Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Berteduh


__ADS_3

Akhirnya, Aluqi memutuskan bertemu dengan Azea, pria itu bersidekap tangan di dada, menunggu sejak tadi dengan cemberut di depan tempat Azea bekerja. Wanita cantik itu pulang sudah tengah malam.


Sambil menguap, Luqi pun mulai bangkit dari duduknya setelah melihat Azea mendekat.


"Kau setiap hari pulang bekerja jam segini?" tanya Aluqi.


"Iya," jawab Azea.


"Emangnya berapa gajinya, sampai bekerja selarut ini?" tanya Luqi dengan nada datar.


Azea berhenti dan menatap tajam Aluqi. "Kau tak perlu mengejekku anak orang kaya yang manja, yang kau tau hanya uang yang sudah berbentuk, coba juga kau bekerja sendiri!" sini Azea kesal. Bagaimana mungkin sang ibu yakin pria di depannya ini baik dan bagus untuk menikahi dia?


Nyatanya, pemuda di depannya ini hanya pria yang besar dengan nama orang tuanya, yang mewah karena harta orang tuanya, antara dia dengan Aluqi, seperti langit dan bumi. Itu beda jauh dari sikap, kepribadian, gaya hidup dan semuanya! Membayangkan hidup berumah tangga dengan Aluqi saja, Azea merinding.


"Mama dan Papa ku entah kena sihir apa, sampai-sampai memaksa aku menikah dengan kamu!" Aluqi bicara dengan menghela nafas.


Azea langsung menunjuk wajah Aluqi dengan wajah marah. "Heh, denger ya anak orang kaya! Untuk apa kau menuduhku menyihir keluarga kamu, aku bahkan tak sudi dan malas sekali menikah dengan kamu, jika aku mau menyihir, lebih baik aku menyihir orang kaya yang baik dan sholeh, bukan seperti kau!"


"Wah, wah, lihat gayamu ini! Sok kecantikan sekali!" Aluqi bertepuk tangan mengejek.


"Aku tak butuh pujianmu, mau aku sok cantik, sok iyes, sok apa lah! Yang jelas, kau bilang sama orangtua kamu, kalau kita ini tidak punya hubungan apa-apa! Dan gara-gara kau juga, ibuku tak percaya padaku, kau yang manipulatif, bisa-bisanya membuat ibuku percaya padamu!"


"Heh! Kenapa kau menyalah aku sejak tadi! Seharusnya aku yang marah padamu!" balas Aluqi tak terima.


"Apa? Kau?" Azea meletakkan tangan di telinga sambil mengejek menghadapkan telinga dengan tangan yang dicorongkan itu ke arah Aluqi, seolah dia pura-pura budek.

__ADS_1


"Iya, kau!" sahut Aluqi.


"Eh, dengar ya anak orang kaya! Dari awal, siapa yang memulai permainan aneh ini? Hah!" Azea melotot. "Ini berawal dari diri kamu sendiri, pertama kau mengganggu aku, sok baik, sok berteman, tapi kau ambil uangku hanya untuk sebuah permainan yang kau anggap tidak penting, padahal uang itu adalah uang yang sangat berharga bagiku. Kedua, kau sangat egois, demi memenuhi semua keinginan kamu, kamu memaksaku dan aku menurutinya, tetapi apa? Kau malah membohongi dan membual pada ibuku?"


Azea melipat tangan di dada, menetralkan pergerakan wajah dan tubuhnya, tetapi dia masih menggebu-gebu saat bicara. "Kau bilang kita berkencan lah, kau memamerkan foto-foto kitalah, da–" Ucapan Azea terpotong.


Dengan tidak sopannya, Aluqi memotong ucapan Azea. "Heh, emang kita waktu itu kencan kan? Dimana salahnya aku?"


"Heh? Kau tanya dimana salahmu. Ya ampun, rupanya susah ya ngomong sama orang kayak kamu! Jelas-jelas kita kencan waktu itu demi taruhan kamu! Tapi kamu malah melibatkan ibuku, dan masalah ibu kamu, itu bukan salahku, karena kau sendiri yang bilang pada ibumu di telepon!"


"Mana aku tahu, jika Mamaku yang memegang ponselmu waktu itu, habisnya lama diam saja, jadi aku pikir ibumu! Itu jelas bukan salahku!" sewot Aluqi dan dia masih bersikeras jika Azea yang salah.


"Ah, terserah kau lah. Aku capek bicara denganmu!" Azea melangkah pergi.


"Eh, tunggu!" Aluqi mengejar dan menarik tangannya.


"Ini sudah tengah malam! Dan aku mau pulang," balas Azea.


"Oke, aku antar pulang ya, aku belum selesai bicara, aku juga akan mengaku sama ibu kamu, oke!" Aluqi bicara lebih lembut, membujuk Azea.


"Ya, baiklah!" Azea pun mau karena tergiur jika Aluqi mau mengaku, sampai dia lupa jam tengah malam, tidak baik untuk bertamu, tetapi dia sangat ingin membatalkan semua rencana ibunya yang sangat senang dia menikah dengan Aluqi.


Azea akhirnya memilih berboncengan dengan motor Aluqi. Sebenarnya jika naik ojek seperti biasa, atau naik motor buntutnya, Azea hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit saja, tetapi saat diantar Aluqi, ini sudah menghabiskan waktu satu jam. Pria itu melajukan motornya pelan dan memperjauh rute berjalanan.


"Heh, ini sudah jam satu malam! Kau muter-muter aja dari tadi!" Azea mulai risih.

__ADS_1


"Iya, gue gugup tau nggak!"


"Gugup ngapain! Bohong aja kemarin kau lancar!" kata Azea.


"Ya ... itu karena beda lagi sama sekarang lah!"


Dan entah kenapa, seolah langit tidak mendukung perjalan mereka, tadi langit malam tampak bintang sekitar jam delapan malam, tetapi dini hari ini, hujan tiba-tiba. Cukup deras, memaksa mereka untuk mencari tempat berteduh dulu.


"Sial! Kita berteduh di sana dulu ya!" Aluqi langsung memarkirkan motornya ke arah gang kecil dan di situ ada sebuah bangunan agak tua, tetapi banyak motor terparkir di sana juga.


"Tau hujan gini tadi, gue bawa mobil aja!" Aluqi bergumam sendiri sambil berdecak lidah.


"Kamu basah banget?" Aluqi menoleh melihat Azea menutupi dadanya, baju Azea sedikit tipis, baju murahan, yang bisa tertrawang jika kena hujan.


"Ehem!" Luqi berdehem. Dia langsung melepas jaketnya, memberikan dengan memalingkan pandangan. "Pakailah, tutupi!"


"Ya, terimakasih!" Azea mengambil jacket itu dan memakainya, setidaknya Aluqi ada sifat gentleman juga.


Mungkin sikap buruk dan egoisnya ini ada karena dia dimanja dan anak semata wayang! Begitulah pikir Azea saat melamun melihat rinai hujan dan sudah sedikit hangat setelah memakai jacket Aluqi.


Setelah mereka berdiri cukup lama dengan diam di sana, berhenti pula tiga motor dengan berpasang-pasangan, mereka masuk ke dalam bangunan itu, bangunan yang terlihat kuno, suram dan kelam.


"Banyak yang masuk ke sana, apa ini kedai?" Aluqi celingak celinguk.


"Ayo, kita beli yang hangat-hangat dulu di dalam, takutnya nanti kamu masuk angin, nanti hujan reda kita pulang, ayo!" ajak Aluqi mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Karena tangannya yang terulur di abaikan Azea, Aluqi pun memasukkan kembali tangannya ke dalam kantong celana, dan berjalan lebih dulu, kemudian diikuti oleh Azea.


__ADS_2