
"Hah, orang seperti gue harus merebut hati perempuan keras kepala seperti dia? Ogah! Memangnya kalian mau gue mempertaruhkan harga diri gue di sini?! Kalian tidak melihat sama sekali kalau kami baru saja bertengkar?! Bagaimana mungkin, gue tiba-tiba mengajaknya berpacaran?! Yang benar saja!" Luqi menatap kesal ke arah ketiga temannya. Ide paling buruk yang pernah dia dengar dari ketiga temannya ini. Mereka sudah terbiasa memainkan banyak taruhan atau juga tantangan bila merasa sedang bosan. Bahkan tidak jarang sekali mempertaruhkan banyak uang di sini, karena memang menurut Luqi kehilangan banyak uang bukanlah masalah besar.
Namun apabila dia harus memenuhi kembali tantangan ini, dia tidak akan mau. Itu sama dengan menjatuhkan harga dirinya. Dia tidak bisa membayangkan kalau perempuan itu pasti akan semakin menertawakan dirinya. Hanya orang gila yang mau merebut hati perempuan yang baru saja bertengkar dengannya. Setidaknya itulah yang diyakini oleh Luqi.
"Ayolah, bukan berarti kami ingin menjatuhkan harga diri lo. Ini mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Kita juga tidak tahu bagaimana reaksi Azea," ucap Glenn sambil menyalakan rokoknya.
Luqi tetap menggeleng dan bertahan dalam prinsipnya sendiri. Dia tidak akan mau dipermalukan lagi. Dia sudah tidak mau berurusan dengan gadis itu lagi. Gadis keras kepala yang pernah dia temui.
"Tidak, gue tidak akan mau melakukannya."
Glenn dan yang lainnya terlihat sangat kecewa. Biar bagaimanapun mereka sangat ingin melihat cara seperti apa yang akan dilakukan Luqi apabila dia sampai setuju dengan tantangan ini. Pasti akan sangat seru apabila seandainya Luqi memang berhasil menaklukkan hati dari gadis yang awalnya menghina dirinya.
"Akan menjadi kejutan yang sangat besar apabila lo berhasil menaklukkannya. Lo menaklukkan banyak gadis di luar sana dengan mudah karena mereka hanya melihat wajah lo. Bagaimana jika seandainya gadis yang lo taklukan ini adalah orang yang awalnya membenci lo, tapi malah berbalik menyukai lo? Itu akan menjadi kejutan yang sangat besar, bukan? Apabila itu sampai terjadi, maka gue sendiri mengakui bahwa lo memang bisa menaklukkan siapa saja dengan cara lo sendiri."
__ADS_1
Luqi mematung memikirkan perkataan Radit. Benar, dia memang sangat menyukai tantangan sebagaimana lelaki muda pada umumnya. Sesuatu yang sulit sekali ditaklukan justru membakar semangatnya untuk semakin melakukan sesuatu.
Azea mungkin menjadi sasaran yang paling sempurna dalam hal ini. Di posisinya yang saat ini mungkin ada banyak lelaki muda yang terbakar semangatnya untuk menaklukkan Azea. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau memang timbul suatu daerah untuk memenuhi tantangan itu. Bukan karena haus validasi atau pengakuan dari teman-temannya, dia hanya suka melakukannya, suka melakukan tantangan tanpa melibatkan perasaan apa pun.
"Lagi pula, gue pikir ini menjadi balas dendam yang paling sempurna bagi Lo, kalau memang selama ini Lo merasa dia merendahkan lo. Jika Azea berhasil jatuh cinta ama lo, lo tinggal meninggalkan dia begitu saja tanpa penjelasan apa pun nanti. Orang-orang bilang, itu cara paling kejam untuk mematahkan hati seorang perempuan. Gue yakin itu cukup menyakitkan baginya seperti yang lo rasakan ketika dia menghina diri lo," ucap Radit lagi.
Luqi kembali berpikir. Dia bahkan tidak terpikir tentang balas dendam di sini. Dan apa yang dikatakan oleh Radit memang ada benarnya. Cara semacam itu menjadi balas dendam paling halus dan juga paling menyakitkan. Dia yakin hal itu akan menghancurkan hati Azea sebagaimana perempuan itu menghancurkan Luqi tepat di hadapan ketiga temannya.
Namun tentu saja, langkah pertama di sini adalah dia harus membuat Azea jatuh hati dulu kepada dirinya. Jadi dia merasa bahwa memang tidak ada salahnya memenuhi tantangan ini. Tidak ada salahnya untuk berusaha merebut hati gadis itu.
Maka pada saat itu pula Luqi menyusun strateginya sendiri untuk mencari perhatian Azea. Tentu saja pada awalnya ini sangat memalukan. Namun dia berusaha memikirkan bahwa dia juga butuh balas dendam di sini. Dia tidak mau membiarkan Azea pergi begitu saja tanpa beban bahkan juga merasa puas setelah mempermalukannya di depan teman-temannya.
Dia memberanikan diri untuk menanyakan tentang nomor ponsel milik Azea kepada salah satu pegawai di minimarket itu. Pegawai yang beberapa hari terakhir ini membuat dia merasa kalau pegawai inilah yang paling dekat dengan Azea. Tentu saja pegawai itu tidak lain dan tidak bukan adalah Elena.
__ADS_1
Elena cukup terkejut ketika Luqi mendadak datang dan menanyakan tentang nomor ponsel itu padanya. Tidak perlu ditanya, tentu saja pada awalnya dia merasa sangat terpesona pada ketampanan Luqi. Selama ini dia tidak terlalu peduli siapa orang yang nongkrong di depan minimarket mereka setiap malam. Sekarang dia menyesal kenapa baru sekarang mengetahuinya.
"Tapi aku tidak punya kewenangan untuk menyebarkan nomor ponsel ini kepada sembarang orang. Aku tidak mau kalau sampai Azea memarahiku. Aku juga tidak mau melanggar privasinya. Aku belum menanyakan kepadanya apakah aku boleh menyebarkan nomor ponsel ini kepada orang lain. Tapi aku yakin dia tidak akan mengizinkanku."
Luqi mencari cara agar nggak di sini memberikan nomor ponsel milik Azea kepadanya.
"Aku bukan orang asing. Kami sebenarnya berteman, namun karena beberapa hari kemarin aku mengganti ponselku, nomor ponselnya juga ikut terhapus dari sana. Jadi sekarang aku ingin mencarinya lagi. Karena malam ini aku ada urusan penting yang harus dibicarakan dengannya."
Elena berpikir sejenak. Di satu sisi dia merasa sangat takut apabila Azea sampai marah padanya ketika dia memberikan nomor ponsel sahabatnya itu kepada orang lain, namun karena Luqi sendiri mengaku bahwa dia bukanlah orang asing bagi Azea, maka keraguan itu membuat Elena cukup yakin bahwa Azea tidak akan memarahinya dalam hal ini. Kalaupun Azea sampai memarahinya, dia tinggal membela diri bahwa Luqi mengatakan mereka adalah teman dekat sehingga tidak masalah apabila mendapatkan nomor ponsel gadis itu.
"Eh, baiklah kalau begitu. Kalau memang benar kalian berteman. Aku harap dia tidak memarahiku sama sekali dalam hal ini."
Luqi merasa senang ketika melihat Elena akhirnya mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan deretan nomor di sana. Dia langsung mencatat nomor itu. Setelah berhasil mendapatkannya, dia keluar dari minimarket dan pulang ke rumahnya sendiri. Dia punya rencana yang bagus esok hari. Dia akan menghabiskan waktunya bersama Azea. Dia sangat berharap bahwa Azea bisa menerima tawarannya ini. Mungkin akan butuh usaha yang cukup keras untuk membujuk gadis keras kepala itu. Namun dia sangat yakin bahwa Azea akan menerima tawaran darinya.
__ADS_1