Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Salah Paham


__ADS_3

"Seratus Ribu?" gumam Yolanda. Kemudian dia menekan tombol panggilan.


Tuuuut! Berbunyi beberapa kali, berdering, tetapi belum diangkat. "Benar enggak ya, ini nomornya?"


"Maaf, apa Ibu lupa nomor anaknya? Atau mau aku pesan kan taksi aja?" tanya Azea.


"Boleh deh," jawab Yolanda. Baru saja wanita paruh baya itu menerima tawaran Azea, ponsel Azea berbunyi. Yolanda mengangkatnya.


"Ada apa lagi? Kamu masih mau bahas tentang pernikahan? Kemrin kan kamu sudah puas nampar aku? Atau kamu masih belum puas? Asal kamu tahu ya, belum ada orang yang nampar aku selama ini!" kata Luqi di seberang sana.


Yolanda diam mendengarkan, ini jelas suara putranya. "Kenapa kau diam saja, Azea?"


"Hei!" Luqi berseru, karena kesal. Lalu diam diam dan tiba-tiba berubah intonasi baik. "A-apa ini ibu ya? Apa Ibu sedang memakai ponsel Azea? Maaf ya Bu, Luqi belum bisa berkunjung kembali ke rumah ibu." Ya, Luqi berpikir mungkin saja Ibu Azea.

__ADS_1


"Ini beneran kamu Luqi?" tanya Yolanda.


Deg! Hampir saja jantung Luqi melompat. "Ma-Mama?!"


Setelah itu, langsung Yolanda melakukan panggilan video, bukan lagi panggilan suara dan jelas itu wajah kusut anaknya yang baru bangun tidur, layar ponsel Azea butut jadi gambar putranya sedikit buram.


"Apa katamu tadi? Menikah Nak, dengan Azea dan kami sudah bicara dengan ibunya, tetapi belum bilang sama Mama? Hah! Sekarang juga, kamu jemput Mama di Puskesmas mawar jalan anggrek melati dua, sekarang!" perintah Yolanda, kemudian mematikan ponsel.


"Nak? Apa kamu bernama Azea? Jadi, nama seratus ribu ini anak Tante? Jadi, dia sudah melamar kamu dengan mahar seratus ribu aja? Astaga, anak itu!" Yolanda mengelus punggung tangan Azea. "Maafkan Tante ya!" Yolanda langsung memeluk Azea.


"Aluqi, Davey Hanan Aluqi," balas Yolanda tersenyum. "Tante tidak tahu, rupanya dia sudah berpikiran dewasa dan ingin menikah, dengan gadis baik dan mandiri lagi. Tante senang." Yolanda memegang tangan Azea.


"Luqi?" Mata Azea membulat besar. Beda sekali Luqi dengan ibunya! 'Apa dia mirip ayahnya?' Begitulah pikiran Azea berkecamuk, karena sikap Luqi dan ibunya jauh beda.

__ADS_1


"Jadi, sejak kapan kalian punya hubungan. Anak itu ya, malah Mama nya sendiri tidak di kasih tau kalau ingin menikah!" Yolanda masih saja berdecak lidah.


"Ah, bukan begitu Tante. Ini salah paham. Sebenarnya—" Belum juga Azea selesai bicara, tetapi sudah di potong oleh Yolanda.


"Tidak, Tante mengerti, pasti Luqi mengejar-ngejar cintamu kan? Karena takut kehilangan kamu, dia buru-buru ajak menikah. Ini salah Tante, karena membiarkan dia terbiasa dengan semua keinginannya yang selalu terwujud, jadi dia selalu berusaha mendapat apa yang dia mau."


"Kalau begitu, Tante sekeluarga akan secara resmi segera melamar kamu bersama Luqi," kata Yolanda.


"Tu-tunggu Tante, ini–"


"Tidak apa-apa, Tante dan Om selalu setuju dengan wanita manapun pilihan Luqi." Yolanda tersenyum, membuat Azea pasrah, karena sejak tadi, saat dia hendak menjelaskan selalu di potong oleh Yolanda.


‘Biar saja lah, anaknya yang menjelaskan, siapa juga yang mau nikah dengan lelaki seperti itu!' gumam Azea di dalam hati.

__ADS_1


Hingga akhirnya, setelah cukup lama berbincang, Luqi pun sampai di puskesmas dengan mobil sport berwarna merah.


"Ma!" panggil Luqi


__ADS_2