
MANSTON HOUSE SUNYI ketika George kembali malam itu. Ruang depan diterangi dua kandelir, tapi sisa ruangan tampak telah ditutup untuk malam ini. Ia mengernyit. Ini belum terlalu larut; tentunya ada seseorang yang masih bangun.
“Ah, Temperley,” kata George ketika kepala pelayannya maju untuk mengambil topi dan mantelnya, “apa ibuku pergi malam ini?”
“Lady Manston minta makan malamnya dikirimkan ke kamarnya, My Lord,” kata Temperley.
“Dan Miss Bridgerton?”
“Saya rasa beliau juga sama.”
“Oh.” George seharusnya tidak merasa kecewa. Lagi pula, ia menghabiskan sebagian besar waktu dari beberapa hari terakhir menghindari kedua wanita itu. Sekarang sepertinya mereka melakukannya untuknya.
“Apa Anda mau makan malam Anda juga dikirimkan ke atas, My Lord?”
George memikirkannya beberapa saat, kemudian berkata, “Kenapa tidak?” Sepertinya tidak ada yang akan menemaninya malam itu, dan ia tidak banyak makan di jamuan Lord Arbuthnot.
Pasti karena ikan asap kering itu. Sungguh, baunya membuatnya ingin melewatkan seluruh makanan.
“Apa Anda mau menikmati brendi di ruang duduk lebih dulu?” tanya Temperley.
“Tidak, aku akan langsung naik, kurasa. Hari ini sangat melelahkan.”
Temperley mengangguk dengan cara khas kepala pelayan. “Begitu juga untuk kami semua, My Lord.”
George mengamatinya dengan ekspresi masam. “Apa ibuku membuatmu bekerja keras, Temperley?”
“Tidak sama sekali,” jawab kepala pelayan itu, senyum samar meretakkan wajah seriusnya. “Yang saya maksudkan adalah kedua wanita itu. Kalau saya boleh bersikap lancang dan menawarkan pengamatan, mereka sepertinya terlihat lelah saat kembali sore ini. Terutama Miss Bridgerton.”
“Aku khawatir ibuku telah membuatnya bekerja keras,” kara George setengah tersenyum.
“Persis sekali, My Lord. Lady Manston tidak pernah sebahagia saat beliau memiliki wanita muda untuk dinikahkan.”
George tertegun, kemudian menutupinya dengan perhatian yang berlebihan untuk melepas kedua sarung tangannya. “Sepertinya agak ambisius, mengingat Miss Bridgerton tidak berencana tetap tinggal di kota untuk Season.”
Temperley berdeham. “Ada banyak bingkisan yang tiba.”
Itu merupakan caranya mengatakan bahwa setiap benda yang dibutuhkan seorang wanita muda untuk sukses melewati pasar perjodohan di London telah dibeli dan dikirimkan.
“Aku yakin Miss Bridgerton akan menemui kesuksesan,” kata George tenang.
“Dia wanita muda yang sangat bersemangat,” Temperley menyetujui.
George tersenyum kaku sambil berjalan pergi. Sulit membayangkan Temperley menyimpulkan bahwa Billie penuh semangat. Beberapa kali George bertemu dengannya di Manston House gadis itu tampak muram tak seperti biasa.
Ia rasa mungkin seharusnya ia lebih berusaha, mengajak Billie pergi membeli es atau semacamnya, tapi ia terlalu sibuk memburu informasi di Kantor Urusan Perang. Rasanya begitu lega bisa melakukan sesuatu sebagai gantinya, bahkan kalau hasilnya mengecewakan.
George melangkah menuju tangga, kemudian berhenti dan berbalik. Temperley tidak bergerak.
“Aku selalu mengira ibuku mengharapkan perjodohan antara Miss Bridgerton dengan Edward,” katanya santai.
“Beliau tidak merasa perlu menceritakannya kepada saya,” kata Temperley.
“Tidak, tentu saja tidak,” kata George. Ia menggeleng-geleng kecil. Betapa yang berkuasa telah jatuh. Ia telah turun hingga ke titik memancing gosip dari kepala pelayan. “Selamat malam, Temperley.”
George berjalan menuju tangga, kakinya mendarat di anak tangga pertama, ketika kepala pelayannya berkata, “Mereka memang membicarakan Master Edward.”
George berbalik.
Temperley berdeham. “Saya rasa bukan pelanggaran rahasia bila memberitahu Anda bahwa mereka membicarakannya saat sarapan.”
“Tidak,” kata George. “Tidak sama sekali.”
Ada jeda panjang.
“Kami menyimpan Master Edward dalam doa-doa kami,” Temperley akhirnya berkata. “Kami semua merindukannya.”
Itu benar. Meskipun apa yang bisa dikatakan tentang George bila ia lebih merindukan Edward sekarang daripada ketika mereka hanya terpisah oleh samudra?
Perlahan-lahan ia menaiki tangga. Manston House jauh lebih kecil daripada Crake, dengan delapan kamar tidur berkumpul di satu lantai. Billie diletakkan di kamar tidur tamu terbaik kedua, yang menurut George menggelikan, tapi ibunya selalu berkeras untuk menjaga kamar tidur tamu terbaik tetap kosong. Kau tak pernah tahu siapa yang mungkin datang dengan tak terduga, dia selalu berkata.
Apa Raja mampir kemari, George selalu membalas. Biasanya ini membuatnya menerima rengutan. Dan senyum. Ibunya selalu sportif seperti itu, bahkan kalau kamar terbaik telah kosong selama dua puluh tahun terakhir.
George berhenti di tengah-tengah selasar, tidak tepat berada di depan pintu kamar Billie tapi lebih dekat ke sana daripada ke kamar lain. Ada cukup celah di bawah pintu untuk menunjukkan kerlip samar cahaya lilin. Ia bertanya-tanya dalam hati apa yang dilakukan Billie di dalam sana. Saat ini sungguh masih terlalu awal untuk tidur.
Ia merindukan Billie.
Hal tersebut datang dengan sekejap dan mengejutkan. Ia merindukannya. Ia ada di sini, di rumah yang sama, tidur hanya tiga pintu dari kamar Billie, dan ia merindukan gadis itu.
Ini salah George sendiri. Ia tahu ia menghindari gadis itu. Tapi apa yang harus ia lakukan? Ia telah mencium Billie, menciumnya sampai nyaris kehilangan akal, dan sekarang ia diharapkan untuk membuat percakapan sopan dengan gadis itu di meja sarapan? Di depan ibunya?
George tidak akan pernah bisa bersikap secanggih itu.
Seharusnya ia menikahi Billie. Menurutnya ia akan menyukainya, segila apa pun hal tersebut mungkin terasa sebulan sebelumnya. Ia mulai menyukai ide tersebut di Crake. Billie mengatakan “kau tak perlu menikah denganku,” dan yang bisa George pikirkan hanya—
Tapi aku bisa melakukannya.
Ia hanya punya waktu sebentar dengan gagasan tersebut. Tak ada waktu untuk berpikir atau menganalisis, hanya waktu untuk merasa.
Dan rasanya menyenangkan. Hangat.
Seperti musim semi.
Tapi kemudian ibunya tiba di tempat kejadian dan mulai mengatakan betapa manisnya Edward dan Billie terlihat bersama-sama dan betapa sempurnanya mereka sebagai pasangan. Akibatnya George tidak bisa mengingat hal lain kecuali hal itu sangat manis sehingga memuakkan dan menurut Temperley sangat cocok untuk sarapan roti panggang dan selai jeruk.
Roti panggang dan selai. George menggeleng-geleng. Ia memang idiot.
Dan ia telah jatuh cinta kepada Billie Bridgerton.
Itu dia. Begitu sederhana. George nyaris tertawa. Ia pasti sudah tertawa, kalau leluconnya bukan tentang dirinya.
Kalau ia jatuh cinta kepada orang lain—seseorang yang baru, yang kehadirannya tidak begitu penuh dalam ingatannya—apa akan sejelas itu? Dengan Billie emosinya begitu bertolak belakang, begitu berbeda dari seumur hidup membandingkan gadis itu dengan kerikil dalam sepatunya. George selalu melihatnya, bersinar dalam benaknya seperti janji yang bersinar terang.
Apakah Billie jatuh cinta kepada Edward? Mungkin. Ibu George sepertinya berpikir seperti itu. Ibunya tidak berkata banyak, tentu saja, tapi wanita itu memiliki bakat menakjubkan dalam memastikan pendapatnya diketahui tanpa mengatakannya dengan eksplisit.
Tetap saja, itu cukup untuk membuat George gila karena cemburu.
Jatuh cinta kepada Billie. Itu hal paling gila.
Ia mengembuskan napas yang tertahan lama dan mulai berjalan lagi menuju kamarnya. Ia harus melewati pintu Billie, melewati kilasan cahaya yang menggoda. Langkahnya melambat, karena ia tak bisa menahannya.
Kemudian pintu terbuka.
“George?” Wajah Billie mengintip keluar. Gadis itu masih mengenakan gaunnya tapi rambutnya sudah dilepas, diletakkan di bahu dalam kepangan panjang dan tebal. “Kukira aku mendengar seseorang,” dia menjelaskan.
__ADS_1
George berhasil tersenyum tanpa membuka mulut sambil membungkuk memberi hormat. “Seperti yang kau lihat.”
“Aku sedang makan malam,” kata Billie, menunjuk ke dalam kamar. “Ibumu lelah.” Dia tersenyum malu-malu. “Aku lelah. Aku tidak terlalu pintar berbelanja. Aku sama sekali tidak tahu itu melibatkan begitu banyak berdiri dengan diam.”
“Berdiri selalu lebih melelahkan daripada berjalan.”
“Benar!” sahut Billie riang. “Aku selalu mengatakannya.”
George mulai berbicara, tapi kemudian ingatan terbersit di benaknya. Ketika ia menggendong Billie, setelah bencana dengan kucing di atas atap. Saat itu ia mencoba menggambarkan perasaan aneh ketika kakinya tiba-tiba lemas dan menekuk tanpa alasan.
Billie begitu memahaminya.
Ironinya adalah kaki George tidak melemas. Ia menggunakannya untuk menutupi sesuatu. Ia tidak ingat apa itu.
Namun ia mengingat momen tersebut. Ia ingat bahwa Billie mengerti.
Kebanyakan George mengingat bagaimana Billie menatapnya, dengan senyum kecil yang mengatakan gadis itu bahagia bisa dimengerti.
George mendongak. Billie mengamatinya dengan ekspresi berharap samar. Sekarang gilirannya yang berbicara, George ingat. Dan karena ia tak bisa mengatakan apa yang ia pikirkan, ia memilih yang sudah jelas.
“Kau masih memakai gaunmu,” katanya.
Billie melirik gaunnya singkat. Itu gaun yang dia pakai saat George menciumnya. Bunga-bunga. Gaun itu sesuai untuknya. Dia harus selalu mengenakan gaun bunga-bunga.
“Kupikir mungkin aku akan turun setelah selesai makan,” katanya. “Mungkin menemukan sesuatu untuk dibaca di perpustakaan.”
George mengangguk.
“Ibuku selalu mengatakan begitu seseorang mengenakan mantel tidur, dia harus tetap tinggal di dalam kamar malam itu.”
George tersenyum. “Benarkah?”
“Dia mengatakan banyak hal, sebenarnya. Aku yakin aku sudah melupakan apa pun itu yang tidak kuabaikan.”
George berdiri seperti patung, tahu seharusnya ia mengucapkan selamat malam, tapi entah mengapa ia tak bisa mengucapkannya. Momen tersebut terlalu intim, terlalu sempurna dan indah dalam cahaya lilin.
“Apa kau sudah makan?” tanya Billie.
“Sudah. Well, belum.” Ia memikirkan ikan asap kering. “Tidak juga.”
Alis Billie terangkat. “Kedengarannya menarik.”
“Sama sekali tidak. Aku meminta agar baki makanan dikirimkan ke kamarku, sebenarnya. Aku selalu benci makan sendiri di bawah.”
“Aku juga,” Billie menyetujui. Dia berdiri beberapa saat, kemudian berkata. “Menunya pai ham. Sangat enak.”
“Bagus sekali.” George berdeham. “Well, aku… harus pergi. Selamat malam, Billie.”
George berbalik. Ia tidak ingin berbalik.
“George, tunggu!”
Ia membenci kenyataan bahwa ia menahan napas.
“George, ini gila.”
George berbalik. Billie masih berdiri di pintu masuk kamarnya, satu tangan diletakkan ringan di pinggir pintu. Wajahnya begitu ekspresif. Apa selalu seperti itu?
Ya, pikirnya. Billie tak pernah menyembunyikan perasaannya di balik topeng ketidakpedulian. Itu salah satu hal yang George dapati begitu menjengkelkan dari Billie saat mereka beranjak dewasa. Gadis itu menolak diabaikan.
Sesuatu yang sama sekali berbeda.
“Gila?” ulangnya. Ia tidak yakin apa maksud Billie. Ia tidak mau membuat asumsi.
Bibir Billie bergetar ketika mencoba tersenyum. “Tentunya kita bisa berteman.”
Teman?
“Maksudku, aku tahu…”
“Bahwa aku menciummu?” George membantu.
Billie terkesiap, kemudian mendesis. “Aku tidak akan mengatakannya dengan begitu blakblakan. Demi Tuhan, George, ibumu masih terjaga.” Dan sementara gadis itu dengan panik melihat ke ujung lorong, George membuang sikap pria terhormat yang seumur hidup ia gunakan dan melangkah masuk ke kamar tidur Billie.
“George!”
“Kelihatannya seseorang bisa berbisik dan menjerit pada saat yang sama,” ujarnya geli.
“Kau tak boleh berada di sini,” kata Billie.
George menyeringai saat gadis itu menutup pintu. “Kurasa kau tidak mau meneruskan percakapan di selasar.”
Tatapan yang Billie berikan adalah sarkasme dalam bentuk yang paling murni. “Aku yakin ada dua ruang duduk dan satu perpustakaan di lantai bawah.”
“Dan lihat apa yang terjadi terakhir kali kita berada di ruang duduk bersama-sama.”
Wajah Billie langsung memerah. Tapi Billie bisa diandalkan, dan setelah beberapa saat yang kelihatannya hanya diperuntukkan bagi mengertakkan gigi dan menyuruh dirinya sendiri tenang, gadis itu bertanya, “Apa kau sudah mengetahui sesuatu tentang Edward?”
Dan semudah itu, suasana hati George yang riang langsung kempis. “Tidak ada yang penting.”
“Tapi sesuatu?” tanya Billie penuh harap.
Ia tidak ingin membicarakan Edward. Untuk begitu banyak alasan. Tapi Billie berhak mendapat jawaban, jadi George berkata, “Hanya perkiraan dari jenderal yang sudah pensiun.”
“Aku turut menyesal. Pasti ini sangat membuatmu frustrasi. Aku berharap ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membantu.” Billie memajukan badan ke depan di pinggir tempat tidur dan mendongak melihat George mengernyit serius. “Sulit sekali rasanya tidak melakukan apa-apa. Aku tidak suka itu.”
George memejamkan mata. Dan mengembuskan napas melalui hidungnya. Sekali lagi, mereka sepakat.
“Kadang-kadang aku merasa seharusnya aku dilahirkan sebagai anak laki-laki.”
“Tidak.” Respons George keluar dengan segera dan tegas.
Billie tertawa kecil. “Kau baik sekali. Kurasa kau harus mengatakannya setelah, well, kau tahu…”
George tahu. Tapi tidak cukup.
“Aku akan senang sekali bisa memiliki Aubrey,” kata Billie penuh rasa mendamba. “Aku mengenal setiap sudutnya. Aku bisa memberitahu nama setiap tanaman di setiap ladang, dan nama setiap penyewa, dan ulang tahun setengah dari mereka juga.”
George menatapnya dengan terkesima. Billie ternyata melebihi daripada yang pernah ia lihat sebelumnya.
“Aku pasti akan menjadi Viscount of Bridgerton yang hebat.”
“Adikmu akan belajar,” kata George lembut. Ia duduk di kursi di dekat meja. Billie tidak duduk, tapi gadis itu juga tidak berdiri, dan hanya berduaan bersama gadis itu di balik pintu yang tertutup, menurut George ini tak akan menjadi pelanggaran kesopanan yang kritis.
__ADS_1
“Oh, aku tahu,” kata Billie. “Edmund sangat pintar, sebenarnya, saat dia tidak sedang bertingkah menjengkelkan.”
“Umurnya lima belas tahun. Dia tak bisa menahannya.”
Billie memberinya tatapan mengejek. “Kalau ingatanku benar, kau sudah menjadi dewa di antara manusia ketika kau seusianya.”
George mengangkat sebelah alis dengan malas. Ada begitu banyak balasan lucu untuk pernyataan tersebut, namun ia memutuskan membiarkannya dan menikmati momen persahabatan santai ini.
“Bagaimana kau bisa menahannya?” Billie bertanya.
“Menahan apa?”
“Ini.” Billie mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Ketidakberdayaan ini.”
George duduk lebih tegak, mengerjap-ngerjap memfokuskan pandangan kepada Billie.
“Kau merasakannya, bukan?”
“Aku tidak yakin aku mengerti maksudmu,” George bergumam. Tapi ia merasa ia memahaminya.
“Aku tahu kau berharap kau bisa menjadi tentara. Aku melihatnya di wajahmu setiap kali adik-adikmu membicarakannya.”
Apakah ia sejelas itu? George harap tidak. Tapi pada saat yang sama…
“George?”
Ia mendongak.
“Kau diam,” kata Billie.
“Aku sedang berpikir…”
Billie tersenyum sabar, membiarkannya berpikir dengan lantang.
“Aku tidak berharap aku bisa menjadi tentara.”
Billie terenyak, perasaan kagetnya tampak jelas dari cara dagunya menempel ke leher.
“Tempatku di sini,” kata George.
Mata Billie menyala dengan sesuatu yang mungkin perasaan bangga. “Kau terdengar seolah kau baru saja menyadarinya.”
“Tidak,” renung George. “Aku selalu mengetahui hal itu.”
“Kau tidak menerimanya sebelumnya?” desak Billie.
George tertawa masam. “Tidak, aku jelas menerimanya. Aku hanya berpikir sebelumnya aku tidak membiarkan diriku…” Ia mendongak, langsung ke mata cokelat indah Billie dan berhenti sejenak saat menyadari apa yang ingin ia katakan. “Aku tidak membiarkan diriku menyukainya.”
“Dan sekarang kau menyukainya?”
Anggukannya cepat dan tegas. “Ya. Kalau tidak—” George berhenti, mengoreksi ucapannya. “Kalau kita tidak peduli dengan tanah dan orang-orangnya, untuk apa Edward dan Andrew berperang?”
“Kalau mereka akan membahayakan hidup mereka untuk Raja dan Negara,” kata Billie lembut, “kita harus memastikan itu Raja dan Negara yang baik.”
Tatapan mereka bertemu, dan Billie tersenyum. Samar. Dan mereka tidak berbicara. Karena mereka tidak perlu melakukannya. Sampai akhirnya Billie berkata, “Mereka akan segera naik dengan makananmu,” katanya.
George mengangkat sebelah alis. “Apa kau mencoba mengusirku?”
“Aku mencoba melindungi reputasiku,” balas Billie. “Dan reputasimu.”
“Kalau kau ingat, aku memintamu menikah denganku.”
“Tidak, kau tidak memintanya,” Billie mencemooh. “Kau bilang, ‘tentu saja aku akan menikahimu’,” ini diucapkan Billie dengan meniru suara wanita tua sakit-sakitan dengan menakjubkan—”bukan hal yang sama.”
George mengamatinya dengan serius. “Aku bisa berlutut.”
“Berhenti menggodaku, George. Itu bukan tindakan yang baik.” Suara Billie bergetar, dan George merasakan sesuatu meremas kencang dadanya. Mulutnya terbuka, tapi Billie mendorong dirinya dari pinggir tempat tidur dan berjalan ke jendela, bersedekap sambil memandang ke dalam malam.
“Ini bukan sesuatu yang bisa kaujadikan lelucon,” katanya, tapi kata-kata Billie diucapkan dengan janggal, jelas, dan lambat, seolah datang dari suatu tempat di dalam tenggorokannya.
George cepat-cepat berdiri. “Billie, maafkan aku. Kau harus tahu aku tidak akan pernah—”
“Sebaiknya kau pergi.”
George berhenti.
“Sebaiknya kau pergi,” kata Billie, kali ini lebih kuat. “Mereka akan tiba dengan makan malammu kapan saja.”
Itu pengusiran, jelas dan masuk akal. Itu kebaikan, sebenarnya. Billie menghentikannya dari membuat dirinya sendiri terlihat bodoh. Kalau dia ingin George melamarnya, bukankah gadis itu akan menerima umpan yang ia ayun-ayunkan dengan santai?
“Baiklah,” George membungkuk memberi hormat dengan sopan meskipun gadis itu memunggunginya. Ia melihat Billie mengangguk, kemudian meninggalkan kamar.
.
OH TUHAN, APA yang telah Billie lakukan?
George bisa saja melamarnya. Di sana dan saat itu juga. George.
Dan Billie menghentikannya. Menghentikannya karena—sialan, ia tidak tahu kenapa. Bukankah ia telah menghabiskan harinya di dalam kabut, bertanya-tanya mengapa pria itu menghindar dan betapa ia ingin pria itu menciumnya lagi?
Bukankah pernikahan memastikan ciuman-ciuman di masa depan? Bukankah itu tepatnya yang ia butuhkan untuk mencapai tujuannya—yang harus diakui tidak sesuai untuk wanita terhormat?
Namun George duduk di sana, bersandar santai di kursi di dekat meja seolah ia memiliki tempat itu (yang Billie rasa memang benar, atau tepatnya, akan George miliki), dan ia tak bisa mengetahui apakah George bersungguh-sungguh. Apa pria itu hanya menggodanya? Mencoba sedikit bersenang-senang? George tidak pernah bersikap kejam; dia tidak akan sengaja menyakiti perasaan Billie, tapi kalau menurutnya Billie menganggap seluruh hal tersebut sebagai lelucon, maka mungkin dia merasa diizinkan untuk memperlakukannya seperti itu…
Itu yang akan dilakukan Andrew. Bukan berarti Andrew akan pernah menciumnya, atau Billie ingin pria itu melakukannya, tapi jika untuk beberapa alasan mereka membuat lelucon tentang pernikahan, dia pasti akan mengatakan sesuatu yang menggelikan tentang berlutut dengan satu kaki.
Tapi dengan George… Billie tidak tahu apakah pria itu bersungguh-sungguh. Lalu bagaimana kalau ia menjawab ya? Bagaimana kalau ia mengatakan bahwa ia ingin pria itu berlutut dengan satu kaki dan menyatakan kesetiaannya untuk selamanya…
Dan kemudian mendapati pria itu hanya bercanda?
Wajahnya memanas hanya dengan memikirkannya.
Menurut Billie pria itu tidak akan menggoda mengenai hal-hal semacam itu. Akan tetapi, ini George. Dia putra sulung Earl of Manston, Lord Kennard yang terhormat. Kalau dia akan melamar seorang lady, dia tidak akan melakukannya dengan sembrono. Dia akan memegang cincinnya, dan dia akan mengucapkan kata-kata puitis, dan dia jelas tidak akan membiarkan Billie memutuskan apakah sebaiknya dia melakukannya dengan bertekuk lutut.
Yang artinya dia tidak mungkin bersungguh-sungguh, bukan? George tidak akan pernah begitu tak yakin dengan dirinya sendiri.
Billie mengempaskan diri ke tempat tidur, menekankan kedua tangannya ke dada, mencoba meredakan jantungnya yang berdegup kencang. Dulu ia membenci hal itu dari George—kepercayaan diri pria itu yang tak tergoyahkan. Ketika mereka masih kecil George selalu tahu yang terbaik dari mereka semua. Mengenai segalanya. Itu hal paling menjengkelkan, bahkan kalau sekarang Billie menyadari dengan lima tahun di atas mereka, mungkin pria itu memang tahu lebih baik mengenai segalanya. Tidak mungkin mereka semua bisa mengejar sampai mereka beranjak dewasa.
Dan sekarang… Sekarang ia menyukai kepercayaan diri George yang tenang. Pria itu tak pernah lancang, tak pernah sombong. Dia hanya… George.
Dan Billie mencintainya.
Billie mencintainya, dan—OH, YA TUHAN, IA BARU SAJA MENGHENTIKAN GEORGE DARI MEMINTANYA UNTUK MENIKAH DENGAN PRIA ITU.
__ADS_1
Apa yang telah ia lakukan?
Dan lebih penting lagi, bagaimana ia bisa menarik ucapannya kembali?