KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 12


__ADS_3

MALAM ITU PADA acara makan malam, dengan cepat terlihat oleh George bahwa salah satu sisi meja adalah sisi yang “menyenangkan.”


Ia tidak duduk di sisi itu.


Di sebelah kirinya ada Lady Frederica Fortescue-Endicott, yang berbicara tanpa henti mengenai tunangan barunya, Earl of Northwick. Di sebelah kanannya ada adik perempuan Lady Frederica, Lady Alexandra.


Yang juga berbicara tanpa henti mengenai Earl of Northwick.


George tidak yakin apa pendapatnya soal ini. Demi Lady Alexandra, ia harap Northwick memiliki saudara laki-laki.


Billie duduk tepat di seberangnya, bukan berarti George bisa melihat gadis itu di balik hiasan rumit dari buah-buahan yang menghiasi tengah-tengah meja. Tapi ia bisa mendengar tawanya, dalam dan penuh, dan seperti perkiraan diikuti tawa terbahak-bahak Andrew, ditingkahi lelucon bodoh yang dilontarkan Sir Reginald McVie yang tampan bukan main.


Sir Reggie, sebutan yang pria itu instruksikan pada semua orang untuk digunakan saat memanggilnya.


George sangat membencinya.


Tak peduli mereka baru saja diperkenalkan satu jam lalu; terkadang hanya dibutuhkan satu jam. Dalam hal ini, satu menit sudah cukup. Saat itu Sir Reggie berjalan menghampiri George dan Billie, yang sedang menertawakan sesuatu yang sama sekali tidak penting namun bersifat pribadi, kemudian pria itu mengulaskan senyum yang begitu menyilaukan.


Gigi pria itu begitu rata seolah dipasang menggunakan meteran kayu. Sungguh, siapa yang memiliki gigi seperti itu? Itu tak wajar.


Kemudian pria tak tahu adat itu meraih tangan Billie dan menciumnya seolah dia count dari Prancis, dan menyatakan kecantikan Billie lebih dari lautan, pasir, bintang, dan langit-dalam bahasa Prancis pula, meski kehilangan aliterasinya.


Perbuatan itu lebih dari menggelikan; George begitu yakin Billie akan menyemburkan tawanya. Tapi tidak, wajah gadis itu merona.


Wajah Billie merona!


Kemudian dia mengerjap-ngerjapkan bulu matanya. Hal yang paling tidak mungkin dilakukan Billie Bridgerton sepanjang yang pernah George lihat.


Semua untuk satu set gigi rapi menakutkan. Dan Billie bahkan tidak mengerti bahasa Prancis!


Tentu saja mereka didudukkan bersebelahan saat makan malam. Lady Bridgerton memiliki mata seperti elang bila berhubungan dengan prospek pernikahan untuk putrinya; George yakin Lady Bridgerton melihat Sir Reggie menggoda Billie pada detik pertama seringai seputih permata itu muncul. Kalau Billie tidak didudukkan di sebelah pria itu sejak awal, gadis itu pasti akan duduk di sampingnya saat gong makan malam berbunyi.


Dengan Andrew di sisi lain Billie, tidak ada yang bisa menghentikannya. Tawa berdering seperti lonceng gereja mengiring sisi meja yang itu makan, minum, dan bersenang-senang.


Sementara sisi meja George terus memuji kebaikan-kebaikan Earl of Northwick yang sangat banyak.


Amat sangat banyak.


Pada saat sup diangkat, George sudah siap mengajukan pria itu untuk diberi gelar orang suci. Bila mendengar Lady Frederica dan Lady Alexandra menceritakannya, tak ada yang lebih pantas untuk pria itu. Kedua wanita itu menceritakan padanya omong kosong yang melibatkan Northwick dan payung yang dipegangnya untuk mereka berdua saat hujan pada suatu hari, dan George baru saja akan berkomentar kedengarannya sesak sekali, ketika sekali lagi tawa terdengar dari sisi seberang meja.


George melotot, bukan berarti Billie bisa melihatnya. Gadis itu tidak akan melihatnya meski tanpa mangkuk buah terkutuk itu di antara mereka. Dia terlalu sibuk menjadi pusat perhatian di pesta. Billie bintang yang bersinar-sinar. Sungguh, George tidak akan terkejut bila gadis itu sungguh-sungguh berkelap-kelip.


Dan tadinya ia menawarkan diri untuk menjaganya.


Yang benar saja. Gadis itu baik-baik saja tanpa bantuan siapa-siapa.


“Menurutmu apa yang mereka bicarakan?” tanya Lady Alexandra setelah semburan kegembiraan yang cukup kuat.


“Gigi,” gumam George.


“Apa yang kaukatakan tadi?”


Ia menoleh dengan senyum ramah. “Entahlah.”


“Sepertinya mereka bersenang-senang,” kata Lady Frederica seraya mengernyit serius.


George mengedikkan bahu.


“Northie pembicara yang sangat hebat,” komentar wanita itu.


“Benarkah?” gumam George, sembari menusuk sepotong daging panggang.


“Oh, ya. Kau tentunya mengenalnya?”


George mengangguk hampa. Lord Northwick beberapa tahun lebih tua darinya, tapi mereka pernah berjumpa beberapa kali di Eton dan Cambridge. George tidak mengingat banyak hal dari pria itu selain rambutnya yang begitu pirang.


“Kalau begitu kau tahu dia sangat lucu,” kata Lady Frederica dengan senyum memuja.


“Sangat,” ulang George.


Lady Alexandra mencondongkan badannya mendekat. “Apa kalian sedang membicarakan Lord Northwick?”


“Eh, ya,” jawab George.


“Dia begitu menyenangkan di pesta-pesta rumah,” Lady Alexandra menyetujui. “Aku ingin tahu kenapa kau tidak mengundangnya.”


“Bukan aku yang membuat daftar tamu,” George mengingatkan.


“Oh, ya, tentu saja. Aku lupa kau bukan anggota keluarga. Kau terlihat begitu nyaman di Aubrey Hall.”


“Keluarga Bridgerton dan Rokesby sudah sejak lama bertetangga baik,” sahut George.


“Miss Sybilla bisa dibilang adiknya,” kata Lady Frederica, mencondongkan badan mendekat untuk terus melibatkan diri ke dalam percakapan.


Billie? Adiknya? George mengernyit. Itu tidak benar. “Aku tidak akan mengatakan…” ia memulai.


Tapi Lady Alexandra sudah berbicara lagi. “Lady Mary berkata seperti itu tadi. Dia menceritakan kisah yang paling lucu. Aku sangat menyukai adikmu itu.”


Mulut George penuh makanan, jadi ia mengangguk dan berharap wanita itu menerimanya sebagai terima kasih.


Lady Alexandra mendekat. “Lady Mary bilang kalian semua berkeliaran dengan liar saat masih anak-anak. Kedengarannya asyik sekali.”


“Aku sedikit lebih tua,” kata George. “Aku jarang—”


“—kemudian makhluk itu kabur!” Andrew tergelak dari seberang meja, cukup keras untuk—untungnya—menghentikan percakapan George dengan kedua wanita Fortescue-Endicott.

__ADS_1


Lady Frederica mengintip dari balik pajangan buah. “Menurutmu apa yang mereka bicarakan?” dia bertanya.


“Lord Northwick,” jawab George tegas.


Wajah wanita itu langsung menyala. “Sungguh?”


“Tapi Mr. Rokesby mengatakan ‘makhluk itu’,” Lady Alexandra mengingatkan. “Tentunya dia tidak akan menyebut Northie sebagai makhluk itu.”


“Aku yakin kau salah dengar,” George berbohong. “Adikku sangat mengagumi Lord Northwick.”


“Benarkah?” Wanita itu mendekat, cukup untuk menarik perhatian saudaranya. “Frederica, kau dengar itu? Lord Kennard mengatakan adiknya mengagumi Lord Northwick.”


Wajah Lady Frederica merona cantik.


George ingin membenamkan wajah di dalam kentangnya.


“…binatang tidak tahu berterima kasih!” suara Billie terbawa di atas terrine asparagus. Lebih banyak tawa menyusul, diikuti dengan: “Aku marah sekali!”


George mendesah. Ia tak pernah mengira akan merindukan Billie Bridgerton, tapi senyuman gadis itu cerah, tawanya menular, dan ia yakin sekali kalau ia harus bertahan lebih lama duduk di antara Lady Frederica dan Lady Alexandra, otaknya akan mulai mengalir ke kedua telinganya.


Billie pasti melihatnya sedang bersedih, karena dia bergerak sedikit ke samping. “Kami sedang membicarakan kucing itu,” katanya.


“Ya, kurasa juga begitu.”


Billie tersenyum—senyum yang cukup menyenangkan dan memberi semangat yang membuat George merasa cukup putus asa.


Dan tidak senang.


“Apa kau tahu yang dia maksud?” tanya Lady Alexandra. “Kurasa dia mengatakan sesuatu tentang kucing.”


“Northie sangat menyukai kucing,” cetus Lady Frederica.


“Aku sendiri tidak menyukainya,” kata George dengan kesopanan yang terbaharui. Pernyataannya tidak sepenuhnya benar, tetapi ia tidak bisa mengabaikan kesenangan saat didapati memiliki pendapat yang bertentangan.


Lady Frederica mengerjap kaget. “Semua orang suka kucing.”


“Bukan aku!”


Kedua Fortescue-Endicott tertegun menatapnya dengan shock. George rasa ia tidak bisa menyalahkan mereka; nada suaranya terdengar begitu gembira. Tetapi karena ia mulai bisa menikmati waktunya, ia memutuskan bahwa ia tidak peduli. “Aku lebih suka anjing,” katanya.


“Well, tentu saja semua orang suka anjing,” kata Lady Frederica. Tapi dia terdengar ragu-ragu.


“Dan luwak,” kata George riang, memasukkan sepotong roti ke mulutnya.


“Luwak,” ulang wanita itu.


“Dan tikus mondok.” Ia menyeringai. Sekarang wanita itu menatapnya dengan kegelisahan yang terlihat jelas. George memberi selamat pada dirinya sendiri untuk kerja yang hebat. Beberapa menit lagi, wanita itu pasti menganggapnya gila.


George tidak ingat kapan terakhir kali ia bersenang-senang seperti ini pada acara makan malam formal.


Tapi gadis itu sibuk dengan Sir Reginald, yang menatapnya seolah Billie makhluk langka.


Dan itu benar, pikir George sengit. Hanya saja Billie bukan makhluk langkanya.


George tiba-tiba merasakan dorongan untuk melompat ke seberang meja dan mengatur ulang gigi Reggie menjadi sesuatu yang jauh lebih abstrak.


Demi Tuhan, siapa yang terlahir dengan gigi seperti itu? Orangtua pria itu jelas sudah menjual jiwa mereka kepada setan.


“Oh, Lord Kennard, apa kau berencana akan menonton turnamen memanah wanita besok?” tanya Lady Alexandra.


“Aku tidak tahu akan ada turnamen seperti itu,” jawabnya.


“Oh, ya. Frederica dan aku berencana akan ikut ambil bagian. Kami sudah berlatih dengan ekstensif.”


“Dengan Lord Northwick?” George tak bisa menahan dirinya untuk bertanya.


“Tentu saja tidak,” jawab wanita itu. “Kenapa kau berpikir seperti itu?”


George mengedik tak berdaya. Ya Tuhan. Kapan makan malam ini berakhir?


Wanita itu meletakkan tangan di lengannya. “Aku harap kau mau menonton.”


George menunduk melihat tangan Lady Alexandra. Tangan wanita itu tampak begitu salah berada di atas lengan jasnya. Namun ia merasa wanita itu salah mengerti sikapnya, karena sebaliknya, jemari wanita itu mengencang. George mau tak mau bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan Lord Northwick. Semoga Tuhan menolongnya kalau sampai dia menggantikan posisi sang earl untuk mendapatkan kasih sayang wanita itu.


George ingin melepaskan tangannya, tapi ada sikap pria terhormat terkutuk di dalam dirinya, jadi alih-alih ia tersenyum kaku dan berkata, “Aku pasti akan menonton.”


Lady Frederica mendekat dan wajahnya tampak berseri-seri. “Lord Northwick juga sangat suka menonton olahraga memanah.”


“Tentu saja,” sahut George pelan.


“Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Lady Alexandra.


“Hanya bahwa Miss Bridgerton ahli memanah,” kata George. Itu benar, bahkan meski bukan itu yang ia katakan tadi. Ia menoleh ke arah Billie, bermaksud memberi isyarat ke arahnya, namun gadis itu sudah memandanginya dengan ekspresi garang.


George menelengkan kepala supaya bisa melihatnya dengan lebih baik.


Mulut Billie mengencang.


George menelengkan kepala.


Billie memutar bola mata dan kembali menatap Sir Reginald.


George berkedip. Apa-apaan itu tadi?


Dan sungguh, kenapa ia bahkan peduli?

__ADS_1


*****


BILLIE MELEWATKAN WAKTU yang menyenangkan. Sungguh, ia tidak terlalu yakin apa yang sebenarnya ia cemaskan. Andrew selalu menjadi kawan makan malam yang menghibur, dan Sir Reggie begitu baik dan tampan; dia membuat Billie nyaman bahkan bila pria itu mulai berbicara dalam bahasa Prancis ketika mereka diperkenalkan.


Billie sama sekali tidak mengerti apa yang Sir Reggie bicarakan, tapi ia rasa pasti pujian, jadi ia mengangguk dan tersenyum, bahkan berkedip-kedip beberapa kali seperti yang pernah ia lihat dilakukan wanita-wanita lain ketika mereka mencoba bersikap feminin.


Tidak ada yang bisa mengatakan ia tidak mencoba memberikan yang terbaik.


Satu kekurangannya adalah George. Atau lebih tepatnya keadaan George. Billie begitu kasihan dengannya.


Lady Alexandra sepertinya tipe wanita yang menyenangkan ketika mereka diperkenalkan di jalan masuk, tapi begitu wanita itu tiba di ruang duduk untuk minuman sebelum makan malam, perempuan agresif itu langsung melekat ke George seperti remis.


Billie ngeri melihatnya. Ia tahu pria itu kaya dan tampan dan akan menjadi earl, tapi apa wanita kecil rakus itu harus menunjukkannya dengan begitu jelas?


George yang malang. Apakah ini yang harus dia hadapi setiap kali dia pergi ke London? Mungkin Billie harus memiliki lebih banyak rasa iba untuk pria itu. Paling tidak ia harus mengintip ke ruang makan sebelum para tamu masuk dan memeriksa pengaturan tempat duduk. Ia bisa menyelamatkan pria itu dari malam bersama Lady Alexandra Bertangan-Empat-Endicott.


Ya, ampun. Ia bisa memikirkan sesuatu yang lebih bagus dari itu.


Fatal… Fantastis… Fiktif…


Baiklah. Ia tidak bisa memikirkan sesuatu yang lebih bagus. Tapi sungguh, wanita itu mungkin saja memiliki empat tangan kalau melihat caranya terus memegang George di ruang duduk.


Pada makan malam dia bahkan lebih parah lagi. Sulit bagi Billie melihat George di seberang meja, terhalang pajangan buah raksasa milik ibunya, tapi ia bisa melihat Lady Alexandra dengan jelas, dan harus dikatakan—wanita itu memamerkan sebidang dada.


Billie tidak akan terkejut kalau wanita itu menyembunyikan seluruh perlengkapan teh di dalam sana.


Kemudian. Kemudian! Wanita itu meletakkan tangannya di lengan George seolah dia memilikinya. Bahkan Billie tidak berani melakukan sesuatu sefamilier itu dalam keadaan formal seperti ini. Ia memiringkan badan ke depan di tempat duduknya, mencoba melihat wajah George. Pria itu tak mungkin senang dengan hal ini.


“Apa kau baik-baik saja?”


Ia menoleh. Andrew mengamatinya dengan ekspresi antara curiga dan cemas.


“Aku baik-baik saja,” jawabnya ketus. “Kenapa?”


“Kau hampir jatuh ke pangkuanku.”


Billie cepat-cepat menegakkan badan. “Jangan konyol.”


“Apa Sir Reginald buang angin?” gumam Andrew.


“Andrew!”


Pria itu memberinya seringai tanpa penyesalan. “Entah itu atau kau mulai memiliki perasaan kepadaku.”


Billie memelototi pria itu.


“Aku mencintaimu, Billie,” kata Andrew dengan nada malas, “tapi tidak seperti itu.”


Billie memutar bola mata karena… Well, karena, Andrew memang menyebalkan. Dia selalu menyebalkan. Dan Billie juga tidak mencintai pria itu seperti itu.


Tapi Andrew tidak perlu bersikap begitu jahat.


“Apa pendapatmu tentang Lady Alexandra?” bisiknya.


“Yang mana dia?”


“Yang merayap di atas kakakmu,” katanya tak sabar.


“Oh, yang itu.” Andrew terdengar seperti mencoba tidak tertawa.


“George terlihat sangat tidak bahagia.”


Andrew mendongak saat mengamati kakaknya. Tidak seperti Billie, dia tidak terhalang pajangan buah raksasa. “Entahlah,” renungnya. “Dia tidak terlihat keberatan.”


“Apa kau buta?” desis Billie jengkel.


“Setahuku tidak.”


“Dia—oh, lupakan. Kau tidak berguna.”


Billie memiringkan badan lagi, kali ini ke arah Sir Reggie. Pria itu sedang berbicara dengan wanita di sebelah kirinya, jadi mudah-mudahan dia tidak akan menyadarinya.


Tangan Lady Alexandra masih berada di lengan George.


Rahang Billie menegang. Pria itu tak mungkin senang. George orang yang sangat menjaga privasinya. Billie mendongak, mencoba menangkap kilasan wajah George, namun pria itu mengatakan sesuatu kepada Lady Alexandra, sesuatu yang sangat ramah dan sopan.


Dia sama sekali tidak terlihat terganggu.


Billie meradang.


Kemudian George mendongak. Pria itu pasti melihat Billie sedang memandanginya karena dia memiringkan badan sedikit ke kanan, cukup untuk menatap mata Billie.


Alis George terangkat.


Billie mengarahkan pandangannya ke langit-langit dan menoleh kepada Sir Reggie, meskipun pria itu masih berbicara dengan keponakan sang duchess.


Ia menunggu beberapa saat, tetapi sepertinya pria itu tidak sedang terburu-buru untuk mengembalikan perhatiannya kepadanya, jadi ia mengangkat garpu dan pisau lalu memotong dagingnya menjadi potongan-potongan yang lebih tipis lagi.


Mungkin George menyukai Lady Alexandra. Mungkin dia sedang mendekati wanita itu, dan mungkin mereka akan menikah lalu melahirkan sekawanan bayi kecil Rokesby, semua berpipi montok dan bermata biru.


Kalau itu yang George inginkan, maka itulah yang harus dia lakukan.


Tapi kenapa sepertinya itu begitu salah? Dan mengapa rasanya begitu sakit hanya dengan memikirkannya


~JANGAN LUPA~

__ADS_1


LIKE,KOMEN,VOTE,FAVORITE,AND RATE


__ADS_2