Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Menikah Sebulan Lagi


__ADS_3

Hampir tiga hari lamanya Luqi menunggu, tetapi ponselnya tidak dikembalikan, sehingga dia pergi ke mall untuk membeli ponsel, namun saat dia tiba di sana, semua kartu yang dia bawa di blokir dan tidak bisa digunakan satu pun.


Dia malu sekali, wajahnya merah padam, dia di sangka seorang penipu yang sedang membual.


"Mama!" teriak Luqi mendatangi tempat kerja sang ibu.


"Ada apa sih, Luqi? Kamu itu sudah besar, harus bisa berprilaku sopan dan santun. Kau datang kemari berteriak-teriak, tanpa ucap salam dan tak menyapa Mamamu dengan baik," protes Yolanda.


"Itu tidak penting! Mama keterlaluan. Mama merampas ponselku dan juga Mama memblokir semua kartuku! Mama tega banget sama aku!" Luqi cemberut dan merajuk.


"Kau sudah besar, kau harus belajar mandiri! Calon istrimu Azea saja bisa bekerja, kamu tidak ada yang bisa!" ejek Yolanda.


"Udah deh Ma, siapa juga yang mau menikah dengan dia!" Akhirnya, Luqi kesal sendiri, kalau dia tahu akan seperti ini, dia tidak akan bermain-main dengan Azea, sungguh!


"Oh, kamu terlambat Sayang! Semalam, Mama dan Papa baru saja berjumpa dengan Azea dan Ibunya. Papa dan Mama janji sebulan lagi kalian akan menikah," kata Yolanda.


"Apa!" Luqi terkejut luar biasa. "Jangan bercanda deh Ma!" Wajah Luqi berubah. Ini menyeramkan, menikah dengan Azea, yang benar saja?

__ADS_1


"Siapa juga yang bercanda, Mama bicara serius!" Yolanda tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


***


Malam hari, Yolanda telah memberikan ponsel Aluqi, tetapi semua aplikasi di dalamnya sudah di hapus dan di setel ulang dalam bentuk pabrik.


"Ma?" Luqi ingin protes.


"Ssst! Mulai sekarang, kamu harus patuh!" potong Ibunya, Yolanda. "Ini ponsel dan ini uang lima ratus ribu. Kamu harus bisa hemat dan berpandai-pandai. Ini untuk seminggu!" kata Yolanda.


"Ma, jangan ngelawak deh. Mana cukup! ini satu jam aja habis!" Luqi berseru tak senang.


"Ma–"


"Ssst, No! Mama nggak mau denger alasan kamu. Kalau kamu mau uang jajan banyak, harus bekerja sendiri!" tegas Yolanda.


"Aaaah!" Luqi menjambak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Di kediaman Azea. Gadis itu menghubungi Aluqi berkali-kali, tetapi nomornya tidak aktif. Dia ingin memberitahu pria yang mengesalkan itu tentang ibu dan ayah Luqi yang datang kemari dan berjanji akan melamar secara adat ke rumahnya, mereka bahkan berbincang kapan Azea dan Luqi menikah dengan ibu Azea yang tengah sakit.


Azea ingin memberitahu pada ibunya dengan jujur, namun ibunya malah tak percaya, ibunya mengira dia malu dan terus menggoda dirinya, padahal dia benar-benar tidak memiliki hubungan apapun dengan Luqi.


Hubungan dia dengan Luqi menjadi rumit gegara tingkah tidak jelas Luqi.


"Dasar pria jahat! Tampan aja kelebihan darinya, selebihnya nol besar!" gerutu Azea.


"Ada apa, Nak?" Tiba-tiba muncul ibunya dari belakang.


"Tidak ada apa-apa kok Bu," jawab Azea lembut.


"Kamu lagi kesal sama Luqi? Atau sama pekerjaan kamu? Jangan jadi gadis pemarah, lapangkan hati kamu, sabar dan perbanyak ikhlas," pesan sang ibu.


"Iya, Bu," sahut Azea patuh.


"Ibu senang sekali, Calon mertua kamu orang yang dermawan dan baik, Luqi juga, sungguh beruntung kamu Nak, ibu merasa bahagia sekali, Ibu jadi tidak sabar menunggu datangnya waktu sebulan lagi." Ibu Azea tersenyum. Rasanya Azea malu dan marah dengan semua kebohongan ini, betapa sedih dan kecewanya nanti sang ibu tahu semua ini hanya kebohongan Aluqi.

__ADS_1


"Ibu, sudah waktunya minum obat, ayo kita makan dulu, nggak usah mikir banyak-banyak dulu, kalau kami berjodoh, kami pasti menikah, iya kan?" Hanya seperti itulah respon Azea akhirnya dan mengajak sang ibu makan bersama, lalu meminum obat untuk kesembuhan ibunya.


__ADS_2