
BILLIE BERSENANDUNG BAHAGIA saat ia tiba di awal jalur Pall Mall. Suasana hatinya sedang sangat bagus, setelah semua yang terjadi. Andrew masih tidak sabaran, dan Lady Alexandra masih orang paling mengerikan dalam sejarah, tapi tidak satu pun dari semua itu penting.
Ia melirik ke belakang ke arah George. Pria itu mengikutinya sepanjang hari, bertukar hinaan dengan senyum jail.
“Apa yang membuatmu begitu senang?” desak Andrew.
Billie tersenyum penuh teka-teki. Membiarkan Andrew mendidih selama beberapa saat. Lagi pula, ia tidak yakin kenapa ia bahagia. Ia hanya merasa seperti itu.
“Siapa pemain pertama?” tanya Lady Alexandra.
Billie membuka mulut untuk menjawab, tapi Andrew mengalahkannya.
“Biasanya kita bermain dari yang paling muda sampai ke yang tertua,” jawabnya, “tapi sepertinya agak kasar bila menanyakan…”
“Aku jelas yang pertama, kalau begitu,” Georgiana mengumumkan, dan menjatuhkan bola hijau ke dekat pos pukulan pertama. “Tidak diragukan lagi.”
“Kurasa aku yang kedua,” kata Lady Alexandra, mengirimkan lirikan mengasihani ke arah Billie.
Billie mengabaikannya. “Mr. Berbrooke, boleh kami menanyakan berapa umurmu?”
“Apa? Oh, umurku 25.” Pria itu tersenyum lebar. Dia sering sekali melakukannya. “Seperempat abad, kau tahu.”
“Baiklah, kalau begitu,” kata Billie, “urutan pemain berani Georgiana, Lady Alexandra… kita asumsikan, Andrew, aku, Mr. Berbrooke, dan George.”
“Bukankah maksudmu Lord Kennard?” tanya Lady Alexandra.
“Tidak, aku sangat yakin yang kumaksud George,” potong Billie ketus. Ya Tuhan, wanita itu membuatnya jengkel.
“Aku suka bermain dengan bola hitam,” kata George, mengganti topik pembicaraan dengan mulus. Tapi Billie mengamatinya; ia tidak yakin, tapi menurutnya ia melihat Andrew menyembunyikan senyum.
Bagus.
“Warnanya maskulin sekali,” Lady Alexandra mengonfirmasi.
Billie ingin muntah.
“Itu warna kematian,” Andrew memutar bola mata.
“Palu Kematian,” renung George. Dia mengayunkannya ke depan dan ke belakang beberapa kali, seperti pendulum yang mengerikan. “Kedengarannya menarik.”
Andrew mendengus.
“Kau tertawa, tapi kau tahu kau menginginkannya,” tantang George.
Tawa Billie tersembur dan menjadi semakin keras ketika Andrew melemparkan delikan jengkel ke arahnya. “Oh, ayolah, Andrew, kau tahu itu benar,” katanya.
Georgiana mendongak dari posisinya di tiang awal. “Siapa yang mau Palu Bunga Peony atau Petunia bila dia bisa menggunakan Palu Kematian?” katanya, kemudian mengedikkan kepala ke arah peralatan Andrew yang berwarna merah muda.
Billie tersenyum setuju. Sejak kapan adiknya menjadi begitu pintar dan lucu?
“Bunga peony dan petunia-ku akan menang,” Andrew menggoyang-goyangkan alis. “Lihat saja nanti.”
“Bunga peony dan petunia-mu kehilangan kelopak yang sangat penting,” balas Billie, menunjuk ke arah lengan pria itu yang terluka.
“Kurasa aku tidak mengerti apa yang kita bicarakan,” Mr. Berbrooke mengakui.
“Ini hanya percakapan konyol,” Georgiana memberitahu sambil bersiap-siap untuk ayunan pertamanya. “Billie dan Andrew suka menggoda satu sama lain. Selalu seperti itu.” Dia memukul bolanya, dan bola itu melesat melewati dua gawang di depan. Bolanya tidak bergerak lebih jauh lagi tapi sepertinya ia tidak keberatan.
Lady Alexandra maju, dan meletakkan bola di tempatnya. “Letnan Rokesby bermain setelahku, ya?” dia mengonfirmasi. Dia menoleh ke arah Billie dengan ekspresi tenang yang menipu. “Aku tidak sadar kau lebih tua darinya, Miss Bridgerton.”
“Aku lebih tua dari banyak orang,” sahut Billie dingin.
Lady Alexandra mendengus dan menghantamkan palu ke bola, membuatnya meluncur ke seberang halaman.
“Bagus sekali!” sorak Mr. Berbrooke. “Wah, kau pernah memainkan permainan ini rupanya.”
Lady Alexandra tersenyum rendah hati. “Seperti yang kukatakan tadi, Lord Northwick punya satu set.”
“Dan dia memainkannya dalam bentuk salib suci,” gerutu Billie pelan.
George menyikutnya.
“Giliranku,” Andrew mengumumkan.
“Ahoy, Petunia!” seru Billie riang.
Di sampingnya Billie mendengar George tertawa pelan. Rasanya begitu memuaskan, membuat pria itu tertawa.
Andrew mengabaikannya. Dia menjatuhkan bola merah muda, kemudian mendorongnya ke tempat dengan kaki.
“Aku masih tidak mengerti bagaimana kau akan bermain dengan lengan yang patah.”
“Perhatikan dan pelajari, gadisku sayang,” gumam pria itu. Kemudian, setelah berlatih beberapa ayunan—salah satunya dengan rotasi 360 derajat—dia memukul bolanya dengan cukup mengesankan melewati gawang-gawang di depan dan melintasi halaman.
“Hampir sejauh pukulan Lady Alexandra,” kata Georgiana kagum.
“Lenganku masih patah,” sahut Andrew merendah.
Billie berjalan ke titik permulaan dan meletakkan bolanya. “Bagaimana tanganmu bisa patah?” tanyanya polos.
“Serangan hiu,” jawab Andrew lancar.
“Astaga!” Lady Alexandra terkesiap.
“Hiu?” kata Mr. Berbrooke. “Bukankah itu salah satu makhluk dengan banyak gigi?”
“Sangat banyak,” Andrew membenarkan.
“Aku tidak akan suka bertemu dengan salah satunya,” komentar Mr. Berbrooke.
“Apa Lord Northwick pernah digigit ikan hiu?” tanya Billie manis.
George mengeluarkan suara seperti tersedak.
Mata Lady Alexandra menyipit. “Aku tak bisa mengatakan sudah.”
“Sayang sekali.” Billie menghantamkan palu ke bola kuat-kuat. Bola itu terbang melintasi halaman, jauh melewati yang lain.
“Bagus sekali!” seru Mr. Berbrooke. “Kau pintar sekali, Miss Bridgerton.”
Mustahil untuk tetap diam di depan keriangan yang tak ada habisnya. Billie memberinya senyum ramah seraya berkata, “Selama bertahun-tahun aku cukup sering memainkannya.”
“Dia sering bermain curang,” komentar Andrew sambil berjalan melewatinya.
“Hanya denganmu.”
“Kurasa sebaiknya aku mencoba,” Mr. Berbrooke berjongkok dan meletakkan bola biru di samping tiang awal.
George mengambil langkah ke belakang untuk berjaga-jaga
Mr. Berbrooke mengernyit mengamati bolanya, menguji palunya beberapa kali sebelum akhirnya diayunkan. Bolanya melayang terbang, tapi sayangnya begitu juga salah satu gawang.
“Oh! Maaf sekali,” katanya.
“Tak masalah,” kata Georgiana. “Kita bisa memasangnya kembali di tempat.”
Jalur diperbaiki, dan George memulai gilirannya. Bola hitamnya berakhir di suatu tempat di antara Lady Alexandra dan Billie.
“Benar-benar Palu Kematian,” ejek Andrew.
“Ini semacam pembunuhan strategis,” balas George dengan senyum penuh teka-teki. “Aku mengambil pandangan longitudinal.”
“Giliranku!” seru Georgiana. Dia tidak perlu berjalan jauh untuk sampai di bolanya. Kali ini dia memukulnya jauh lebih keras, dan bola itu melayang menyeberangi padang rumput menuju gawang berikutnya, berhenti sekitar empat setengah meter dari tujuan.
“Bagus sekali!” seru Mr. Berbrooke.
__ADS_1
Georgiana berseri-seri. “Terima kasih. Kurasa mungkin aku mulai bisa memainkannya.”
“Pada saat permainan berakhir kau akan mengalahkan kami semua,” pria itu mengumumkan.
Lady Alexandra sudah berada di tempatnya di dekat bola berwarna ungu. Dia menghabiskan waktu hampir satu menit untuk mengatur bidikannya, kemudian memberi bola itu ketukan pelan. Bola bergulir maju, dan berhenti tepat di depan gawang.
Billie membuat suara di dalam tenggorokannya. Lady Alexandra ternyata sangat ahli.
“Apa kau baru saja menggeram?” tanya George.
Billie hampir melompat kaget. Ia tidak sadar pria itu berdiri begitu dekat. George berdiri hampir tepat di belakangnya, dan ia tidak bisa melihatnya kecuali ia memalingkan kepala dari permainan.
Namun Billie bisa merasakan George. Mungkin pria itu tidak menyentuhnya, namun dia begitu dekat… Kulit Billie menggelenyar, dan ia bisa merasakan jantungnya berdegup rendah dan mendesak di dadanya.
“Aku harus bertanya,” suara pria itu terdengar dekat dan memabukkan di telinga, “tepatnya, bagaimana kita bekerja sebagai tim?”
“Aku tidak yakin,” aku Billie, sambil menonton Andrew mengambil giliran. “Kuduga itu akan menjadi jelas dengan berjalannya permainan.”
“Giliranmu, Billie!” Andrew berteriak.
“Permisi,” kata Billie kepada George, tiba-tiba tak sabar ingin memberi sedikit jarak di antara mereka berdua. Ia merasa seperti hampir melayang ketika pria itu berdiri begitu dekat.
“Apa yang akan kaulakukan, Billie?” tanya Georgiana sambil mendekati bola.
Billie mengernyit. Posisinya tidak jauh dari gawang, tetapi bola ungu Lady Alexandra berada tepat di jalannya.
“Pukulan sulit,” kata Andrew.
“Diam.”
“Kau bisa menggunakan kekuatan.” Pria itu mendongak ke arah kerumunan. “Modus operandi-nya yang biasa.” Suaranya merendah dengan nada penuh rahasia. “Dalam Pall Mall dan kehidupan.”
Sesaat Billie mempertimbangkan untuk mengaku kalah saat itu juga dan memukulkan bola ke kaki pria itu.
“Bukankah itu akan membuat bola Lady Alexandra melewati gawang?” tanya Georgiana.
Andrew mengedikkan bahunya seolah berkata-c’est la vie.
Billie memusatkan perhatian kepada bolanya.
“Atau dia bisa bersabar,” lanjut Andrew, “dan mengantre melewati gawang setelah Lady Alexandra. Tapi kita semua tahu itu bukan dirinya.”
Billie bersuara. Kali ini jelas itu geraman.
“Pilihan ketiga—”
“Andrew!” geramnya.
Pria itu menyeringai.
Billie memosisikan palu. Tak mungkin bolanya bisa melewati gawang tanpa memukul bola Lady Alexandra masuk melewati gawang, tapi kalau ia memukulnya dari samping…
Ia membiarkannya terbang.
Bola kuning Billie melesat ke arah gawang dan memukul bola ungu dari sebelah kiri. Mereka semua menonton saat bola Lady Alexandra bergulir ke kanan, membawanya ke posisi dengan sudut yang membuatnya tak mungkin berharap bisa melewati gawang di putaran berikut.
Bola Billie sekarang nyaris berada di posisi Lady Alexandra sebelumnya.
“Kau melakukannya dengan sengaja!” tuduh Lady Alexandra.
“Tentu saja.” Billie menoleh dengan sikap meremehkan. Sungguh, apa yang wanita itu harapkan? “Begitulah cara memainkannya.”
“Bukan itu caraku memainkannya.”
“Well, kita tidak sedang berada di jalur salib,” bentak Billie, kehilangan kesabaran. Ya ampun, wanita itu menjengkelkan sekali.
Seseorang mengeluarkan suara seperti tercekik.
“Apa artinya itu?” tuntut Lady Alexandra.
“Kurasa,” sahut Mr. Berbrooke serius, “dia bermaksud mengatakan dia akan bermain lebih alim bila permainan ini bertema religius. Dan kurasa tidak.”
“Lord Kennard,” Lady Alexandra berputar ke arah George. “Tentunya kau tidak menyetujui taktik curang seperti itu.”
George mengedikkan bahu. “Sayangnya itu cara mereka memainkannya.”
“Tapi bukan caramu memainkannya,” Lady Alexandra bertahan.
Billie memberi George tatapan tajam, menunggu jawabannya.
Dia tidak mengecewakan. “Seperti itulah caraku bermain saat bersama mereka.”
Lady Alexandra terenyak marah.
“Jangan khawatir,” sahut Georgiana. “Kau akan belajar.”
“Itu bukan sifat dasarku,” dengus Lady Alexandra.
“Itu sifat dasar semua orang,” tukas Andrew keras. “Sekarang giliran siapa?”
Mr. Berbrooke terlonjak kaget. “Oh, giliranku, kurasa.” Dia melangkah ke bolanya. “Apa aku boleh membidik bola Miss Bridgerton?”
“Tentu saja,” jawab Andrew, “tapi mungkin kau ingin—”
Mr. Berbrooke memukul bola tanpa menunggu sisa instruksi Andrew, yang tentunya bukan untuk memukul bola Billie dari depan, seperti yang ia lakukan.
Bola kuning melesat melewati gawang dan jauh ke depan, memberinya tambahan jarak satu setengah meter sebelum berhenti. Bola biru juga bergulir melewati gawang, tapi, karena mentransfer kekuatannya ke bola kuning, bola itu berhenti tepat melewati gawang.
“Bagus sekali, Mr. Berbrooke!” sorak Billie.
Pria itu menoleh ke arahnya dengan senyum lebar. “Terima kasih!”
“Oh, demi Tuhan,” bentak Lady Alexandra. “Dia tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Dia hanya senang kau memukul bolanya melewati gawang.”
“Kutarik semuanya,” gumam Billie kepada George. “Lupakan Andrew. Perempuan itu yang harus kita hancurkan.”
Mr. Berbrooke berseru kepada pemain lain. “Miss Bridgerton tetap akan membawa bolanya melewati gawang di giliran berikut, bukan?”
“Benar,” Billie mengonfirmasi. “Kau benar-benar tidak membuatku berada terlalu jauh di depan, aku janji.”
“Dan kau juga membawa bolamu masuk melewati gawang,” Georgiana menambahkan. “Itu membawamu ke posisi kedua.”
“Benar, bukan?” Mr. Berbrooke tampak sangat senang dengan perkembangan ini.
“Dan,” Billie menambahkan dengan bergaya, “lihat bagaimana kau menghalangi yang lain. Bagus sekali.”
Lady Alexandra mendengus gusar. “Sekarang giliran siapa?”
“Giliranku, kurasa,” sahut George lancar.
Billie tersenyum sendiri. Ia suka cara pria itu mengatakan begitu banyak hanya dengan gumaman sopan. Yang Lady Alexandra dengar adalah pria terhormat berkomentar santai, tapi Billie lebih mengenalnya. Ia mengenal George lebih baik daripada putri sombong seorang duke.
Billie mendengar George tersenyum. Merasa geli dengan seluruh percakapan, bahkan kalau pria itu terlalu sopan untuk menunjukkannya.
Ia mendengar pria itu memberi hormat. Billie memenangkan ronde ini; George memberinya selamat.
Dan ia mendengar teguran halusnya, semacam peringatan. George mengingatkannya untuk tidak membawa hal ini terlalu jauh.
Yang mungkin akan Billie lakukan. George mengenalnya sebaik Billie mengenal pria itu.
“Ambil giliranmu, George,” kata Andrew.
Billie mengamati sementara George melangkah maju dan bersiap-siap. Dia menyipitkan mata sambil membidik. Dia terlihat menawan.
Pikiran yang menakjubkan. George Rokesby, menawan? Itu hal paling menggelikan.
__ADS_1
Billie tertawa pelan tepat ketika George memukul bolanya. Pukulan yang bagus, membuat bolanya mendarat tepat di depan gawang.
“Oh, ya ampun,” Georgiana mengerjap memandangi lapangan permainan. “Sekarang kita tidak akan bisa lewat.”
Dia benar. Bola hitam dan biru hanya terpisah jarak beberapa senti, mengapit kedua sisi gawang. Siapa pun yang berusaha melewati gawang hanya akan menambah kemacetan.
George bergerak mundur ke arah Billie, memberi jalan untuk pemain-pemain lain. Dia mencondongkan badan mendekat, mulutnya bergerak mendekati telinga Billie. “Apa kau menertawakanku?” gumamnya.
“Sedikit,” jawab Billie, mengamati Georgiana mencoba memutuskan arah pukulannya.
“Kenapa?”
Bibir Billie terbuka sebelum menyadari ia tak mungkin memberikan jawaban jujur. Ia berbalik untuk melihat pria itu, dan sekali lagi George berdiri lebih dekat daripada yang ia harapkan, lebih dekat daripada yang seharusnya.
Tiba-tiba Billie menyadari.
Menyadari napas pria itu, yang terasa hangat di kulitnya.
Menyadari mata pria itu, begitu biru dan menarik perhatiannya.
Menyadari bibir pria itu, penuh, indah, dan melekuk dengan senyuman simpul.
Menyadari keberadaan pria itu. Hanya George.
Ia membisikkan nama George.
George menelengkan kepala ke samping, bertanya, dan Billie menyadari ia tak tahu kenapa ia memanggilnya, hanya saja ada sesuatu yang begitu tepat dengan berdiri di sini bersama George, dan ketika pria itu melihatnya seperti itu, seperti menurutnya Billie menakjubkan, ia merasa menakjubkan.
Ia merasa cantik.
Billie tahu itu tidak mungkin benar, karena George tak pernah menganggapnya seperti itu. Dan ia tidak mau. Atau ia mau?
Billie terkesiap.
“Ada yang salah?” George bergumam.
Billie menggeleng. Semuanya salah.
“Billie?”
Ia ingin mencium pria itu. Ia ingin mencium George. Ia mencapai usia 23 tahun tanpa sedikit pun mau menggoda pria dan sekarang ia menginginkan George Rokesby?
Oh, ini salah. Ini amat sangat salah. Ini kesalahan yang membuat panik, memutar-balik dunia, dan menghentikan detak jantung.
“Billie, apa ada yang salah?”
Billie tersentak, kemudian ingat untuk bernapas. “Tidak ada,” katanya, sedikit terlalu riang. “Tidak ada sama sekali.”
Tapi apa yang akan dilakukan George? Bagaimana dia akan bereaksi kalau Billie berjalan ke arahnya, menyambar bagian belakang kepalanya, dan mempertemukan bibir mereka?
George akan berkata bahwa Billie sudah gila, itulah yang akan dia lakukan. Belum lagi dengan empat pemain Pall Mall lain yang berjarak kurang dari dua puluh meter dari mereka.
Tapi bagaimana kalau tidak ada orang lain di sini? Bagaimana kalau dunia menghilang, dan tidak ada satu pun yang menyaksikan kegilaannya? Apa Billie akan melakukannya?
Dan apa George akan balas menciumnya?
“Billie? Billie?”
Billie berbalik, linglung, ke arah suara George.
“Billie, ada apa denganmu?”
Ia mengerjap, membawa wajah pria itu ke dalam fokus. George tampak cemas. Billie nyaris tertawa. Pria itu memang harus cemas.
“Billie…”
“Aku baik-baik saja,” katanya cepat-cepat. “Sungguh. Ini… ah… apa kau merasa hangat?” Ia mengipasi dirinya sendiri dengan tangan. “Aku merasa sangat hangat.
George tidak menjawab. Dia tidak perlu. Suhu saat itu sama sekali tidak hangat.
“Kurasa sekarang giliranku!” sembur Billie.
Ia sama sekali tidak tahu apakah sekarang gilirannya.
“Bukan,” kata George, “Andrew masih bermain. Aku berani mengatakan Lady Alexandra berada dalam bahaya.”
“Benarkah,” gumam Billie, pikirannya masih berada pada ciuman khayalnya.
“Sialan, Billie, sekarang aku tahu ada yang salah.” George merengut. “Kupikir kau ingin menghancurkan gadis itu.”
“Benar,” katanya, perlahan-lahan mendapatkan kembali otaknya. Ya Tuhan, ia tak bisa membiarkan dirinya menjadi begitu terganggu. George tidak bodoh. Kalau Billie berubah menjadi idiot setiap kali George menatapnya, pria itu akan menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dan kalau George menyadari Billie mungkin sedikit tergila-gila…
Tidak. George tidak boleh tahu.
“Giliranmu, Billie!” teriak Andrew.
“Benar,” katanya. “Benar, benar, benar.” Ia menoleh ke arah George tanpa melihatnya. “Permisi.” Ia bergegas mendekati bolanya, sepintas memeriksa lapangan, dan memukul bolanya ke arah gawang berikut.
“Aku yakin kau memukul terlalu jauh,” Lady Alexandra berjalan pelan menghampirinya.
Billie memaksakan senyum, mencoba terlihat penuh teka-teki. “Hati-hati!” seseorang berteriak.
Billie melompat ke belakang tepat sebelum bola biru menghantam jemari kakinya. Lady Alexandra juga bergerak gesit, dan mereka berdua mengamati sementara bola Mr. Berbrooke berhenti beberapa meter melewati gawang.
“Kurasa kita berdua pantas mendapat hukuman kalau idiot itu memenangi permainan ini,” kata Lady Alexandra.
Billie melihat ke arah Lady Alexandra dengan terkejut. Adalah satu hal untuk bertukar hinaan dengannya; dia jelas bisa memberi hinaan sebaik dia menerimanya. Tapi untuk menghina Mr. Berbrooke, yang mungkin pria paling ramah yang pernah ia temui…
Sungguh, wanita itu monster.
Billie melihat ke jalur permainan lagi. Bola ungu masih berada di belakang gawang pertama. “Sekarang hampir giliranmu,” katanya manis.
Lady Alexandra menyipitkan mata dan mengeluarkan suara menggeram yang mengejutkan sebelum pergi.
“Apa yang kaukatakan padanya?” tanya George beberapa saat kemudian. Dia baru saja melewati gilirannya dan saat ini berada di posisi yang bagus untuk melewati gawang kedua.
“Dia orang jahat,” gerutu Billie.
“Bukan itu yang kutanyakan,” George melihat ke arah wanita yang dibicarakan, “tapi mungkin cukup menjawab.”
“Dia—Oh, lupakan.” Billie menggeleng. “Dia tidak pantas untuk kubicarakan.”
“Jelas tidak,” George menyetujui.
Jantung Billie sesaat berhenti berdetak mendengar pujian itu, dan ia membalikkan badannya. “George, apa kau pernah—” Billie mengernyit, menelengkan kepalanya ke samping. “Apa itu Felix yang mendatangi kita?”
George menaungi mata sambil melihat lebih tajam ke arah yang Billie tunjuk. “Kurasa benar, ya.”
“Jalannya sangat cepat. Kuharap tidak ada yang tidak beres.”
Mereka mengamati sementara Felix mendekati Andrew, yang lebih dekat dengan rumah dibanding mereka. Mereka berbicara selama beberapa saat kemudian Andrew melesat pergi.
“Ada yang salah,” kata George. Dengan palu masih di tangan, dia mulai berjalan ke arah Felix, menambah kecepatannya dengan setiap langkah.
Billie bergegas mengejar sebisa mungkin, setengah terpincang setengah melompat, sisa peralatan Pall Mall mereka terlupakan di lapangan. Frustrasi dengan gerakannya yang lambat, ia mengangkat rok dan berlari, persetan dengan rasa sakit. Ia berhasil mengejar George tak lama setelah pria itu sampai di tempat Felix.
“Ada kurir,” Felix berkata.
Mata George mengamati ekspresi Felix. “Edward?”
Tangan Billie melayang ke mulutnya. Bukan Edward. Oh, kumohon, bukan Edward.
Felix mengangguk muram. “Dia menghilang
~JANGAN LUPA~
__ADS_1
LIKE,KOMEN,VOTE,FAVORITE,AND RATE