KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 24


__ADS_3

SAAT TURUN UNTUK sarapan keesokan paginya, George tidak terkejut mendapati Billie masih tidur.


Dia tidak mendapat istirahat yang cukup semalam, pikir George puas.


Mereka bercinta tiga kali, dan George tak bisa menahan diri untuk berhenti bertanya-tanya dalam hati apakah ada kemungkinan gadis itu sudah mengandung. Aneh, tapi ia belum pernah terlalu memikirkan memiliki anak. Ia tahu ia harus memiliki anak, tentu saja. Suatu hari nanti ia akan mewarisi Manston dan Crake. dan ia memiliki tugas suci menyediakan pewaris gelar earl.


Namun bahkan dengan semua itu, George tak pernah membayangkan anak-anaknya. Ia tak pernah membayangkan dirinya menggendong anak, mengamati putranya belajar membaca dan menulis, atau mengajarinya berkuda dan berburu.


Atau mengajari putrinya berkuda dan berburu. Dengan Billie sebagai ibu mereka, anak-anak perempuannya pasti berkeras ingin mempelajari keahlian yang sama dengan saudara-saudara laki-laki mereka. Dan sementara ia menghabiskan masa kanak-kanak merasa jengkel dengan desakan Billie untuk terus mengikuti anak laki-laki, bila berkaitan dengan anak perempuannya…


Kalau mereka mau berburu, memancing, dan menembak seperti penembak jitu…


Mereka akan menembak tepat sasaran setiap kalinya.


Meskipun mungkin George akan menarik batas dalam hal melompati pagar tanaman pada usia enam tahun. Tentunya bahkan Billie akan menerima bahwa itu hal yang tak masuk akal.


Billie akan menjadi ibu terbaik, pikir George sambil berjalan melewati koridor ke ruang makan kecil. Anak-anak Billie akan dibawa keluar sekali sehari untuk diinspeksi. Wanita itu akan mencintai mereka seperti ibunya sendiri mencintainya, dan Billie akan tertawa, menggoda, mengajari, serta memarahi, dan mereka akan merasa bahagia.


Mereka semua akan bahagia.


George menyeringai. Ia sudah bahagia. Dan keadaan hanya akan menjadi lebih baik.


Ibunya sudah duduk di meja sarapan saat ia masuk, melirik surat kabar yang baru disetrika sambil mengoleskan mentega di roti panggangnya.


“Selamat pagi, George.”


George membungkuk dan mencium pipi yang ditawarkan ibunya. “Ibu.”


Ibunya menatapnya dari atas pinggiran cangkir teh, salah satu alisnya yang elegan melengkung sempurna. “Sepertinya suasana hatimu luar biasa pagi ini.”


George memberinya tatapan bertanya.


“Kau tersenyum waktu memasuki ruangan,” ibunya menjelaskan.


“Oh.” George mengedikkan bahu, mencoba memadamkan gelembung-gelembung kegembiraan yang membuatnya nyaris melompat-lompat menuruni tangga. “Tak bisa kujelaskan, sayangnya.”


Dan itulah kebenarannya. Ia jelas tak bisa menjelaskan hal itu pada ibunya.


Ibunya mengamatinya beberapa saat. “Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan kepergianmu yang di luar rencana semalam.”


George berhenti sejenak saat hendak menyendok telur ke piring. Ia sudah lupa ibunya pasti meminta penjelasan karena kemarin ia menghilang. Kehadirannya di Pesta Dansa Wintour adalah satu-satunya hal yang ibunya minta darinya…


“Kehadiranmu di Pesta Dansa Wintour adalah satu-satunya hal yang kuminta darimu,” suara ibunya semakin tajam seiring setiap kata.


“Maafkan aku, Ibu,” kata George. Suasana hatinya terlalu baik untuk dirusak dengan cekcok. “Itu tidak akan terjadi lagi.”


“Bukan permintaan maaf dariku yang harus kaudapatkan.”


“Meskipun begitu, aku ingin mendapatkannya,” katanya.


“Well,” sejenak ibunya kebingungan dengan penyesalannya yang tak terduga, “tergantung Billie. Aku berkeras agar kau meminta maaf padanya.”


“Sudah dilakukan,” jawab George tanpa berpikir.


Ibunya mendongak tajam. “Kapan?”


Keparat.


Ia menarik napas, kemudian kembali mengisi piringnya. “Aku melihatnya semalam.”


“Semalam?”


George mengedikkan bahu, pura-pura tak peduli. “Dia masih bangun waktu aku pulang.”


“Dan coba beritahu aku kapan kau pulang?”


“Aku tidak sepenuhnya yakin,” George mengurangi beberapa jam. “Tengah malam?”


“Kami belum sampai ke rumah sampai pukul satu.”


“Kalau begitu pasti setelahnya,” sahutnya mantap. Sungguh menakjubkan apa efek suasana hati yang sangat bagus terhadap kesabarannya. “Aku tidak memperhatikan.”


“Kenapa Billie masih bangun?”


George menambahkan empat potong daging asap ke piringnya dan duduk. “Entahlah.”


Mulut Lady Manston merengut. “Aku tidak menyukainya, George. Dia harus lebih memperhatikan reputasinya.”


“Aku yakin itu bukan apa-apa, Ibu.”


“Paling tidak, kau seharusnya lebih berpengalaman,” sambung ibunya.


Waktunya untuk melangkah hati-hati. “Maaf, apa?”


“Begitu kau melihatnya, seharusnya kau langsung pergi ke kamarmu.”


“Kukira penting bagiku untuk menggunakan waktu tersebut untuk meminta maaf.”


“Huh.” Ibunya tak menyiapkan jawaban untuk itu. “Tetap saja.”


George tersenyum ramah dan mulai memotong-motong dagingnya. Beberapa saat kemudian ia mendengar suara langkah-langkah kaki bergerak ke arah mereka, tapi langkah-langkah itu terdengar terlalu berat untuk Billie.


Benar saja, ketika sesosok tubuh mengisi ambang pintu beberapa saat kemudian, langkah kaki itu ternyata milik kepala pelayan. “Lord Arbuthnot datang menemui Anda, Lord Kennard.”


“Sepagi ini?” Lady Manston tampak kaget.


George meletakkan serbetnya dengan rahang merengut tegang. Ia sudah mengantisipasi kalau ia harus berbicara dengan Arbuthnot mengenai kejadian semalam, tapi sekarang?


George tahu cukup banyak tentang urusan-urusan Lord Arbuthnot untuk mengetahui bahwa urusan-urusan tersebut pada dasarnya diwarnai rahasia dan bahaya. Kenyataan pria itu membawa urusannya ke Manston House tak bisa diterima, dan George tidak menyesal memberitahunya.


“Dia teman Ayah,” kata George sambil berdiri. “Aku akan mencari tahu apa yang dia butuhkan.”


“Apa sebaiknya aku menemanimu?”


“Tidak, tidak. Aku yakin itu tidak perlu.”


George berjalan ke ruang duduk, suasana hatinya semakin muram seiring setiap langkah. Kemunculan Arbuthnot pagi ini berarti hanya satu dari dua hal. Pertama, ada masalah yang terjadi setelah George meninggalkan Swan semalam dan sekarang ia berada dalam bahaya. Atau lebih buruk lagi, dianggap bertanggung jawab.


Kemungkinan yang lebih besar, pikir George muram, adalah Arbuthnot menginginkan sesuatu darinya. Pesan lain untuk disampaikan, mungkin.


“Kennard!” sapa Lord Arbuthnot riang. “Kerja yang baik sekali semalam.”


“Kenapa kau kemari?” tuntut George.


Arbuthnot mengerjap atas sikap kasar George. “Aku harus bicara denganmu. Bukankah itu alasan mengapa seorang pria mengunjungi yang lain?”


“Ini rumahku,” desis George marah.


“Apa kau mengatakan bahwa aku tidak disambut di sini?”


“Tidak kalau kau ingin mendiskusikan kejadian semalam. Ini bukan waktu atau tempat yang tepat.”


“Ah. Well, aku tidak mau membicarakan soal itu, sebenarnya. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua berakhir dengan brilian.”


Bukan seperti itu cara George menggambarkannya. Ia bersedekap, menatap Arbuthnot tajam, menunggu pria itu menyatakan niatnya.


Jenderal itu berdeham. “Aku datang untuk berterima kasih,” katanya. “Dan meminta bantuanmu untuk hal lain.”


“Tidak,” kata George. Ia tidak perlu mendengar lebih banyak. Arbuthnot tertawa kecil. “Kau bahkan belum—”


“Tidak,” kata George lagi, amarahnya memotong tajam kata-katanya. “Apa kau tahu apa yang akhirnya kulakukan semalam?”


“Aku tahu, sebenarnya.”


“Kau—Apa?” Ini tidak terduga. Kapan Arbuthnot mengetahui sandiwara yang terjadi di The Swan With No Neck?


“Itu tes, Nak.” Arbuthnot menepuk punggungnya. “Kau lulus dengan nilai tinggi.”


“Tes,” ulang George, dan kalau Arbuthnot mengenalnya lebih baik, dia akan menyadari tidak adanya perubahan nada dalam suara George bukan pertanda baik.

__ADS_1


Tapi Arbuthnot tidak mengenalnya dengan baik, dan dia terkekeh seraya berkata, “Kau tidak mengira kami akan memercayakan informasi sensitif kepada siapa saja.”


“Kukira kau percaya kepadaku,” geram George.


“Tidak,” jawab Arbuthnot dengan keseriusan janggal. “Bahkan tidak kau. Lagi pula,” dia menambahkan, wajahnya berubah cerah lagi, “‘Kacang polong, bubur, dan puding?’ Beri kami sedikit pujian. Kami lebih kreatif daripada itu.”


George menggigit bibir sambil mempertimbangkan tindakan berikut. Melempar Arbuthnot keluar memang menggoda, tapi begitu juga tinju yang dilempar dengan baik ke rahang.


“Semua sudah berlalu,” kata Arbuthnot. “Sekarang kami membutuhkanmu untuk mengirimkan paket.”


“Kurasa sudah waktunya kau pergi,” kata George.


Arbuthnot terenyak kaget. “Ini penting.”


“Begitu juga kacang polong, bubur, dan puding,” George mengingatkan.


“Ya, ya,” tukas jenderal itu dengan nada meremehkan, “kau memiliki hak untuk merasa disalahgunakan, tapi sekarang setelah kami tahu kami bisa memercayaimu, kami membutuhkan bantuanmu.”


George bersedekap.


“Lakukan untuk adikmu, Kennard.”


“Jangan berani-berani membawanya ke dalam hal ini,” desis George marah.


“Sudah terlambat untuk bersikap arogan,” balas Arbuthnot keras, sikap bersahabatnya mulai lenyap. “Jangan lupa kau yang datang kepadaku.”


“Dan kau bisa saja menolak permintaanku untuk membantu.”


“Bagaimana menurutmu kita bisa mengalahkan musuh?” tuntut Arbuthnot. “Apakah menurutmu dengan semua seragam mengilap dan berbaris dalam formasi? Perang yang sesungguhnya dimenangkan di balik layar, dan kalau kau terlalu pengecut—”


Dengan secepat kilat, George mendesaknya ke dinding. “Jangan,” bentaknya, “membuat kesalahan dengan berpikir kau bisa mempermalukanku dan membuatku menjadi pesuruhmu.” Tangannya mengencang di bahu pria yang lebih tua itu, kemudian dengan tiba-tiba ia melepaskannya.


“Kukira kau ingin melakukan bagianmu untuk negara,” kata Arbuthnot, merapikan jas dengan menarik pinggirnya.


George nyaris menggigit lidahnya sendiri, berusaha menghentikan diri dari mengeluarkan balasan yang belum diperhalus. Ia nyaris mengatakan sesuatu tentang bagaimana ia menghabiskan waktu tiga tahun berharap ia berada bersama adik-adiknya, mengabdi dengan senapan dan pedang, siap memberikan nyawa untuk kebaikan Inggris.


Ia nyaris mengatakan bahwa hal itu membuatnya merasa tak berguna, malu karena entah bagaimana dirinya dinilai lebih berharga daripada adik-adiknya berdasarkan kelahiran.


Tapi kemudian ia memikirkan Billie, Crake, Aubrey Hall, dan semua orang di sana yang bergantung pada mereka. Ia memikirkan waktu panen, desa, dan adik perempuannya yang tak lama lagi akan membawa generasi baru pertama ke dunia.


Dan ia teringat dengan apa yang Billie katakan, dua malam yang lalu.


Ia menatap lekat-lekat mata Lord Arbuthnot dan berkata, “Kalau adik-adikku akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk Raja dan Negara, maka demi Tuhan, aku akan memastikan itu Raja dan Negara yang baik. Dan itu tidak termasuk membawakan pesan yang tidak kuketahui artinya kepada orang-orang yang tidak kupercaya.”


Arbuthnot menatapnya serius. “Apa kau tidak percaya padaku?”


“Aku marah karena kau datang ke rumahku.”


“Aku teman ayahmu, Lord Kennard. Kehadiranku di sini sama sekali tidak mencurigakan. Dan bukan itu yang kutanyakan. Apa kau tidak percaya denganku?”


“Kau tahu, Lord Arbuthnot, kurasa itu tidak penting.”


Dan memang tidak. George tidak meragukan bahwa Arbuthnot telah berperang—dan terus berperang, dengan caranya sendiri—demi negaranya. Meski George murka karena dijadikan objek ritual inisiasi versi Kantor Urusan Perang, ia tahu kalau Arbuthnot memintanya melakukan sesuatu, permintaannya itu sah.


Tapi George juga tahu—sekarang, paling tidak, ia tahu—bahwa ia bukan orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Ia akan menjadi tentara hebat. Tapi ia pengurus tanah yang lebih baik lagi. Dan dengan Billie di sisinya, ia akan menjadi luar biasa.


Ia akan menikah tak lama lagi. Benar-benar tak lama, kalau ia bisa melakukan sesuatu soal itu. Ia tak punya urusan berlari ke sana-kemari seperti mata-mata, mempertaruhkan nyawanya tanpa benar-benar tahu alasannya.


“Aku akan mengabdi dengan caraku sendiri,” katanya kepada Arbuthnot.


Arbuthnot mendesah, mulutnya mencibir menyerah. “Baiklah. Aku berterima kasih atas bantuanmu semalam. Aku sadar itu merusak malammu.”


George mengira mungkin akhirnya ia berhasil membuat pria itu mengerti, tapi kemudian Arbuthnot berkata, “Aku hanya memiliki satu permintaan lagi, Lord Kennard.”


“Tidak,” George mencoba berkata.


“Dengarkan aku,” potong Arbuthnot. “Aku bersumpah, aku tidak akan meminta kalau situasinya tidak begitu kritis. Aku memiliki paket yang harus dibawa ke penginapan untuk musafir di Kent. Di pesisir. Tidak jauh dari rumahmu, kurasa.”


“Hentikan,” George memulai.


“Tidak, kumohon, izinkan aku untuk menyelesaikannya. Kalau kau melakukan ini, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan bersikap jujur, ada bahaya yang terlibat. Ada beberapa orang yang tahu paket ini akan datang, dan mereka ingin menghentikannya. Tapi dokumen-dokumen ini sangat penting.” Kemudian Arbuthnot memberikan pukulan akhir. “Ini bahkan bisa menyelamatkan adikmu.”


“Aku bukan orangmu,” katanya pelan.


Seharusnya itu menjadi akhir diskusi.


Itu akan menjadi akhir diskusi, tapi kemudian pintu terbanting membuka dan di sana, berdiri di ambang pintu, mata berkilat-kilat penuh niat dan kesembronoan, tampaklah Billie.


.


BILLIE TIDAK BERMAKSUD menguping. Ia sedang berjalan turun untuk sarapan, rambutnya mungkin dijepit terlalu kuat karena ketidaksabarannya untuk melihat George lagi, ketika mendengar suara pria itu di ruang duduk. Ia berasumsi pria itu sedang bersama ibunya—siapa lagi yang ada di Manston House di waktu sepagi ini?—tapi kemudian ia mendengar suara pria lain, dan pria itu mengatakan sesuatu tentang semalam.


Malam yang George bilang tidak bisa dia bicarakan.


Seharusnya Billie tidak mencuri dengar, tapi sungguh, gadis mana yang bisa memaksa dirinya sendiri pergi? Kemudian pria lain itu meminta George mengirimkan paket, dan dia bilang itu mungkin bisa membantu Edward?


Billie tak bisa menghentikan diri. Yang bisa ia pikirkan hanya—ini Edward. Teman masa kecil yang paling ia sayangi. Kalau ia siap jatuh dari pohon untuk menyelamatkan kucing yang tak tahu berterima kasih, ia jelas bisa membawa sebuah paket ke suatu penginapan di pesisir pantai. Seberapa sulitnya? Dan kalau memang berbahaya, kalau pekerjaan itu sesuatu yang membutuhkan kebijaksanaan, tentunya ia umpan yang bagus. Tidak ada yang mengira seorang gadis akan mengantarkannya.


Ia tidak berpikir. Ia tidak perlu berpikir. Ia hanya berlari masuk ruangan dan mengumumkan, “Aku akan melakukannya!”


GEORGE TIDAK BERPIKIR. Ia tidak perlu berpikir. “Yang benar saja,” raungnya.


Sejenak Billie mematung, jelas tidak mengharapkan reaksi seperti ini. Kemudian dia menyiapkan diri dan bergegas masuk. “George,” dia memohon, “yang kita bicarakan ini Edward. Bagaimana mungkin kita tidak melakukan apa-apa—”


George menyambar lengan Billie dan menariknya ke samping. “Kau tidak memiliki semua faktanya,” ia mendesis.


“Aku tidak membutuhkan semua faktanya.”


“Kau tak pernah membutuhkannya,” gerutu George.


Mata Billie menyipit berbahaya. “Aku bisa melakukannya,” dia berkeras.


Ya Tuhan, gadis ini akan membunuh George. “Aku yakin kau bisa, tapi kau tidak akan melakukannya.”


“Tapi—”


“Aku melarangnya.”


Billie terenyak kaget. “Kau melarang—”


Saat itulah Arbuthnot pelan-pelan menghampiri dari samping. “Kurasa kita belum diperkenalkan semalam,” katanya dengan senyum kebapakan. “Aku Lord Arbuthnot. Aku—”


“Keluar dari rumahku,” bentak George.


“George!” Billie berseru, wajahnya tampak shock atas sikap kasar George.


Arbuthnot menoleh ke arahnya dengan ekspresi serius. “Lady ini kelihatannya banyak akal. Kurasa kita bisa—”


“Keluar!”


“George?” Sekarang ibunya muncul di ambang pintu. “Ada apa dengan teriakan-teriakan ini? Oh. maafkan aku, Lord Arbuthnot. Aku tidak melihatmu di sana.”


“Lady Manston.” Pria itu membungkuk hormat. “Maafkan kunjunganku yang terlalu pagi ini. Aku memiliki urusan dengan anakmu.”


“Dia baru saja akan pergi,” George mengencangkan pegangannya di lengan Billie saat gadis itu mulai menggeliat.


“Lepaskan aku,” geram Billie. “Aku mungkin bisa membantu.”


“Atau mungkin tidak.”


“Hentikan,” desis Billie, menarik dirinya dengan marah. “Kau tak bisa memerintahku.”


“Kupastikan aku bisa melakukannya,” George berteriak membalas, sorot matanya menusuk Billie tajam. Ia akan menjadi suaminya, demi Tuhan. Apa itu tidak berani apa pun?


“Tapi aku ingin membantu,” Billie merendahkan suara sambil memunggungi isi ruangan.


“Aku juga, tapi bukan ini caranya.”


“Mungkin ini satu-satunya cara.”

__ADS_1


Sejenak George tidak bisa melakukan apa-apa selain memejamkan mata. Apa seperti ini rasanya sisa hidupnya sebagai suami Billie Bridgerton? Apa ia ditakdirkan untuk hidup dalam teror, bertanya-tanya dalam hati ke dalam bahaya macam apa Billie menjerumuskan diri hari itu?


Apa ini sebanding?


“George?” bisik Billie. Dia terdengar gelisah. Apa dia melihat sesuatu dalam ekspresi George? Tanda-tanda keraguan?


George menyentuh pipi gadis itu, dan menatap ke dalam matanya.


Ia melihat seluruh dunianya di sana.


“Aku mencintaimu,” katanya.


Seseorang terkesiap. Mungkin itu ibunya.


“Aku tak bisa hidup tanpamu,” katanya, “dan bahkan aku menolak melakukannya. Jadi tidak, kau tidak akan pergi menjalani misi tidak bijaksana ke pesisir pantai untuk menyerahkan paket yang secara potensial berbahaya kepada orang yang tidak kau kenal. Karena kalau sesuatu terjadi kepadamu…” Suaranya terputus, namun George tidak peduli. “Kalau sesuatu terjadi kepadamu, itu akan membunuhku. Dan aku ingin berpikir kau terlalu mencintaiku untuk membiarkannya terjadi.”


Billie terpana menatap George, bibirnya yang terbuka lembut gemetar saat mengerjap menahan air mata. “Kau mencintaiku?” dia berbisik.


George nyaris memutar bola mata. “Tentu saja.”


“Kau tak pernah mengatakannya.”


“Aku pasti pernah melakukannya.”


“Belum pernah. Aku pasti ingat.”


“Aku juga pasti mengingatnya,” ujar George lembut, “kalau kau pernah mengatakannya padaku.”


“Aku mencintaimu,” ucap Billie segera. “Sungguh. Aku begitu mencintaimu. Aku—”


“Syukurlah,” seru Lady Manston.


George dan Billie menoleh. Ia tidak tahu bagaimana dengan Billie, tapi ia lupa mereka memiliki penonton.


“Apa kau tahu seberapa keras aku berusaha? Ya ampun, kukira aku harus memukulmu dengan tongkat.”


“Kau merencanakan ini?” tanya George tak percaya.


Ibunya menoleh ke Billie. “Sybilla? Sungguh? Sejak kapan aku memanggilmu Sybilla?”


George menoleh kepada Billie. Ia seperti tidak bisa berhenti berkedip.


“Aku sudah menunggu begitu lama untuk memanggilmu anak perempuanku,” Lady Manston menyelipkan seberkas rambut Billie ke belakang telinganya.


Billie mengernyit, kepalanya bergerak dari kanan ke kiri saat mencoba memahami semuanya. “Tapi aku selalu mengira… kau menginginkan Edward. Atau Andrew.”


Lady Manston menggeleng sambil tersenyum. “Selalu George, Sayang. Dalam benakku, paling tidak.” Dia menoleh ke arah putranya dengan ekspresi yang lebih terfokus. “Kuharap kau sudah memintanya menikah denganmu.”


“Aku mungkin sudah menuntutnya,” aku George.


“Lebih bagus lagi.”


George tiba-tiba menegakkan tubuh, dan menoleh ke sekeliling ruangan. “Apa yang terjadi dengan Lord Arbuthnot?”


“Dia meminta diri saat kalian berdua mulai menyatakan cinta,” jawab ibunya.


Well, pikir George. Mungkin orang tua itu lebih bijak daripada yang ia kira.


“Omong-omong, kenapa dia kemari?” tanya Lady Manston.


“Itu tidak penting,” jawab George. Kemudian ia memandang tunangannya.


“Tidak penting,” ia menyetujui.


“Well,” Lady Manston mengumumkan dengan senyum berseri-seri, “aku tak sabar ingin memberitahu semua orang. Billington akan mengadakan pesta dansa minggu depan dan—”


“Tak bisakah kita pulang?” potong Billie.


“Tapi kau bersenang-senang semalam,” balas Lady Manston. Dia menoleh ke arah George. “Dia berdansa di setiap dansa. Semua orang menyukainya.”


George tersenyum sabar. “Aku sama sekali tidak terkejut.”


Lady Manston berputar ke arah Billie. “Kita bisa membuat pengumuman di pesta dansa Billington. Itu akan menjadi kemenangan.”


Billie mengulurkan tangan dan meremas tangan George. “Sudah terasa seperti itu.”


“Apa kau yakin?” tanya George kepadanya. Billie tadinya begitu mengkhawatirkan debutnya di London. Tak ada yang lebih dia sukai dari pulang ke Kent, tapi Billie pantas menikmati kesuksesannya.


“Aku yakin,” kata Billie. “Rasanya memabukkan. Dan senang mengetahui saat aku harus menghadiri acara-acara tempat aku bisa melakukannya dengan baik dan bersenang-senang. Tapi bukan itu yang kusukai. Aku lebih suka pulang.”


“Menggunakan celana panjang?” goda George.


“Hanya saat aku berada di ladang.” Dia menoleh kepada Lady Manston. “Calon countess harus bersikap pantas.”


Lady Manston terkekeh mendengarnya. “Kau akan menjadi countess hebat, meski tidak terlalu cepat, kuharap.”


“Tidak untuk bertahun-tahun,” sahut Billie hangat.


“Dan kau,” kata Lady Manston, menatap George dengan mata berkaca-kaca, “anakku. Kau tampak lebih bahagia daripada yang pernah kulihat dalam waktu yang sangat lama.”


“Memang,” sahutnya. “Aku hanya berharap…”


“Kau bisa menyebut namanya,” kata ibunya lembut.


“Aku tahu.” George memiringkan badan ke depan dan mengecup pipinya. “Edward harus menerima melewatkan pernikahan ini, karena aku tidak akan menunggunya pulang.”


“Tidak, kuduga sebaiknya tidak,” kata Lady Manston, dengan nada suara yang sesuai yang membuat wajah Billie merah padam.


“Tapi kita akan menemukannya,” kata George. Dia masih menggenggam tangan Billie, jadi dia membawanya ke bibirnya dan mengecupkan sumpahnya ke kulit gadis itu. “Aku berjanji.”


“Kurasa kita akan pulang ke Kent, kalau begitu,” kata ibunya. “Kita bahkan bisa berangkat hari ini kalau kau mau.”


“Oh, itu brilian!” seru Billie. “Apa menurutmu ibuku akan terkejut?”


“Tidak sama sekali.”


“Apa?” mulut Billie menganga lebar. “Tapi aku membenci George!”


“Tidak, kau tidak membenciku,” kata George.


Billie memberinya delikan tajam. “Kau membuatku begitu jengkel.”


“Kau seperti batu besar di dalam sepatuku.”


“Well, kau—”


“Apa ini kompetisi?” tanya Lady Manston tak percaya.


George menatap Billie, dan saat gadis itu tersenyum, senyumnya mengisi jiwa George. “Bukan,” katanya lembut, menarik Billie ke dalam pelukannya, “kami satu tim.”


Billie mendongak melihatnya dengan cinta yang nyaris merenggut napas George. “Ibu,” ujar George tanpa mengalihkan pandangan dari tunangannya, “mungkin kau ingin meninggalkan ruangan sekarang.”


“Apa?”


“Aku akan menciumnya sekarang.”


Ibunya memekik. “Kau tak boleh melakukannya.”


“Aku cukup yakin aku boleh.”


“George, kau belum menikah!”


Ia mengamati bibir Billie dengan tatapan panas seorang ahli. “Semakin banyak alasan untuk mempercepat semuanya,” ia bergumam.


“Billie,” kata Lady Manston tegas, dan mengalihkan perhatian kepada apa yang jelas dia anggap sebagai rantai terlemah, “ayo.”


Tapi Billie hanya menggeleng. “Maafkan aku, tapi seperti yang dia katakan. Kami satu tim.”


Kemudian, karena dia Billie Bridgerton dan dia tak pernah keberatan memegang kendali, dia menancapkan jemari ke dalam rambut George dan menarik mulutnya mendekat.

__ADS_1


Dan karena ia George Rokesby, dan ia akan mencintai Billie selama sisa hidupnya, ia membalas ciumannya.


__ADS_2