
Azea sangat merasa malas melakukan semua hal tak penting itu bersama Luqi. Namun biar bagaimanapun, seperti kesepakatan mereka pada awalnya, dia harus tetap melakukan ini kalau tak mau hidupnya terus menerus diganggu oleh lelaki itu.
Beberapa hari terakhir ini, mereka sudah melakukan banyak hal, mulai dari kencan, jalan-jalan, menemani Azea mengerjakan tugas di perpustakaan, dan banyak hal lainnya. Dan semua momen itu harus diabadikan agar menjadi bukti nyata kalau Luqi sudah berhasil menaklukkan Azea seperti yang diminta oleh ketiga temannya.
"Berapa lama lagi kita harus melakukan ini? Kau tahu aku sudah tidak tahan lagi dan ingin kembali pada rutinitasku yang dulu." Azea akhirnya mengeluh, memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapatnya di sini. Ia tentu saja tidak akan membiarkan lelaki itu terus-menerus mendominasi dirinya. Dia ingin hidup tenang seperti dulu.
"Yah, secepatnya setelah ketiga temanku yakin bahwa aku sudah berhasil menaklukkanmu. Segera setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi."
Azea hanya bisa menghela nafas panjang. Dia malah memikirkan hal lain. Bagaimana kalau seandainya ketika teman Luqi malah meminta hal lain setelah ini atau memberi tantangan lain kepada Luqi.
Dia sungguh tidak sanggup apabila harus melakukan hal lain lagi bersama Luqi. Dia ingin bebas sekarang. Azea memandangi beberapa pinguin di kebun binatang itu. Setidaknya melihat hewan-hewan di sini sudah cukup menjadi hiburan tersendiri baginya.
Sebenarnya memang ada banyak hal yang dia dapatkan dalam kepura-puraan ini. Dia bisa pergi jalan-jalan atau mencoba makanan mahal yang selama ini sama sekali tidak pernah bisa dia beli. Ada juga banyak tempat yang baru dia datangi, tempat-tempat yang selama ini hanya bisa dia lihat lewat internet atau juga televisi.
Dia tidak pernah menyangka bahwa orang yang paling dia benci justru menjadi orang yang pertama yang mengajaknya datang ke tempat-tempat itu. Meski jalan-jalan bersama orang yang dia benci, rasa bahagia itu tetap ada ketika untuk pertama kalinya dia merasa bebas pergi ke mana saja.
__ADS_1
"Aku sangat berharap ketika temanmu yang nakal itu tidak lagi meminta sesuatu darimu. Kau tahu, kalau aku bahkan tidak punya urusan dengan mereka. Apakah memang begitu berat kalau kau harus mengaku bahwa kau gagal menaklukkan diriku dan malah memaksaku untuk melakukan semua ini?"
Luqi tentu saja tertawa mendengar ide dari Azea yang menurutnya sangat konyol. Sesuatu yang saat ini bahkan sangat dia hindari. Bagaimana mungkin dia akan mengaku kepada semua temannya bahwa dia gagal dan kembali memaksa seorang gadis hanya untuk menyelamatkan harga dirinya?
Dia melakukan semua ini untuk membuktikan kepada semua temannya bahwa dia akan selalu berhasil menaklukkan siapa pun. Ide yang sangat mengerikan apabila menuruti apa yang diminta oleh Azea sekarang.
"Kau gila! Jelas aku tidak akan pernah melakukan hal semacam itu. Kau ternyata belum puas untuk merendahkan diriku di hadapan mereka."
Azea sudah tidak bertemu lagi apa pun yang dikatakan oleh lelaki itu. Untuk saat ini dia hanya ingin fokus kepada dirinya sendiri.
"Wah, sudah gue bilang, bukan? Gue sudah tahu kalau lu bisa melakukan hal ini," ucap Glenn dengan percaya dirinya. "Lalu? Kalian masih sering bertemu setiap hari sekarang? Belum berpikir untuk langsung meninggalkannya setelah dia jatuh hati ama lo?" tanya Glenn kemudian.
Luqi kembali terdiam karena dia sudah tahu bahwa Azea tidak mungkin merasa patah hati ketika dia meninggalkan perempuan itu begitu saja. Dia gagal membuat Azea jatuh cinta padanya.
"Ya, tidak secepat ini pastinya. Bagaimana kalau dia curiga? Kita tidak tahu apa saja yang akan dia lakukan kalau dia mengetahui bahwa selama ini kita hanya menipunya."
__ADS_1
Glenn dan yang lainnya mengangguk setuju. Mereka tidak pernah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh orang seperti Azea yang hingga saat ini menjadi orang paling berani terhadap Luqi yang beda kelas dengannya.
"Jangan bilang kalau lo malah suka beneran juga padanya."
Glenn, Luqi, dan John langsung menoleh ke arah Radit begitu mendengar pertanyaan lelaki itu. Luqi tentu saja merasa tersinggung. Bagaimana mungkin dia akan jatuh hati pada wanita keras kepala dan beda kelas seperti Azea. Itu sesuatu yang sangat mustahil.
"Ya, ogahlah! Mana mungkin!" ucap Luqi sambil menikmati pizzanya. Mereka memang sedang berada di sebuah restoran yang baru dibuka beberapa hari yang lalu. Merasa sama-sama penasaran dengan menu yang ada di sana.
"Berarti lu harus hati-hati dengan diri lo sendiri. Kita tidak pernah tahu hal seperti apa yang akan terjadi ke depannya. Gue sering melihat kasus di luar sana kalau ada dua orang yang awalnya hanya iseng, tapi malah pada akhirnya nyaman satu sama lain." Radit seperti berusaha menggoda Luqi saat ini. Namun tentu saja Luqi menganggap bahwa itu hanyalah omong kosong. Gadis seperti Azea bukanlah tipikal yang dia cari apalagi untuk dijadikan istri. Masih terlalu jauh untuk memikirkan hal berat semacam itu. Dia juga masih terlalu muda untuk memikirkan hal tentang menikah. Ada banyak hal yang perlu dia lakukan di usianya yang sekarang. Dia ingin bersenang-senang sebelum dikekang oleh sesuatu bernama pernikahan.
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Gue yakin sebagai teman lo. Lo juga pasti mengerti bukan, bahwa gue tidak akan pernah melupakan apa yang dilakukan oleh orang pada gue, terutama ketika orang itu pernah menghina gue. Gue tidak akan pernah memaafkannya, apalagi menjadikannya sebagai teman hidup."
Radit hanya tertawa mendengar jawaban dari Luqi. Dia menikmati sup ayam dan pizza itu dengan lahap. Restoran yang mereka datangi saat ini ternyata cukup nyaman dan juga tampilannya terlihat seperti restoran di negeri dongeng. Memiliki desain seperti rumah-rumah peri bahkan juga didominasi dengan kayu.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Semoga lo tidak terjerat dengan pesona Azea. Karena dari kulihat dia juga cukup cantik," ucap Radit lagi yang seakan tidak puas menggoda temannya itu. Dia tertawa kecil ketika melihat Luqi kesal karena setiap ucapannya.
__ADS_1
"Sudahlah, gue tidak akan memikirkan hal itu saat ini. Gue hanya sedang membayangkan bagaimana nanti reaksinya ketika gue mendadak pergi. Apakah menurut kalian itulah bagian paling menyenangkannya? Bahkan gue sangat berharap kalian ada di sana untuk menonton hal ini." Luqi tertawa karena merasa berhasil menjalankan tantangan itu meskipun harus dengan cara memaksa Azea agar berpura-pura melakukan semua itu dengannya.