Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Menikah!


__ADS_3

Sumpah serapah dalam hati telah diungkapkan oleh Azea dari sorot matanya pada Aluqi. Entah kenapa, Aluqi bisa menjawab seperti itu, padahal semalam dia menggebu-gebu, bilang tak ingin menikah dengannya dan masih mengejek dirinya, tetapi sekarang, gara-gara sikap dia, semuanya jadi kacau!


"Karena kalian sepasang kekasih, bertengkar saja harus pergi ke tempat itu, akan lebih baik kalian menikah dengan cepat, Mama dan Papa akan mempercepat pernikahan kalian, bagaimana kalau seminggu lagi? Benarkan Bu?" Yolanda dan suaminya menatap ibu Azea.


Wanita paruh baya itu pun juga menyahuti. "Benar, takutnya terjadi hal-hal yang membuat dosa besar, jika kalian menikah, semua bisa terhindar, Ibu pun jadi tenang."


"Bu .... " Azea menatap lesu sang ibu. Di sangat sayang dan patuh pada ibunya. Kemarin saja, gara-gara Aluqi bilang mereka. pacaran, ibu meminta dia menikah segera, jika sekarang bagaimana dia menolak dan meluruskan kesalahpahaman ibunya? Apa lagi melihat sikap Aluqi yang plin-plan tidak jelas!


"Aku setuju mereka menikah seminggu lagi, bahkan aku sempat berpikir mereka nikah hari ini saja," kata Ibu Azea.


"Itu jauh lebih benar lagi," timpal ayah Aluqi.


"Apa!" Mata Aluqi dan Azea sama-sama terbelalak.


"Papa akan menelfon teman Papa yang menjadi penghulu, surat menyurat akan menyusul dan pesta bisa kita buat seminggu lagi, yang penting menikahnya secara sah saja dulu!" ayah Aluqi langsung mengambil ponsel dan menelfon.


Yolanda dan Ibu Azea tampak tersenyum dan saling berpelukan.

__ADS_1


Tak! Tak! Azea memijak kuat kaki Aluqi dua kali.


"Aw!" Aluqi berteriak.


"Aluqi ada apa?" Yolanda menoleh padanya.


"Ah, i-ini Bu, tadi aku tergigit lidah sendiri," jawab Aluqi.


"Astaga, anak ini benar-benar mesum. Saking gemesnya melihat Azea, sampai mengigit lidah sendiri. Kamu memang harus menikah dengan Azea segera!" kata Yolanda.


***


Nicko — adik laki-laki Azea saling berjabat tangan dengan penghulu, ada beberapa orang tetangga Azea yang juga di ajak oleh Bu Yoalanda sebagai saksi nikah.


Rahma — adik bungsu Azea yang masih sekolah SMP duduk di samping Luna—Ibunya Azea, sedangkan kedua orang tua Aluqi duduk di belakang Aluqi.


"Sah?"

__ADS_1


"Sah!" jawab orang-orang yang datang berseru.


Kini, Azea dan Aluqi telah resmi menikah, sah Di mata hukum dan agama sebagai pasangan suami istri. Keduanya tampak aneh, tak bicara dan protes, mereka terdiam tanpa reaksi.


"Bu-Ibu, rencana seminggu lagi kita akan mengadakan pesta pernikahan Azea dan putraku, aku harap ibu-ibu juga datang, ya!" kata Yolanda.


"Iya, Bu, tentu saja," jawab mereka.


"Selamat ya Nak Zea," kata semua orang yang ada di sana, yang mengenal Azea.


"Selamat, ya." Mereka juga mengalami Aluqi.


"Sekarang Luqi, kamu bisa tinggal di rumah Azea," kata Yolanda.


"Loh, kok di rumah Azea? Bukannya harus di rumah kita, pihak keluarga laki-laki, dan Azea juga harus mengikuti aku sebagai suaminya," protes Aluqi.


"Benar, tapi kamu belum punya rumah, itu rumah Mama dan Papa, jadi kamu ibu serahkan pada Bu Luna dan Azea," sahut Yolanda.

__ADS_1


"Nggak bisa gitu dong Ma!" teriak Aluqi tak suka.


__ADS_2