
DALAM WAKTU KURANG dari satu minggu kemudian Billie mendapati dirinya dilucuti sampai hanya mengenakan pakaian dalamnya oleh dua penjahit yang berceloteh dalam bahasa Prancis sementara mereka menusuknya dengan jarum pentul dan jarum jahit.
“Aku bisa menggunakan salah satu gaunku dari rumah,” ia memberitahu Lady Manston untuk mungkin kelima kalinya.
Lady Manston bahkan tidak mendongak dari buku pola yang sedang dilihatnya. “Tidak, tidak bisa.”
Billie mendesah sambil memandangi kain brokat mewah yang menghiasi dinding toko gaun mewah yang telah menjadi rumah keduanya di sini di London. Tempat itu sangat eksklusif, ia diberitahu; papan nama sederhana yang digantung di pintu hanya bertuliskan Mme. Delacroix, penjahit, tapi Lady Manston memanggil dinamo kecil dari Prancis itu dengan nama Crossy, dan Billie diberitahu untuk memanggilnya dengan nama yang sama.
Biasanya, kata Lady Manston, Crossy dan gadis-gadisnya akan mendatangi mereka, tapi mereka tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan gaun Billie dan perlengkapannya, dan dalam situasi seperti ini sepertinya lebih efisien bila mengunjungi tokonya.
Billie sudah mencoba memprotes. Ia tidak datang ke London untuk Season. Sekarang bahkan bukan waktu yang tepat. Well, sebentar lagi, tapi sekarang belum. Dan mereka benar-benar tidak datang ke London untuk menghadiri pesta-pesta dan pesta dansa. Sejujurnya, Billie tidak sepenuhnya yakin mengapa ia ada di sana. Ia benar-benar terkejut ketika Lady Manston membuat keputusan, dan itu pasti terlihat di wajahnya.
“Kau baru saja mengatakan kau ingin pergi,” kata Lady Manston, “dan harus kuakui tindakanku tidak sepenuhnya tidak egois. Aku ingin pergi, dan aku membutuhkan teman.”
George saat itu memprotes, yang dalam situasi ini didapati Billie masuk akal dan menghina, tapi ibunya tidak bisa dihentikan.
“Aku tidak bisa mengajak Mary,” kata Lady Manston tegas. “Dia terlalu lemah, dan aku ragu Felix akan mengizinkannya.” Dengan itu dia menoleh kepada Billie. “Dia sangat protektif.”
“Sangat,” gumam Billie… dengan agak bodoh, menurut pendapatnya. Tapi ia tak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan. Sejujurnya, ia tak pernah begitu tak yakin dengan dirinya seperti saat berhadapan dengan para wanita kelas atas yang tak terkalahkan, bahkan dengan salah satunya yang ia kenal sejak lahir. Lady Manston hampir selalu menjadi tetangga menyenangkan, tetapi kadang-kadang aura pemimpin kelas atas akan bersinar keluar, mengeluarkan perintah dan mengatur orang-orang, dan pada umumnya menjadi ahli untuk segalanya. Billie tidak tahu bagaimana cara menyatakan dirinya. Ini seperti yang terjadi dengan ibunya sendiri.
Tapi kemudian George membuang masuk akal dan berubah sepenuhnya menjadi menghina.
“Maafkan aku, Billie,” kata George sambil memandang ibunya, “tapi Billie akan menjadi gangguan.”
“Yang disambut dengan baik,” kata Lady Manston.
“Tidak untukku.”
“George Rokesby!” seru Lady Manston marah. “Minta maaf sekarang juga.”
“Dia tahu apa yang kumaksud,” sahut George.
Mendengar itu, Billie tidak bisa terus menutup mulut. “Benarkah?”
George berbalik ke arah Billie dengan ekspresi jengkel samar. Dan sikap meremehkan yang tampak jelas. “Kau tidak benar-benar mau pergi ke London.”
“Edward dulu juga temanku,” katanya.
“Tidak ada ‘dulu’ dalam hal itu,” bentak George.
Billie ingin memukul George. Pria itu salah menangkap ucapannya dengan sengaja. “Oh, demi Tuhan, George, kau tahu apa yang kumaksud.”
“Benarkah?” ejek pria itu.
“Apa yang terjadi?” Lady Manston meledak. “Aku tahu kalian berdua tidak pernah dekat, tapi tidak perlu bersikap seperti ini. Ya Tuhan, orang akan mengira kalian berdua masih berumur tiga tahun.”
Dan itu dia. Billie dan George langsung terdiam malu, dan Lady Manston langsung pergi menuliskan pesan untuk Lady Bridgerton, menjelaskan bahwa Billie telah setuju untuk menemaninya ke kota.
Dan tentu saja, Lady Bridgerton berpikir ini ide yang sangat bagus.
Billie mengira ia akan menghabiskan hari-harinya pergi dan melihat-lihat kota, mungkin menghadiri pertunjukan teater, tapi sehari setelah kedatangan mereka, Lady Manston menerima undangan ke pesta dansa yang diberikan oleh teman yang amat sangat dekat, dan yang mengejutkan Billie, sang lady memutuskan untuk menerimanya.
“Apa Anda yakin siap menghadiri acara itu?” Billie bertanya. Saat itu ia tidak mengira akan dijerat untuk menghadirinya juga, jadi harus dikatakan motifnya sepenuhnya altruistik.
“Putraku tidak mati,” kata Lady Manston, mengejutkan Billie dengan sikap blakblakannya. “Aku tidak akan bersikap seolah dia sudah mati.”
“Well, tidak tentu saja tidak, tapi—”
“Lagi pula,” kata Lady Manston, tanpa memberi indikasi bahwa dia mendengar Billie, “Ghislaine teman yang sangat baik, dan tidak sopan kalau aku menolaknya.”
Billie mengernyit, menunduk melihat tumpukan undangan yang dengan misterius muncul di piring porselen dengan pinggiran melekuk-lekuk halus di atas meja tulis Lady Manston. “Bagaimana dia bahkan bisa tahu Anda berada di London?”
Lady Manston mengedikkan bahu sambil memeriksa sisa undangannya. “Kurasa dia mendengarnya dari George.”
Billie tersenyum kaku. George tiba di London dua hari sebelum mereka. Dia melewati seluruh perjalanan di atas kuda, beruntungnya dia. Akan tetapi sejak Billie tiba, baru tiga kali ia melihat pria itu. Sekali saat makan malam, sekali saat sarapan, dan sekali di ruang duduk ketika George masuk untuk mengambil brendi saat Billie sedang membaca buku.
Pria itu bersikap sopan, meski sedikit menjaga jarak. Ia rasa ini bisa dimaafkan; sejauh yang ia lihat George sibuk mencoba mendapatkan berita tentang Edward, dan pria itu jelas tidak mau mengalihkan perhatiannya dari tujuannya. Tetap saja Billie tidak mengira “tidak penting” berarti “Oh, maaf, apakah itu kau yang berada di sofa?”
Billie tidak mengira pria itu tak terpengaruh oleh ciuman mereka. Ia tidak punya banyak—oh, baiklah, satu pun—pengalaman dengan pria, tapi ia mengenal George, dan ia tahu pria itu sama menginginkannya seperti dirinya.
Dan Billie menginginkan George. Oh, betapa ia menginginkannya.
Ia masih merasa seperti itu.
Setiap kali memejamkan mata, Billie melihat wajah George, dan gilanya, bukan ciuman itu yang terus ia kenang dalam benaknya. Tapi momen sebelumnya, ketika jantungnya berdegup seperti burung kolibri dan napasnya nyaris bersatu dengan napas George. Ciuman itu terasa magis, namun momen sebelumnya, detik ketika ia tahu…
Ia telah berubah.
George membangunkan sesuatu di dalam diri Billie yang tak pernah Billie sadari keberadaannya, sesuatu yang liar dan egois. Dan ia menginginkan lebih.
Masalah, Billie sama sekali tak tahu cara mendapatkannya. Kalau ada waktu untuk mengembangkan muslihat feminin, mungkin ini saatnya. Namun ia begitu jauh dari zona nyamannya di London. Billie tahu bagaimana cara bersikap di Kent. Mungkin ia bukan versi ideal ibunya untuk wanita dewasa, tapi di rumah, di Aubrey atau Crake, ia tahu siapa dirinya. Tidak penting kalau ia mengatakan sesuatu yang janggal atau melakukan sesuatu yang tak biasa, karena ia Billie Bridgerton, dan semua orang tahu apa artinya itu.
Ia tahu apa artinya itu.
Tetapi di sini, di rumah formal di kota, dengan pelayan-pelayan tidak dikenal dan wanita-wanita bermulut masam datang berkunjung, ia seperti terhanyut. Memikirkan ulang setiap kata yang diucapkan.
Dan sekarang Lady Manston ingin menghadiri pesta dansa?
“Putri Ghislaine berusia delapan belas tahun, kurasa,” pikir Lady Manston, sambil membalik undangan dan melihat bagian belakangnya. “Mungkin sembilan belas. Usia untuk menikah.”
Billie menahan diri.
“Gadis manis. Begitu cantik dan lembut.” Lady Manston mendongak dengan senyum lebar dan menipu. “Apa sebaiknya aku berkeras agar George mau menemaniku? Sudah waktunya dia mulai mencari istri.”
__ADS_1
“Aku yakin dia akan senang,” sahut Billie diplomatis. Namun di kepalanya ia sudah menggambar putri Ghislaine yang cantik dengan tanduk dan garpu besar.
“Dan kau juga akan hadir.”
Billie mendongak, kaget. “Oh. kurasa tidak—”
“Kita harus membuatkanmu gaun.”
“Ini benar-benar tidak—”
“Dan sepatu, kurasa.”
“Tapi Lady Manston, aku—”
“Aku penasaran apa kita bisa tidak menggunakan rambut palsu. Rambut palsu bisa sulit dikenakan kalau kau tidak terbiasa.”
“Aku benar-benar tidak suka mengenakan rambut palsu,” kata Billie.
“Kalau begitu tidak perlu,” Lady Manston menyatakan, dan baru saat itu Billie menyadari betapa ia telah dimanipulasi dengan ahli.
Itu dua hari lalu. Dua hari dan lima kali pengepasan baju. Enam, kalau menghitung yang satu ini.
“Billie, tahan napasmu sebentar,” seru Lady Manston.
Billie menyipitkan mata mendengarnya. “Apa?” Sudah sangat sulit memusatkan perhatiannya ke hal lain selain dua penjahit yang saat ini menariknya ke sana kemari. Ia mendengar kebanyakan pembuat gaun memalsukan aksen Prancis mereka supaya terdengar lebih canggih, tapi dua penjahit ini sepertinya asli. Billie tidak memahami satu kata pun yang mereka ucapkan.
“Dia tidak mengerti bahasa Prancis,” kata Lady Manston kepada Crossy. “Aku tidak yakin apa yang ibunya pikirkan.” Dia menoleh lagi ke arah Billie. “Napasmu, Sayang. Mereka harus mengencangkan korsetmu.”
Billie menoleh ke dua asisten Crossy, yang menunggu dengan sabar di belakang, tali-tali korset di tangan. “Membutuhkan dua orang?”
“Ini korset yang sangat bagus,” kata Lady Manston.
“Zerbaik,” Crossy mengonfirmasi.
Billie mengembuskan napas.
“Tidak, ditarik,” Lady Manston mengarahkan. “Napas ditarik.”
Billie menurut, menarik perutnya ke dalam supaya kedua penjahit bisa melakukan tarikan-tarikan menyilang yang terkoreografi yang berakhir dengan punggung Billie melengkung dengan cara yang sama sekali baru. Pinggulnya mencuat ke depan, dan kepalanya seperti ditarik ke belakang dari lehernya. Ia tidak begitu yakin bagaimana ia seharusnya berjalan seperti ini.
“Rasanya tidak terlalu nyaman,” katanya.
“Benar.” Lady Manston terdengar tidak peduli. “Memang tidak.”
Salah satu wanita itu mengatakan sesuatu dalam bahasa Prancis kemudian mendorong bahu Billie ke depan dan perutnya ke belakang. “Meilleur?” dia bertanya.
Billie menelengkan kepala ke samping, kemudian memutar punggung sedikit ke kiri dan ke kanan. Lebih baik. Satu lagi aspek feminin wanita terhormat yang sama sekali tidak ia ketahui cara menjalaninya: mengenakan korset. Atau mungkin, mengenakan korset yang “bagus”. Rupanya korset-korset yang ia kenakan sebelumnya terlalu bebas.
“Terima kasih,” katanya kepada penjahit itu, kemudian berdeham. “Eh, merci.”
Billie mendongak gelisah. “Payu—”
“Hanya ada sedikit daging di sana,” Crossy menggeleng-geleng sedih.
Sudah cukup memalukan saat dadanya didiskusikan seperti sayap ayam, tapi kemudian Crossy memegangnya. Penjahit itu menoleh kepada Lady Manston. “Kita harus lebih mengangkatnya ke atas, tidakkah menurutmu begitu?”
Kemudian dia mendemonstrasikannya. Billie ingin mati saat itu juga.
“Hmmm?” Wajah Lady Manston mengerut saat mempertimbangkan letak payudara Billie. “Oh ya, kurasa kau benar. Payudaranya terlihat lebih baik di sana.”
“Aku yakin ini tidak perlu…” Billie memulai, tapi kemudian ia menyerah. Ia tak memiliki kekuasaan di sini.
Crossy mengatakan sesuatu dengan cepat dalam bahasa Prancis kepada para asistennya, dan sebelum Billie tahu apa yang terjadi, ia diikat dan diikat lagi, dan ketika ia menunduk, payudaranya jelas tidak berada di tempatnya semula beberapa saat sebelumnya.
“Jauh lebih bagus,” Crossy mengumumkan.
“Ya ampun,” gumam Billie. Kalau ia mengangguk dagunya bisa menyentuh payudaranya.
“Dia tidak akan bisa menolakmu,” Crossy memiringkan badan mendekat dengan kedipan mata penuh rahasia.
“Siapa?”
“Selalu ada seseorang,” Crossy tertawa kecil.
Billie mencoba tidak memikirkan George. Tapi ia tidak berhasil. Suka atau tidak, pria itu adalah seseorang miliknya.
.
SEMENTARA BILLIE MENCOBA tidak memikirkan George, George mencoba tidak memikirkan ikan. Ikan asap kering tepatnya.
Ia menghabiskan sebagian besar minggunya di Kantor Urusan Perang, mencoba mendapatkan informasi tentang Edward. Ini melibatkan beberapa kali makan bersama Lord Arbuthnot, yang sebelum terserang encok dianugerahi jabatan jenderal dalam Angkatan Darat Kerajaan. Encoknya sangat mengganggu—itu hal pertama yang pria itu katakan—tapi itu artinya dia kembali ke tanah Inggris, tempat seorang pria bisa menikmati sarapan layak setiap hari.
Lord Arbuthnot rupanya masih membayar tahun-tahun sarapan yang tak layak, karena ketika George bergabung dengannya untuk makan malam, meja dipenuhi dengan apa yang biasanya menjadi makanan pagi. Telur yang dimasak dengan tiga cara, daging asap, roti panggang. Dan ikan asap kering. Amat sangat banyak ikan asap kering.
George baru sekali bertemu tentara tua itu, tapi Arbuthnot bersekolah di Eton bersama ayah George, dan George dengan putra Arbuthnot, dan kalau ada koneksi yang lebih efektif untuk mengejar kebenaran, George tidak bisa membayangkan apa itu.
“Well, aku sudah bertanya-tanya,” kata Arbuthnot sambil mengiris sepotong ham dengan semangat pria berwajah kemerahan yang lebih suka berada di luar, “dan aku tidak bisa mendapatkan banyak informasi mengenai adikmu.”
“Tentunya seseorang pasti tahu di mana dia.”
“Koloni Connecticut. Hanya sampai di situ.”
Kedua tangan George mengepal di bawah meja. “Seharusnya Andrew tidak berada di Koloni Connecticut.”
__ADS_1
Arbuthnot mengunyah makanannya, kemudian menatap George dengan ekspresi licik. “Kau tak pernah menjadi prajurit, ya?”
“Dengan sangat menyesal.”
Arbuthnot mengangguk, jawaban George jelas mendapat persetujuannya. “Prajurit jarang berada di tempat yang seharusnya,” dia berkata. “Paling tidak, bukan prajurit seperti adikmu.”
George merapatkan bibir, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. “Sayangnya aku tidak memahami maksudmu.”
Arbuthnot bersandar ke belakang, merapatkan jemari kedua tangannya sambil mengamati George dengan mata menyipit serius. “Adikmu bukan calon perwira, Lord Kennard.”
“Tentunya seorang kapten masih harus mengikuti perintah.”
“Dan pergi ke mana dia diperintahkan untuk pergi?” kata Arbuthnot. “Tentu saja. Tapi bukan berarti dia berakhir di tempat yang ‘seharusnya’.”
George mengambil waktu untuk menyerap semua ini, kemudian berkata bingung, “Apa kau mencoba mengatakan Edward adalah mata-mata?”
Ini tak terduga. Spionase adalah urusan kotor. Pria seperti Edward mengenakan seragam merah mereka dengan bangga.
Arbuthnot menggeleng. “Tidak. Paling tidak kurasa tidak. Pekerjaan mata-mata itu sangat jelek reputasinya. Adikmu tidak perlu melakukannya.”
Dia tidak akan melakukannya, pikir George. Titik.
“Bagaimanapun, ini tidak masuk akal,” kata Arbuthnot tajam. “Apa kau sungguh-sungguh berpikir adikmu bisa terlihat seperti orang lain selain pria Inggris terhormat? Kurasa pemberontak tidak akan percaya putra seorang earl akan bersimpati dengan tujuan mereka.” Arbuthnot mengelap mulut dengan serbet dan meraih ikan asap kering. “Kurasa adikmu seorang pengintai.”
“Pengintai,” ulang George.
Arbuthnot mengangguk, kemudian menawarinya makanan. “Lagi?”
George menggeleng dan mencoba tidak meringis. “Tidak, terima kasih.”
Arbuthnot menggeram pendek dan memindahkan sisa ikan ke piringnya. “Ya Tuhan, aku suka sekali ikan asap kering,” dia mendesah. “Kau tak bisa mendapatkannya di Karibia. Tidak seperti ini.”
“Pengintai,” kata George sekali lagi, mencoba mengembalikan topik pembicaraan. Bagaimana pendapatmu soal ini?”
“Well, tidak ada yang memberitahuku sebanyak itu, dan sejujurnya aku tidak mengenal siapa pun yang memiliki keseluruhan cerita, tapi saat menyatukan potongan-potongannya… sepertinya sesuai.” Arbuthnot memasukkan ikan kering asap ke mulut dan mengunyah. “Aku bukan pria yang suka bertaruh, tapi kalau ya, aku akan mengatakan adikmu dikirim untuk mengetahui kondisi lapangan. Tidak ada banyak kejadian di Connecticut, tidak sejak hal itu dengan Siapanamanya Arnold di Ridgefield tahun ‘77.”
George tidak mengenal Siapanamanya Arnold, juga di mana letak Ridgefield.
“Ada beberapa pelabuhan bagus di pesisir itu,” Arbuthnot menjelaskan, kembali ke urusan serius memotong dagingnya. “Aku tidak akan terkejut kalau para pemberontak menggunakannya. Dan aku tidak akan terkejut kalau Kapten Rokesby dikirim untuk menyelidiki.” Dia mendongak, alis lebatnya bergerak mendekati mata saat dahinya berkerut. “Apa adikmu memiliki keahlian dalam membuat peta?”
“Setahuku tidak.”
Arbuthnot mengedikkan bahu. “Tidak berarti apa-apa kalau dia tidak bisa, kurasa. Mereka mungkin tidak mencari hal tertentu.”
“Tapi kalau begitu apa yang terjadi?” desak George.
Jenderal tua itu menggeleng. “Sayangnya aku tidak tahu, Nak. Dan aku akan berbohong kalau mengatakan aku telah menemukan seseorang yang mengetahuinya.”
George tidak mengharapkan jawaban, tidak juga, tapi tetap saja ini mengecewakan.
“Perjalanan ke Koloni begitu jauh, Nak,” kata Lord Arbuthnot dengan suara lembut yang mengejutkan. “Berita tidak pernah tiba secepat yang kita inginkan.”
George menerima hal ini dengan anggukan pelan. Ia harus mencoba kemungkinan penyelidikan yang lain, meskipun, ia sama sekali tidak tahu apa itu.
“Omong-omong,” Arbuthnot menambahkan, hampir dengan terlalu santai, “kau tidak berencana menghadiri pesta dansa Lady Wintour besok malam, ya?”
“Aku akan datang,” George mengonfirmasi. Ia tidak mau, tapi ibunya mengarang cerita kusut yang berakhir dengan dia harus menghadirinya. Dan sejujurnya, ia tidak tega mengecewakan ibunya. Tidak saat wanita itu masih begitu mencemaskan keadaan Edward.
Dan Billie. Gadis itu juga terjerat untuk menghadirinya. George telah melihat kepanikan di wajah Billie ketika ibunya menyeret gadis itu dari sarapan untuk mengunjungi modiste. Pesta dansa di London mungkin merupakan neraka pribadi untuk Billie Bridgerton, dan tidak mungkin George bisa meninggalkannya ketika gadis itu sangat membutuhkannya.
“Apa kau mengenal Robert Tallywhite?” tanya Lord Arbuthnot.
“Sedikit.” Tallywhite beberapa tahun di atasnya di Eton. Pria yang pendiam, seingat George. Berambut pirang dan berdahi tinggi. Kutu buku.
“Dia keponakan Lady Wintour dan pasti akan hadir. Kau akan sangat membantu kantor ini kalau kau meneruskan sebuah pesan.”
George mengangkat alis penuh tanya.
“Apa kau setuju?” tanya Lord Arbuthnot dengan nada datar.
George mengangguk mengiyakan.
“Katakan padanya… Kacang polong, bubur, dan puding.”
“Kacang polong, bubur, dan puding,” ulang George ragu.
Arbuthnot merobek roti panggangnya dan mencelupkannya ke dalam kuning telur. “Dia akan mengerti.”
“Apa artinya?”
“Apa kau harus tahu?” balas Arbuthnot.
George bersandar ke belakang, menatap Arbuthnot dengan tanpa ekspresi. “Ya, sebenarnya.”
Lord Arbuthnot terbahak. “Dan itu, anakku, adalah kenapa kau akan menjadi prajurit yang payah. Kau harus mengikuti perintah tanpa bertanya.”
“Tidak kalau akulah yang memberi perintah.”
“Benar sekali,” kata Arbuthnot tersenyum. Namun dia masih tidak menjelaskan maksud pesannya. Sebaliknya dia mengamati George dengan tatapan datar dan bertanya, “Apa kami bisa mengandalkanmu?”
Ini Kantor Urusan Perang, pikir George. Kalau ia meneruskan pesan, paling tidak ia tahu ia melakukannya untuk orang yang tepat.
Paling tidak dia tahu ia melakukan sesuatu.
__ADS_1
Ia menatap mata Arbuthnot dan berkata. “Bisa.”