KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 4


__ADS_3

GEORGE SUDAH CURIGA Billie merasakan sakit yang lebih besar daripada yang diperlihatkan gadis itu, namun ia tidak menyadari seberapa besar sampai mereka menuruni tangga. Ia sempat mempertimbangkan membawa gadis itu turun di punggungnya, tapi sepertinya lebih aman membiarkan gadis itu mengikutinya. George sudah menuruni tiga anak tangga sebelum Billie meletakkan kakinya yang sehat ke anak tangga, kemudian ia mengamati saat gadis itu mencoba-coba mengikuti dengan kakinya yang terkilir. Sejenak Billie hanya berdiri diam, mungkin mencoba memutuskan cara terbaik untuk melanjutkan ke anak tangga berikut.


“Aku akan memulai dengan kaki yang sehat, dan memegang erat tangga untuk menyerap sebagian berat tubuhmu,” kata George pelan.


Billie mengangguk tegang dan mengikuti instruksi, napasnya terlepas dalam bentuk desis kesakitan ketika kakinya yang sehat sudah berada di tempat aman, dan dia bisa mengangkat kakinya yang terluka dari anak tangga di atasnya.


Gadis itu menahan napas selama ini. George tidak menyalahkannya.


Ia menunggu sampai Billie berhasil mengendalikan diri, tahu gadis itu hanya perlu melewati beberapa anak tangga lagi; kalau Billie jatuh—dan mungkin saja; ia bisa melihat pergelangan kakinya sangat lemah—ia harus berada cukup dekat untuk menghentikan jatuhnya.


“Mungkin kalau aku mencobanya dengan cara lain…” kata Billie, napasnya terdengar berat di tengah kesakitannya.


“Aku tidak akan melakukannya,” sahut George, menjaga agar suaranya terdengar tenang dan rendah. Billie tak pernah suka diberitahu harus melakukan apa. George merasa ia lebih memahami hal ini dibandingkan siapa pun. “Kau tidak mau kaki yang terkilir berada di tempat yang lebih rendah,” katanya. “Kakimu bisa kehilangan kekuatannya—”


“Tentu saja,” sahut Billie tegang. Tidak dengan amarah, hanya tegang. George mengenal nada suara itu. Itu nada suara seseorang yang menyerah untuk satu hal dan sungguh tidak menginginkan penjelasan lebih panjang untuk hal itu.


Itu nada yang cukup sering ia gunakan.


Well, sesering ia berkenan untuk menyerah dalam sesuatu.


“Kau bisa melakukannya,” katanya. “Aku tahu pasti menyakitkan.”


“Benar-benar menyakitkan,” Billie mengakui.


George tersenyum kecil. Ia tidak yakin kenapa, tapi ia senang gadis itu tak bisa melihat wajahnya. “Aku tidak akan membiarkanmu jatuh.”


“Semuanya baik-baik saja di atas sana?” panggil Andrew.


“Suruh dia diam,” geram Billie.


George tertawa tanpa dapat ditahan. “Miss Bridgerton memintamu diam,” serunya.


Andrew terbahak. “Semuanya baik-baik saja, kalau begitu.”


“Aku tidak akan mengatakannya seperti itu,” gerutu Billie, tercekat saat melewati satu anak tangga lagi.


“Kau sudah hampir setengah jalan,” George memberi semangat.


“Kau bohong, tapi aku menghargai dukunganmu.”


George tersenyum, dan kali ini ia tahu alasannya. Mungkin Billie hampir selalu menyebalkan, tapi dia selalu memiliki selera humor yang bagus. “Kau setengah jalan ke setengah jalan, kalau begitu,” katanya.


“Dasar pria optimis,” gerutu Billie.


Dia berhasil turun satu anak tangga lagi tanpa insiden, dan George menyadari percakapan mereka terbukti bisa menjadi pengalih perhatian. “Kau bisa melakukannya, Billie,” katanya.


“Kau sudah mengatakannya tadi.”


“Itu pantas diulang.”


“Kurasa—” Billie mendesis, kemudian tercekat seraya bergerak menuruni satu anak tangga lagi.


George menunggu sementara Billie mengendalikan diri, tubuh gadis itu gemetar saat dia mencari keseimbangan di kakinya yang sehat.


“Kurasa,” kata Billie lagi, suaranya diatur dengan lebih hati-hati, seolah dia bertekad mengeluarkan kalimatnya dengan benar, “ini mungkin sikapmu yang paling ramah saat bersamaku.”


“Aku bisa mengatakan hal yang sama,” sahut George.


Gadis itu sampai di tengah tangga. “Touché.”


“Tidak ada yang lebih menyegarkan daripada lawan yang tangguh,” kata George, memikirkan semua waktu ketika mereka bertarung dengan kata-kata. Billie tidak pernah menjadi orang yang mudah dikalahkan dalam perdebatan, karena itu rasanya selalu sangat menyenangkan bila George berhasil melakukannya.


“Aku tidak yakin itu benar di medan—oh!”


George menunggu sementara Billie mengenakkan gigi dan melanjutkan.


“—di medan perang,” kata gadis itu setelah helaan napas yang terdengar marah. “Ya Tuhan, ini sakit sekali,” gerutunya.


“Aku tahu,” kata George memberi semangat.


“Tidak, kau tak tahu.”


George tersenyum lagi. “Benar, aku tidak tahu.”


Billie mengangguk kaku dan turun selangkah lagi. Kemudian, karena dia Billie Bridgerton dan secara mendasar tak bisa membiarkan masalah yang belum selesai terbengkalai, dia berkata, “Di medan perang, kurasa aku mungkin akan mendapati lawan yang tangguh memberi inspirasi.”


“Memberi inspirasi?” gumam George, ingin membuat Billie terus berbicara.


“Tapi tidak membangkitkan semangat.”


“Yang satu akan mengarah ke yang lain,” sahut George, bukan berarti ia mengalaminya sendiri. Medan perang yang ia alami terjadi di tempat-tempat anggar dan ring tinju, dan risiko paling serius adalah harga diri seseorang. Ia menuruni satu anak tangga lagi, memberi Billie ruang untuk bermanuver, kemudian menoleh ke belakang ke arah Andrew, yang bersiul sembari menunggu.


“Ada yang bisa kubantu?” tanya Andrew saat melihat lirikannya.


George menggeleng, kemudian melihat ke arah Billie lagi. “Kau sudah hampir sampai di bawah,” katanya.


“Tolong katakan padaku kau tidak berbohong kali ini.”


“Aku tidak berbohong.”


Dan George memang tidak berbohong. Ia melompat turun, melewati dua anak tangga terakhir, menunggu Billie cukup dekat untuk dipegangnya. Beberapa saat kemudian gadis itu berada di jangkauannya, dan ia meraih Billie ke dalam pelukan.


“Aku sudah memegangmu,” gumamnya, dan ia merasa tubuh Billie sedikit terkulai, untuk kali pertama dalam hidupnya membiarkan seseorang memegang kendali.


“Bagus sekali,” kata Andrew riang, dan menjulurkan kepala mendekat. “Apa kau baik-baik saja, Billie-kambing?”


Billie mengangguk, tapi dia tidak terlihat baik-baik saja. Rahangnya masih kaku dan dari cara tenggorokannya bergerak, jelas terlihat dia berusaha sebisa mungkin menahan tangis.


“Kau gadis bodoh,” gumam George, kemudian ia tahu Billie tidak baik-baik saja, karena gadis itu membiarkan hinaannya berlalu tanpa protes. Bahkan, dia meminta maaf, dan itu amat tidak seperti diri Billie sehingga rasanya nyaris mengkhawatirkan.


“Waktunya pulang,” kata George.


“Ayo kita lihat dulu kaki itu,” kata Andrew, suaranya masih terdengar riang dan menjengkelkan. Dia melepas stoking Billie, bersiul pelan, lalu berkata kagum, “Astaga, Billie, apa yang kaulakukan pada dirimu sendiri? Kelihatannya brutal.”


“Diam,” kata George.


Andrew hanya mengedikkan bahu. “Kelihatannya tidak patah—”


“Memang tidak,” potong Billie.

__ADS_1


“Tetap saja, kau harus mengistirahatkan kakimu selama seminggu, paling tidak.”


“Mungkin tidak selama itu,” kata George, meskipun menurutnya penilaian Andrew benar. Tetap saja, tidak ada gunanya mendebat kondisi gadis itu. Mereka tidak mengatakan sesuatu yang belum Billie ketahui. “Kita pergi sekarang?” katanya.


Billie memejamkan mata dan mengangguk. “Kita harus memindahkan tangga itu,” gumamnya.


George mengencangkan pelukannya dan berjalan ke arah timur menuju Aubrey Hall, tempat Billie tinggal bersama orangtua dan tiga adiknya. “Kita akan memindahkannya besok.”


Billie mengangguk. “Terima kasih.”


“Untuk apa?”


“Segalanya.”


“Itu mencakup cukup banyak hal,” sahut George datar. “Apa kau yakin kau ingin berutang sebesar itu?”


Billie mendongak ke arahnya, mata gadis itu tampak lelah namun bijaksana. “Kau terlalu terhormat untuk menagihnya.”


George tertawa kecil mendengarnya. Ia rasa Billie benar, meskipun ia tak pernah memperlakukan Billie Bridgerton seperti gadis kenalannya yang lain. Sial, tidak ada yang pernah melakukan itu.


“Apa kau masih bisa datang ke acara makan malam nanti?” tanya Andrew yang berlari sambil melompat kecil di sebelah George.


Billie menoleh ke arahnya bingung. “Apa?”


“Tentunya kau tidak lupa,” kata Andrew, meletakkan sebelah tangan dengan dramatis di atas jantungnya. “Keluarga Rokesby menyambut kepulangan anak yang hilang—”


“Kau bukan anak yang hilang,” sahut George. Ya Tuhan.


“Seorang anak yang hilang,” Andrew mengoreksi dengan riang. “Aku sudah pergi berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.”


“Bukan bertahun-tahun,” kata George.


“Bukan bertahun-tahun,” Andrew menyetujui, “tapi rasanya seperti itu, bukan?” Dia menunduk ke arah Billie, cukup dekat untuk menyenggolnya ringan. “Kau merindukanku, bukan, Goatrix? Ayo, mengakulah.”


“Beri dia sedikit ruang,” kata George jengkel.


“Oh, dia tidak keberatan.”


“Beri aku sedikit ruang.”


“Masalah yang sama sekali berbeda,” kata Andrew sambil tertawa.


George mulai merengut, tapi kemudian kepalanya tersentak. “Kau panggil dia apa tadi?”


“Dia sering menyamakanku dengan kambing,” sahut Billie dengan nada datar seseorang yang sudah berhenti tersinggung.


George menatap gadis itu, kemudian Andrew, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak pernah memahami selera humor mereka. Atau mungkin itu karena ia tak pernah menjadi bagian di dalamnya. Saat tumbuh besar, ia selalu merasa begitu terpisah dari anggota keluarga Rokesby dan Bridgerton yang lain. Sebagian besar karena jarak usia—lima tahun lebih tua daripada Edward, yang menjadi pewaris kedua—tapi juga karena posisi. Ia yang paling tua, sang pewaris. Ia, seperti yang selalu dengan cepat diingatkan oleh ayahnya, memiliki tanggung jawab. Ia tak bisa berjalan-jalan di desa sepanjang hari, memanjati pohon-pohon dan mematahkan tulang-tulang.


Edward, Mary, dan Andrew Rokesby dilahirkan berturut-turut dalam waktu dekat, terpisah kurang dari satu tahun satu sama lain. Mereka, bersama dengan Billie, yang hampir seusia Mary, membentuk kelompok yang erat yang melakukan semuanya bersama-sama. Rumah Rokesby dan Bridgerton hanya terpisah lima kilometer, dan anak-anak sering bertemu di tengah-tengah, di selokan yang memisahkan kedua estat, atau di rumah pohon yang Lord Bridgerton bangun atas desakan Billie di atas pohon ek tua di pinggir kolam ikan trout. Pada sebagian besar waktu George tidak yakin kenakalan macam apa yang mereka lakukan, tapi saudara-saudaranya cenderung pulang ke rumah dalam keadaan kotor, lapar, dan penuh semangat.


Ia tidak cemburu. Sungguh, mereka menjengkelkan. Hal terakhir yang ingin ia lakukan saat pulang ke rumah dari sekolah adalah berkotor-kotor ria dengan segerombolan anak-anak liar yang rata-rata umurnya bahkan tidak sampai dua angka.


Tapi terkadang George merasakan kerinduan. Seperti apa rasanya memiliki teman-teman dekat? Ia tidak memiliki teman dekat seusianya sampai bersekolah di Eton pada usia dua belas tahun. Karena memang tidak ada yang bisa dijadikan teman.


Tapi itu tidak penting sekarang. Mereka semua sudah dewasa, Edward di Angkatan Darat dan Andrew di Angkatan Laut dan Mary menikah dengan teman baik George, Felix Maynard. Billie juga telah melewati usia dewasa, namun dia masih Billie, masih berkeliaran di properti ayahnya, masih menunggangi kuda yang terlalu bersemangat seolah tulang-tulangnya terbuat dari baja dan mengulas senyum lebar di sekitar penduduk desa yang mengaguminya.


“Sebaiknya kita membawamu ke Crake,” kata Andrew kepada Billie. “Jaraknya lebih dekat, dan kau bisa tinggal untuk makan malam.”


“Dia kesakitan,” George mengingatkan.


“Hah. Kapan itu pernah menghentikannya?”


“Well, dia tidak mengenakan pakaian pantas,” kata George. Ia terdengar seperti pria sombong dan ia tahu itu, tapi entah mengapa ia jengkel, dan ia tak bisa mengalihkannya kepada Billie karena gadis itu sedang terluka.


“Aku yakin dia bisa menemukan sesuatu untuk dikenakan di lemari Mary,” Andrew mengibaskan tangan. “Dia tidak membawa apa-apa saat menikah, bukan?”


“Tidak,” kata Billie, suaranya teredam dada George. Rasanya lucu, bagaimana seseorang bisa merasakan suara melalui badan. “Dia meninggalkan cukup banyak pakaiannya.”


“Sudah beres, kalau begitu,” kata Andrew. “Kau akan datang untuk makan malam, menghabiskan malam di sana, dan semua akan baik-baik saja.”


George menoleh lambat-lambat ke arah adiknya.


“Aku akan tinggal untuk makan malam,” Billie menyetujui, menggerakkan kepala agar suaranya keluar ke udara alih-alih ke dada George, “tapi kemudian aku akan pulang bersama keluargaku. Aku lebih suka tidur di tempat tidurku sendiri, kalau kau tidak keberatan.”


George tersandung.


“Kau baik-baik saja?” tanya Andrew.


“Tidak apa-apa,” gerutu George. Kemudian, tanpa alasan yang jelas, ia terdorong untuk menambahkan, “Hanya salah satu waktu ketika kakimu melemah sesaat dan sedikit tertekuk.”


Andrew menatapnya dengan penasaran. “Hanya salah satu, ya?”


“Diam.”


Dan itu hanya membuat Andrew tertawa.


“Aku pernah mengalaminya,” kata Billie, menengadah ke arah George dengan senyum kecil. “Waktu kau lelah dan kau bahkan tidak menyadarinya. Dan kakimu mengejutkanmu.”


“Tepat sekali.”


Billie tersenyum lagi, senyum memahami, dan terpikir oleh George—meskipun bukan untuk pertama kalinya, ia menyadari dengan sedikit kaget—bahwa sebenarnya gadis itu lumayan manis.


Matanya indah—warna cokelat gelap yang selalu hangat dan menyambut, tak peduli berapa banyak kekesalan yang mungkin tersimpan di dalamnya. Dan kulitnya begitu putih untuk seseorang yang menghabiskan waktu di luar ruangan sebanyak dirinya, meskipun hidung dan pipinya memang ditaburi bintik-bintik ringan. George tidak ingat apakah bintik-bintik itu ada saat Billie masih kecil. Ia tidak memperhatikan bintik-bintik milik Billie Bridgerton sebelumnya.


Ia tidak memperhatikan gadis itu sama sekali sebelumnya, atau paling tidak ia mencoba tidak melakukannya. Billie—selalu—cukup sulit dihindari.


“Apa yang kau lihat?” gadis itu bertanya.


“Bintik-bintikmu.” George tidak melihat alasan untuk berbohong.


“Kenapa?”


George mengedikkan bahu. “Karena ada di sana.”


Bibir Billie berkerut, dan George mengira itu akan menjadi akhir pembicaraan. Tapi kemudian Billie berkata, dengan tiba-tiba, “Aku tak punya banyak bintik-bintik.”


Dahi George terangkat.


“Enam puluh dua,” kata gadis itu.

__ADS_1


George hampir menghentikan langkahnya. “Kau menghitungnya?”


“Tak ada hal lain yang harus kulakukan. Cuacanya saat itu buruk sekali, dan aku tak bisa pergi ke luar.”


George cukup pandai untuk tidak menanyakan soal sulaman, atau lukisan cat air, atau lusinan pekerjaan di dalam ruangan lainnya yang biasa dilakukan para wanita kenalannya.


“Mungkin ada beberapa tambahan sekarang,” aku Billie. “Musim semi kali ini sangat cerah.”


“Apa yang kita bicarakan?” tanya Andrew. Dia berjalan sedikit mendahului mereka dan mereka baru saja mengejarnya.


“Bintik-bintikku,” kata Billie.


Andrew mengerjap. “Ya Tuhan, kau memang membosankan.”


“Atau bosan,” balas Billie.


“Atau keduanya.”


“Pasti karena yang menemani.”


“Aku selalu berpikir George itu membosankan,” kata Andrew.


George memutar bola mata.


“Aku sedang membicarakan dirimu,” kata Billie.


Andrew hanya menyeringai. “Bagaimana keadaan kakimu?”


“Sakit,” jawab Billie pendek.


“Lebih baik? Lebih buruk?”


Billie memikirkannya sejenak, kemudian menjawab, “Sama. Tidak, lebih baik, kurasa, karena aku tidak menaruh beban di atasnya.” Dia mendongak ke arah George. “Terima kasih,” katanya. “Sekali lagi.”


“Sama-sama,” sahut George, namun suaranya terdengar kasar. Ia tidak memiliki tempat dalam percakapan mereka. Tidak pernah.


Jalan setapak itu bercabang, dan George berbelok ke kanan, menuju Crake. Rumahnya memang lebih dekat, dan karena lengan Andrew dalam kain penyangga, ialah yang harus menggendong Billie sepanjang perjalanan.


“Apa aku terlalu berat?” tanya gadis itu, terdengar sedikit mengantuk.


“Tidak akan mengubah apa-apa kalau kau memang berat.”


“Ya ampun, George, tak heran kau kekurangan teman wanita,” Andrew mengerang. “Itu undangan yang jelas untuk mengatakan, ‘Tentu saja tidak. Kau seperti kelopak bunga yang lembut’.”


“Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu,” kata Billie.


“Kau bermaksud seperti itu,” tukas Andrew tegas. “Kau hanya tidak menyadarinya.”


“Aku tidak kekurangan teman wanita,” kata George. Karena memang tidak.


“Oh, ya, tentu saja tidak,” sahut Andrew dengan sarkasme kental. “Ada Billie dalam pelukanmu.”


“Kurasa mungkin kau baru saja menghinaku,” sahut Billie.


“Tidak sama sekali, Sayang. Hanya menyatakan fakta.”


Billie merengut. Alisnya yang cokelat gelap berkerut mendekati matanya. “Kapan kau kembali ke laut?”


Andrew menatapnya dengan sorot angkuh. “Kau akan merindukanku.”


“Kurasa tidak.”


Tapi mereka semua tahu dia berbohong.


“Paling tidak, kau akan memiliki George,” kata Andrew, mengulurkan tangan ke atas dan memukul ranting yang bertengger rendah. “Kalian berdua tampak serasi.”


“Diamlah,” kata Billie. Dan ini keluar jauh lebih lunak daripada apa yang keluar dari mulut George.


Andrew terkekeh, dan mereka bertiga meneruskan perjalanan menuju Crake House, berjalan dalam kebisuan bersahabat sementara angin bersiul ringan melewati dedaunan pohon yang baru tumbuh.


“Kau tidak terlalu berat,” tiba-tiba George berkata.


Billie menguap, bergeser sedikit dalam gendongan sambil menatap wajahnya. “Barusan kau bilang apa?”


“Kau tidak terlalu berat.” George mengedikkan bahu. Entah mengapa, sepertinya penting untuk mengatakannya.


“Oh. Well.” Billie mengerjap beberapa kali, mata cokelatnya tampak heran sekaligus senang. “Terima kasih.”


Di depan, Andrew tertawa, meski George sama sekali tak tahu alasannya.


“Ya,” kata Billie.


“Apa?”


“Ya,” kata Billie lagi, menjawab pertanyaan yang George kira tidak ia tanyakan, “dia sedang menertawakan kita.”


“Aku sudah merasa seperti itu.”


“Dia *****,” Billie mendesah ke dada George. Tapi itu desahan sayang; tak pernah kata dia tolol dibubuhi dengan begitu banyak cinta dan sayang.


“Tapi senang rasanya mendapati dia pulang,” kata George pelan. Dan memang seperti itu. Ia menghabiskan bertahun-tahun merasa kesal dengan adik-adiknya, terutama Andrew, tapi sekarang mereka telah dewasa dan mengejar hidup di luar yang biasa seperti di Kent dan London, ia merindukan mereka.


Hampir sebesar rasa irinya terhadap mereka.


“Rasanya menyenangkan, bukan?” Billie tersenyum penuh rindu, kemudian menambahkan, “Bukan berarti aku pernah memberitahunya.”


“Oh, tidak. Jelas tidak.”


Billie terkekeh dengan lelucon yang mereka bagi, kemudian menguap. “Maaf,” gumamnya. Dia tak bisa menutup mulut dengan kedua lengan melingkari leher George. “Apa kau keberatan kalau aku memejamkan mata?”


Sesuatu yang aneh dan tidak familier bergetar di dada George. Sesuatu yang hampir seperti melindungi. “Tentu saja tidak,” jawabnya.


Billie tersenyum—senyuman bahagia dan mengantuk—dan berkata, “Aku tak pernah mengalami kesulitan untuk tidur.”


“Tidak pernah?”


Gadis itu menggeleng, dan rambutnya, yang sudah sejak lama memberontak dari jepit, merayap ke atas dan menggelitik dagu George. “Aku bisa tidur di mana saja,” katanya sambil menguap.


Dan Billie terlelap selama sisa perjalanan pulang, dan George sama sekali tidak keberatan

__ADS_1


__ADS_2