
GEORGE SUDAH SETENGAH jalan ke Aubrey Hall sebelum menyadari Billie bergegas di sampingnya, terpaksa berlari hanya untuk menjajari langkahnya yang panjang dan cepat.
Berlari. Gadis itu berlari.
Dengan pergelangan kakinya.
Langkah George terhenti. “Apa yang kau—”
Tapi kemudian terpikir olehnya, bahkan tanpa berhenti untuk memikirkannya. Ini Billie. Tentu saja dia akan berlari dengan pergelangan kaki yang terluka. Dia keras kepala. Dia ceroboh.
Dia peduli.
George tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya meraup gadis itu ke dalam gendongannya dan meneruskan perjalanan ke rumah, langkahnya hanya sedikit lebih lambat daripada sebelumnya.
“Kau tak perlu menggendongku,” kata Billie.
George mendengar rasa sakit dalam suara gadis itu. “Ya,” katanya. “Aku harus melakukannya.”
“Terima kasih,” bisik Billie, kata-katanya seolah meleleh ke kemeja George.
Namun George tak bisa merespons. Ia tak bisa berkata-kata sekarang, paling tidak selain kata-kata hampa tak berarti. Ia tak perlu mengatakan apa-apa kepada Billie untuk memberitahu bahwa ia mendengarnya. Billie akan mengerti. Gadis itu tahu pikiran George sedang berada di tempat lain, di tempat lain yang jauh dari kumohon dan terima kasih kembali.
“Mereka berada di ruang duduk pribadi,” kata Felix ketika mereka sampai di rumah. George hanya bisa berasumsi mereka berarti anggota keluarga yang lain. Dan mungkin keluarga Bridgerton juga.
Mereka juga keluarga, ia menyadari. Mereka selalu menjadi keluarga.
Ketika George sampai di ruang duduk, pemandangan yang menunggunya adalah pemandangan yang mampu membuat pria dewasa mana pun memucat. Ibunya di sofa, tersedu-sedu dalam pelukan Lady Bridgerton. Andrew tampak shock. Dan ayahnya…
Ayahnya menangis.
Lord Manston berdiri jauh dari yang lain, tidak menghadap mereka, tapi tidak juga memunggungi. Kedua lengannya terlihat kaku di sisi tubuh dan kedua matanya dipejamkan erat, seolah itu mungkin bisa memperlambat guliran air mata di pipi. Seolah mungkin, kalau dia tidak bisa melihat dunia di sekitarnya, maka semua ini tidak terjadi.
George tidak pernah melihat ayahnya menangis. Ia bahkan tidak membayangkan hal itu mungkin. Ia mencoba tidak terus memandangi ayahnya, namun pemandangan tersebut begitu mencengangkan, begitu mengubah hidup, sehingga ia tak bisa memalingkan pandangan.
Ayahnya Earl of Manston, kukuh dan keras. Sejak George kanak-kanak, ayahnya memimpin keluarga Rokesby dengan tegas namun adil. Dia adalah pilar; Dia adalah kekuatan. Dia tak diragukan lagi memegang kendali. Dia memperlakukan anak-anaknya dengan sangat adil, yang terkadang berarti tidak ada yang puas dengan keputusannya, namun perintahnya selalu dipatuhi.
Dalam diri ayahnya George melihat apa artinya memimpin keluarga. Dan dalam air mata ayahnya, ia melihat masa depannya sendiri.
Tak lama lagi, akan datang waktu George untuk memimpin.
“Ya Tuhan,” seru Lady Bridgerton, akhirnya melihat mereka berdua di ambang pintu. “Apa yang terjadi dengan Billie?”
George hanya tertegun sejenak. Ia lupa dirinya masih menggendong gadis itu. “Ini,” katanya, dan menurunkan Billie di dekat Lady Bridgerton. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Ia tidak tahu kepada siapa harus meminta informasi. Di mana si kurir? Apa dia bahkan masih di sini?
“George,” ia mendengar Felix berkata. Ia mendongak dan melihat temannya memegang secarik kertas. Tanpa kata, George mengambilnya.
Kepada Earl of Manston
Dengan menyesal saya harus mengabarkan bahwa Kapten the Hon. Edward Rokesby menghilang Pada tanggal 22 Maret I779 di Koloni Connecticut. Kami melakukan segala usaha untuk menemukannya kembali dengan aman.
Semoga Tuhan memberkati,
Brigadir Jenderal Geo. Garth
“Menghilang,” kata George, menatap tak berdaya ke sekeliling ruangan. “Apa artinya ini?”
Tidak ada yang memiliki jawaban.
George tertegun menatap kertas di kedua tangannya, matanya memperhatikan setiap lengkungan terakhir tulisan itu. Pesannya spektakuler dengan informasi yang hanya secuil. Kenapa Edward berada di Koloni Connecticut? Terakhir mereka dengar dia berada di New York Town, tinggal di kedai minum pendukung pemerintah sambil mengawasi pasukan Jenderal Washington menyeberangi Sungai Hudson.
“Kalau dia menghilang…” katanya sambil berpikir. “Mereka harus tahu.”
“Tahu apa?” tanya Billie. Gadis itu mendongak menatap George dari sofa, mungkin satu-satunya orang yang cukup dekat untuk mendengar kata-katanya.
George menggeleng, masih mencoba memahaminya. Dari isi surat—yang harus diakui tak banyak—sepertinya Angkatan Darat yakin Edward masih hidup. Yang berarti jenderal itu paling tidak memiliki gagasan di mana adiknya.
Kalau itu keadaannya, kenapa jenderal itu tidak mengatakannya saja?
George menyugar rambut, dasar telapak tangannya menggosok dahinya dengan keras. “Bagaimana bisa prajurit dengan tanda jasa menghilang?” ia bertanya, berbalik menghadapi isi ruangan. “Apa dia diculik? Apa itu yang coba mereka katakan kepada kita?”
“Aku tidak yakin mereka tahu,” sahut Felix pelan.
“Oh, mereka pasti tahu,” George nyaris membentak. “Mereka hanya tidak mau—”
Tapi Andrew menyela. “Keadaannya tidak seperti di sini,” katanya, suaranya terdengar kosong dan tumpul.
George melemparkan lirikan jengkel. “Aku tahu, tapi apa—”
“Keadaannya tidak seperti di sini,” kata Andrew sekali lagi, kali ini dengan amarah yang bangkit. “Desa-desanya terpisah jauh. Perkebunannya bahkan tidak berbatasan. Ada tanah-tanah berukuran raksasa yang tidak dimiliki siapa pun.”
Semua orang tertegun menatapnya.
“Dan ada banyak orang-orang liar,” kata Andrew.
George melangkah lebih dekat, berusaha menghalangi pandangan ibunya dari wajah tersiksa Andrew. “Ini bukan waktunya,” bisiknya kasar. Adiknya mungkin sedang shock, tapi begitu juga mereka. Sudah waktunya Andrew beranjak dewasa dan menguasai emosinya sebelum dia menghancurkan sedikit ketenangan yang tersisa di ruangan.
Namun Andrew masih banyak bicara dengan tidak bijaksana. “Sangat mudah untuk hilang di sana.”
“Kau belum pernah ke sana,” bentak George.
“Aku pernah mendengarnya.”
“Kau pernah mendengarnya.”
“Hentikan,” seseorang berkata. “Hentikan sekarang juga.”
Kedua laki-laki itu hampir berhadap-hadapan.
“Ada orang-orang di kapalku yang pernah berperang di koloni,” tukas Andrew sengit.
“Oh, dan itu akan membantu kita menyelamatkan Edward,” George membentaknya.
“Aku tahu lebih banyak soal itu dibandingkan kau.”
George nyaris berjengit. Ia benci ini. Ia begitu membencinya. Impotensinya. Ketidakberdayaannya. Ia berada di luar memainkan Pall Mall sialan dan adiknya hilang di belantara koloni terkutuk.
“Aku lebih tua darimu,” desisnya, “dan aku akan menjadi kepala keluarga ini—”
“Well, sekarang belum.”
Tapi mungkin saja. George melemparkan lirikan sekilas ke arah ayahnya, yang tidak mengatakan apa-apa.
“Oh, itu halus sekali,” ejek Andrew.
“Diam. Pokoknya diam—”
“Hentikan!” Dua tangan muncul di antara mereka dan mendorong mereka menjauh dengan keras, dan ketika George akhirnya menunduk ia tersadar kedua tangan itu milik Billie.
“Ini tidak menolong,” kata Billie, bisa dikatakan mendorong Andrew ke kursi.
George mengerjap, mencoba mengembalikan keseimbangannya. Ia tidak tahu kenapa ia meneriaki Andrew. Ia menatap Billie, yang masih berdiri di antara mereka berdua seperti prajurit bertubuh mungil. “Seharusnya kau tidak berdiri,” katanya.
Gadis itu ternganga. “Itu yang ingin kaukatakan?”
“Mungkin kau membuat kakimu terluka lagi.”
Billie terus menatapnya. George tahu ia terdengar bodoh, namun pergelangan kaki gadis itu adalah satu-satunya situasi George bisa melibatkan diri.
“Kau harus duduk,” kata Billie lembut.
George menggeleng. Ia tidak mau duduk. Ia ingin bertindak, melakukan sesuatu, apa saja yang mungkin bisa membawa adiknya kembali dengan aman. Namun ia terikat di sini, ia selalu terikat di sini, ke tanah ini, ke orang-orang ini.
“Aku bisa pergi,” Andrew tercekat.
Mereka semua menatapnya. Dia masih duduk di kursi yang Billie paksakan untuknya. Dia tampak menderita. Termangu. George merasa Andrew terlihat seperti yang ia sendiri rasakan.
Tapi dengan satu perbedaan besar. Andrew setidaknya percaya dia bisa membantu.
“Pergi ke mana?” seseorang akhirnya bertanya.
“Ke koloni.” Andrew mendongak, ekspresi putus asa dan suram di wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi tekad kuat. “Aku akan meminta untuk ditugaskan ke kapal yang berbeda. Mungkin ada kapal yang akan pergi bulan depan.”
“Tidak,” jerit Lady Manston. Dia terdengar seperti binatang yang terluka. Dia terdengar seperti sesuatu yang tak pernah George dengar sebelumnya.
Andrew berdiri. “Ibu—”
“Tidak,” kata ibunya lagi, kali ini dengan ketabahan yang dia kumpulkan dari pelukan Lady Bridgerton yang menenangkan. “Aku tidak akan mengizinkannya. Aku tidak akan kehilangan satu anak lagi.”
Andrew berdiri kaku, terlihat lebih seperti tentara daripada yang pernah George lihat di dirinya. “Ini tidak lebih berbahaya daripada bertugas di tempatku sekarang.”
__ADS_1
George memejamkan mata. Kau mengatakan hal yang salah Andrew.
“Kau tak boleh,” Lady Manston berusaha berdiri. “Kau tak boleh.”
Suaranya mulai pecah lagi, dan George dalam hati mengutuk Andrew atas ketidakbijaksanaannya. Dia melangkah maju. “Ibu…”
“Dia tak boleh,” Lady Manston tercekat, matanya yang tersiksa berhenti di wajah George. “Kau harus memberitahunya… dia tidak boleh.”
George menarik ibunya ke dalam pelukan, menatap mata Andrew di atas kepalanya sebelum bergumam. “Kita bisa mendiskusikannya nanti.”
“Omong kosong.”
“Kurasa kau harus berbaring.”
“Kita harus pulang,” kata Lord Manston.
Mereka semua menoleh. Ini pertama kalinya pria itu berbicara sejak pesan mengerikan itu tiba.
“Kita harus berada di rumah,” kata Lord Manston.
Billie-lah yang langsung bereaksi. “Tentu saja,” katanya, cepat-cepat bergerak ke sisinya. “Kalian akan lebih nyaman di sana.” Dia melihat ke arah George. “Hal terakhir yang kaubutuhkan adalah pesta rumah ini.”
George hampir mengerang. Ia melupakan tamu-tamu lain. Pemikiran harus bercakap-cakap dengan salah satu dari mereka sungguh menyiksa. Akan ada pertanyaan-pertanyaan dan ucapan duka cita, tak peduli tak satu pun dari mereka tahu sedikit pun tentang Edward.
Ya Tuhan, semua begitu tidak penting. Ini. Pesta. Semua kecuali orang-orang di ruangan ini.
Ia menatap Billie. Gadis itu masih mengamatinya, kecemasan tampak jelas di setiap garis wajahnya. “Apa ada yang sudah memberitahu Mary?” dia bertanya.
“Aku akan melakukannya sekarang,” kata Felix. “Kami akan bergabung dengan kalian di Crake, kalau bisa. Aku yakin dia akan ingin berada bersama keluarganya. Kami tidak perlu kembali ke Sussex dengan segera.”
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Lady Manston dengan nada kalah.
George menoleh ke arah ayahnya. Ini haknya untuk memutuskan.
Namun sang earl tampak seperti tersesat. Dia mengatakan sebaiknya mereka pulang; kelihatannya hanya itu yang bisa dia lakukan.
George berbalik ke penghuni ruangan yang lain dan menarik napas. “Kita akan mengambil waktu sebentar,” katanya tegas. “Kita akan diam dan menenangkan diri serta memutuskan cara terbaik untuk melanjutkan.”
Andrew membuka mulut hendak berbicara, namun George sudah muak. Dengan tatapan tajam, ia menambahkan, “Waktu memang penting, tapi kita berada terlalu jauh dari markas militer, satu hari tidak akan membuat perbedaan.”
“Dia benar,” sahut Billie.
Beberapa pasang mata tertuju ke arahnya dengan terkejut, termasuk George.
“Saat ini tak satu pun dari kita berada dalam kondisi yang bisa membuat keputusan yang tepat.” Billie berbalik ke arah George. “Pulanglah. Bersama keluargamu. Aku akan datang besok untuk melihat bagaimana aku bisa membantu.”
“Tapi apa yang bisa kaulakukan?” tanya Lady Bridgerton.
Billie melihat ke arah ibunya dengan keanggunan tenang dan penuh tekad. “Apa pun yang diperlukan.”
George menelan ludah, terkejut dengan deru emosi di belakang matanya. Adiknya hilang; ayahnya hancur, dan sekarang ia merasa mungkin ia akan menangis?
Ia harus memberitahu Billie bahwa mereka tidak membutuhkan bantuan, bahwa tawaran gadis itu dihargai tapi tidak diperlukan.
Itu hal yang sopan. Itu yang akan ia katakan, kepada orang lain.
Namun kepada Billie ia berkata, “Terima kasih.”
BILLIE MEMBAWA DIRINYA ke Crake House keesokan harinya, menggunakan kereta sederhana dengan satu kuda. Ia tidak yakin bagaimana ibunya berhasil melakukannya, tapi pesta dipersingkat beberapa hari, dan semua orang entah sudah pergi atau berencana pergi esok pagi.
Butuh waktu yang menggelikan lamanya untuk memutuskan pakaian yang akan dikenakan. Celana jelas tidak bisa. Terlepas dari apa yang ibunya pikirkan, Billie tahu bagaimana dan kapan harus berpakaian pantas, dan ia tidak akan pernah mengenakan pakaian kerja untuk kunjungan sosial.
Namun ini bukan kunjungan sosial biasa. Warna-warna cerah tidak akan sesuai. Tapi ia tak bisa menggunakan warna hitam. Atau ungu atau abu-abu atau apa pun yang mengisyaratkan berduka. Edward tidak mati, serunya dalam hati.
Pada akhirnya ia memilih gaun pagi nyaman yang ia dapatkan tahun lalu. Ibunya yang memilihkan motifnya—bunga-bunga khas musim semi dengan warna hijau dan merah muda serta oranye di atas kain muslin krem—tapi Billie sudah menyukainya sejak awal. Gaun itu membuatnya memikirkan taman pada hari yang berawan, yang entah bagaimana sepertinya tepat untuk kunjungan ke keluarga Rokesby.
Crake hening ketika dia tiba. Rasanya salah. Rumah itu sangat besar; seperti Aubrey Hall, secara teori seseorang bisa pergi berhari-hari tanpa melihat anggota keluarga yang lain. Tapi meskipun begitu, rumah itu selalu terasa hidup, bersemangat. Satu anggota keluarga Rokesby atau yang lain selalu berkeliaran, selalu bergembira, selalu sibuk.
Crake House memang besar, tapi tempat itu adalah rumah.
Akan tetapi sekarang rumah itu terasa redup. Bahkan para pelayan, yang biasanya bekerja dengan rajin dan bijaksana, lebih diam daripada biasanya. Tidak ada yang tersenyum, tidak ada yang bicara.
Situasi itu nyaris mematahkan hati.
Billie diarahkan ke ruang duduk, tapi sebelum ia keluar dari koridor George muncul, jelas telah diberitahu mengenai kedatangannya.
“Billie,” pria itu mengangguk menyapa. “Senang bertemu denganmu.”
“Bagaimana keadaan ibumu?” Billie bertanya.
George tersenyum sedih. “Sebaik yang bisa diharapkan.”
Billie mengangguk, mengikuti pria itu ke ruang duduk. “Dan ayahmu?”
George berhenti, namun tidak berbalik menghadapinya. “Dia duduk di ruang kerjanya dan terus memandang ke luar jendela.”
Billie menelan ludah, hatinya hancur melihat postur George yang suram. Ia tidak perlu melihat wajah pria itu untuk mengetahui sakit yang George rasakan. George menyayangi Edward, seperti dirinya. Seperti mereka semua.
“Dia tak berguna,” kata George.
Mulut Billie terbuka kaget mendengar kata-kata kasar itu, tapi kemudian ia menyadari George tidak bermaksud mengatakannya sebagai kecaman.
“Dia lumpuh,” George mengklarifikasi. “Dukanya…”
“Kurasa tak satu pun dari kita tahu bagaimana kita akan bereaksi terhadap krisis sampai kita terpaksa menghadapinya.”
George berbalik, salah satu sudut mulutnya terangkat. “Kapan kau tumbuh menjadi begitu bijaksana?”
“Bukan kebijaksanaan bila hanya mengulang kata-kata hampa.”
“Itu kebijaksanaan bila mengetahui yang mana yang pantas diulang.”
Secara mengejutkan, Billie merasakan gelembung humor bangkit dalam dirinya. “Kau bertekad untuk memberiku pujian.”
“Itu satu-satunya titik cerah hari ini,” gerutu George.
Biasanya komentar seperti itu akan membuat hati Billie melompat kegirangan, tapi seperti yang lain, ia juga telah menjadi terlalu tumpul karena rasa sakit dan khawatir. Edward hilang, dan George terluka
Ia menghela napas. Ini bukan soal George. George baik-baik saja. Pria itu ada di sini, tepat di hadapannya, kuat dan sehat.
Bukan, ini bukan soal George.
Ini tidak mungkin soal George.
Kecuali… akhir-akhir ini sepertinya segalanya adalah tentang George. Billie terus-menerus memikirkan pria itu, dan Tuhan, apakah baru kemarin mereka bermain Pall Mall dan ia bisa dikatakan nyaris mencium pria itu?
Billie menginginkannya. Ya Tuhan, ia menginginkannya, dan kalau George menunjukkan sedikit saja ketertarikan—dan kalau tidak ada empat orang lain bergerak ke sana kemari dengan palu Pall Mall—Billie pasti sudah melakukannya. Ia belum pernah mencium orang lain, tapi kapan itu pernah menghentikannya? Ia melompati pagar pertamanya saat umurnya enam tahun. Ia bahkan belum pernah melompati semak-semak sebelum itu, tapi ia hanya melihat pagar setinggi satu setengah meter itu sekali dan tahu ia harus melompatinya. Jadi Billie melompat di atas kuda betinanya, dan ia berhasil. Karena ia menginginkannya.
Dan juga karena Edward menantangnya. Tapi Billie tidak akan mencoba kalau ia tidak berpikir ia bisa.
Dan tahu ia akan menyukainya.
Billie tahu bahkan saat itu bahwa ia tidak seperti gadis-gadis lain. Ia tidak mau memainkan pianoforte atau menjahit. Ia ingin berada di luar, terbang di atas punggung kuda, sinar matahari menari-nari di atas kulitnya saat jantungnya berpacu dan berderu dengan angin.
Ia ingin membubung tinggi.
Ia masih menginginkannya.
Kalau Billie mencium George… kalau pria itu menciumnya… Apa rasanya akan sama?
Jemari Billie menyusuri punggung sofa, mencoba mengisi momen tersebut dengan gerakan kosong. Tapi kemudian ia membuat kesalahan dengan mendongak…
George memandanginya, sorot mata pria itu sengit dan penuh rasa ingin tahu serta sesuatu yang lain, sesuatu yang tak bisa Billie beri nama.
Tetapi apa pun itu… Billie merasakannya. Jantungnya berdebar kencang, dan napasnya semakin cepat, dan ia menyadari rasanya seperti ketika ia berpacu di atas kuda betinanya. Terengah-engah dan seperti melayang dan penuh tekad dan liar… Semua ada di sana di dalam dirinya, ingin menyembur keluar membebaskan diri.
Semua karena George memandanginya.
Ya Tuhan, kalau George benar-benar menciumnya mungkin ia akan hancur berantakan.
Jemarinya mengetuk-ngetuk pinggir sofa dengan gugup, kemudian menunjuk dengan bodoh ke arah kursi. “Aku sebaiknya duduk.”
“Kalau kau mau.”
Tapi kakinya tidak mau bergerak. “Aku seperti tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan diriku sendiri,” akunya.
“Aku juga,” gerutu pria itu.
“Oh, George…”
“Kau mau minum?” tanya George tiba-tiba.
__ADS_1
“Sekarang?” Saat ini bahkan belum melewati pukul sebelas pagi.
Kedikan bahu George mendekati angkuh. Billie hanya bisa bertanya-tanya dalam hati sudah berapa banyak minuman keras yang diteguk pria itu.
Tapi George tidak berjalan ke arah karaf brendi. Sebaliknya dia berdiri di depan jendela, menatap keluar ke arah taman. Saat itu hujan mulai turun; rintik ringan berkabut yang membuat udara sesak dan kelabu.
Billie menunggu beberapa saat, tapi George tidak membalikkan badan. Kedua tangannya digenggam di belakang punggung—postur klasik pria terhormat. Tapi sikapnya tidak tepat. Ada kekasaran tertentu di dalam posenya, ketegangan di bahu yang tidak biasa Billie lihat di sana.
Pria itu tampak kasar. Suram.
“Apa yang akan kaulakukan?” akhirnya Billie memaksa dirinya bertanya. Ia merasa dia tidak akan bisa menahan kebisuan itu lebih lama.
Postur tubuh pria itu berubah, sedikit gerakan di bagian leher mungkin, kemudian dia menoleh ke samping. Tapi tidak cukup jauh untuk melihat Billie. Sebagai gantinya Billie melihat bagian samping wajah pria itu ketika berkata, “Pergi ke London, kurasa.”
“Ke London?” ulang Billie.
George mendengus. “Tidak ada banyak hal yang bisa kulakukan.”
“Kau tidak ingin pergi ke Koloni untuk mencarinya?”
“Tentu saja aku ingin pergi ke Koloni,” bentak George, berbalik menghadapinya. “Tapi bukan itu yang kulakukan.”
Mulut Billie terbuka, namun satu-satunya suara yang terdengar adalah aliran darahnya, berdenyut liar di nadinya. Ledakan pria itu tak terduga. Belum pernah terjadi.
Billie pernah melihat George kehilangan kesabaran. Ia tak mungkin tumbuh bersama adik-adik pria itu tanpa pernah melihat George saat kehilangan kesabaran. Tapi ia belum pernah melihat yang seperti ini.
Nada benci dalam suara George tak mungkin terlewatkan, begitu juga dengan fakta kebencian itu diarahkan seluruhnya ke dalam diri pria itu sendiri.
“George,” Billie mencoba menjaga suaranya tetap tenang dan masuk akal, “kalau kau mau—”
George melangkah maju, sorot matanya terlihat keras dan penuh amarah. “Jangan katakan padaku aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan karena kalau kau meyakini itu, kau sama naifnya seperti mereka.”
“Aku bukan akan—” Tapi mungkin lebih baik George memotong ucapan Billie dengan dengusan mengejek, karena memang itu yang akan Billie katakan, dan baru sekarang ia menyadari betapa menggelikan kata-katanya. George tidak bisa pergi ke Koloni; mereka semua tahu itu.
Dia tak akan pernah bisa sebebas adik-adiknya. Urutan kelahiran mereka memastikan hal itu. George akan mewarisi gelar, rumah, tanah. Sebagian besar uang. Tapi hak-hak istimewa diikuti tanggung jawab. Dia terikat dengan tempat ini. Tempat ini berada di dalam darahnya, seperti Aubrey Hall berada di dalam darah Billie.
Ia ingin bertanya apakah George keberatan. Kalau diberi kesempatan, apakah pria itu akan bertukar posisi dengan Andrew atau Edward?
“Apa yang akan kaulakukan di London?” Billie bertanya. Karena ia tak akan pernah bisa menanyakan apa yang benar-benar ingin ia ketahui. Tidak sementara takdir Edward masih tidak pasti.
George mengedikkan bahu, meskipun lebih dengan kepala dan matanya. “Berbicara dengan orang-orang. Bertanya-tanya.” Dia tertawa pahit. “Aku sangat pintar dalam berbicara dengan orang-orang dan bertanya-tanya.”
“Kau tahu bagaimana menyelesaikan sesuatu,” Billie setuju.
“Aku tahu cara membuat orang lain melakukan hal-hal,” sahut George dengan nada mengejek.
Ia mengatupkan mulut rapat-rapat sebelum bisa mengucapkan sesuatu yang bodoh seperti, “Itu keahlian penting.” Tapi itu memang keahlian penting, bahkan kalau ia tak pernah mendemonstrasikannya sendiri. Ia tak pernah meninggalkan apa pun kepada manajer estat ayahnya; pria itu pasti pegawai dengan bayaran paling besar di tempat ini. Ia bertindak lebih dulu dan berpikir kemudian; selalu. Dan ia tak bisa membiarkan orang lain mengerjakan sesuatu ketika ia sendiri bisa melakukannya dengan lebih baik.
Dan ia hampir selalu bisa melakukannya dengan lebih baik.
“Aku butuh minum,” tiba-tiba George menggerutu. Billie tidak berani mengingatkan bahwa sekarang masih terlalu pagi untuk minuman keras.
George berjalan ke bufet dan menuangkan brendi dari karaf untuk diri sendiri. Dia menyesapnya. Panjang. “Kau mau?”
Billie menggeleng.
“Mengejutkan,” gumam George.
Ada sesuatu yang terdengar keras dalam suaranya. Sesuatu yang nyaris terdengar buruk. Billie merasa punggungnya kaku. “Apa?”
Tapi George hanya tertawa, dahinya terangkat pura-pura memberi hormat. “Oh, ayolah, Billie. Kau hidup untuk membuat shock. Aku tak percaya kau tidak mau menerima brendi saat ditawari.”
Billie mengenakkan gigi, mengingatkan diri bahwa George bukan dirinya sendiri saat ini. “Sekarang bahkan belum siang.”
Pria itu mengedikkan bahu tak peduli dan menghabiskan seluruh brendinya.
“Seharusnya kau tidak minum-minum.”
“Kau seharusnya tidak mengaturku.”
Billie berdiri diam, bahkan kaku, membiarkan jeda panjang untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya. Akhirnya, karena ia harus bersikap sedingin pria itu, ia melontarkan tatapan dingin dan berkata, “Lady Alexandra mengirimkan salam.”
George menatapnya tak percaya.
“Dia pulang hari ini.”
“Kau baik sekali mau menyampaikan salamnya.”
Billie merasakan balasan tajam bergerak naik di lehernya, tapi pada menit terakhir ia berkata, “Tidak! Ini menggelikan. Aku tidak akan berdiri di sini dan berbicara berputar-putar. Aku datang untuk membantu.”
“Kau tak bisa membantu,” tukas George tajam.
“Jelas tidak kalau kau seperti ini,” balas Billie ketus.
George membanting gelas ke meja dan berjalan mendekati Billie. “Apa yang kaukatakan tadi?” tuntutnya. Sorot matanya tampak liar dan penuh amarah, dan Billie nyaris melangkah mundur.
“Sudah berapa banyak kau minum?”
“Aku tidak mabuk,” jawab George dengan nada berbahaya. “Ini… itu,” dia mengoreksi, dan melambaikan lengan ke arah gelas yang dia tinggalkan di bufet, “adalah satu-satunya minumku hari ini.”
Billie merasa seharusnya ia meminta maaf, tapi ia tak bisa memaksa dirinya untuk melakukannya.
“Aku ingin mabuk,” George bergerak mendekat dengan keanggunan tanpa suara seekor kucing besar.
“Kau tidak bersungguh-sungguh.”
“Benarkah?” George tertawa kasar. “Jika mabuk, aku mungkin tidak ingat adikku menghilang di suatu tempat liar terkutuk tempat penduduk lokal tidak menyukai siapa pun yang mengenakan jas merah.”
“George,” Billie mencoba berkata, namun pria itu tak bisa dihalangi.
“Jika mabuk,” kata George lagi, ucapannya dikeluarkan dengan kasar, “aku mungkin tidak akan menyadari ibuku menghabiskan seluruh pagi menangis di tempat tidurnya. Tapi yang terbaik dari semuanya”—kedua tangannya menggebrak meja bufet, dan dia menatap Billie dengan sorot marah yang dibalut keputusasaan—”kalau aku mabuk, aku mungkin entah bagaimana lupa diriku berada dalam belas kasihan orang lain. Kalau Edward ditemukan—”
“Saat dia ditemukan,” potong Billie sengit.
“Yang mana pun, itu bukan karena diriku.”
“Apa yang ingin kaulakukan?” tanya Billie pelan. Karena ia merasa George tidak tahu. Pria itu berkata ingin pergi ke Koloni, tapi Billie tidak yakin ia memercayai pria itu. Menurutnya George bahkan tidak membiarkan dirinya sendiri berpikir mengenai apa yang ingin dia lakukan. George begitu terjebak dalam batasan-batasannya sehingga tidak bisa berpikir jernih mengenai apa yang sesungguhnya berada di dalam hatinya.
“Apa yang ingin kulakukan?” ulang George. Dia terlihat… bukan terkejut, tepatnya, tapi mungkin sedikit tercengang. “Aku ingin… Aku ingin…” ia mengerjap, kemudian membawa matanya menatap mata Billie. “Aku menginginkanmu.”
Billie tak bisa bernapas.
“Aku menginginkanmu,” ulang George, dan rasanya seolah seluruh ruangan itu bergeser. Sorot linglung meninggalkan mata George, digantikan sesuatu yang sengit.
Sesuatu yang bersifat pemangsa.
Billie tak bisa berbicara. Ia hanya bisa melihat saat pria itu mendekat, udara di antara mereka memanas ke titik didih.
“Kau tidak ingin melakukan ini,” katanya.
“Oh, aku mau. Aku sungguh-sungguh mau.”
Tapi George tidak bersungguh-sungguh. Billie tahu itu, dan ia bisa merasakan hatinya patah karena ia menginginkannya. Ia ingin George menciumnya seolah ia satu-satunya gadis yang diimpikan George untuk dicium, seolah pria itu akan mati kalau tidak menyentuhkan bibirnya ke bibir Billie.
Billie ingin pria itu menciumnya dan bersungguh-sungguh melakukannya.
“Kau tidak tahu apa yang kaulakukan,” katanya, sembari melangkah mundur.
“Apa itu yang kau kira?” George bergumam.
“Kau habis minum-minum.”
“Hanya cukup untuk membuat ini menjadi sempurna.”
Billie mengerjap. Ia tidak tahu apa artinya itu.
“Ayolah, Billie,” ejek George. “Kenapa begitu ragu-ragu? Ini tidak seperti dirimu.”
“Ini tidak seperti dirimu,” balasnya.
“Kau sama sekali tidak tahu.” George bergerak semakin dekat, matanya berkilat-kilat dengan sesuatu yang Billie takut definisikan. George meraih dan menyentuh lengannya, hanya satu jari di kulitnya, namun cukup untuk membuat Billie gemetar. “Kapan kau pernah mundur dari tantangan?”
Perut Billie bergolak dan jantungnya berdegup kencang, namun bahunya masih tegak dan kaku. “Tidak pernah,” ia menyatakan, dan menatap lurus ke mata George.
Pria itu tersenyum, dan sorot matanya berubah panas. “Itu baru gadisku,” dia bergumam.
“Aku bukan—”
“Kau akan menjadi gadisku,” pria itu menggeram, dan sebelum Billie sempat mengatakan sesuatu, bibir George menangkap bibirnya dalam ciuman membakar
JANGAN LUPA SEPERTI BIASANYA YA!!
__ADS_1