
Mereka berdua masuk ke dalam. Sunyi. Hanya ada sebuah meja dan ada dua orang perempuan di sana, lalu dua orang berbadan kekar di sudut sana.
"Loh, orang-orang tadi kemana ya?" bisik Aluqi ke arah Azea. "Nggak mungkin mereka setan kan?" Bulu tangan Aluqi langsung merinding dia mengelus tengkuk dan tangannya.
"Dasar penakut," ejek Azea membalas dengan berbisik juga. "Orang lah, jelas kaki mereka tadi memijak tanah!" kata Azea. "Tanya aja sama yang berdua itu, mungkin mereka berdua resepsionis."
"Selamat datang," sapa orang itu tersenyum pada Azea dan Aluqi.
"Kamar bagus apa sedang?" tanyanya.
Azea dan Aluqi saling menoleh, melihat satu sama lain.
"Maaf, ini tempat penginapan ya?" tanya Azea. Dan rupanya, kedua sejoli ini sangat polos.
Wanita itu tersenyum. "Iya, di sini sangat aman. Tidak pernah ada pemeriksaan biasanya, bangunan ini juga dari luar tidak terlihat seperti penginapan. Kamar bagus harganya tiga ratus ribu semalam, fasilitas lengkap bintang tiga, ada tisu magic dan juga kond*m, serta jamu dan obat," jelas wanita itu.
Mata Azea dan Aluqi melebar. "Eh?" Aluqi bahkan sampai mengeluarkan suara karena terkejut.
"Kalau Mas dan mbak merasa berat, kamar sedang juga bisa, harganya hanya delapan puluh ribu semalam, fasilitas cuma handuk dan ranjang saja, yang lain tidak kami sediakan," kata wanita itu lagi.
"Makanan?" Aluqi pun bertanya, karena hujan masih lebat, asal ada makanan tak masalah sewa kamar, mereka juga tidak akan melakukan apapun.
"Kami hanya menyediakan makanan dan minuman untuk kamar bagus, jika ingin di kamar sedang, makanan beli lagi," terang wanita itu.
"Oh, baiklah, boleh lihat kedua kamar itu dulu?" pinta Aluqi.
Azea menarik tangan Aluqi. "Kamu gila? Ngapain sewa kamar!" bisik Azea tak suka.
"Tenanglah. Kita hanya fokus beli makanannya, lagian di luar hujan lebat, kalau pun kita berdiri di luar, mungkin mereka akan marah karena kita sudah tahu tempat ini, tapi tidak bertamu, bisa-bisa mereka curiga dan takutnya kita di apa-apain, ayo, nggak usah cemas, aku enggak tertarik sama kamu kok," jawab Aluqi.
Azea langsung mencubit tangan Aluqi. "Oke!" jawabnya setuju akhirnya, setelah berbisik-bisik, karena Azea juga mulai khawatir melihat dua orang berbadan kekar di sana.
__ADS_1
Azea dan Aluqi melihat dua perbedaan kamar. Yang pasti, Aluqi sangat tidak suka kamar sedang itu, cat gelap, bau, dan pokoknya lebih buruk dari toilet di dapur rumahnya yang digunakan secara umum oleh maid di mansionnya. Lalu, pilihan terakhir adalah kamar bagus.
Akhirnya, dia memilih kamar itu. "Saya langsung mau di bawa makanannya ya," pinta Aluqi setelah membayar uang sewa, dan uang itu adalah uang yang diberikan teman-temannya karena semua kartu dan uang dia di tahan Mama dan Papanya.
"Baik."
Makanan yang dihidangkan adalah nasi goreng sederhana, lalu dua butir telur setengah matang dengan garam, lada dan permen, cemilan, serta air mineral dan teh hangat.
Sementara baki satu lagi adalah alat pengaman, pelumas, dan jamu bubuk beserta termos kecil yang isinya air panas. Azea dan Aluqi sama-sama melihat itu. Mereka memang sama-sama perawan dan perjaka, tetapi hal begini mereka tau. Pipi keduanya merah karena malu.
"Selamat bersenang-senang." Begitulah perkataan terakhir dari orang yang mengantarkan mereka makanan.
"Gila! Ini tempat maksiat ya!" seru Azea selepas orang itu pergi. "Kau sering ya ke sini! Jangan macam-macam sama aku!" Azea langsung mengeluarkan alat setrum dari tasnya.
"Astaga, gadis ini! Jangan su'zon jadi orang. Aku ini lelaki baik-baik, tidak asal memberikan keperjakaan aku pada wanita. Enak saja bicara! Aku sekali ini kemari, mana mungkin aku datang ke tempat kumuh seperti ini, aku tuh kalau main sama teman-teman aku bukan tempat beginian. Lagian, aku kalo pacaran gak lebih dari ciuman, itu aja paling jauh, dan wanita yang aku cium itu cuma ada dua orang dari barisan wanita-wanita yang aku kencani. Aku ini pria mahal!" Aluqi berkata dengan jumawa.
"Mahal! Ciuman sudah sama dua wanita! Mahal apaan! Lelaki mahal itu, bisa menahan hawa nafsu. Itu namanya gak mahal kalau udah ciuman!" balas Azea.
"Lebih baik begitu!"
"Huh!" Aluqi mencibir dengan bibir. "Ya sudah lah, nggak usah berdebat lagi, mendingan kita makan! Ayo!"
Azea dan Luqi pun akhirnya makan, setelah kenyang, mereka sama-sama melihat jendela, masih hujan.
"Nomor di rumah nggak aktiv. Aku kirim pesan sama Ibu, kalau aku terkurung di toko, huam!" Azea menguap dan melihat ponselnya.
"Kalau ngantuk, tidur aja dulu di ranjang, nanti teduh aku bangunin," kata Aluqi.
Azea hanya diam saja, menguap dan melihat Aluqi.
"Nggak usah khawatir, aku udah bilang sama kamu kan, aku tuh nggak tertarik sama kamu! Jadi jangan mikir macam-macam. Wanita impian yang ingin aku tiduri itu bukan seperti kau yang kurus ini, aku suka yang semok aduhai!" ucap Aluqi.
__ADS_1
"Ck!" Azea berdecak lidah. Aluqi memang punya mulut yang membuat Azea terus kesal.
"Buka aja baju kamu, baju kamu kan basah, dari pada masuk angin, sekalian bisa di keringkan juga, kamu pake selimut itu biar hangat. Aku tak akan melihat kamu." Aluqi mengambil handuk kering baru yang diberikan oleh pengurus bangunan ini tadi, dia membuka baju kaosnya, lalu berselimut handuk dan memunggungi Azea.
Azea dengan terpaksa juga membuka bajunya, karena bajunya tadi basah, dia sekarang hanya menggunakan pakaian dalam, dia lilitkan di tubuhnya. "Jangan lihat ke sini!" seru Azea, dia membentangkan pakaiannya dan jacket Aluqi agar sedikit kering.
"Iya, bawel, nggak minat juga aku lihat kamu!" sahut Aluqi.
Azea meringkuk dengan selimut tebal di atas ranjang, tubuhnya kini menghangat, sama halnya dengan Aluqi juga, tubuhnya sudah hangat berselimut handuk kering yang tebal sambil memandang jendela yang basah karena air.
"Kalau tidak reda juga sampai jam tiga, kita tidur aja di sini ya? Nanti aku akan bilang sama ibu kamu, kita pulang jam enam atau usai subuh, kalau pulang jam tiga dini hari, itu terlalu sepi jalanan," ucap Aluqi.
"Azea!" panggil Aluqi karena tidak mendapat respon, lalu berjalan mendekat ke arah Azea. "Loh, kau tertidur!" gumam Aluqi.
"Ya sudahlah, kita tidur di sini saja!" Aluqi mendekat dan memilih tidur di tepi ranjang, di batasi dengan bantal guling.
***
Terdengar ketukan keras di pintu saat jam tiga dini hari, entah apa yang terjadi tapi sangat ribut. "Heh, kalian, cepat bangun, ada polisi, cepat! Ayo kita pergi, lewat pintu belakang!" Begitulah yang terdengar oleh Aluqi dan Azea yang sama-sama terkejut dan terbangun.
"Kau! Ngapain kau tidur di sini! Dasar mesum! Kau apakan saja aku!" Azea memukul tubuh Aluqi.
"Apa-an sih, aku nggak ngapa-ngapain juga, aku cuma tidur," jawab Aluqi.
"Bohong! Kau pasti bersikap kurang ajar kan!" tuduh Azea.
"Ck, cepat pakai bajumu! Nggak usah berdebat!" Ya, bukannya buru-buru pakai baju dan kabur, mereka malah berdebat.
Azea masih gak terima dan masih mendebat, sehingga tiba-tiba pintu di dobrak. Rombongan polisi datang.
"Aah!" teriak Azea terkejut, cepat melindungi tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam, dan Aluqi memakai celana saja tanpa baju.
__ADS_1