
Empat hari kemudian
.
SUNGGUH MENAKJUBKAN—BUKAN, menginspirasi—Billie memutuskan, betapa cepatnya ia berhenti menggunakan tongkatnya. Jelas, semua tergantung kepada pikiran.
Kekuatan. Ketabahan.
Tekad.
Dan, kemampuan untuk mengabaikan rasa juga berguna.
Rasanya tidak sesakit itu, ia beralasan. Hanya sedikit. Atau mungkin mendekati paku yang dipalu ke pergelangan kaki mengikuti kecepatannya berjalan.
Tapi bukan paku yang sangat baal: Hanya paku kecil. Seperti paku payung, sebenarnya.
Ia wanita kuat. Semua orang berkata begitu.
Bagaimanapun, rasa nyeri di pergelangan kakinya sama sekali tidak seburuk lecet di ketiak karena tongkat. Dan Billie tidak berencana mendaki sejauh sembilan kilometer. Ia hanya ingin bisa bergerak di dalam rumah dengan kedua kakinya.
Bagaimanapun, kecepatan langkahnya jauh lebih lambat daripada yang biasa saat berjalan ke ruang duduk beberapa jam setelah sarapan. Andrew menunggunya, kata Thamesly. Ini tidak terlalu mengejutkan; Andrew datang setiap hari sejak kecelakaannya.
Manis sekali dia.
Mereka membangun rumah kartu, pilihan jahat khas Andrew, yang lengan dominannya masih tidak bisa digerakkan dan dibalut. Dia berkata selama dia datang untuk menemani Billie, sekalian saja dia melakukan sesuatu yang berguna.
Billie tidak repot-repot menunjukkan bahwa membangun rumah kartu mungkin bisa didefinisikan sebagai tidak berguna.
Dan karena hanya bisa menggunakan satu lengannya, Andrew membutuhkan bantuan menyeimbangkan beberapa kartu pertama, tetapi setelah itu dia bisa mendirikan sisanya sebaik Billie.
Atau lebih baik, sebenarnya. Billie lupa betapa pintarnya pria itu membangun rumah kartu—dan betapa menjadi terobsesinya dia selama proses berlangsung. Kemarin yang paling buruk. Begitu mereka menyelesaikan tingkat pertama pria itu mengusir Billie dari konstruksi. Kemudian dia mengusirnya dari seluruh area, berkata bahwa Billie bernapas terlalu keras.
Itu tentu saja tidak memberi Billie pilihan lain selain bersin.
Ia mungkin juga menendang meja.
Sejenak ada rasa sesal ketika semuanya roboh dengan spektakuler, namun ekspresi di wajah Andrew sebanding dengan itu, bahkan kalau pria itu langsung pulang mengikuti keruntuhan rumah kartunya.
Tetapi itu kemarin, dan mengetahui Andrew, dia akan ingin memulai lagi, lebih besar dan lebih baik untuk yang kelima kali. Jadi Billie mengumpulkan dua pak kartu lagi dalam perjalanannya ke ruang duduk. Seharusnya itu cukup untuk Andrew menambahkan satu atau dua tingkat ke mahakarya aristekturalnya yang baru.
“Selamat pagi,” katanya sambil memasuki ruang duduk. Andrew sedang berdiri di atas sepiring biskuit yang seseorang tinggalkan di meja di belakang sofa. Pelayan, mungkin. Salah satu pelayan yang konyol. Mereka selalu terkikik geli saat melihat Andrew.
“Kau sudah melepas tongkat-tongkatmu,” Andrew mengangguk setuju. “Selamat.”
“Terima kasih.” Billie melihat ke sekeliling ruangan. Masih tidak ada George. Dia tidak datang sejak pagi pertama itu di perpustakaan. Bukan berarti Billie mengharapkannya. Ia dan George tidak berteman.
Mereka juga bukan musuh, tentu saja. Hanya tidak berteman. Tidak pernah. Meskipun mungkin mereka sedikit berteman… sekarang.
“Ada apa?” tanya Andrew.
Billie mengerjap. “Tidak ada.”
“Kau merengut.”
“Aku tidak merengut.”
Ekspresi Andrew berubah dan tampak meremehkan. “Kau bisa melihat wajahmu sendiri?”
“Dan kau kemari untuk menghiburku,” komentar Billie lambat-lambat.
“Ya ampun, tidak, aku datang untuk biskuit shortbread.” Andrew mengulurkan tangan dan mengambil sebagian kartu dari Billie. “Dan mungkin membangun rumah.”
“Akhirnya, sedikit kejujuran.”
Andrew tertawa dan menjatuhkan diri ke sofa. “Aku sama sekali tidak menyembunyikan motifku.”
Billie mengakuinya dengan kedipan mata. Dalam beberapa hari terakhir pria itu telah memakan sangat banyak biskuit shortbread.
“Kau akan bersikap lebih baik padaku kalau kau tahu betapa mengerikan makanan di atas kapal,” lanjut Andrew.
“Skala satu sampai sepuluh?”
“Dua belas.”
“Aku menyesal mendengarnya,” sahut Billie sambil meringis. Ia tahu betapa Andrew menyukai makanan manis.
“Aku tahu apa yang akan kualami.” Andrew berhenti sejenak, dahinya berkerut saat dia berpikir. “Tidak, sebenarnya kurasa aku tidak tahu.”
“Kau tidak akan masuk Angkatan Laut kalau kau menyadari tidak akan ada biskuit di sana?”
Andrew mendesah dramatis. “Kadang-kadang pria harus membuat biskuitnya sendiri.”
Beberapa kartu meluncur dari genggaman Billie. “Apa?”
“Menurutku dia mengganti biskuit dengan takdir,” datang suara dari arah pintu.
“George!” seru Billie. Dengan terkejut? Dengan senang? Apa yang ada di suaranya? Dan kenapa ia, dari semua orang, tak bisa mengetahuinya?
“Billie,” George bergumam dan membungkuk memberi hormat dengan sopan.
Billie tertegun memandangi pria itu. “Apa yang kaulakukan di sini?”
Mulut George bergerak dengan ekspresi datar yang sejujurnya tidak bisa disebut senyuman. “Kau memang selalu sopan.”
“Well”—Billie membungkuk dan mengumpulkan kartu-kartu yang ia jatuhkan tadi, mencoba tidak tersandung renda hiasan roknya—”sudah empat hari kau tidak kemari.”
Sekarang George tersenyum. “Kau merindukanku, kalau begitu.”
“Tidak.” Billie mendelik dan menyambar kartu jack hati. ******** kecil menjengkelkan itu meluncur setengah jalan ke bawah sofa. “Jangan bodoh. Thamesly tidak mengatakan apa-apa soal kedatanganmu. Dia hanya menyinggung Andrew.”
“Aku mengurus kuda-kuda,” sahut George.
Billie langsung menoleh ke arah Andrew, ekspresi terkejut mewarnai wajahnya. “Kau berkuda kemari?”
“Well, aku mencoba,” aku Andrew.
“Kami berkuda dengan sangat pelan,” George mengonfirmasi. Kemudian matanya menyipit. “Di mana tongkat-tongkatmu?”
“Hilang,” jawab Billie, tersenyum bangga.
“Aku bisa melihatnya.” Dahi George berkerut saat dia merengut. “Siapa yang mengatakan kau bisa berhenti menggunakannya?”
“Tidak ada,” sahut Billie jengkel. Memangnya menurut George siapa dia? Ayahnya? Tidak, jelas bukan ayahnya. Itu terlalu…
Uh.
“Aku bangkit dari tempat tidur, melangkah, dan memutuskan sendiri,” jawabnya dengan kesabaran yang dibuat-buat.
George mendengus.
Billie terenyak. “Apa arti dengusanmu itu?”
“Izinkan aku menerjemahkan,” kata Andrew dari sofa, tempat dia masih menegangkan tubuh usai berbaring seperti anak-anak.
“Aku tahu apa artinya itu,” bentak Billie ketus.
“Oh, Billie,” Andrew mendesah.
Billie berbalik untuk memelototinya.
“Kau harus keluar dari rumah,” katanya.
Yang benar saja, seolah Billie tidak tahu itu. Ia menoleh lagi ke arah George. “Kumohon, maafkan ketidaksopananku. Aku tidak menyangka kau datang.”
Alis pria itu terangkat, namun dia menerima permintaan maafnya dengan anggukan dan duduk saat Billie duduk.
“Kita harus memberi dia makan,” ujar Billie, memiringkan kepala ke arah Andrew.
“Memberinya minum juga?” gumam George, seolah Andrew kuda.
“Aku di sini!” protes Andrew.
George memberi isyarat ke arah koran London Times edisi kemarin, yang baru saja disetrika dan diletakkan di atas meja di sampingnya. “Apa kau keberatan kalau aku membacanya?”
“Tidak sama sekali,” jawab Billie. Bukan tempatnya untuk berharap pria itu akan menghiburnya. Bahkan kalau itu tujuan tidak langsung kedatangan George kemari. Ia memajukan badan, memberi Andrew tepukan kecil di bahu. “Kau mau aku memulainya untukmu?”
“Silakan, tapi setelah itu kau tak boleh menyentuhnya,” jawab Andrew.
Billie menoleh ke arah George. Koran masih terlipat di pangkuannya, dan pria itu mengamati mereka dengan ingin tahu dan geli.
“Di tengah meja,” kata Andrew.
Billie menatapnya tajam. “Autokratis seperti biasa.”
“Aku seniman.”
“Arsitek,” kata George.
__ADS_1
Andrew mendongak, seolah lupa kakaknya ada di sana. “Ya,” gumamnya. “Benar sekali.”
Billie meluncur dari kursi dan berlutut di depan meja rendah, mengatur posisi agar berat badannya tidak menekan kakinya yang masih sakit. Ia memilih dua kartu dari tumpukan berantakan di pinggir meja dan membentuknya menjadi huruf T yang seimbang. Dengan hati-hati, ia melepaskan jemari dan menunggu untuk melihat apakah kartu-kartu itu aman.
“Bagus sekali,” gumam George.
Billie tersenyum, sangat senang menerima pujian pria itu. “Terima kasih.”
Andrew memutar bola mata.
“Aku bersumpah, Andrew,” kata Billie, menggunakan kartu ketiga untuk mengubah bentuk T tadi menjadi H, “kau berubah menjadi orang paling menyebalkan saat sedang melakukan ini.”
“Tapi aku selalu berhasil menyelesaikan permainan ini.”
Billie mendengar George terkekeh, diikuti suara gemeresik koran yang dibuka dan dilipat ke bentuk yang bisa dibaca. Billie menggeleng-geleng, memutuskan Andrew sangat beruntung karena memiliki dirinya sebagai teman, lalu meletakkan beberapa kartu lagi di tempatnya. “Apa ini sudah cukup untukmu memulainya?” ia bertanya kepada Andrew.
“Ya, terima kasih. Hati-hati dengan mejanya saat kau berdiri.”
“Apa kau seperti ini saat berada di laut?” tanya Billie, terpincang-pincang melintasi ruangan untuk mengambil bukunya sebelum ia duduk. “Menakjubkan bagaimana orang-orang tahan menghadapimu.”
Andrew menyipitkan mata—ke arah struktur kartu, bukan ke arah Billie—dan meletakkan sebuah kartu di posisinya. “Aku selalu menyelesaikan pekerjaanku,” ulangnya.
Billie menoleh lagi ke arah George. Pria itu mengamati Andrew dengan ekspresi aneh. Dahinya berkerut, tapi bukan merengut. Matanya terlalu cerah dan membingungkan. Setiap kali dia berkedip, bulu matanya menyapu ke bawah seperti kipas, anggun dan—
“Billie?”
Oh Tuhan, pria itu menangkap basah Billie saat sedang memandanginya.
Tunggu, kenapa ia memandangi George?
“Maaf,” gumamnya. “Melamun.”
“Kuharap lamunanmu menarik.”
Billie tersedak sebelum menjawab, “Tidak juga.” Kemudian ia merasa tak enak hati, karena menghina George tanpa pria itu bahkan mengetahuinya.
Dan tanpa benar-benar bermaksud melakukannya.
“Dia seperti orang yang berbeda,” ujarnya, menunjuk ke arah Andrew. “Aku mendapatinya sangat membingungkan.”
“Kau tak pernah melihatnya seperti ini?”
“Pernah.” Billie melihat dari kursi ke sofa dan memutuskan untuk memilih sofa. Andrew sekarang berada di lantai, dan kemungkinan dia tidak akan menginginkan kembali tempatnya dengan segera. Billie duduk, bersandar ke lengan kursi dan meluruskan kedua kaki ke depan. Tanpa memikirkan apa yang ia lakukan ia meraih selimut yang dilipat di belakang sofa dan menghamparkannya ke atas kedua kakinya. “Aku masih mendapatinya membingungkan.”
“Ketepatannya sangat tak terduga,” kata George.
Billie memikirkannya. “Tak terduga karena…?”
George mengedikkan bahu dan menunjuk adiknya. “Siapa yang akan mengira hal itu darinya?”
Billie memikirkannya sejenak, kemudian memutuskan ia setuju dengan George. “Ada sesuatu yang janggal dalam hal itu.”
“Aku masih bisa mendengar kalian, tahu,” kata Andrew. Dia sudah memasang sekitar selusin kartu dan mundur beberapa senti untuk memeriksa rumahnya dari beberapa sudut.
“Kami memang tidak berusaha untuk tidak terdengar,” komentar George ringan.
Billie tersenyum dan menyelipkan jari ke tempat yang tepat di bukunya. Itu salah satu jilid yang dilengkapi pita untuk pembatas halaman.
“Asal kau tahu saja,” kata Andrew, bergerak ke sisi lain meja, “Aku akan membunuhmu kalau kau meruntuhkan yang ini.”
“Dik, aku bahkan nyaris tak bernapas,” kata George dengan nada serius yang mengesankan.
Billie menahan tawa. Ia jarang melihat sisi ini dari George, menggoda dan datar. Biasanya pria itu begitu jengkel dengan mereka semua karena dia tidak memiliki humor sama sekali.
“Apa itu ensiklopedia Prescott’s?” tanya George.
Billie menoleh ke belakang. “Benar.”
“Kau membuat kemajuan bagus.”
“Padahal aku tidak menyukainya, percayalah. Isinya sangat datar.”
Andrew tidak mendongak, tapi dia berkata, “Kau membaca ensiklopedia pertanian dan kau mengeluh isinya datar?”
“Jilid terakhir isinya brilian,” protes Billie. “Aku hampir tak bisa melepasnya.”
Bahkan dari belakang kepalanya, terlihat jelas Andrew memutar bola matanya.
Billie mengembalikan perhatian ke arah George, yang, harus dikatakan, tidak sekali pun mengejek pilihan bacaannya. “Pasti karena topiknya. Sepertinya kali ini si penulis terjebak dengan pelapis tanah.”
“Pelapis tanah itu penting,” sahut George, matanya berkerlap-kerlip di atas wajah yang secara mengesankan terlihat muram.
“Ya Tuhan, kalian berdua cukup untuk membuatku ingin menjambak rambutku sendiri,” geram Andrew.
Billie menepuk bahunya. “Tapi kau mencintai kami.”
“Jangan sentuh aku,” Andrew memperingatkan.
Billie menoleh lagi ke arah George. “Dia mudah tersinggung.”
“Diam, Billie,” geram Andrew.
Billie tertawa ringan dan kembali ke buku di tangannya. “Kembali ke pelapis tanah.”
Ia mencoba membaca. Sungguh. Tapi Prescott’s sepertinya begitu membosankan kali ini, dan setiap kali George bergerak, korannya mengeluarkan suara bergemeresik dan kemudian ia harus mendongak.
Tapi kemudian pria itu akan mendongak. Kemudian Billie harus pura-pura sedang mengamati Andrew. Kemudian ia benar-benar mengawasi Andrew, karena mengamati pria berlengan satu membangun rumah kartu sangatlah memukau dengan keganjilannya.
Kembali ke Prescott’s, tegurnya dalam hati. Meski pelapis tanah begitu membosankan, ia harus melewatinya. Dan ia berhasil melakukannya, entah bagaimana. Satu jam berlalu dalam kebisuan nyaman, ia di sofa dengan bukunya, George di kursi dengan korannya, dan Andrew di lantai dengan kartu-kartunya. Billie berhasil melewati karpet jerami, dan melewati pelapis tanah yang setengah membusuk, tapi saat tiba di pelapis tanah anaerob, ia tak tahan lagi.
Billie mendesah, tidak dengan elegan. “Aku bosan sekali.”
“Hal yang tepat untuk dikatakan saat sedang bersama seseorang,” celetuk Andrew.
Billie meliriknya. “Kau tidak masuk hitungan sebagai seseorang.”
“Apa George termasuk?”
George mendongak dari korannya.
Billie mengedikkan bahu. “Kurasa tidak.”
“Aku termasuk,” sahut pria itu.
Billie mengerjap. Ia tidak sadar George mendengarkan dari tadi.
“Aku termasuk,” kata George lagi, dan kalau Billie tidak melihatnya ia pasti melewatkannya. Ia pasti melewatkan api yang berkobar di mata George, panas dan intens, terbakar dalam waktu kurang dari satu detik sebelum pria itu memadamkannya dan mengembalikan perhatian ke koran.
“Kau memperlakukan Andrew seperti saudara,” kata George, membalik halaman dengan gerakan pelan yang disengaja.
“Dan aku memperlakukanmu…”
Pria itu mendongak. “Tidak seperti saudara.”
Mulut Billie terbuka. Ia tak bisa memalingkan pandangan. Kemudian ia harus berpaling, karena ia merasa begitu aneh, dan tiba-tiba rasanya penting untuknya kembali ke pelapis tanah anaerob.
Tapi kemudian George membuat suara, atau mungkin dia hanya bernapas, dan Billie tidak bisa menghentikan diri, lalu menatap pria itu lagi.
Dia punya rambut yang bagus, Billie memutuskan. Ia senang George tidak membedakinya, paling tidak, tidak setiap hari. Rambutnya tebal, dengan sedikit gelombang, dan kelihatannya akan mengikal kalau dia membiarkannya panjang. Billie mendengus kecil. Bukankah pelayan wanitanya akan menyukai rambut seperti itu? Billie biasanya hanya mengikat rambutnya ke belakang seperti ekor kuda, tapi terkadang ia harus mendandani dirinya sendiri. Mereka telah mencoba semua hal dengan rambutnya—jepitan panas, pita basah—tapi rambutnya tidak mau mengikal.
Ia juga menyukai warna rambut George. Warnanya seperti karamel, berkilau dan manis, puncaknya dihiasi helai-helai keemasan. Billie berani bertaruh kadang-kadang George lupa memakai topi di bawah matahari. Ia juga seperti itu.
Menarik bagaimana semua Rokesby memiliki warna mata serupa, namun rambut mereka variasi dari warna cokelat. Tidak ada yang pirang, dan tidak ada yang berambut merah, tetapi meskipun rambut mereka semua berwarna cokelat, tidak ada yang persis sama.
“Billie?” tanya George lagi, suaranya terdengar seperti campuran bingung dan geli.
Oh, sialan, pria itu menangkap basah dirinya lagi. Billie meringis. “Aku hanya sedang memikirkan bagaimana kau dan Andrew menyerupai satu sama lain,” katanya. Ini bisa dikatakan benar.
Andrew mendongak melihatnya. “Apa kau sungguh berpikir seperti itu?”
Tidak, pikir Billie, tapi ia berkata, “Well, kalian berdua memiliki mata biru.”
“Seperti setengah penduduk Inggris,” kata Andrew datar. Dia mengedikkan bahu dan kembali bekerja, lidahnya terjulur di antara giginya sementara dia memikirkan langkah berikutnya.
“Ibuku selalu berkata kami memiliki bentuk telinga yang sama,” George berkomentar.
“Telinga?” mulut Billie sedikit menganga. “Aku belum pernah mendengar ada orang yang membandingkan telinga.”
“Sejauh yang kutahu memang tidak ada, selain ibuku.”
“Daun telinga yang menjuntai,” imbuh Andrew. Dia tidak menoleh ke arah Billie, tapi menggunakan tangannya yang sehat untuk menjentik telinganya. “Telinga ibu menempel.”
Billie menyentuh daun telinganya sendiri. Sekarang ia tidak mungkin tidak melakukannya. “Aku bahkan tidak sadar ada lebih dari satu macam daun telinga.”
“Telingamu juga menempel,” kata Andrew tanpa mendongak.
“Bagaimana kau tahu?”
__ADS_1
“Aku memperhatikan telinga,” kata pria itu tanpa merasa bersalah. “Aku tak bisa menahannya sekarang.”
“Aku juga tidak bisa,” aku George. “Ini salah ibuku.”
Billie mengerjap beberapa kali, masih mencubit daun telinganya. “Aku hanya tidak…” Dahi Billie berkerut dan ia mengayunkan kedua kaki dari sofa.
“Awas!” bentak Andrew.
Billie melemparkan tatapan jengkel, bukan berarti pria itu memperhatikan, lalu membungkuk ke depan.
Andrew berputar dengan pelan. “Apa kau memeriksa telingaku?”
“Aku hanya mencoba melihat apa bedanya. Sudah kubilang, aku bahkan tidak sadar ada lebih dari satu tipe.”
Andrew mengibaskan tangan ke arah kakaknya. “Lihat telinga George kalau kau harus. Di sini kau terlalu dekat dengan meja.”
“Aku bersumpah, Andrew,” kata Billie, perlahan-lahan bergeser ke samping sampai ia keluar dari ruang di antara sofa dan meja, “kau kecanduan.”
“Beberapa pria beralih ke minuman keras,” sahut Andrew angkuh.
George berdiri, melihat Billie telah berdiri. “Atau kartu,” katanya dengan senyum licik kecil.
Billie mendengus tertawa.
“Berapa tingkat menurutmu yang sudah dia susun?” tanya George.
Billie memiringkan badan ke kanan; Andrew menutupi pandangannya. Satu, dua, tiga, empat…
“Enam,” ia memberitahu.
“Itu menakjubkan.”
Billie tersenyum. “Itukah yang dibutuhkan untuk membuatmu terkesan?”
“Mungkin.”
“Berhenti berbicara,” bentak Andrew.
“Kita menggerakkan udara dengan napas kita,” Billie menjelaskan, memberi pernyataan itu keseriusan yang tidak pantas.
“Aku mengerti.”
“Kemarin aku bersin.”
George menoleh ke arahnya dengan kagum. “Bagus sekali.”
“Aku butuh lebih banyak kartu,” kata Andrew. Dia mundur dari meja dengan sangat pelan, beringsut di atas karpet seperti kepiting sampai cukup jauh untuk berdiri tanpa mengambil risiko menyenggol apa pun.
“Aku tidak punya,” kata Billie. “Maksudku, aku yakin kami punya, tapi aku tak tahu ke mana mencarinya. Aku sudah membawakanmu dua set terakhir dari ruang permainan tadi.”
“Ini tidak boleh terjadi,” gerutu Andrew.
“Kau bisa meminta pada Thamesly,” saran Billie. “Kalau ada orang yang tahu, itu pasti dia.”
Andrew mengangguk-angguk pelan, seolah mencoba memecahkan semuanya di dalam kepalanya. Kemudian dia berbalik dan berkata. “Kau harus pindah.”
Billie tertegun menatapnya. “Apa?”
“Kau tak boleh berdiri di sana. Kau terlalu dekat.”
“Andrew,” kata Billie singkat, “kau sudah gila.”
“Kau akan merobohkannya.”
“Pergi sajalah,” kata Billie.
“Kalau kau—”
“Pergi!” teriaknya dan George bersama-sama.
Andrew mcndelik marah ke arah mereka dan meninggalkan ruangan.
Billie menoleh ke George. Pria itu menatapnya.
Tawa mereka tersembur keluar.
“Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi aku akan pindah ke sisi lain ruangan,” kata Billie.
“Ah, tapi artinya kau mengaku kalah.”
Billie memandang ke belakang sambil berjalan menjauh. “Aku lebih suka memikirkannya sebagai usaha untuk menjaga diri.”
George terkekeh pelan dan mengikutinya ke deretan jendela. “Ironinya adalah Andrew payah dalam permainan kartu,” katanya.
“Semua permainan untung-untungan, sebenarnya,” George melanjutkan. “Kalau kau membutuhkan sedikit uang, dia sasaran yang tepat.”
“Sayangnya, aku tidak berjudi.”
“Dengan kartu,” balas pria itu.
Billie merasa pria itu bermaksud terdengar lucu, tapi di telinganya terdengar begitu menggurui. Ia merengut. “Apa maksudmu?”
George terlihat seolah sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Hanya saja kau berjudi dengan gembira sepanjang waktu dengan nyawamu.”
Billie merasa dagunya tersentak ke belakang. “Itu konyol.”
“Billie, kau jatuh dari pohon.”
“Ke atas atap.”
George hampir tergelak. “Bagaimana itu bisa melawan argumenku?”
“Kau akan melakukan hal yang sama,” Billie berkeras. “Bahkan, kau melakukannya.”
“Oh, yang benar saja.”
“Aku naik ke atas pohon untuk menyelamatkan kucing.” Ka menusuk bahu pria itu dengan telunjuknya. “Kau naik untuk menyelamatkanku.”
“Pertama-tama, aku tidak memanjat pohon,” balas George. “Dan kedua, kau membandingkan dirimu dengan kucing?”
“Ya. Tidak!” Untuk pertama kalinya Billie bersyukur telah melukai kakinya. Kalau tidak ia mungkin sudah mengentakkan kakinya.
“Apa yang akan kaulakukan kalau aku tidak datang?” tuntut George, “Sungguh, Billie. Apa yang akan kaulakukan?”
“Aku pasti akan baik-baik saja.”
“Aku yakin begitu. Kau orang yang sangat beruntung. Tapi keluargamu pasti akan panik, dan kemungkinan seluruh desa akan dipanggil untuk mencarimu.”
Pria itu benar, brengsek, dan itu membuatnya menjadi lebih buruk. “Apa menurutmu aku tidak menyadarinya?” tuntutnya, suaranya merendah menjadi desisan.
George mengamatinya cukup lama untuk membuatnya tak nyaman. “Tidak,” kata pria itu, “aku tidak menyadarinya.”
Billie menarik napas. “Semua yang kulakukan, kulakukan untuk orang-orang di sini. Seluruh hidupku… semuanya. Aku membaca ensiklopedi pertanian sialan itu,” lengannya disentakkan ke arah buku yang dibicarakan. “Jilid empat. Siapa lagi yang kaukenal yang—” Billie tiba-tiba berhenti saat tercekat, dan beberapa waktu berlalu sebelum ia bisa melanjutkan. “apa kau sungguh-sungguh mengira aku begitu tak peduli?”
“Tidak.” Suara George begitu rendah dan datar. “Menurutku kau tidak berpikir.”
Billie terenyak ke belakang. “Aku tak percaya telah mengira kita mulai berteman.”
George tidak mengatakan apa-apa.
“Kau orang yang sangat mengerikan, George Rokesby. Kau tidak sabaran, tidak toleran, dan—”
George menyambar lengannya. “Hentikan.”
Billie menarik tangannya lagi dengan paksa, tapi jemari George terlalu kuat membungkus lengannya. “Kenapa kau bahkan datang pagi ini? Kau hanya menemuiku untuk menemukan kesalahan.”
“Jangan bodoh,” cemooh George.
“Itu benar,” balas Billie. “Kau tidak melihat dirimu sendiri saat kau berada di dekatku. Yang kaulakukan hanya merengut dan marah dan—dan—semua tentang dirimu. Sikapmu, ekspresimu. Kau begitu tidak setuju dengan semuanya.”
“Kau bersikap konyol.”
Billie menggeleng. Ia hampir merasa seolah pikirannya terbuka. “Kau tidak menyetujui semua hal tentang diriku.”
George melangkah maju, tangannya mengencang di lengan Billie. “Itu amat jauh dari kebenaran sehingga rasanya menggelikan.”
Mulut Billie menganga terbuka.
Kemudian ia menyadari George terlihat sama terkejutnya dengan kata-katanya sendiri seperti Billie.
Dan pria itu berdiri begitu dekat.
Dagu Billie terangkat, membawa matanya menemui mata pria itu.
Ia berhenti bernapas.
“Billie,” bisik George lirih, dan tangan pria itu terangkat, seolah akan menyentuh pipinya
__ADS_1
jangan lupa kaya biasa!!!