sebelum George sempat melakukannya, ia mendengar Lord Arbuthnot berdeham. George tahu apa yang harus ia lakukan.


“Aku menyerahkannya kepadamu, Coventry,” ia membungkuk ringan. “Karena kau begitu ingin dia temani.”


George mencoba tidak menatap mata Billie, tapi ia tak terlalu berhasil, dan ketika matanya melewati wajah Billie, ia melihat gadis itu shock. Dan marah.


Dan terluka.


“Dansa berikutnya akan menjadi milikmu,” kata Freddie riang, dan hati George terpilin sedikit saat mengamati temannya menuntun Billie berdansa.


“Maafkan aku karena menjauhkanmu dari kehadiran Miss Bridgerton yang cantik,” kata Lord Arbuthnot setelah beberapa saat, “tapi aku yakin ada tujuan lebih besar untuk waktumu di kota daripada berdansa.”


Tidak ada orang lain di lingkaran kecil percakapan mereka sekarang setelah Billie pergi dengan Freddie Coventry, tapi Arbuthnot jelas ingin berhati-hati, jadi George berkata, “Ini dan itu. Urusan keluarga.”


“Bukankah selalu seperti itu?” Arbuthnot memiringkan kepala ke arah George. “Sangat melelahkan, bukan, menjadi kepala keluarga.”


George memikirkan ayahnya. “Aku sangat beruntung hak istimewa yang ini belum menjadi milikku.”


“Benar, benar.” Arbuthnot meneguk panjang minuman yang dipegangnya, yang terlihat jauh lebih kuat daripada punch konyol yang disajikan kepada George sebelumnya. “Tapi giliranmu akan tiba dengan segera, dan kita tak bisa memilih keluarga kita, bukan?”


George bertanya-tanya dalam hati apa Arbuthnot mengatakan sesuatu yang ambigu. Kalau ya, itu satu lagi indikasi bahwa ia tidak cocok untuk kehidupan berisi pesan-pesan misterius dan pertemuan-pertemuan rahasia. Ia memutuskan menerima kata-kata Arbuthnot apa adanya dan berkata, “Kalau kita bisa, aku berani mengatakan aku akan memilih keluargaku.”


“Well, kau pria beruntung.”


“Kurasa begitu.”


“Dan bagaimana urusanmu malam ini? Sukses?”


“Kurasa tergantung pada bagaimana seseorang mengukur kesuksesan.”


“Benarkah?” kata Arbuthnot, terdengar sedikit jengkel.


George tidak bersimpati. Arbuthnot yang memulai percakapan berlapis-lapis ini. Dia juga bisa membiarkan George sedikit bersenang-senang dengannya. Ia menatap mata Arbuthnot dan berkata, “Sayangnya, kita datang ke acara-acara semacam ini untuk mencari sesuatu, bukan?”


“Kau cukup filosofis untuk hari Selasa.”


“Biasanya aku menyimpan pemikiran hebatku untuk Senin malam dan Kamis sore,” sahut George ketus.


Lord Arbuthnot menatapnya dengan kaget.


“Aku belum menemukan yang kucari,” kata George. Ya Tuhan, percakapan ambigu memberinya sakit kepala.


Mata Arbuthnot menyipit. “Apa kau yakin?”


“Seyakin yang kubisa. Tempat ini sesak sekali.”


“Itu sangat mengecewakan.”


“Memang.”


“Mungkin sebaiknya kau berdansa dengan Lady Weatherby,” kata Lord Arbuthnot halus.


George menoleh tajam. “Apa?”


“Apa kalian sudah diperkenalkan? Aku pastikan dia wanita yang tak ada tandingannya.”


“Kami pernah bertemu,” George mengonfirmasi. Ia sudah mengenal Sally Weatherby sejak namanya Sally Sandwick, kakak perempuan salah satu temannya. Wanita itu menikah dan mengubur suaminya bertahun-tahun yang lalu dan baru berpindah dari kondisi berduka penuh ke setengah berduka. Untung baginya. dia sangat cocok menggunakan warna ungu lavender.


“Weatherby pria baik,” kata Arbuthnot.


“Aku tidak mengenalnya,” kata George. Pria itu lebih tua, dan Sally istri keduanya.


“Aku bekerja dengannya dari waktu ke waktu,” kata Arbuthnot. “Pria baik. Pria yang sangat baik.”


“Sudah bertahun-tahun sejak aku berbicara dengan Lady Weatherby,” kata George. “Aku tak tahu apa ada yang bisa kubicarakan dengannya.”


“Oh, kubayangkan kau akan memikirkan sesuatu.”


“Kurasa ya.”


“Ah, aku melihat istriku di sana,” kata Lord Arbuthnot. “Dia melakukan hal itu dengan kepalanya, yang berarti antara dia membutuhkan bantuanku atau dia akan mati.”


“Kau harus mendatanginya, kalau begitu,” kata George. “Sudah jelas.”


“Kurasa dia akan membutuhkan bantuanku bagaimanapun juga,” Arbuthnot mengedikkan bahu. “Semoga berhasil, Nak. Kuharap malammu sukses.”


George mengamati sementara Lord Arbuthnot melangkah melintasi ruangan, kemudian berputar untuk melaksanakan misinya.

__ADS_1


Sepertinya waktunya untuk berdansa dengan Sally Weatherby.


__ADS_2