
BILLIE DILAHIRKAN HANYA tujuh belas hari setelah Mary Rokesby, dan menurut orangtua mereka, mereka sudah menjadi sahabat sejak mereka diletakkan di buaian yang sama ketika Lady Bridgerton mengunjungi Lady Manston untuk kunjungan rutin setiap Kamis pagi.
Billie tidak yakin kenapa ibunya mengajak bayi berumur dua bulan ketika ada pengasuh yang sangat kompeten di Aubrey Hall, tapi ia menduga itu ada hubungannya dengan ia yang secara tak biasa sudah bisa berguling-guling pada umur enam minggu.
Para wanita Bridgerton dan Manston adalah teman yang setia dan mengabdi terhadap satu sama lain, dan Billie yakin masing-masing bersedia memberikan hidupnya untuk yang lain—atau untuk anak-anaknya—tapi harus dikatakan selalu ada elemen kompetisi yang kuat dalam hubungan mereka.
Billie juga menduga kemampuannya dalam seni menggulingkan badan yang mencengangkan lebih berkaitan dengan ujung jari ibunya yang mendorong bahunya alih-alih pembawaan geniusnya, tapi seperti yang ibunya ingatkan, tidak ada saksi.
Tapi yang memang disaksikan—oleh ibu mereka dan pelayan—adalah saat Billie diletakkan di buaian Mary yang luas, dia meraih dan menyambar tangan mungil bayi yang satu lagi. Dan ketika ibu mereka mencoba melepaskannya, mereka berdua mulai melolong seperti banshee.
Ibu Billie berkata dia tergoda untuk meninggalkan Billie di Crake House malam itu; itu satu-satunya cara untuk menjaga agar kedua bayi tetap tenang.
Pagi pertama itu tentunya pertanda untuk hal-hal yang akan datang. Billie dan Mary adalah dua kacang dari kulit yang sama, seperti yang pengasuh mereka katakan. Dua kacang yang sangat berbeda yang kebetulan sangat menyukai satu sama lain.
Apabila Billie tak mengenal takut, maka Mary berhati-hati. Bukan takut-takut, hanya berhati-hati. Dia selalu melihat sebelum melompat. Billie juga melihat; hanya saja ia cenderung melakukannya dengan sikap yang lebih acuh tak acuh.
Kemudian ia melompat tinggi dan jauh, sering kali mengalahkan Edward dan Andrew, yang kurang lebih terpaksa berteman dengannya setelah mereka menyadari Billie akan mengikuti mereka sampai ke ujung bumi, kecuali mungkin dia akan tiba di sana sebelum mereka.
Dengan Mary—setelah pertimbangan yang berhati-hati atas bahaya terhadap sekitar—di belakangnya.
Dan maka mereka menjadi empat sekawan. Tiga anak-anak liar dan satu suara dengan akal sehat.
Mereka terkadang mendengarkan Mary. Sungguh, mereka melakukannya. Mungkin itu satu-satunya alasan mereka berempat berhasil mencapai usia dewasa tanpa luka permanen.
Tapi seperti hal bagus lainnya, semua itu berakhir, dan beberapa tahun setelah Edward serta Andrew meninggalkan rumah, Mary jatuh cinta, menikah, dan pergi. Dia dan Billie bertukar surat secara rutin, tapi itu tidak sama. Tapi tetap saja, Billie akan selalu memanggil Mary sahabatnya, maka ketika ia mendapati dirinya berada di Crake House dengan pergelangan kaki terkilir dan tanpa pakaian lain kecuali celana pria dan kemeja serta jas yang berdebu, ia tidak merasakan penyesalan saat mencari-cari pakaian pantas untuk makan malam keluarga di lemari baju temannya. Sebagian besar gaun sudah beberapa tahun ketinggalan mode, namun itu tidak mengganggu Billie. Sejujurnya, kemungkinan ia tidak akan menyadarinya kalau pelayan yang membantunya berpakaian untuk makan malam tidak meminta maaf untuk itu.
Dan gaun-gaun itu jelas lebih bergaya daripada apa pun yang ia miliki dalam lemarinya sendiri.
Menurut Billie masalah yang lebih besar adalah panjang gaunnya, atau lebih tepatnya, kelebihannya. Mary lebih tinggi darinya, paling tidak delapan senti. Hal tersebut selalu membuat Billie jengkel—dan Mary geli; kelihatannya seperti seharusnya dirinyalah yang lebih tinggi. Tapi karena Billie bahkan tidak bisa berjalan, isu tersebut menjadi lebih tidak penting daripada seharusnya.
Gaun Mary juga sedikit terlalu besar di bagian dada. Tapi pengemis tidak boleh memilih, maka Billie menyelipkan dua syal segitiga ekstra ke bagian dada dan memutuskan seharusnya dia bersyukur karena lemari pakaian Mary berisi gaun bersiluet penuh yang relatif sederhana dalam warna hijau hutan yang Billie pikir menegaskan warna kulitnya.
Pelayan itu menyelipkan beberapa jepit terakhir ke rambut Billie ketika terdengar ketukan di pintu kamar lama Mary, tempat Billie berada.
“George,” kata Billie terkejut saat melihat lengan kuat pria itu mengisi ambang pintu. George tampak elegan dalam jas biru tengah malam yang Billie duga akan memperindah warna mata pria itu kalau dia kenakan pada siang hari. Kancing-kancing emas berkilauan dalam cahaya lilin, menegaskan aura bangsawannya.
“My Lady,” pria itu bergumam, dan membungkuk kecil memberi hormat. “Aku datang untuk membantumu turun ke kamar tamu.”
“Oh.” Billie tidak yakin kenapa ia terkejut. Andrew tidak bisa melakukannya, dan ayahnya, yang pasti sudah berada di lantai bawah, tidak sekuat dulu.
“Kalau kau suka, kita bisa memanggil pelayan laki-laki,” kata George.
“Tidak, tidak, tentu saja tidak,” sahut Billie. Pelayan sepertinya akan sangat kikuk. Paling tidak ia mengenal George. Dan pria itu sudah pernah menggendongnya.
George masuk ke kamar, mengaitkan tangan ke punggung sambil berjalan menghampiri. “Bagaimana pergelangan kakimu?”
“Masih sakit sekali,” aku Billie, “tapi aku sudah membebatnya dengan pita lebar, dan sepertinya itu membantu.”
Bibir George menekuk, dan mata biru langitnya berkelap-kelip geli. “Pita?”
Billie membuat pelayannya ngeri dengan mengangkat roknya yang kepanjangan dan menjulurkan kaki, memamerkan pergelangan kaki yang dibebat sebagian dengan pita merah muda meriah.
“Sangat bergaya,” komentar George.
“Aku tidak boleh merobek-robek seprai karena ini sudah cukup.”
“Selalu bersikap praktis.”
“Aku ingin berpikir seperti itu,” sahut Billie, suara riangnya berubah menjadi kernyitan dahi ketika terpikir olehnya mungkin itu bukan pujian. “Well,” katanya, sambil menjentik setitik debu tak kasatmata dari lengannya, “bagaimanapun, itu sepraimu. Kau harus berterima kasih kepadaku.”
“Aku yakin aku berterima kasih.”
Mata Billie menyipit.
“Benar, aku sedang mengolok-olokmu,” sahut George. “Tapi hanya sedikit.”
Billie merasa dagunya sedikit terangkat. “Asalkan hanya sedikit.”
“Aku tidak akan berani melakukan yang sebaliknya,” balas George. Kemudian dia sedikit mencondongkan badan ke depan. “Paling tidak, tidak di depanmu.”
Billie mencuri pandang ke arah pelayannya. Gadis itu tampak shock dengan percakapan mereka.
“Tapi serius, Billie,” kata George, membuktikan bahwa jantung yang simpatik berdetak di suatu tempat di dadanya, “apa kau yakin kau cukup sehat untuk makan malam?”
Billie memasang anting. Lagi-lagi, milik Mary. “Aku harus makan. Mungkin lebih baik melakukannya bersama keluarga.”
George tersenyum mendengarnya. “Sudah terlalu lama sejak semua orang—well, paling tidak sebanyak yang kita miliki malam ini—berkumpul bersama.”
Billie mengangguk, merasakan nostalgia. Saat ia masih kecil, keluarga Rokesby dan Bridgerton makan bersama beberapa kali setiap bulan. Dengan sembilan anak dari dua keluarga, makan malam—atau makan siang, atau liburan apa pun yang mereka putuskan untuk dirayakan—selalu menjadi acara yang riuh dan ramai.
Tapi satu per satu, anak-anak laki-laki pergi ke Eton, pertama George, kemudian Edward, dan kemudian Andrew. Dua adik laki-laki Billie, Edmund dan Hugo, sekarang tinggal di asrama di sana, bersama anak Rokesby yang paling muda, Nicholas. Mary menemukan cinta dan pindah ke Sussex, dan sekarang yang masih tinggal di rumah adalah Billie dan adik perempuannya Georgiana, yang pada usia empat belas tahun sangat menyenangkan namun bukan sahabat untuk wanita dewasa berusia 23.
Dan George, tentu saja, tapi—pria terhormat yang sudah memenuhi syarat untuk menikah seperti dirinya—membagi waktunya antara Kent dan London.
“Satu penny untuk isi pikiranmu,” George melintasi kamar ke tempat Billie duduk di depan meja rias.
Billie menggeleng. “Bahkan tidak seberharga itu, aku khawatir. Semua sangat sentimental dan cengeng, sebenarnya.”
“Sentimental dan cengeng? Kau? Aku harus tahu lebih banyak.”
Billie menatapnya, kemudian berkata, “Jumlah kita sekarang berkurang begitu banyak. Dulu ada banyak sekali.”
“Jumlahnya masih sama,” George mengingatkan.
“Aku tahu, tapi kita begitu jarang berkumpul bersama. Itu membuatku sedih.” Billie nyaris tak percaya ia berbicara dengan begitu terus terang kepada George, tapi hari itu melelahkan dan janggal. Mungkin itu membuatnya kurang berhati-hati.
“Kita semua akan berkumpul lagi,” sahut George antusias. “Aku yakin.”
Billie mengangkat sebelah alis. “Apa kau ditugaskan untuk menghiburku?”
“Ibumu menawariku tiga quid.”
“Apa?”
“Aku bercanda.”
Billie merengut, tapi tidak ada perasaan sungguhan di belakangnya.
“Kemarilah. Aku akan membawamu turun.” George membungkuk untuk membawa Billie ke dalam pelukannya, tapi saat George bergerak ke kanan, Billie bergerak ke kiri, dan kepala mereka berbenturan.
“Aduh, maaf,” gerutu George.
__ADS_1
“Bukan, itu salahku.”
“Sini, aku akan…” George meletakkan kedua lengan ke punggung dan bawah kaki Billie, tapi ada yang janggal dalam hal itu, dan ini aneh sekali, karena George telah menggendongnya selama lebih dari satu setengah kilometer beberapa jam yang lalu.
George mengangkatnya ke udara, dan pelayan yang tadi berdiri memperhatikan percakapan, tersentak menghindar saat kaki Billie berayun ke atas.
“Tolong kurangi tekananmu di leherku,” kata George.
“Oh, maaf.” Billie membetulkan posisinya. “Ini sama seperti sore tadi.”
George berjalan menuju lorong di luar. “Tidak, tidak sama.”
Mungkin tidak, aku Billie dalam hati. Ia merasa begitu nyaman saat pria itu membawanya melewati hutan. Terlalu nyaman daripada yang sepantasnya dalam pelukan pria yang bukan keluarganya. Sekarang rasanya begitu kikuk. Ia begitu menyadari kedekatan George, panas tubuh pria itu merembes keluar dari pakaiannya. Kerah jasnya diatur tinggi dan sopan, namun saat jari Billie menyentuh bagian puncaknya, seikal rambut cokelat terang milik pria itu melengkung menyentuh kulitnya.
“Ada yang salah?” tanya George saat mereka sampai di puncak tangga.
“Tidak,” jawabnya cepat-cepat, kemudian berdeham. “Kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Kau tidak berhenti bergerak-gerak gelisah sejak aku mengangkatmu.”
“Oh.” Billie tidak bisa memikirkan apa-apa untuk menjawab. “Hanya saja kakiku nyeri.” Tidak, kelihatannya ia bisa memikirkan sesuatu. Sayangnya pikirannya sama sekali tidak ada hubungannya.
George berhenti, menunduk menatapnya dengan cemas. “Apa kau yakin kau mau turun dan makan malam?”
“Aku yakin.” Billie mendengus jengkel. “Demi Tuhan, aku sudah berada di sini. Rasanya konyol bila mengkarantinaku di kamar Mary.”
“Itu sama sekali bukan karantina.”
“Rasanya akan seperti karantina,” gerutu Billie.
George mengamatinya dengan ekspresi ingin tahu. “Kau tidak suka sendirian, ya?”
“Tidak saat seluruh dunia bersenang-senang tanpaku,” balas Billie pedas.
George terdiam beberapa saat, kepalanya ditelengkan untuk mengindikasikan bahwa dia mendapati kata-kata Billie mengundang rasa ingin tahunya. “Bagaimana dengan saat-saat lain?”
“Apa?”
“Saat dunia sedang tidak berkumpul tanpa dirimu,” kata George dengan nada yang samar-samar terdengar menggurui. “Apa kau keberatan sendirian?”
Billie merasa alisnya bergerak naik saat melirik pria itu. Apa yang menyebabkan penyelidikan ini?
“Itu bukan pertanyaan sulit,” kata George, sesuatu yang sedikit provokatif membuatnya menurunkan volume suaranya menjadi gumaman.
“Tidak, tentu saja aku tidak keberatan sendirian.”
Billie merapatkan bibir, merasa agak jengkel. Dan kesal. Tapi pria itu menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ia tanyakan pada dirinya sendiri. Tapi kemudian, sebelum menyadari ia hendak mengatakannya, Billie mendengar dirinya sendiri berkata, “Aku tidak suka—”
“Apa?”
Billie menggeleng. “Lupakan.”
“Tidak, katakan padaku.”
Billie mendesah. Pria itu tidak mau melepaskannya. “Aku tidak suka terkurung. Aku bisa menghabiskan sepanjang hari sendirian kalau aku berada di luar ruangan. Atau bahkan di ruang tamu, yang jendela-jendelanya tinggi dan memasukkan begitu banyak cahaya.”
George mengangguk-angguk pelan, seolah setuju.
“Tidak sama sekali,” jawab George.
Well, kalau begitu, ternyata hanya sampai di situ kemampuannya mengartikan gerak-gerik pria itu.
“Aku menikmati kesendirianku,” lanjut George.
“Aku yakin begitu.”
Mulut George bergerak mengulas senyum kecil. “Kupikir kita tidak sedang saling menghina malam ini.”
“Tidak?”
“Aku sedang membawamu menuruni serangkaian anak tangga. Sebaiknya kau berbicara baik-baik terhadapku.”
“Benar juga,” Billie menyerah.
George melewati bordes, dan Billie mengira percakapan mereka sudah selesai ketika pria itu berkata, “Beberapa hari yang lalu hujan turun… sepanjang hari, tanpa henti.”
Billie menelengkan kepala. Ia tahu hari yang George bicarakan. Hari itu buruk sekali. Ia berencana membawa kuda betinanya Argo ke luar untuk memeriksa pagar-pagar di ujung selatan tanah ayahnya. Dan mungkin mampir di petak stroberi liar. Masih terlalu awal untuk tanaman itu berbuah, tapi bunga-bunganya pasti sudah mulai bermunculan, dan ia ingin tahu sebanyak apa yang keluar.
“Aku tetap di dalam, tentu saja,” George melanjutkan. “Tidak ada alasan untuk keluar.”
Billie tidak yakin ke mana arah pembicaraan pria itu, tapi mengikutinya dengan bertanya, “Bagaimana caramu menyibukkan diri?”
“Aku membaca buku.” George terdengar puas dengan dirinya sendiri. “Aku duduk di ruang kerja dan membaca buku mulai dari awal sampai habis, dan itu hari paling menyenangkan yang kuingat akhir-akhir ini.”
“Kau perlu keluar lebih sering,” kata Billie dengan wajah tanpa ekspresi.
George mengabaikannya. “Yang ingin kukatakan adalah aku menghabiskan hari dengan terkurung di dalam ruangan, seperti yang kaukatakan, dan rasanya menyenangkan.”
“Well. Itu hanya menjelaskan maksudku.”
“Kita sedang membuat penjelasan?”
“Kita selalu membuat penjelasan, George.”
“Dan selalu menghitung skor?” gumam pria itu.
Selalu. Namun Billie tidak mengatakannya. Rasanya kekanak-kanakan. Dan picik. Dan lebih buruk lagi, seolah ia mencoba terlalu keras untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Atau lebih tepatnya, dirinya yang sebenarnya tapi tidak akan pernah diizinkan oleh masyarakat. Pria itu Lord Kennard, dan ia Miss Sybilla Bridgerton, dan meskipun dengan senang hati Billie bersedia menumpuk kekuatan di dalam dirinya melawan pria itu kapan saja, ia tidak bodoh. Ia mengerti bagaimana dunia bekerja. Di sini di sudut kecil Kent-nya, ia ratu di daerah kekuasaannya, tapi dalam kontes mana pun yang diadakan di luar lingkaran kecil nyaman yang digambar mengelilingi Crake House dan Aubrey Hall…
George Rokesby akan menang. Selalu. Atau kalau tidak, pria itu akan bersikap seolah dia menang.
Dan tidak ada yang bisa Billie lakukan soal itu.
“Tiba-tiba kau tampak serius tak seperti biasanya,” kata George, mendarat ke lantai papan mengilap di lantai dasar.
“Aku sedang memikirkanmu,” jawab Billie jujur.
“Aku menganggapnya tantangan.” Pria itu sampai di pintu yang terbuka ke ruang duduk, dan bibirnya bergerak mendekati telinga Billie. “Tantangan yang tidak akan kuterima.”
Lidah Billie menyentuh langit-langit mulutnya, bersiap-siap menjawab, tapi sebelum sempat bersuara, George melewati ambang pintu ruang duduk formal di Crake House.
“Selamat malam, semuanya,” suaranya terdengar agung.
__ADS_1
Harapan apa pun yang Billie miliki untuk masuk tanpa kentara langsung hilang ketika menyadari mereka yang terakhir sampai. Ibunya duduk di samping Lady Manston di sofa panjang, dengan Georgiana di kursi di dekat sana dan terlihat agak bosan. Para pria yang sedang bercengkerama berada di samping jendela. Lord Bridgerton dan Lord Manston bercakap-cakap dengan Andrew, yang dengan senang menerima segelas brendi dari ayahnya.
“Billie!” ibunya berseru, dan melompat berdiri. “Dalam pesanmu kau bilang kakimu hanya terkilir.”
“Memang cuma terkilir,” jawab Billie. “Aku akan kembali seperti baru pada akhir pekan.”
George mendengus. Billie mengabaikannya.
“Ini bukan apa-apa, Mama,” ia meyakinkan. “Aku jelas pernah mengalami yang lebih buruk.”
Andrew mendengus. Billie mengabaikannya juga. “Dengan tongkat, dia mungkin bisa turun sendiri,” kata George sambil meletakkan Billie di bangku panjang, “tapi dia akan menghabiskan waktu tiga kali lipat lebih lama, dan kita tidak memiliki kesabaran untuk itu.”
Ayah Billie, yang berdiri di samping jendela dengan segelas brendi, terbahak.
Billie melontarkan delikan sebal, yang hanya membuat tawa ayahnya lebih keras.
“Apa itu salah satu gaun Mary?” tanya Lady Bridgerton.
Billie mengangguk. “Tadi aku memakai celana panjang.”
Ibunya mendesah tapi tidak berkomentar. Itu argumen yang tak ada habis-habisnya di antara mereka, dan gencatan senjata mereka dipertahankan hanya dengan janji Billie untuk selalu berpakaian pantas saat makan malam. Dan saat sedang ada tamu. Dan di gereja.
Sebenarnya ada daftar acara yang cukup panjang ketika ia harus berpakaian sesuai spesifikasi ibunya. Tapi jika Billie mengenakan celana panjang saat sedang melakukan pekerjaannya di sekitar estat, Lady Bridgerton tidak memprotes.
Bagi Billie, rasanya seperti kemenangan. Seperti yang ia jelaskan pada ibunya—berulang-ulang—yang ia butuhkan sebenarnya adalah izin untuk berpakaian pantas saat ia sedang keluar. Para penyewa tanah pasti menganggapnya lebih dari sekadar eksentrik, tapi Billie tahu dirinya disukai. Dan dihormati.
Perasaan sayang itu hadir secara alami; menurut ibu Billie, dirinya keluar dari rahim dengan senyuman, dan bahkan saat masih anak-anak, ia menjadi favorit para penyewa tanah.
Tetapi rasa hormat didapatkan dengan usaha, dan karena alasan itu rasa hormat jauh lebih dihargai.
Billie tahu adiknya suatu hari nanti akan mewarisi Aubrey Hall dan seluruh tanahnya, tapi Edmund masih kecil, delapan tahun di bawahnya. Anak itu lebih sering berada di sekolah. Ayah mereka tidak akan menjadi lebih muda, dan seseorang harus belajar cara mengurus estat sebesar itu dengan benar. Lagi pula, Billie pandai melakukannya; semua orang berkata seperti itu.
Ia menjadi anak tunggal selama bertahun-tahun; ada dua bayi di antara kelahirannya dan Edmund, tapi tidak ada yang hidup melewati masa kanak-kanak. Selama bertahun-tahun dengan doa dan harapan serta keinginan untuk pewaris itu, Billie menjadi semacam maskot untuk para penyewa tanah, simbol masa depan Aubrey Hall yang masih hidup dan tersenyum.
Tidak seperti anak perempuan bangsawan kebanyakan, Billie selalu menemani orangtuanya dalam pekerjaan mereka mengelilingi estat. Ketika ibunya membawa keranjang-keranjang makanan untuk yang membutuhkan, ia berada di sana dengan buah-buah apel untuk anak-anak. Ketika ayahnya memeriksa tanah mereka, ia sering ditemukan di dekat kaki ayahnya, menggali cacing sambil menjelaskan kenapa menurutnya gandum hitam akan menjadi pilihan yang lebih baik daripada barley untuk tanah yang kekurangan matahari seperti tanah mereka.
Awalnya ia menjadi sumber hiburan—anak berumur lima tahun yang energik yang berkeras ingin menimbang hasil panen saat uang sewa dikumpulkan. Tapi pada akhirnya ia menjadi sesuatu yang permanen, dan sekarang ia diharapkan untuk memeriksa kebutuhan estat. Kalau ada atap pondok yang bocor, ia yang akan memastikan atap itu diperbaiki. Kalau hasil panen berkurang, ia akan pergi dan mencari tahu alasannya.
Ia hampir bisa dikatakan adalah putra sulung ayahnya.
Wanita-wanita muda lain mungkin membaca puisi romantis dan tragedi Shakespeare. Billie membaca risalah dalam manajemen pertanian. Dan ia menyukainya. Sungguh. Semua itu benar-benar bacaan bagus.
Sulit membayangkan hidup yang mungkin lebih sesuai untuknya, tapi harus dikatakan: semua jauh lebih mudah dilakukan tanpa menggunakan korset.
Meskipun menyakitkan untuk ibunya.
“Aku sedang memeriksa irigasi,” Billie menjelaskan. “Melakukannya dengan menggunakan rok akan sangat tidak praktis.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” kata Lady Bridgerton, meskipun mereka semua tahu dia memikirkannya.
“Belum lagi sulit untuk memanjat pohon itu,” Andrew menambahkan.
Itu mendapat perhatian ibunya. “Dia memanjat pohon?”
“Untuk menyelamatkan kucing,” Andrew mengonfirmasi.
“Orang mungkin berasumsi,” kata George, suaranya mendengkur dengan otoritas, “kalau dia mengenakan rok, dia tidak akan mencoba memanjat pohon.”
“Apa yang terjadi dengan kucing itu?” tanya Georgiana.
Billie menoleh ke arah adiknya. Ia hampir lupa adiknya ada di sana. Dan ia jelas telah melupakan kucing itu. “Aku tidak tahu.”
Georgiana mencondongkan badan ke depan, mata birunya tampak tak sabar. “Well, apa kau menyelamatkannya?”
“Kalau ya,” kata Billie, “itu sama sekali di luar kehendaknya.”
“Dia kucing yang sangat tak tahu berterima kasih,” kata George.
Ayah Billie terkekeh mendengar deskripsi tersebut dan memukul punggung George. “George, m’boy, kita harus memberimu minum. Kau akan membutuhkannya setelah cobaan yang kauhadapi.”
Mulut Billie menganga. “Cobaan yang dia hadapi?”
George menyeringai, tapi tidak ada yang melihatnya, sialan pria itu.
“Gaun Mary tampak cantik di dirimu,” kata Lady Bridgerton, menyetir percakapan kembali ke topik seputar wanita.
“Terima kasih,” sahut Billie. “Aku menyukai warna hijau ini.” Jemarinya bergerak ke renda sepanjang garis leher yang bulat. Gaun itu memang sangat cantik.
Ibunya tertegun menatapnya dengan shock.
“Aku suka gaun-gaun cantik,” Billie berkeras. “Aku hanya tidak suka mengenakannya pada saat yang tidak praktis.”
“Kucing itu,” Georgiana berkeras.
Billie melemparkan tatapan tak sabar. “Sudah kubilang, aku tidak tahu. Sungguh, dia makhluk kecil yang mengerikan.”
“Setuju,” George mengangkat gelas memberi hormat.
“Aku tak percaya kau bersulang untuk kemungkinan matinya seekor kucing,” kata Georgiana.
“Aku tidak melakukannya,” jawab Billie, menoleh ke sekitar untuk melihat apa ada yang mungkin akan memberinya minum. “Tapi aku mau.”
“Tidak apa-apa, Sayang,” gumam Lady Bridgerton, memberi putrinya yang lebih muda senyum menenangkan. “Kau tak perlu khawatir.”
Billie melihat ke arah Georgiana lagi. Kalau ibu mereka menggunakan nada suara seperti itu kepadanya, mungkin ia akan gila. Tapi Georgiana sakit-sakitan saat masih kecil, dan Lady Bridgerton tak pernah belajar untuk memperlakukannya dengan cara lain selain kecemasan.
“Aku yakin kucing itu berhasil selamat dari cobaan,” Billie memberitahu Georgiana. “Dia sepertinya sangat tangguh. Matanya menyorotkan dia selalu berhasil selamat.”
Andrew melompat dan membungkuk ke dekat bahu Georgiana. “Selalu mendarat di atas keempat kakinya, kucing itu.”
“Oh, hentikan!” Georgiana memukul Andrew, tapi jelas dia tidak marah dengan lelucon itu. Tidak ada yang pernah marah kepada pria itu. Tidak untuk waktu lama, paling tidak.
“Apa ada berita tentang Edward?” tanya Billie kepada Lady Manston. Sorot mata Lady Manston berubah suram saat dia menggeleng. “Tidak ada sejak surat terakhir. Yang kami terima bulan lalu.”
“Aku yakin dia baik-baik saja,” kata Billie. “Dia tentara yang begitu berbakat.”
“Aku tidak yakin seberapa banyak bakat berperan ketika seseorang mengarahkan senjatanya ke dadamu,” kata George gelap.
Billie menoleh ke arahnya dan mendelik. “Jangan dengarkan dia,” katanya kepada Lady Manston. “Dia tak pernah menjadi tentara.”
Lady Manston tersenyum ke arah Billie, ekspresi wajahnya sedih dan manis dan penuh cinta, secara bersamaan. “Kurasa dia ingin menjadi tentara,” katanya, dan mendongak menatap anak sulungnya. “Benar, kan, George
__ADS_1