
Yolanda bertemu dengan Ibunya Azea di rumah Azea di saat Azea tidak ada di rumah, adik Azea pun juga tengah sekolah sore sekarang, tadinya kedua adik Azea memang ada di rumah, saat Yolanda baru datang, sementara Azea tidak ada di rumah, karena gadis itu akan pulang ke rumah setelah jam 12 malam.
"Iya Bu, saya senang sekali karena Azea bisa menerima putra saya yang banyak kurangnya. Aluqi selama ini selalu manja dan apapun keinginan dia, selalu aja kami kabulkan. Sebagai orang tua Aluqi, ini jelas salah kami, tidak seharusnya kami memanjakan dia, sampai dia ceroboh begini," ucap Yolanda.
"Tidak Bu Yola, Nak Luqi sangat baik, sopan santun, tutur katanya juga lembut. Saya malah yang merasa senang karena Nak Luqi menyukai putri saya yang biasa-biasa saja," jawab Ibu Azea.
"Tidak Bu. Jelas Nak Azea sangatlah baik hati, mandiri dan rajin, dia sangat luar biasa," puji Yolanda.
Mereka berdua terus berbincang, sehingga begitu banyak keputusan-keputusan kecil yang telah mereka ambil. Bahkan, Yolanda mengajak Ibu Azea pergi keluar bersama dirinya dengan mobil.
Biasanya, Ibu Azea dikenal tidak matre dan baik, dia selalu menolak pemberian apapun, namun saat Yolanda membujuknya dengan sebuah rumah sederhana ukuran tipe 36/72 yang dekat dengan tempat sekolah kedua anaknya, dengan dia merawat rumah di sebelahnya bertipe 90/150, di depannya juga ada bangunan rumah kaca berukuran 6x10 m dengan taman bunga di sekitarnya, sehingga Ibe Azea bersedia.
Selama ini dia sakit, tak bisa membantu anaknya, kecuali pekerjaan remeh seperti menyapu rumah dan mencuci piring, itu pun dia juga harus berjuang melakukannya karena dia sakit, tetapi kini dia sudah operasi, dia merasa sudah sembuh, walaupun tidak bisa bekerja berat, dia bisa menjaga rumah yang ada di samping rumah type 36 itu. Tugasnya hanya membersihkan rumah itu, lalu merawat bunga di depannya, gaji bulanannya di hitung sebagai angsuran bulanan beli rumah, begitulah rincian Yolanda membujuknya.
"Iya, Ibu tidak usah merasa terbebani, aku menyukai Azea, jadi rumah ini bisa saya langsung urus surat-surat nya atas nama Ibu, agar dua orang anak ibu lainnya lebih terjamin lagi karena ada rumah untuk berteduh kan, dari pada nyewa terus, Ibu pun bisa menyimpan uang sewa itu untuk keperluan lainnya. Aku membantu ini enggak percuma saja kok, Ibu bisa menyapu rumah, memperhatikan dan menyiram taman bunga di depan," kata Yolanda.
__ADS_1
"Memangnya, kenapa rumah itu kosong dan tidak di sewakan?" tanya Ibu Azea.
"Hm, itu kadang digunakan untuk keperluan penting, taman bunga juga untuk di perjualbelikan juga," terang Yolanda.
"Oh, Ibu Yola punya toko bunga?"
"Iya, aku memiliki beberapa usaha Bu, ada toko jam, toko bunga dan beberapa usaha lainnya," jelas Yolanda.
Ibu Azea mengangguk paham.
Ibu Azea pun langsung setuju, membayangkan kedua anak manusia yang dimabuk cinta, dan tertahan hanya karena memikirkan orang tua dan keluarganya, dia tak ingin egois.
***
Malam hari.
__ADS_1
Azea baru pulang bekerja, dia mencuci badan dan mengganti pakaian, lalu meminum air putih, memeriksa tugas kuliah sejenak. Saat dia hendak mau tidur, sang Ibu menyibak tirai kamarnya, karena Azea tidak menutup pintu kamarnya jika tidur.
"Ibu?" Azea menatap sang ibu. "Ada apa? Apa Ibu merasa sakit?" tanya Azea.
"Tidak. Tapi ... Ibu selalu kepikiran tentang kamu dan Luqi."
"Sudahlah Bu, untuk apa dipikirkan terus, mending Ibu istirahat cepat, aku tidak mau ibu sakit karena terlalu banyak berpikir," ujar Azea.
"Zee," panggil Ibu.
"Iya, Bu," jawab Azea lembut.
"Menikah lah dengan Nak Luqi, Zee," ucap Ibu.
Deg! Mata Azea melotot.
__ADS_1