
BILLIE TIDAK BODOH. Saat memutuskan untuk menunggu George di kamar tidurnya, ia tahu ini mungkin terjadi. Tapi bukan karena ini ia melakukannya. Bukan karena ini ia merayap tanpa suara menuju kamar pria itu, memutar pegangan pintu dengan pelan dan terlatih sehingga bergeser dari mekanisme yang mengunci tanpa bersuara. Bukan karena ini ia duduk di kursi pria itu, mendengarkan suara-suara saat George berjalan kembali, dan bukan karena ini ia terus tertegun memandangi tempat tidur pria itu, begitu menyadari bahwa ini tempatnya tidur, tempat tubuh George berbaring pada saatnya yang paling rapuh, tempat George akan bercinta saat dia memiliki istri.
Tidak, kata Billie dalam hati, ia datang ke kamar ini karena ia harus tahu ke mana George pergi, kenapa pria itu meninggalkannya di Wintour House. Dan ia cemas. Ia tahu ia tidak akan tidur sampai pria itu pulang.
Tapi Billie tahu ini mungkin terjadi.
Dan sekarang setelah terjadi…
Akhirnya ia bisa mengakui bahwa ia menginginkannya selama ini.
George menariknya mendekat, dan Billie tidak menunjukkan dirinya terkejut, tidak ada amarah pura-pura. Mereka terlalu jujur satu sama lain; mereka selalu seperti itu, dan ia melemparkan kedua lengan memeluk George, membalas ciuman pria itu dengan setiap napas panasnya.
Rasanya seperti pertama kali George menciumnya, tapi lebih daripada itu. Kedua tangan George berada di mana-mana, dan mantel tidur Billie begitu tipis, bahannya jauh lebih halus dan tipis daripada gaun hariannya. Ketika George menangkup bokongnya, Billie merasakan setiap jari, meremasnya dengan keputusasaan yang membuat hatinya bernyanyi.
George tidak memperlakukannya seperti porselen. Dia memperlakukannya seperti wanita, dan Billie menyukainya.
Tubuh George menekan tubuhnya, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, ia merasakan gairah pria itu, mendesak. Ia yang menyebabkan hal ini. Dirinya. Billie Bridgerton. Ia membuat George Rokesby gila dengan gairah, dan rasanya mendebarkan. Dan membuatnya berani.
Billie ingin menggigiti telinga pria itu, menjilati garam di kulitnya. Ia ingin mendengarkan bagaimana napas George semakin cepat ketika ia melengkungkan tubuh, dan ingin mengetahui bentuk persis mulut George, bukan dengan melihat tapi merasakan.
Billie menginginkan seluruh diri George, dan ia menginginkannya dengan segala cara yang mungkin dilakukan.
“George,” erang Billie, menyukai suara nama pria itu di bibirnya. Ia mengucapkannya lagi dan lagi, menggunakannya untuk memberi penekanan pada setiap ciuman. Bagaimana ia pernah berpikir pria ini kaku dan keras kepala? Cara George menciumnya adalah personifikasi dari panas itu sendiri. Seolah ingin melahapnya, menikmatinya.
Memilikinya.
Dan Billie, yang tak pernah membiarkan siapa pun memegang kendali, mendapati ia ingin pria itu berhasil.
“Kau begitu. Luar biasa. Cantik,” kata George, tak berhasil mengucapkannya dalam kalimat yang benar. Mulutnya terlalu sibuk dengan yang lain sehingga tak bisa merangkai kata-kata dengan lancar. “Gaunmu malam ini… aku tak percaya kau memakai warna merah.”
Billie mendongak, tak bisa menahan senyum menggoda di bibirnya. “Kurasa warna putih tidak sesuai untukku.” Dan setelah malam ini tidak akan pernah sesuai, pikirnya nakal.
“Kau seperti dewi,” kata George parau. Kemudian dia berhenti, hanya sedikit, dan menarik diri. “Tapi apa kau tahu,” katanya, mata George membakar dengan sorot nakal. “Kurasa aku masih paling menyukaimu dalam celana panjang.”
“George!” Billie tak bisa menahan tawa.
“Stttt…” pria itu memberi peringatan, dan menggigit daun telinganya pelan.
“Sulit untuk terus diam.”
George menunduk dan menatapnya seperti bajak laut. “Aku tahu cara untuk membuatmu diam.”
“Oh, ya, kumo—” Tapi Billie tak bisa menyelesaikan kalimatnya, tidak ketika George menciumnya lagi, bahkan lebih kuat daripada sebelumnya. Ia merasakan jemari George di pinggangnya, meluncur ke bawah tali sutra yang menahan mantel tidurnya. Mantelnya terbuka dan meluncur jatuh ke lantai, bahan sutranya berdesir di kulitnya saat mantel itu jatuh.
Bulu roma di lengannya bangkit saat terkena udara malam, tapi Billie tidak merasakan dingin, hanya kesadaran saat pria itu mengulurkan tangannya dengan takzim dan membelainya, perlahan, dari bahu sampai ke pergelangan tangan.
“Kau punya bintik-bintik,” gumam George. “Di” —dia membungkuk dan menjatuhkan ciuman ringan di dekat bagian dalam siku Billie—”sini.”
“Kau sudah melihatnya,” sahut Billie halus. Bintik-bintik itu bukan di bagian yang tidak sopan; dia punya banyak gaun berlengan pendek.
George tertawa pelan. “Tapi aku tak pernah memberikan perhatian yang seharusnya.”
“Sungguh.”
“Mmm-hmm.” George mengangkat lengan Billie, memutarnya sedikit sehingga bisa berpura-pura mempelajari bintik-bintiknya. “Jelas tanda kecantikan paling menyenangkan di seluruh Inggris.”
Perasaan hangat dan bahagia yang menakjubkan merambati sekujur tubuh Billie. Bahkan saat tubuhnya terbakar untuk pria itu, ia tak bisa menghentikan dirinya dari mendorong percakapan menggoda dari pria itu. “Hanya Inggris?”
“Well, aku belum pergi ke banyak tempat di luar negeri…”
“Oh, sungguh?”
“Dan kau tahu…” Suara George berubah menjadi geraman serak. “Mungkin ada bintik-bintik lain di sini. Kau bisa memilikinya di sini.” Ia menjatuhkan jari ke balik bagian atas gaun tidur Billie, kemudian memindahkan tangannya yang satu lagi ke pinggul Billie. “Atau di sini.”
“Mungkin,” Billie menyetujui.
“Bagian belakang lututmu,” kata George, kata-kata itu terasa hangat di telinganya. “Kau bisa memilikinya di sini.”
Billie mengangguk. Ia tidak yakin ia masih bisa berbicara.
“Salah satu jari kakimu,” George mengusulkan. “Atau punggungmu.”
“Mungkin sebaiknya kau memeriksa,” ia berhasil mengucapkannya.
George menarik napas dalam-dalam dengan gemetar, dan tiba-tiba Billie menyadari betapa pria itu berusaha menahan gairah. Ketika dengan gembira ia membebaskan gairah, pria itu bertarung sengit dengan gairahnya sendiri. Dan Billie tahu—entah bagaimana ia tahu—pria yang lebih lemah tidak akan memiliki kekuatan untuk memperlakukannya dengan begitu lembut.
“Jadikan aku milikmu,” kata Billie. Ia sudah memberi dirinya sendiri izin untuk membebaskan diri. Sekarang ia memberikannya juga kepada pria itu.
Ia merasakan otot-otot pria itu berkontraksi, dan sejenak George terlihat seolah sedang kesakitan. “Sebaiknya aku tidak…”
“Sebaiknya ya.”
Jemari George menegang di atas kulitnya. “Aku tak akan bisa berhenti.”
“Aku tidak mau kau berhenti.”
George menarik diri, napasnya terputus-putus saat mendekatkan wajah mereka. Kedua tangannya berada di pipi Billie, menahan Billie agar tidak bergerak, dan tatapannya seolah membakar ke dalam mata Billie.
__ADS_1
“Kau akan menikah denganku,” perintahnya.
Billie mengangguk, satu-satunya yang ia pikirkan adalah memberikan persetujuannya secepat mungkin. “Katakan,” kata pria itu dengan liar. “Katakan.”
“Aku bersedia,” bisiknya. “Aku akan menikah denganmu. Aku berjanji.”
Sedetik George membeku, kemudian sebelum Billie bahkan sempat terpikir untuk membisikkan nama pria itu, George mengangkatnya dan melemparnya ke tempat tidur.
“Kau milikku,” dia menggeram.
Billie bersandar di kedua siku dan tertegun memandangi George sementara pria itu berjalan mendekat, kedua tangannya pertama-tama menarik kemejanya dari celana kemudian menarik pakaiannya itu melalui kepala. Napas Billie tercekat ketika tubuh George terlihat. Pria itu begitu indah, meski aneh mengatakannya untuk seorang pria. Indah dan dibuat dengan sempurna. Ia tahu pria itu tidak menghabiskan hari-hari dengan memasang atap dan membajak ladang, namun George pasti melakukan aktivitas fisik secara rutin karena tidak ada kelembutan di tubuhnya. Dia tidak memiliki lemak dan berotot, dan dengan cahaya lilin menari-nari di atas kulitnya, Billie bisa melihat otot-ototnya menegang di baliknya.
Ia bangkit ke posisi duduk dan mengulurkan tangan, jemarinya gatal ingin menyentuh pria itu, untuk melihat apakah kulit George sehalus dan sepanas yang terlihat, tapi pria itu berada di luar jangkauan, mengamatinya dengan sorot lapar.
“Kau begitu cantik,” bisik George. Dia melangkah mendekat, tapi sebelum Billie bisa menyentuhnya pria itu memegang tangannya dan membawanya ke bibir. “Ketika melihatmu malam ini kupikir jantungku akan berhenti berdetak.”
“Dan apakah saat ini jantungmu berhenti?” bisik Billie.
George membawa tangan Billie dan meletakkannya di jantungnya. Billie bisa merasakan jantungnya berdegup di balik kulit pria itu, hampir bisa mendengarnya bergaung di dalam tubuhnya sendiri. George begitu kuat, dan begitu kokoh, dan begitu indah dengan kemaskulinannya.
“Kau tahu apa yang ingin kulakukan?” gumam George.
Billie menggeleng, terlalu terpesona dengan kehangatan suara pria itu sehingga tak mampu mengeluarkan suara.
“Aku ingin memutarmu dan mendorongmu keluar pintu sebelum ada yang melihatmu. Aku tidak mau membagimu.” Dia melarikan jari di bibir Billie. “Aku masih tidak mau.”
Panas menyala dalam diri Billie, dan tiba-tiba ia merasa lebih berani, lebih seperti wanita. “Aku juga tidak mau membagimu.”
Perlahan-lahan George tersenyum, dan jemarinya bergerak menuruni leher Billie, melintasi cekungan halus di tulang selangkanya, berhenti hanya saat mencapai pita yang mengikat bagian leher gaun tidurnya. Tanpa melepaskan pandangan dari mata Billie, dia menarik salah satu tali, menariknya pelan dari simpul yang tersambung menjadi semakin kecil dan kecil dan akhirnya terlepas, lalu gaun tidur Billie terbuka.
Billie mengamati jemari pria itu, terpesona, saat bergerak halus di atas kulitnya, pinggir gaun yang sekarang longgar dijepit di antara ibu jari dan telunjuk pria itu. Sutra itu meluncur dari bahu Billie, kemudian perlahan-lahan meluncur menuruni lengannya. Tubuhnya nyaris terbuka untuk George, namun ia tidak malu, tidak merasakan takut. Yang ia rasakan hanya gairah, dan kebutuhan tanpa henti untuk meneruskannya.
Ia menengadah, begitu juga George, hampir seolah mereka merencanakannya. George menatap matanya dengan sorot bertanya, dan Billie mengangguk, tahu persis apa yang pria itu tanyakan. George menarik napas, suara kasarnya menyatakan gairah, kemudian dia menarik gaun tidur Billie melewati payudaranya sebelum membiarkan gravitasi menyelesaikan sisanya. Sutra warna persik pucat itu tergolek mewah di sekitar pinggang Billie, tapi Billie tidak menyadarinya. George memandanginya dengan sikap takzim yang membuatnya berhenti bernapas.
Dengan tangan gemetar, George mengulurkan tangan dan menangkup payudara Billie, puncaknya menyentuh telapak tangan George dengan ringan. Sensasi melesat ke sekujur tubuhnya dan Billie terkesiap, bertanya-tanya dalam hati bagaimana sebuah sentuhan bisa membuat perutnya menegang. Ia merasa lapar, tapi bukan untuk makanan, dan tempat rahasia di tubuhnya menegang dengan apa yang hanya bisa ia asumsikan sebagai gairah.
Apa seharusnya terasa seperti ini? Seolah ia tidak utuh tanpa pria itu?
Ia mengamati sementara George membelainya. Tangan pria itu begitu besar, begitu kuat, dan begitu maskulin serta mendebarkan di atas kulitnya yang pucat. Dia bergerak perlahan, begitu kontras dengan ciuman-ciuman panas beberapa menit sebelumnya. George membuatnya merasa seperti karya seni tak ternilai, dan George sedang mempelajari setiap lekukannya.
Billie menggigit bibir bawah, erangan nikmat kecil terlepas dari mulutnya ketika tangan George perlahan menjauh, menggoda kulitnya sampai satu-satunya koneksi mereka hanya ujung-ujung jari pria itu di puncak payudaranya.
“Kau menyukainya,” kata George.
Billie mengangguk.
Namun yang ia rasakan sangat jauh dari dingin.
Sentuhan George menyengat. Seluruh tubuh Billie menegang, melengkung sampai ia harus menekan kedua tangannya ke tempat tidur di belakangnya hanya untuk bertahan agar tidak terguling dan jatuh.
“George!” ia memekik, dan sekali lagi pria itu menyuruhnya diam.
“Kau tidak belajar, ya?” gumam George di kulitnya.
“Kau yang membuatku menjerit.”
“Itu bukan jeritan,” kata George dengan senyum angkuh.
Billie mengamatinya dengan waspada. “Aku tidak bermaksud menjadikannya tantangan.”
George tertawa keras—meskipun lebih pelan daripada yang Billie lakukan tadi—saat mendengarnya. “Hanya merencanakan masa depan, ketika suara tidak menjadi isu.”
“George, ada pelayan!”
“Yang bekerja untukku.”
“George!”
“Saat kita sudah menikah, kita akan membuat sebanyak atau sesedikit mungkin suara yang kita mau,” George menjalin jemari mereka.
Billie merasa wajahnya memerah padam.
George mendaratkan ciuman menggoda di pipinya. “Apa aku membuatmu merona malu?”
“Kau tahu kau melakukannya,” gerutu Billie.
George menunduk dengan senyum angkuh. “Mungkin seharusnya aku tidak merasa begitu bangga mendengarnya.”
“Tapi kau bangga.”
George membawa tangan Billie ke bibirnya. “Benar.”
Billie mengangkat tatapannya ke wajah pria itu, menemukan meski dengan desakan dari tubuhnya bahwa ia sudah senang mengambil momen ini hanya untuk menatap pria itu. Ia membelai pipi George, menggelitik ujung-ujung jarinya dengan cambang yang mulai tumbuh. Billie menyusuri alis pria itu, terpesona dengan betapa garis tegas dan lurus itu bisa melengkung dengan begitu angkuh bila dia mau. Dan ia menyentuh bibir George, yang tak bisa dipercaya halusnya. Sudah berapa kali ia mengamati mulut pria itu saat sedang bicara, tanpa mengetahui bibir itu bisa memberikan kenikmatan yang begitu besar?
“Apa yang kaulakukan?” tanya George, suaranya serak dengan nada terhibur.
Bulu mata Billie menyapu ke atas saat bertemu mata pria itu, dan baru saat ia berbicara ia mengetahui jawabannya. “Mengingatmu.”
__ADS_1
Napas George tercekat, kemudian pria itu menciumnya lagi, keringanan momen itu sekali lagi berubah menjadi gairah. Mulut George bergerak ke lehernya, menggoda di sepanjang satu sisi, meninggalkan jejak api di belakang. Billie merasakan dirinya bergerak turun, terbaring di tempat tidur, kemudian tiba-tiba pria itu berada di atasnya, kulit bertemu kulit yang panas. Gaun tidurnya meluncur melewati kaki, kemudian terlepas sepenuhnya. Ia tak mengenakan apa-apa di pelukan George, tanpa sehelai benang pun, meskipun begitu entah bagaimana tidak terasa kikuk. Ini George, dan ia memercayainya.
Ini George, dan ia mencintainya.
Billie merasakan kedua tangan George bergerak ke ikatan celana pria itu, kemudian memaki pelan saat terpaksa berguling dari Billie untuk (menurut kata-katanya), “melepaskan benda sialan ini.” Billie tak bisa menahan tawanya mendengar makian pria itu; sepertinya George mengalami kesulitan lebih besar daripada yang Billie bayangkan biasa pria itu alami.
“Kau tertawa?” kedua alis George melengkung menantang.
“Kau seharusnya senang aku sudah keluar dari gaunku,” ia memberitahu. “Tiga-puluh-enam-kancing-bungkus di bagian punggung.”
George menatapnya dengan ekspresi takut. “Gaun itu tidak akan selamat.”
Sementara Billie tertawa, salah satu kancing George melayang, dan pakaiannya jatuh ke lantai.
Rahang Billie ternganga.
Senyum George hampir terlihat buas saat memanjat kembali ke atas tempat tidur, dan Billie merasa pria itu menerima tatapan takjubnya sebagai pujian.
Yang ia rasa memang benar. Dengan sedosis kegelisahan sehat.
“George,” katanya berhati-hati, “Aku tahu ini akan berhasil, karena, ya ampun, ini sudah berhasil selama berabad-abad, tapi harus kukatakan, ini tidak terlihat nyaman.” Ia menelan ludah. “Untukku.”
George mengecup sudut mulutnya. “Percayalah padaku.”
“Aku percaya,” Billie meyakinkan. “Aku hanya tidak percaya dengan itu.” Ia memikirkan apa yang ia lihat di istal selama bertahun-tahun. Tak satu pun dari kuda betina itu yang terlihat seperti sedang bersenang-senang.
George tertawa saat meluncur di atas tubuh Billie. “Percayalah padaku,” katanya lagi. “Kita hanya harus memastikan kau sudah siap.”
Billie tidak yakin apa artinya itu, tapi ia mengalami kesulitan untuk bahkan memikirkannya karena George melakukan hal-hal yang mengganggu pikirannya dengan jemari pria itu. “Kau pernah melakukan ini,” katanya.
“Beberapa kali, tapi ini berbeda,” George bergumam.
Billie mendongak, membiarkan matanya yang bertanya.
“Pokoknya berbeda,” katanya. George menciumnya lagi sementara tangannya meremas paha Billie. “Kau begitu kuat,” katanya lembut. “Aku menyukai hal itu darimu.”
Billie menghela napas gemetar.
“Percayalah padaku,” bisik George.
“Kau terus mengatakannya.”
Dahi pria itu disandarkan di dahinya, dan Billie merasa pria itu mencoba tidak tertawa. “Aku terus bersungguh-sungguh mengucapkannya.” Dia kembali menciumi leher Billie sambil bergerak ke bawah. “Rileks.”
Billie tidak yakin bagaimana hal itu mungkin, tapi kemudian, tepat sebelum George mencium puncak payudaranya lagi, ia berkata, “Berhenti berpikir,” dan itu perintah yang tidak sulit untuk ia ikuti.
Sama seperti sebelumnya. Ketika George menggodanya seperti ini, Billie kehilangan akal. Tubuhnya mengambil kendali, dan Billie lupa apa pun itu yang ia kira ia takuti. dan George memosisikan diri, kemudian astaga, pria itu menyentuhnya. George menyentuhnya di sana dan rasanya begitu nakal dan begitu indah, dan membuatnya menginginkan lebih.
Membuatnya lapar dalam cara yang tak pernah ia rasakan. Billie ingin menarik pria itu lebih dekat; ia ingin menikmatinya. Ia menyambar bahu George, menariknya ke bawah. “George,” ia terengah, “Aku ingin—”
“Apa yang kauinginkan?” gumam pria itu.
Billie nyaris melompat dari tempat tidur. “Aku ingin—aku ingin—aku hanya ingin.”
“Aku diberitahu rasanya akan menyakitkan,” kata George menyesal, “tapi tidak untuk waktu lama.”
Billie mengangguk, dan ia pasti menegang, karena sekali lagi pria itu membujuk, “Rileks.”
Dan entah bagaimana ia berhasil melakukannya. Perlahan-lahan George menyatukan tubuh mereka. Dan bahkan saat Billie merasakan tusukan nyeri ringan, rasa itu ditutupi kebutuhannya untuk menahan George dekat, kemudian lebih dekat.
“Apa kau baik-baik saja?” George bertanya.
Billie mengangguk.
“Apa kau yakin?”
Ia mengangguk lagi.
“Untunglah,” pria itu menggeram, dan bergerak maju.
Tapi Billie tahu George masih menahan diri.
Pria itu mengertakkan gigi dan menahan dirinya dengan sekuat tenaga, dan Billie berani bersumpah dia terlihat seperti kesakitan. Tapi pada saat yang sama George mengerang menyebut namanya seolah Billie adalah dewi, dan hal-hal yang George lakukan padanya—dengan anggota tubuh dan jari-jarinya, dengan bibir dan kata-kata—menyalakan api yang melahap Billie.
“George,” ia terkesiap, ketika perasaan sesak di dalam seperti mencengkeramnya dari dalam. “Kumohon.”
Gerakan pria itu semakin menggila, dan Billie balas mendorong, kebutuhan untuk bergerak ke arah pria itu terlalu meluap-luap untuk diabaikan. “Billie,” George mengerang. “Astaga, apa yang kaulakukan padaku.”
Kemudian, saat Billie yakin ia tak bisa menerima lebih banyak, hal paling aneh terjadi. Tubuhnya menegang, dan bergetar, kemudian saat ia menyadari ia bahkan sudah tak bisa menarik napas, tubuhnya hancur berkeping-keping.
Tak bisa digambarkan. Sempurna.
Gerakan George semakin menggila, kemudian dia membenamkan wajah ke lekukan leher Billie, meredam teriakan seraknya di kulit Billie untuk terakhir kalinya.
“Aku pulang,” katanya di kulit Billie, dan Billie menyadari itu yang sebenarnya.
“Aku juga.”
__ADS_1