KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 10


__ADS_3

IA NYARIS MENCIUMNYA.


Ya Tuhan, ia nyaris mencium Billie Bridgerton.


Ia harus keluar dari sini.


“Sudah siang,” sembur George.


“Apa?”


“Sudah siang. Aku harus pergi.”


“Belum siang,” kata Billie, mengerjap-ngerjap. Dia tampak bingung. “Apa yang kaubicarakan?”


Aku tidak tahu, George nyaris berkata.


Ia nyaris mencium Billie. Matanya jatuh ke mulut gadis itu dan ia mendengar deru napas dari bibirnya, dan George merasa ia maju ke depan, menginginkan…


Terbakar.


Ia berharap Billie tidak menyadarinya. Tentunya gadis itu belum pernah dicium. Dia tidak akan tahu apa yang terjadi.


Namun George menginginkannya. Demi Tuhan, ia menginginkannya. Hal itu menghantamnya seperti gelombang, menyelinap kemudian mengguyurnya begitu cepat dan keras sehingga ia tak mampu berpikir jernih.


Ia masih menginginkan Billie.


“George?” kata Billie. “Ada yang salah?”


Bibir George terbuka. Ia harus bernapas.


Billie mengamatinya dengan keingintahuan yang nyaris mendekati cemas. “Kau tadi memarahiku,” dia mengingatkan.


George cukup yakin otaknya belum kembali bekerja normal. Ia mengerjap-ngerjap, mencoba menyerap kata-kata Billie. “Apa kau mau aku melanjutkannya?”


Gadis itu menggeleng-geleng pelan. “Tidak juga.”


George menyugar rambut dan mencoba tersenyum. Ini yang terbaik yang bisa ia lakukan.


Dahi Billie berkerut prihatin. “Apa kau yakin kau baik-baik saja? Kau terlihat begitu pucat.”


Pucat? George merasa seperti sedang terbakar. “Maafkan aku,” katanya. “Kurasa aku sedikit—” Apa? Sedikit apa? Lelah? Lapar? Ia berdeham dan memutuskan: “Pening.”


Billie tampak tidak memercayai ucapannya. “Pening?”


“Datangnya tiba-tiba,” lanjut George. Itu benar.


Billie menunjuk tali bel. “Apa sebaiknya aku meminta sesuatu untuk kaumakan? Apa kau mau duduk?”


“Tidak, tidak,” sahut George bodoh. “Aku baik-baik saja.”


“Kau baik-baik saja,” ulang Billie, ketidakpercayaannya atas pernyataan ini bisa dikatakan memancar dari tubuhnya.


George mengangguk.


“Tidak lagi pening.”


“Tidak sama sekali.”


Billie menatapnya seolah ia sudah gila. Dan ini sangat mungkin. George tak bisa memikirkan penjelasan lain.


“Aku harus pergi,” katanya. Ia berbalik, berjalan menuju pintu. Ia harus segera keluar dari sana.


“George, tunggu!”


Nyaris sekali. Tapi George berhenti. Ia harus berhenti. Ia tak bisa meninggalkan ruangan ketika seorang wanita terhormat memanggil namanya, sama seperti ia tak bisa meludahi wajah raja. Ini telah ditanamkan sampai ke dalam dirinya.


Ketika berbalik ia melihat gadis itu sudah bergerak beberapa langkah lebih dekat. “Tidakkah sebaiknya kau menunggu Andrew?” tanya Billie.


George mengembuskan napas. Andrew. Tentu saja.


“Dia akan membutuhkan bantuan, bukan? Dengan kudanya?”


Sialan. George mengembuskan napas. “Aku akan menunggu.”


Billie menggigit bibir bawah. Sebelah kanan. Dia hanya menggigit yang sebelah kanan, George menyadari.


“Aku tak bisa membayangkan apa yang membuatnya pergi begitu lama,” Billie menoleh ke pintu.


George mengedikkan bahu.


“Mungkin dia tak bisa menemukan Thamesly.”


George mengedik sekali lagi.


“Atau mungkin ibuku mencegatnya. Dia bisa menyusahkan seperti itu.”


George mulai mengedik untuk ketiga kalinya, tersadar betapa bodohnya ia terlihat dan sebagai gantinya mengeluarkan jenis senyum siapa-yang-bisa-menduga.


“Well,” kata Billie, kelihatannya sudah kehabisan usul. “Hmmm.”


George menggenggam kedua tangannya di belakang. Melihat ke arah jendela. Ke dinding. Tapi bukan ke arah Billie. Ke mana saja asal jangan ke arah Billie.


Ia masih ingin menciumnya.


Gadis itu batuk-batuk. George berhasil melihat ke arah kakinya.


Ini canggung.


Gila.


“Mary dan Felix akan tiba dua hari lagi,” kata Billie.


George mendesak bagian di otaknya yang tahu bagaimana membuat percakapan. “Bukankah semua orang akan tiba dua hari lagi?”


“Well, tentu saja,” jawab Billie, entah bagaimana terdengar lega karena mendapat pertanyaan sungguhan untuk dijawab, “tapi mereka satu-satunya yang kupedulikan.”


George tersenyum tanpa sadar. Sungguh khas Billie untuk mengadakan pesta dan membenci setiap menitnya. Meskipun sebenarnya gadis itu tak punya banyak pilihan; mereka semua tahu pesta di rumah itu ide Lady Bridgerton.


“Apa daftar tamunya sudah final?” ia bertanya. Ia tahu jawabannya, tentu saja; daftar tamu telah dibuat sejak berhari-hari, dan undangan telah dikirimkan dengan pengirim pesan kilat dengan perintah untuk menunggu jawaban.


Namun ini kebisuan yang membutuhkan isi. Billie sudah tidak berada di sofa dengan bukunya dan George tidak berada di kursi dengan koran. Mereka tidak memiliki peralatan, tidak ada kecuali diri mereka, dan setiap kali ia menatap gadis itu, matanya jatuh ke bibir Billie, dan tidak ada—tidak ada yang bisa lebih salah lagi.


Billie bergerak tanpa tujuan ke arah meja tulis dan mengetukkan tangan ke meja. “Duchess of Westborough akan datang,” katanya. “Ibu senang sekali dia bersedia menerima undangan kami. Aku diberitahu bahwa itu sebuah kemenangan.”


“Seorang duchess selalu menjadi sebuah kemenangan,” sahut George masam, “dan biasanya juga sangat menyusahkan.”


Billie berbalik dan memandanginya. “Apa kau mengenalnya?”


“Kami pernah diperkenalkan.”


Ekspresi wajah Billie berubah sedih. “Kubayangkan kau sudah pernah diperkenalkan dengan semua orang.”


George memikirkannya. “Mungkin,” katanya. “Semua orang yang datang ke London, paling tidak.” Seperti kebanyakan pria di kedudukannya, George menghabiskan beberapa bulan setiap tahun di ibukota. Biasanya ia menikmatinya. Ia bertemu teman-teman, mencari tahu perkembangan terakhir urusan negara. Akhir-akhir ini ia mengamati beberapa calon pengantin; usaha yang jauh lebih membosankan daripada yang pernah ia antisipasi.


Billie menggigit bibir. “Apa dia sangat agung?”


“Sang duchess?”


Billie mengangguk.


“Tidak lebih agung daripada duchess lain.”


“George! Kau tahu bukan itu yang kutanyakan.”


“Ya,” sahut George, mengasihani gadis itu, “dia cukup agung. Tapi kau akan—” Ucapannya terhenti, dan ia menatap Billie. Sungguh-sungguh menatapnya, dan akhirnya menangkap bagaimana mata gadis itu kehilangan kilauannya yang biasa. “Apa kau gugup?”


Billie mengambil sehelai benang dari lengan gaunnya. “Jangan bodoh.”


“Karena—”


“Tentu saja aku gugup.”

__ADS_1


Itu mengagetkan George. Dia gugup? Billie?


“Apa?” tuntut gadis itu, melihat ketidakpercayaan di wajahnya.


George menggeleng-geleng. Billie mengaku gugup setelah semua hal yang dia lakukan… semua hal yang dia lakukan dengan seringai lebar di wajah… itu tak bisa dibayangkan.


“Kau melompat dari pohon,” akhirnya ia berkata.


“Aku jatuh dari pohon,” balas Billie ketus, “dan apa hubungannya dengan Duchess of Westborough?”


“Tidak ada,” aku George, “hanya saja sulit membayangkan kau gugup soal…” Ia merasa kepalanya menggeleng-geleng pelan dan samar, lalu kekaguman yang tak bisa ditahan bangkit dalam dirinya. Gadis itu tak mengenal takut. Dia tak pernah mengenal takut. “Soal apa pun,” ia menyelesaikan.


Bibir Billie merapat. “Apa kau pernah berdansa denganku?”


George ternganga kaget. “Apa?”


“Apa kau pernah berdansa denganku?” ulang Billie, suaranya mulai terdengar tidak sabar.


“Ya?” George mengatakannya dengan lambat-lambat, bertanya.


“Belum, kau belum pernah,” kata Billie.


“Itu tidak mungkin,” sahut George. Tentu saja ia pernah berdansa dengan Billie. Ia telah mengenal gadis itu seumur hidupnya.


Billie bersedekap.


“Kau tak bisa berdansa?” tanya George.


Gadis itu melontarkan tatapan jengkel. “Tentu saja aku bisa berdansa.”


George akan membunuhnya.


“Aku tidak terlalu pintar, tapi aku cukup pintar, kurasa,” lanjut Billie. “Bukan itu intinya.”


George cukup yakin mereka sampai di titik tempat apa pun tidak ada intinya.


“Intinya, kau tak pernah berdansa denganku karena aku tidak pergi ke pesta dansa,” Billie melanjutkan.


“Mungkin seharusnya kau melakukannya.”


Billie merengut keras. “Aku tidak meluncur saat aku berjalan, dan aku tak tahu cara menggoda, dan terakhir kali mencoba menggunakan kipas aku menusuk mata seseorang.” Dia bersedekap. “Aku jelas tidak tahu cara membuat pria merasa pintar, kuat, dan lebih baik dariku.”


George terkekeh. “Aku cukup yakin Duchess of Westborough itu perempuan.”


“George!”


George terenyak, kaget. Billie benar-benar kesal. “Maafkan aku,” katanya, dan mengamati gadis itu dengan hati-hati, bahkan waspada. Billie tampak ragu-ragu, mencubit-cubit lipatan roknya dengan gugup. Dahinya berkerut sedih. George tak pernah melihatnya seperti ini.


Ia tidak mengenal gadis ini.


“Aku tidak bisa bergaul dengan baik dalam acara-acara resmi,” kata Billie dengan nada rendah. “Aku tidak—aku tidak pintar melakukannya.”


George tahu sebaiknya ia tidak membuat lelucon lain, tapi ia tidak tahu kata-kata seperti apa yang Billie butuhkan. Bagaimana seseorang menenangkan angin puyuh? Meyakinkan gadis yang melakukan semuanya dengan baik kemudian melakukan semuanya lagi dari belakang untuk bersenang-senang? “Kau melakukannya dengan sempurna saat makan malam di Crake,” ujarnya, meskipun ia tahu bukan ini yang Billie bicarakan.


“Itu tidak masuk hitungan,” sahut Billie tak sabar.


“Saat kau berada di desa…”


“Sungguh? Kau akan membandingkan penduduk desa dengan duchess? Lagi pula, aku sudah mengenal para penduduk desa seumur hidupku. Mereka mengenalku.”


George berdeham. “Billie, kau wanita paling percaya diri dan kompeten yang pernah kukenal.”


“Aku membuatmu gila,” sahut Billie apa adanya.


“Benar,” George menyetujui, meskipun kegilaan itu telah mengambil warna yang berbeda dan mengganggu akhir-akhir ini. “Tapi,” ia melanjutkan, mencoba mengucapkan kata-katanya dengan urutan yang benar, “kau seorang Bridgerton. Putri seorang viscount. Tidak ada alasan mengapa kau tak bisa mengangkat kepalamu tinggi-tinggi di ruangan mana pun di negeri ini.”


Billie mendengus menyangkal. “Kau tidak mengerti.”


“Kalau begitu buat aku mengerti.” Yang membuat George begitu terkejut, ia menyadari dirinya bersungguh-sungguh.


Billie tidak langsung menjawab. Dia bahkan tidak memandang George. Billie masih bersandar ke meja, dan matanya seolah terkunci ke kedua tangannya. Dia mendongak, singkat, dan terpikir oleh George bahwa Billie sedang mencoba memastikan apakah kata-katanya tulus.


Namun itu berubah. Itu telah berubah seminggu terakhir ini. George tidak tahu kenapa; tak satu pun dari mereka telah berubah.


Rasa hormatnya untuk wanita itu tidak lagi ia rasakan dengan enggan. Oh, ia masih berpikir Billie terlalu keras kepala dan sangat ceroboh, tapi di balik itu semua, hatinya tulus.


George merasa ia selalu mengetahuinya. Hanya saja ia terlalu sibuk merasa jengkel dengan Billie sehingga tak menyadarinya.


“Billie?” katanya pelan, suaranya mendesak dengan lembut.


Billie mendongak, satu sudut mulutnya melengkung sedih. “Ini bukan soal mengangkat kepalaku tinggi-tinggi.”


George memastikan untuk membuang sedikit saja nada tidak sabar dari suaranya ketika bertanya, “Kalau begitu apa masalahnya?”


Billie menatap George untuk waktu yang lama, bibirnya terkatup rapat, sebelum berkata, “Apa kau tahu aku diperkenalkan di istana?”


“Kukira kau tidak mengikuti Season.”


“Memang tidak” —Billie berdeham—”setelah itu.”


George meringis. “Apa yang terjadi?”


Billie tidak melihat ke arahnya saat menjawab, “Aku mungkin membuat gaun seseorang terbakar.”


George nyaris kehilangan keseimbangan. “Kau membakar gaun orang lain?”


Billie menunggu dengan kesabaran yang dilebih-lebihkan, seolah ia pernah mengalami percakapan ini dan tahu persis berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.


George tertegun menatapnya, tercengang. “Kau membakar gaun seseorang.”


“Tidak sengaja,” kata Billie tajam.


“Well,” mau tak mau George terkesan, “kurasa kalau ada yang akan—”


“Jangan katakan,” Billie memberi peringatan.


“Bagaimana mungkin aku tidak mendengar soal ini?” ia bertanya-tanya.


“Apinya sangat kecil,” sahut Billie, sedikit kaku.


“Tapi tetap saja…”


“Sungguh?” tuntut Billie. “Aku membakar gaun seseorang, dan pertanyaan terbesarmu adalah bagaimana kau bisa melewatkan gosipnya?”


“Maafkan aku,” kata George cepat-cepat, tapi kemudian ia tak bisa menahan diri dari bertanya dengan agak berhati-hati, “Apa kau mengundangku untuk bertanya bagaimana kau bisa membakar gaunnya?”


“Tidak, dan bukan karena itu aku mengatakannya,” sahut Billie jengkel.


Keinginan pertama George adalah menggoda Billie lebih jauh, tapi kemudian gadis itu mendesah, dan suaranya terdengar begitu lelah serta putus asa sehingga rasa geli George meluncur pergi. “Billie,” katanya dengan lembut sekaligus penuh simpati, “kau tak bisa—”


Tapi Billie tidak membiarkannya menyelesaikan kalimatnya. “Aku tidak sesuai dengan statusku, George.”


Benar, memang tidak. Dan bukankah George juga berpikir hal yang sama beberapa hari yang lalu? Kalau Billie pergi ke London untuk musim pesta bersama saudara perempuannya, itu akan menjadi bencana sempurna. Semua hal yang membuat gadis itu hebat dan kuat akan menjadi kejatuhannya di dunia kalangan atas yang eksklusif.


Mereka akan menggunakannya sebagai target latihan.


Tidak semua lord dan lady di masyarakat kalangan atas kejam. Tetapi mereka yang kejam… kata-kata mereka adalah senjata, dan mereka menggunakannya seperti bayonet.


“Kenapa kau memberitahu hal ini kepadaku?” tiba-tiba ia bertanya.


Bibir Billie terbuka, dan kilasan sakit melesat di matanya.


“Maksudku, kenapa aku?” kata George cepat-cepat, kalau-kalau Billie mengira ia tidak cukup peduli untuk mendengarnya. “Kenapa bukan Andrew?”


Billie tidak mengatakan apa-apa. Tidak dengan segera, kemudian—”Entahlah. Aku tidak… Andrew dan aku tidak membicarakan hal-hal semacam itu.”


“Mary akan segera tiba,” kata George, mencoba membantu.


“Demi Tuhan, George,” Billie nyaris membentaknya, “kalau kau tidak mau berbicara denganku, kau bisa mengatakannya.”


“Tidak,” ia menyambar pergelangan tangan Billie sebelum gadis itu sempat pergi. “Bukan itu maksudku. Aku senang berbicara denganmu,” ia memastikan. “Aku senang bisa mendengarkan. Aku hanya berpikir kau lebih suka memiliki seseorang yang…”

__ADS_1


Billie memandanginya, menunggu. Tapi George tak bisa membuat dirinya mengatakan kata-kata yang berada di ujung lidahnya.


Seseorang yang peduli.


Karena itu menyakitkan. Dan itu picik. Dan di atas itu semua, itu tidak benar.


Ia peduli.


Ia… sangat peduli.


“Aku akan…” Kata-katanya berangsur-angsur menghilang, tersesat dalam pikirannya yang berkecamuk, dan yang bisa ia lakukan hanyalah menatap gadis itu. Menatap Billie yang sedang memandanginya sementara ia mencoba mengingat cara berbicara dengan bahasa ibunya, mencoba memikirkan kata-kata yang tepat, kata-kata mana yang menenangkan. Karena Billie terlihat sedih. Dan dia terlihat gelisah. Dan George benci melihatnya.


“Kalau kau mau,” katanya, cukup pelan untuk memberi dirinya waktu memilah pikirannya sambil berkata, “aku akan mengawasimu.”


Billie mengamati dengan waspada. “Apa maksudmu?”


“Memastikan kau…” George membuat gerakan di udara dengan kedua tangan, bukan berani mereka berdua memahaminya. “Kau… baik-baik saja.”


“Aku baik-baik saja?” ulang Billie.


“Entahlah,” George frustrasi dengan ketidakmampuannya untuk menyusun pikirannya, apalagi menerjemahkannya menjadi kalimat. “Hanya bila kau membutuhkan teman, aku akan ada di sana.”


Mulut Billie terbuka, dan George melihat gerakan di leher gadis itu, semua kata-katanya terjebak di sana, seluruh emosinya di bawah kendali.


“Terima kasih,” kata Billie. “Kau…”


“Jangan katakan aku baik sekali,” perintahnya.


“Kenapa tidak?”


“Karena ini bukan kebaikan. Ini… aku tak tahu apa ini,” kata George tak berdaya. “Tapi ini bukan kebaikan.”


Bibir Billie bergetar saat tersenyum. Senyum jail. “Baiklah,” katanya. “Kau tidak baik.”


“Tidak pernah.”


“Boleh kusebut kau egois?”


“Itu terlalu jauh.”


“Congkak?”


George melangkah ke arahnya. “Kau memaksakan keberuntunganmu, Billie.”


“Arogan.” Billie berlari mengitari meja, tertawa sambil membuat jarak di antara mereka berdua menggunakan meja. “Ayolah, George. Kau tak bisa menyangkal arogan.”


Sesuatu yang nakal bangkit dalam diri George. Sesuatu yang nakal dan panas. “Kalau begitu harus kusebut apa kau?”


“Brilian?”


George bergerak lebih dekat. “Bagaimana dengan menjengkelkan?”


“Ah, tapi itu pendapat masing-masing.”


“Sembrono,” katanya.


Billie pura-pura bergerak ke kiri saat George pura-pura ke kanan. “Bukan sembrono, kalau kau tahu apa yang kaulakukan.”


“Kau jatuh dari atap,” George mengingatkan.


Billie tersenyum nakal. “Kupikir tadi kau bilang aku melompat.”


George menggeram ke arah gadis itu dan menerjang, mengejar saat Billie memekik, “Aku mencoba menyelamatkan kucing itu! Aku mencoba bersikap mulia!”


“Akan kutunjukkan seperti apa mulia itu…”


Billie menjerit dan melompat mundur.


Langsung ke rumah kartu.


Dan rumah itu ambruk, tidak dengan anggun.


Begitu juga Billie, sebenarnya. Saat semua berakhir, dia terduduk di atas meja, puing-puing mahakarya Andrew berceceran di sekitar seolah kembang api Cina dinyalakan di bawahnya.


Dia mendongak dan berkata dengan suara lirih, “Kurasa kita berdua tak bisa mendirikannya lagi.”


Tanpa suara, George menggeleng.


Billie menelan ludah. “Kurasa mungkin aku membuat pergelangan kakiku terkilir lagi.”


“Parah?”


“Tidak.”


“Kalau begitu kusarankan kau memulai dengan itu saat Andrew kembali,” George berkata.


Dan tentu saja saat itulah Andrew melangkah melewati pintu.


“Aku melukai pergelangan kakiku,” Billie hampir berteriak. “Rasanya sakit sekali.”


George harus berbalik. Hanya itu satu-satunya cara agar tidak tertawa.


Andrew hanya tertegun. “Lagi,” akhirnya dia berkata. “Kau melakukannya lagi.”


“Tadinya rumah itu bagus sekali,” kata Billie lemah.


“Kurasa itu bakat,” kata Andrew.


“Oh, benar sekali,” sahut Billie cerah. “Kau brilian saat melakukannya.”


“Tidak, maksudku kau.”


“Oh.” Billie menelan ludah—harga dirinya, kemungkinan besar—dan tersenyum dengan susah payah. “Well, ya. Tidak ada gunanya melakukan sesuatu kalau kau tak bisa melakukannya dengan baik, tidakkah kau setuju?”


Andrew tidak mengatakan apa-apa. George merasakan dorongan untuk menepukkan kedua tangan di depan wajah adiknya. Hanya untuk memastikan Andrew tidak sedang mengigau.


“Aku benar-benar minta maaf,” kata Billie. “Aku akan memperbaikinya untukmu.” Dia mendorong dirinya dari meja dan dengan terpincang-pincang mencoba berdiri. “Meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya.”


“Itu salahku,” kata George tiba-tiba.


Billie berbalik ke arahnya. “Kau tak perlu menanggung kesalahan.”


George mengangkat kedua tangannya untuk memohon. “Aku tadi mengejarmu.”


Itu membangunkan Andrew. “Kau mengejarnya?”


Sialan. Ia tidak memikirkannya masak-masak. “Tidak secara langsung,” jawab George.


Andrew berbalik ke Billie. “Dia mengejarmu?”


Billie tidak merona, tapi ekspresi wajahnya berubah malu-malu. “Aku mungkin entah bagaimana telah memancing…”


“Memancing?” dengus George. “Kau?”


“Memang salah kucing itu,” balasnya. “Aku tidak akan pernah jatuh kalau pergelangan kakiku tidak begitu lemah.” Dahinya berkerut serius. “Aku mungkin akan menyalahkan binatang kotor itu untuk apa pun mulai sekarang.”


“Apa yang terjadi di sini?” tanya Andrew, kepalanya bergerak perlahan-lahan dari Billie ke George dan kembali lagi. “Kenapa kalian berdua tidak saling membunuh?”


“Karena masalah kecil dengan tiang gantungan.”


“Belum lagi ibumu akan sangat jengkel,” Billie menambahkan.


Andrew hanya terus memandangi mereka, mulutnya ternganga. “Aku mau pulang,” akhirnya dia berkata.


Billie terkikik.


Dan George… napasnya tercekat. Karena ia sudah pernah mendengar Billie terkikik. Sudah ribuan kali ia mendengarnya. Namun kali ini berbeda. Kedengarannya persis sama, tetapi ketika tawa ringan itu sampai ke telinganya…


Itu suara terindah yang pernah ia dengar.


Dan mungkin paling mengerikan. Karena ia tahu apa artinya. Dan kalau ada orang di dunia yang tidak akan membuatnya jatuh cinta, itu adalah Billie Bridgerton

__ADS_1


__ADS_2