KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 17


__ADS_3

IA MENCIUM BILLIE.


Ini definisi sesungguhnya dari kegilaan.


Ia mencium Billie Bridgerton, gadis terakhir di dunia yang dapat ia impikan, tapi demi Tuhan, ketika Billie mendelik ke arahnya, dan dagu gadis itu mencuat serta bergetar, yang bisa George lihat hanya bibir gadis itu dan yang bisa ia cium hanya aroma tubuhnya.


Dan yang bisa ia rasakan hanya panas kulit Billie di bawah jemarinya, dan ia menginginkan lebih. Lebih daripada itu.


Lebih banyak Billie.


Tangannya yang satu lagi melingkari tubuh Billie dengan kecepatan mencengangkan, dan George tidak berpikir, ia tak bisa berpikir. Ia hanya menarik Billie mendekat, erat, kemudian menciumnya.


Ia ingin melahap Billie.


Ia ingin memilikinya.


Ia ingin merengkuh Billie dalam pelukan dan mendekapnya erat serta menciumnya sampai akhirnya gadis itu mendapatkan kembali akal sehatnya, sampai dia berhenti melakukan hal-hal gila dan berhenti mengambil risiko gila, dan mulai bertingkah seperti wanita yang seharusnya sembari masih menjadi dirinya sendiri dan—


George tak bisa berpikir. Pikirannya campur-aduk, tercabik-cabik oleh panasnya momen itu.


Lagi… benaknya memohon. Lagi adalah satu-satunya hal yang masuk akal baginya. Lebih banyak hal ini. Lebih banyak Billie.


George menangkup wajah Billie dengan kedua tangan, menahannya. Tapi gadis itu tidak bisa diam. Bibirnya bergerak di bawah bibir George, memberi ciuman balasan dengan gairah khas gadis itu. Dia berkuda dengan kencang dan bermain dengan sepenuh hati dan demi Tuhan dia mencium dengan cara yang sama. seolah George adalah kemenangannya dan Billie akan menikmatinya.


Semua begitu gila, begitu salah namun terasa nikmat dan sempurna. Seolah setiap sensasi di dunia dibungkus menjadi satu wanita, dan George takkan pernah puas merasakannya. Saat itu, di kamar itu, ia takkan pernah puas.


Telapak tangan George bergerak ke bahu Billie, kemudian ke punggung, menarik Billie lebih dekat sampai pinggulnya menekan perut gadis itu. Tubuh Billie kecil, dan dia kuat, tapi dia memiliki lekukan-lekukan di semua tempat terbaik.


George bukan biarawan. Ia pernah mencium wanita, wanita yang tahu cara membalas ciumannya. Namun ia tak pernah menginginkan seseorang sebesar ia menginginkan Billie. Ia tak pernah menginginkan apa pun sebesar ciuman ini.


Ciuman ini… dan semua yang mungkin mengikuti setelahnya.


“Billie,” George mengerang. “Billie.”


Billie mengeluarkan suara. Mungkin nama George. Dan entah bagaimana hanya itu yang dibutuhkan.


Ya Tuhan. Kesadaran menghantam George. Otaknya terjaga dan kewarasannya kembali. Ia terhuyung mundur, arus listrik yang tadinya memercik begitu panas di antara mereka kini menyentaknya menjauh.


Apa yang baru saja terjadi?


George menarik napas. Tidak, ia mencoba menarik napas. Itu dua hal yang sepenuhnya berbeda.


Billie bertanya apa yang George inginkan.


Dan George menjawab. Ia menginginkan Billie. Ia bahkan tak perlu berpikir soal itu.


Jelas, ia tidak berpikir soal itu, karena kalau ya, ia tidak akan melakukannya.


George melarikan sebelah tangan ke kepala. Kemudian satu lagi. Kemudian ia menyerah dan menjambak rambutnya, menarik kulit kepalanya sampai ia menggeram kesakitan.


“Kau menciumku,” kata Billie, dan George memiliki cukup akal sehat untuk tidak berkata gadis itu balas menciumnya. Karena ia yang memulainya. Ia memulainya, dan mereka berdua tahu Billie tidak akan pernah melakukannya.


George menggeleng-geleng, gerakan kecil tanpa berpikir yang tidak berhasil menjernihkan kepalanya. “Maafkan aku,” katanya kaku. “Itu bukan—maksudku—”


Ia mengumpat. Kelihatannya hanya sampai di sini pemahamannya.


“Kau menciumku,” kata Billie lagi, dan kali ini dia terdengar curiga. “‘Kenapa—”


“Aku tidak tahu,” sahut George tajam. Ia memaki lagi, menyurukkan tangan ke rambut sambil berbalik memunggungi Billie. Sialan. Sial, sial


Ia menelan ludah. “Itu kesalahan,” katanya.


“Apa?”


Hanya satu kata. Sama sekali tidak cukup untuk George bisa mengartikan nada suara Billie. Mungkin sebaiknya begitu. Ia berbalik, memaksa dirinya menatap Billie sementara di saat yang sama tidak mengizinkan dirinya untuk melihat.


Ia tidak mau melihat raksi Billie. Ia tidak mau tahu apa yang Billie pikirkan tentang dirinya. “Itu kesalahan,” katanya, karena itulah yang harus ia katakan. “Apa kau mengerti?”


Mata Billie menyipit. Wajahnya menegang. “Sangat.”


“Demi Tuhan, Billie, jangan tersinggung—”


“Jangan tersinggung? Jangan tersinggung? Kau—” Billie menghentikan diri, melemparkan lirikan sembunyi-sembunyi ke arah pintu yang terbuka, dan merendahkan suaranya menjadi desisan marah. “Bukan aku yang memulai.”


“Aku sangat menyadarinya.”


“Apa yang kaupikirkan?”


“Jelas, aku tidak berpikir,” sahut George ketus.


Mata Billie membelalak, berkilat dengan rasa sakit, kemudian ia berbalik, memeluk tubuhnya sendiri.


Dan George akhirnya tahu apa arti sesungguhnya dari penyesalan. Ia mengembuskan napas gemetar, melarikan tangan ke rambutnya. “Maafkan aku,” katanya. untuk kedua kalinya dalam waktu beberapa menit. “Aku akan menikahimu, tentu saja.”


“Apa?” Billie langsung berputar. “Tidak.”


George berubah tegang. Rasanya seolah seseorang telah mengambil tongkat besi dan menjejalkannya ke punggungnya. “Apa kaubilang?”


“Jangan bodoh, George. Kau tidak mau menikahiku.”


Itu benar, tapi George tidak cukup bodoh untuk mengatakannya keras-keras.


“Dan kau tahu aku tidak mau menikah denganmu.”


“Seperti yang kaukatakan dengan sangat jelas.”


“Kau hanya menciumku karena kau sedang kesal.”


Itu tidak benar, namun George terus bungkam.


“Jadi aku menerima permintaan maafmu.” Dagu Billie diangkat. “Dan kita tidak akan pernah membicarakannya lagi.”


“Setuju.”


Mereka berdiri di sana beberapa saat, membeku dalam tablo yang begitu janggal. George seharusnya melompat kegirangan. Gadis muda mana pun pasti sudah menjerit kencang. Atau mencari ayahnya. Dan pendeta. Dan izin khusus yang dijalin membentuk jerat. Tapi tidak Billie. Tidak, Billie hanya menatapnya dengan keangkuhan yang nyaris abnormal dan berkata, “Kuharap kau akan menerima permintaan maafku.”


“Permintaan—” Apa? George menganga. Untuk apa Billie meminta maaf? Atau dia hanya mencoba berada di atas angin? Dia selalu tahu cara untuk mengguncang George.


“Bukan berarti aku bisa berpura-pura aku tidak membalas… eh…” Billie menelan ludah, dan George merasakan sedikit kesenangan dari kenyataan bahwa wajah Billie merona sebelum menyelesaikan kalimatnya. “Itu… eh…”


Ia merasakan banyak kesenangan dari kenyataan bahwa Billie sama sekali tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.


“Kau menyukainya,” katanya dengan senyum pelan. Sungguh tidak bijaksana untuk mendorong Billie di momen seperti ini, namun George tak bisa menahan diri.


Billie bergerak-gerak gelisah. “Semua orang harus merasakan ciuman pertama.”


“Kalau begitu aku merasa terhormat,” kata George sambil membungkuk sopan.


Bibir Billie terbuka kaget, mungkin bahkan ketakutan. Bagus. George telah membalikkan keadaan.


“Aku tidak mengharapkan orangnya adalah kau, tentu saja,” kata Billie.


George menelan kejengkelannya dan sebagai gantinya bergumam, “Mungkin kau mengharapkan orang lain?”


Billie mengedikkan bahu dengan kaku. “Tidak ada orang tertentu.”


George memilih untuk tidak menganalisis semburan kesenangan yang menderu ke sekujur tubuhnya berkat pernyataan tersebut.


“Kurasa aku selalu berpikir salah satu adikmu akan menjadi orangnya,” Billie melanjutkan. “Andrew, mungkin-”


“Bukan Andrew,” potong George tajam.


“Tidak, mungkin tidak,” Billie menyetujui, kepalanya ditelengkan ke samping saat dia memikirkannya. “Tapi dulu sepertinya mungkin.”


George memandangi gadis itu dengan kejengkelan yang meningkat. Sementara Billie tak sepenuhnya tidak terpengaruh dengan situasi ini, dia jelas tidak seterpengaruh yang George pikir.


“Itu tidak akan sama,” ia mendengar dirinya berkata.


Billie mengerjap. “Apa?”


“Kalau kau mencium orang lain.” Ia melangkah maju, tak bisa mengabaikan bagaimana darahnya berdengung penuh antisipasi. “Itu tidak akan sama.”


“Well…” Billie tampak bingung, dengan begitu menyenangkan. “Kurasa tidak,” akhirnya dia berkata. “Maksudku… orang yang berbeda…”

__ADS_1


“Sangat berbeda,” George menyetujui.


Billie ternganga, dan beberapa detik berlalu sebelum kata-kata muncul. “Aku tidak yakin dengan siapa kau membandingkan dirimu sendiri.”


“Dengan siapa pun.” George bergerak semakin dekat. “Semua orang.”


“George?” Mata Billie tampak besar, tapi dia tidak mengatakan tidak.


“Apa kau mau aku menciummu lagi?” George bertanya.


“Tentu saja tidak.” namun Billie mengucapkannya terlalu cepat.


“Apa kau yakin?”


Billie menelan ludah. “Itu ide yang sangat buruk.”


“Sangat buruk,” sahut George lembut.


“Jadi kita… sebaiknya tidak?”


George menyentuh pipi Billie, dan kali ini ia membisikkannya. “Apa kau mau aku menciummu lagi?”


Billie bergerak… sedikit. George tidak bisa mengatakan apakah gadis itu menggeleng untuk mengatakan ya atau tidak. Ia merasa gadis itu juga tidak tahu.


“Billie?” ia bergumam, sudah cukup dekat sehingga napasnya dibisikkan ke kulit Billie.


Napas Billie tercekat, dan dia berkata, “Kubilang aku tidak akan menikah denganmu.”


“Benar.”


“Well, kubilang kau tidak perlu menikahiku.”


George mengangguk.


“Itu masih berlaku.”


“Kalau aku menciummu lagi?”


Billie mengangguk.


“Jadi ini tidak berarti apa-apa?”


“Tidak…”


Sesuatu yang hangat dan indah terbentang di dada George. Ini tidak akan pernah tidak berarti apa-apa. Dan Billie tahu itu.


“Ini hanya berarti…” Billie menelan ludah, bibirnya bergetar saat dirapatkan. “…bahwa tidak ada konsekuensi.”


George menyapukan bibir ke pipi gadis itu. “Tidak ada konsekuensi,” ulangnya lembut.


“Tidak ada.”


“Aku bisa menciummu lagi…” Tangan George bergerak ke bokong Billie, namun ia hanya memberikan tekanan kecil. Billie bisa menjauh kapan saja. Dia bisa melepaskan diri dari pelukannya, melintasi ruangan, dan pergi. George ingin Billie tahu itu. Ia perlu mengetahui bahwa Billie tahu ini. Tidak akan ada tuduhan, tidak ada kata-kata kepada diri Billie sendiri bahwa dia terhanyut oleh gairah George.


Kalau Billie terhanyut gairah, itu adalah gairahnya sendiri.


Bibir George menyentuh telinga gadis itu. “Aku bisa menciummu lagi,” ulangnya.


Billie mengangguk kecil. Anggukan kecil. Namun George merasakannya. “Lagi,” bisik Billie.


Gigi George menemukan daun telinga Billie dan menggigitnya lembut. “Dan lagi.”


“Kupikir—”


“Apa yang kaupikirkan?” George tersenyum di atas kulit gadis itu. Ia tak percaya betapa menyenangkan rasanya. Ia mengenali ciuman penuh gairah, ciuman dengan gairah menggelegak, liar, dan penuh rasa lapar. Ciuman ini adalah semua itu, tapi ada sesuatu yang lebih.


Sesuatu yang menggembirakan.


“Kupikir…” Billie menelan ludah. “Kupikir kau sebaiknya menciumku lagi.” Dia mendongak, matanya tampak jernih. “Dan kupikir kau sebaiknya menutup pintu.”


George tak pernah bergerak secepat itu dalam hidupnya. Ia sempat berpikir untuk mendorong kursi ke bawah pegangan pintu hanya untuk menjaga benda terkutuk itu tetap tertutup.


“Ini masih tidak berani apa-apa,” kata Billie sementara kedua lengan George memeluknya.


“Tapi tidak ada konsekuensi.”


“Tidak ada.”


“Kau tidak perlu menikahiku.”


“Tidak perlu.”


Tapi bisa saja. Pikiran tersebut melesat di benak George secara mengejutkan dan terasa hangat. Ia bisa menikahi gadis itu. Tidak ada alasan mengapa tidak bisa.


Kewarasannya, mungkin. Tapi ia merasa telah kehilangan kewarasannya begitu bibirnya menyentuh bibir Billie.


Billie berjinjit, dan mengangkat wajah. “Kalau kau ciuman pertamaku,” katanya, bibirnya melengkung dengan ekspresi jail samar, “mungkin sekalian saja kau menjadi yang kedua.”


“Mungkin yang ketiga,” sahut George, dan menangkap bibir gadis itu dengan bibirnya.


“Penting untuk diketahui,” sahut Billie, yang hanya berhasil mengucapkan tiga kata tersebut di antara ciuman-ciuman.


“Untuk diketahui?” Bibir George bergerak ke leher Billie, membuat tubuh gadis itu melengkung menggoda dalam pelukannya.


Billie mengangguk, terengah saat salah satu tangan George bergerak sepanjang tulang rusuknya. “Cara mencium,” dia mengklarifikasi. “Itu sebuah keahlian.”


George merasa dirinya tersenyum. “Dan kau suka menjadi ahli.”


“Benar.”


George mencium leher Billie, kemudian tulang selangkanya, berterima kasih untuk model leher gaun saat ini, bulat dan dalam, menampakkan kulit sehalus krim dari bahu sampai ke bagian atas payudara. “Aku meramalkan hal-hal besar untukmu.”


Satu-satunya jawaban Billie adalah suara terengah kaget. Karena apa, George tidak yakin—mungkin lidahnya, yang dijentikkan di sepanjang kulit sensitif yang mengintip dari pinggiran berenda gaun. Atau mungkin giginya, yang menggigit lembut di sepanjang sisi leher Billie.


George tidak berani menjatuhkan Billie ke sofa panjang; ia tidak memercayai dirinya sendiri sejauh itu. Tapi ia bisa mendorongnya sampai Billie bersandar ke sofa, mengangkatnya sedikit dan mendudukkannya di atas sandaran sofa.


Dan astaga, Billie tahu secara naluriah apa yang harus dilakukan. Kedua kakinya dibuka, dan ketika George mengangkat roknya, Billie mengaitkan kedua kaki ke tubuh George. Mungkin hanya untuk keseimbangan, tapi saat George merapatkan tubuh, gadis itu tidak peduli. Rok Billie masih menghalangi, begitu juga celananya. namun George bisa merasakannya. George begitu bergairah dan ia menekan tubuhnya ke Billie, tubuhnya mengetahui ke mana ia ingin pergi. Billie gadis desa; dia pasti tahu apa artinya ini, namun dia tersesat dalam gairah yang sama, dan dia menarik George lebih dekat.


Astaga, kalau terus seperti ini George akan mempermalukan diri sendiri seperti bocah yang tak berpengalaman.


Ia menarik napas. “Ini terlalu kuat,” ia terengah, dan memaksa dirinya menjauh.


“Tidak,” hanya itu yang Billie katakan, tapi kedua tangannya bergerak ke kepala George, membiarkan George menciumnya bahkan saat ia memberi sedikit jarak di antara tubuh mereka berdua.


Maka George menciumnya. Ia menciumnya tanpa henti. I mencium Billie dengan hati-hati, mengitari batas gairahnya sendiri, terlalu menyadari betapa dekat dirinya dengan batas kesadaran.


Dan ia mencium Billie dengan lembut, karena ini Billie, dan entah bagaimana ia tahu tidak ada yang pernah berpikir untuk bersikap lembut dengan gadis itu.


“George,” kata Billie.


George mengangkat bibirnya dari bibir Billie, hanya sedikit, hanya setiupan napas. “Hmmm.”


“Kita harus… kita harus berhenti.”


“Mmmm,” ia setuju. Tapi ia tidak berhenti. Ia bisa saja berhenti; ia memiliki kendali atas gairahnya sekarang. Tapi ia tidak mau.


“George,” kata Billie lagi. “Aku mendengar suara orang-orang. “


George mundur. Mendengarkan.


Ia mengumpat.


“Buka pintunya,” desis Billie.


George melakukannya. Dengan sigap. Pintu yang tertutup selalu membangkitkan kecurigaan. Ia menoleh ke arah Billie. “Kau mungkin…” Ia berdeham dan membuat gerakan di dekat kepalanya. “Kau mungkin mau…”


George bukan ahlinya dalam gaya rambut wanita, tapi ia cukup yakin rambut Billie tidak terlihat seperti seharusnya.


Billie memucat dan dengan panik merapikan rambutnya, jemarinya yang cekatan menarik jepit-jepit rambut kemudian menusukkannya kembali ke tempatnya. “Lebih baik?”


George meringis. Ada bagian di belakang telinga kanan Billie tempat rambut cokelatnya terlihat seperti mencuat keluar dari kepala.


Mereka mendengar suara di selasar. “George?”

__ADS_1


Ibunya. Ya Tuhan.


“George!”


“Di ruang duduk, Ibu,” balas George, dan berjalan ke ambang pintu. Paling tidak ia bisa menahannya di selasar selama beberapa detik. Ia menoleh ke arah Billie, berbagi satu lirikan mendesak terakhir. Billie menurunkan kedua tangan dari rambutnya dan dibuka, seolah berkata, “Bagaimana?”


Tak ada lagi yang bisa dilakukan.


“Ibu,” George melangkah ke selasar. “Kau sudah bangun.”


Ibunya menawarkan pipinya, yang dengan patuh George cium. “Aku tak bisa tinggal di kamarku selamanya.”


“Tidak, meskipun tentunya Ibu diizinkan untuk—”


“Berduka?” potong ibunya. “Aku menolak berduka. Tidak sampai kita menerima berita yang lebih pasti.”


“Aku hendak mengatakan ‘beristirahat’,” sahut George.


“Aku sudah melakukannya.”


Bagus sekali, Lady Manston, pikir George. Lucu bagaimana ibunya masih berhasil mengejutkannya dengan daya tahannya.


“Aku sedang berpikir,” ibunya memulai, berjalan melewati George dan masuk ke ruang duduk. “Oh, halo, Billie, aku tidak sadar kau ada di sini.”


“Lady Manston.” Billie menekuk lutut memberi hormat. “Aku berharap mungkin aku bisa membantu.”


“Betapa baiknya dirimu. Aku tidak yakin apa yang bisa dilakukan, tapi kehadiranmu selalu dihargai.” Kepala Lady Manston ditelengkan ke samping. “Apa angin di luar kencang?”


“Apa?” tangan Billie bergerak dengan sadar diri ke rambutnya. “Oh. Ya, sedikit. Aku lupa membawa topiku.”


Mereka semua melihat ke topi yang dia letakkan di meja.


“Maksudku adalah aku lupa memakainya,” Billie mengeluarkan tawa gugup yang George harap tidak dideteksi oleh ibunya. “Atau lebih tepatnya, sejujurnya, aku tidak lupa. Udaranya segar sekali.”


“Aku tidak akan memberitahu ibumu,” kata Lady Manston dengan senyum sabar.


Billie mengangguk berterima kasih, kemudian keheningan kikuk muncul di ruangan. Atau mungkin tidak kikuk sama sekali. Mungkin George hanya merasa kikuk, karena ia tahu apa yang Billie pikirkan, dan ia tahu apa yang ia pikirkan, dan entah bagaimana sepertinya mustahil bagi ibunya untuk memikirkan yang lain.


Tapi kelihatannya begitu, karena ibunya menoleh dengan senyum yang George tahu dipaksakan, dan bertanya, “Apa kau sudah memikirkan lebih lanjut untuk pergi ke London?”


“Sedikit,” jawabnya. “Aku mengenal beberapa orang di Kantor Urusan Perang.”


“George berpikir untuk pergi ke London dan mencari informasi,” Lady Manston berkata kepada Billie.


“Ya, dia sudah mengatakannya padaku. Itu ide yang sangat bagus.”


Lady Manston mengangguk kecil dan berbalik menghadap George. “Ayahmu juga mengenal banyak orang, tapi…”


“Aku bisa pergi,” kata George cepat, menyelamatkan ibunya dari rasa sakit harus menjelaskan ketidakmampuan suaminya saat ini.


“Kau mungkin mengenal orang-orang yang sama,” sahut Billie.


George menoleh. “Benar.”


“Kurasa aku akan ikut denganmu,” kata ibunya.


“Tidak, Ibu harus tetap di rumah,” George langsung menyahut. “Ayah akan membutuhkanmu, dan akan lebih mudah bagiku untuk melakukan apa yang harus dilakukan sendiri.”


“Jangan konyol. Ayahmu tidak memerlukan apa-apa kecuali berita tentang anaknya, dan aku tak bisa melakukan apa pun yang bisa membantu dari sini.”


“Dan Ibu bisa melakukannya di London?”


“Mungkin tidak,” aku ibunya, “tapi paling tidak ada kemungkinan.”


“Aku tidak akan bisa mengerjakan apa pun kalau aku mencemaskan keadaan Ibu.”


Ibunya mengangkat salah satu alisnya yang melengkung sempurna. “Kalau begitu jangan cemas.”


George mengertakkan gigi. Tidak ada gunanya berdebat dengan ibunya saat wanita itu seperti ini, dan sebenarnya, ia bahkan tidak yakin kenapa ia tidak mau ibunya ikut. Hanya perasaan aneh yang terus mengganggu bahwa beberapa hal sebaiknya dilakukan sendirian.


“Semua akan baik-baik saja,” kata Billie, mencoba meredakan ketegangan di antara ibu dan anaknya. George mengirimkan tatapan berterima kasih, tapi ia merasa gadis itu tidak melihatnya. Billie lebih seperti Lady Bridgerton daripada yang orang-orang pikirkan, George menyadari. Dia juru damai, dalam caranya yang tak bisa diri….


Ia mengamati saat Billie menggenggam salah satu tangan ibunya. “Aku tahu Edward akan pulang kepada kita,” katanya sambil meremas ringan.


Perasaan bangga hangat yang nyaris terasa nyaman berputar-putar dalam diri George. Dan ia berani bersumpah ia bisa merasakan Billie meremas tangannya juga.


“Kau baik sekali, Billie,” kata Lady Manston. “Kau dan Edward begitu dekat.”


“Dia sahabatku,” kata Billie. “Well, selain Mary, tentu saja.”


George bersedekap. “Jangan lupakan Andrew.”


Billie menoleh ke arahnya sambil mengernyit.


Lady Manston mencondongkan badan ke depan dan mencium pipi Billie. “Aku bersedia memberi apa pun untuk melihat kau dan Edward bersama-sama lagi.”


“Dan kau akan melihatnya,” sahut Billie tegas. “Dia akan pulang—kalau tidak segera, paling tidak pada akhirnya.” Billie memberikan senyum yang mendekati menenangkan. “Kita akan bersama-sama lagi. Aku tahu itu.”


“Kita semua akan bersama-sama lagi,” tukas George jengkel.


Billie memandangnya sambil mengernyit, kali ini jauh lebih menentang.


“Aku terus melihat wajahnya,” ibunya berkata. “Setiap kali aku memejamkan mata.”


“Aku juga,” Billie mengakui.


George melihat warna merah. Ia baru saja mencium gadis itu—dan ia cukup yakin mata Billie saat itu terpejam.


“George?” ibunya memanggil.


“Apa?” nadanya ketus.


“Kau mengeluarkan suara.”


“Aku berdeham,” ia berbohong. Apa Billie memikirkan Edward saat menciumnya? Tidak, gadis itu tidak akan melakukannya. Atau ya? Bagaimana George bisa tahu? Dan bisakah ia menyalahkannya? Kalau Billie memikirkan Edward, itu bukan sesuatu yang gadis itu lakukan dengan sengaja.


Yang entah bagaimana membuatnya menjadi lebih buruk.


George mengamati sementara Billie berbicara dengan nada pelan dengan ibunya. Apa gadis itu jatuh cinta dengan Edward? Tidak, tidak mungkin. Karena kalau ya, Edward tidak akan begitu bodoh dengan tidak membalas perasaannya. Dan kalau itu keadaannya, mereka pasti sudah menikah.


Lagi pula, Billie mengatakan tadi bahwa dia belum pernah dicium. Dan Billie tidak berbohong.


Edward pria terhormat—mungkin lebih daripada George, setelah kejadian hari ini—tapi kalau dia jatuh cinta dengan Billie, tidak mungkin dia akan pergi ke Amerika tanpa menciumnya.


“George?”


George mendongak, ibunya mengamatinya dengan sedikit khawatir. “Kau tidak terlihat sehat,” kata wanita itu.


“Aku memang tidak merasa sehat,” jawabnya kasar.


Ibunya sedikit terenyak ke belakang, satu-satunya indikasi bahwa dia terkejut. “Kurasa tak satu pun dari kita yang merasa sehat,” katanya.


“Aku memang berharap aku bisa pergi ke London,” kata Billie.


Perhatian George tersentak kembali. “Apa kau bercanda?” Ya Tuhan, itu akan menjadi bencana. Kalau tadi ia cemas ibunya akan mengalihkan perhatiannya…


Billie mundur, tampak tersinggung. “Kenapa aku bercanda?”


“Kau benci London.”


“Aku baru ke sana sekali,” sahutnya kaku.


“Apa?” seru Lady Manston. “Bagaimana mungkin? Aku tahu kau tidak mengikuti Season, tapi perjalanan ke sana tak sampai satu hari.”


Billie berdeham. “Ada keraguan di pihak ibuku setelah apa yang terjadi saat aku diperkenalkan di istana.”


Lady Manston sedikit berjengit, kemudian berhasil pulih saat mengumumkan dengan ceria: “Well, sudah diputuskan, kalau begitu. Kita tak bisa terus tinggal di masa lalu.”


George mengamati ibunya dengan ketakutan yang perlahan-lahan muncul. “Memutuskan apa, tepatnya?”


“Billie harus pergi ke London.”


JANGAN LUPA SEPERTI BIASA YA!!

__ADS_1


__ADS_2