
Seberapa pun kerasnya Luqi memprotes ayah dan ibunya, tetap saja dia harus ikut dengan Azea ke rumah gadis itu. Walaupun begitu juga, Aluqi masih menampilkan wajah baik di depan Luna —Ibu mertuannya.
"Nak Luqi, mari ngeteh dulu, sambil nunggu Azea selesai memasak," kata Luna.
"Ah, iya Tante," jawab Aluqi.
"Loh, kok Tante sih, Ibu dong Nak, sekarang kita sudah berkeluarga, Nak Luqi menantu Ibu, sama seperti anak artinya." Luna tersenyum lembut.
"Ah, iya Bu," sahut Aluqi tersenyum canggung.
"Hm, itu, adik-adik Zea mana Bu?" tanya Aluqi basa-basi.
"Nicko sama Rahma lagi belajar dan buat PR. Sebentar lagi juga keluar kalau Azea sudah selesai memasak," jawab Luna. Dan Aluqi hanya mengangguk, tak tahu lagi mau berbincang apa. Canggung dan rasanya tidak leluasa.
Rumah yang ditempati Azea sekarang, benar-benar tak sebanding dengan ruangan gudang di mansion Aluqi. Aluqi hanya bisa pasrah, karena dia tidak punya uang, tak bisa menentang Mama dan Papanya, karena selama ini dia hanya bisa menghabiskan uang, tak tahu cara mencarinya.
Azea menyanggul rambutnya, pakaian kaos dan celana panjang longgar, bukan selera Aluqi. Dia hanya bisa memijat keningnya, istri yang dia idam-idamkan seperti artis Ariel Tatum, seperti itu, tapi malah dapat Azea, kurus, kecil, tidak menggoda, begitulah ejekan dalam hati Aluqi.
Azea menghidangkan makanan di ruang tengah, alias ruang serba guna, tempat makan, santai, nonton dan semuanya, selalu berbeda dengan tempat tinggal Luqi, ruang makan, ruang santai, ruang nonton, beda lagi!
"Aku panggil Nicko sama Rahma dulu, Bu," ucap Azea.
__ADS_1
"Iya Nak," sahut Luna.
"Nah, mari lebih dekat ke mari Nak," ajak Luna, berpindah duduk ke tempat makanan tersaji yang berjarak sekitar satu meter dari tempat duduk semula.
Azea telah membawa Rahma dan Nicko keluar dari kamar, kamar Rahma sekarang bersama ibunya, waktu kemarin sebelum Azea menikah, Rahma sekamar dengannya, sementara Nicko, ada ruangan dinding seadanya dibangun di samping dapur, karena rumah tempat tinggal Azea sekarang, hanya memiliki kamar kecil ukuran 2 x 3 meter.
Semua sudah duduk rapi di dekat makan. "Ayo Nak Luqi, kita makan, pimpin do'anya," kata Luna tersenyum.
Deg! Aluqi langsung tegang, dia selama ini bahkan sudah lupa bacaan do'a makan, bagaimana cara memimpin, dia belajar do'a makan saat dia sekolah taman kanak-kanak, sejak lulus TK, doa itu tak lagi dia hafal.
"Ah, bagaimana kalau Dik Nicko aja, Bu," jawab Aluqi memutar otak.
"Ya sudah, pimpin do'anya Nic," pinta Luna tersenyum.
Usai makan, semuanya bersih-bersih tangan dan kaki, Rahma membantu Zea mencuci piring, sementara Nicko memijit tangan dan kaki ibunya, dan Aluqi tak tahu harus berbuat apa. Dia sudah menguap berkali-kali.
Azea kembali ke depan setelah memanaskan gulai yang tersisa, disusul juga oleh Rahma. "Ya udah, ibu ngantuk, kalian berdua tidurlah, besok pergi sekolah kan?" kata Luna melihat Rahma dan Nicko.
"Iya, Bu."
Semua orang sudah masuk kamar, tersisa Aluqi dan Azea. "Hm, ada bantal dan selimut untukku?" tanya Aluqi. Dia benar-benar ngantuk sekali rasanya.
__ADS_1
"Sebentar saya ambil dulu," jawab Azea.
Azea memberikan bantal dan sarung pada Aluqi. Pria tampan nan terbiasa hidup mewah itu melihat bantal dengan sarungnya yang pudar dan buluk, lalu sarung? Hei, dia selama ini pakai bedcover, selimut yang hangat, empuk, dan lembut.
"Selimut yang lain enggak ada?"
"Enggak ada, yang lain untuk salat," jawab Azea.
"Untuk salat? Maksudnya kamu itu ... semua selimut, kain sarung?" tanya Aluqi lagi, dan Azea mengangguk.
"Oh, ya sudahlah!" Aluqi menghela nafas, dengan berdecak lidah, dia membaringkan tubuhnya di lantai alas tikar itu, berbantal jelek dan kain sarung.
Azea pun juga masuk ke kamar.
Seperti biasa, semua orang sudah tertidur, sementara Luna memang sudah terbiasa bangun jam 1-2 dini hari untuk salat sunat, saat dia keluar hendak berwudhu, dia melihat Aluqi bergelung miring ke arah dirinya berdiri.
"Dasar anak itu! Biasa-biasa nya dia menyuruh suaminya tidur di luar!" Luna langsung bergegas mengetuk pintu yang baru saja di perbaiki, bisa dibilang, pintunya terbuat dari triplet tebal saja, itu pun juga Nicko yang memasang.
"Azea!" Suara Luna masih lambat.
"Azea!"
__ADS_1
"Azea, buka pintunya!" Suara Luna sekarang meninggi, sehingga Aluqi, Azea dan Rahma terbangun, sedangkan Nicko di kamar belakang, masih tidur nyenyak.