
Azea mendapati ternyata Luqi kembali datang bersama teman-temannya ke minimarket itu. Mereka tidak berbelanja sama sekali, terlihat hanya sedang duduk di sana sambil mengobrol banyak hal. Entah apa yang mereka bicarakan, Azea tidak bisa mendengarnya dari dalam. Dia hanya terus menata semua barang yang baru datang ke rak dengan sangat rapi. Dia tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan oleh Luqi sekalipun lelaki itu sudah cukup sering datang ke minimarket, entah untuk apa.
Hingga saat ini Azea juga belum mengetahui bahwa Luqi adalah salah satu lelaki dari sebuah keluarga kaya raya di kota mereka. Dia tentu saja tidak memperlakukan lelaki itu sebagaimana orang lain memperlakukan Luqi di luar sana. Dia tidak terlalu peduli dengan orang kaya atau harus dengan cara apa pun dia bersikap kepada orang kaya. Karena yang paling penting baginya di sini adalah dia tidak membuat masalah dengan mereka. Dia hanya membalas apa pun yang dilakukan oleh orang lain pada dirinya, entah itu baik atau juga buruk.
Samar-samar Azea mendengar suara tertawa dari Luqi dan juga teman-temannya di luar sana. Sebenarnya itu tidak terlalu mengganggu karena kaca dari minimarket itu cukup tebal sehingga bisa meredam suara mereka. Azea juga terlalu malas untuk menegur mereka. Dia tahu bahwa para pemuda yang baru dewasa ini akan merasa terhina apabila ditegur atau dikritik. Mereka akan merasa kalau harga diri mereka dihancurkan ketika dikritik oleh seorang perempuan yang mereka anggap derajatnya di bawah mereka. Itulah yang dinamakan ego. Azea tidak mau terlalu repot untuk berurusan dengan sesuatu seperti itu.
Sedangkan Luqi dan juga teman-temannya yang saat ini sedang bermain kartu, semakin lama pada akhirnya semakin bosan dengan permainan itu. Mereka mencari permainan lain yang sekiranya bisa membuat mereka tidak bosan lagi. Lagi pula memang tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan di rumah. Di rumah justru jauh lebih membosankan daripada di luar. Dan mereka bisa menghabiskan waktu semalaman di sini atau juga di tempat lain.
"Bagaimana kalau sekarang kita taruhan?" tanya Glenn kepada teman-temannya yang lain. Dia mengusulkan ide untuk mencairkan suasana yang membosankan ini.
Luqi mengangkat alis sebelum kemudian berdiri dari tempatnya. Dia masuk ke minimarket itu sejenak dan mengambil sebotol minuman di kulkasnya. Sebelum dia kembali keluar, dia tidak sengaja melihat uang seratus ribu di salah satu rak, sedangkan pemilik uang itu sendiri sedang berjongkok untuk membersihkan rak bagian bawah as sebentar, karena uang itu sedikit basah. Dia tidak sadar kalau Luqi mengambil uangnya sekarang.
Luqi terdiam sejenak untuk mencari ide tentang taruhan apa yang akan mereka lakukan sekarang. Dia memandang ke arah uang itu sambil mengerutkan kening sebelum kemudian timbul suatu ide di kepalanya. Ahirnya, Azea menyadari kalau uangnya kini berada di tangan Luqi pun berusaha merebut uang itu kembali.
"Hei, kembalikan! Itu uang milikku!"
__ADS_1
Bukannya mengembalikan uang milik Azea, Luqi justru keluar dari minimarket itu dan menaruh selembar uang itu tepat di tengah meja mereka. Glenn dan yang lainnya langsung mengangkat kepala sambil menatap Luqi.
"Menurut kalian, taruhan macam apa yang bisa kita lakukan dengan uang seratus ribu?" tanya Luqi kepada teman-temannya dan dengan santai meminum sebotol minumannya. Sedangkan Azea sekarang hanya bisa memandang sekelompok pemuda itu di dalam minimarket. Dia merasa heran kenapa Luqi melakukan itu kepadanya. Kenapa dengan sesuka hati Luqi mengambil uangnya dan tidak mengatakan apa pun apalagi sampai mengembalikan uang itu kepada Azea.
Teman-teman Luqi saat ini sedang berpikir untuk mencari ide tentang taruhan yang akan mereka lakukan. Mereka memandang uang tersebut. Mereka kemudian beralih memandang Luqi.
"Bagaimana kalau kami tantang lu aja dalam hal ini?" tanya Radit yang membuat Luqi mengangkat alis. Mengapa harus dia yang jadi sasarannya?
"Kenapa gue? Kalaupun ingin membuat tantangan, bukankah lebih baik kita memilih lebih dulu? Bisa dengan melempar dadu atau cara apa pun," ucap Luqi yang tidak terima sama sekali ketika dirinya langsung dijadikan sasaran begitu saja tanpa ada perundingan atau juga pemilihan orang yang akan diberi tantangan.
"Percaya dalam hal apa? Memangnya apa tantangannya?" tanya Luqi.
Ketiga orang itu saling bersitatap sejenak, seolah ingin bertanya lewat tatapan siapa yang akan mengatakan hal itu kepada Luqi.
"Ok, tantangannya adalah kau harus membeli sepuluh jenis benda yang berbeda dengan uang seratus ribu ini. Atau kalau perlu kau harus mengajak minimal satu perempuan untuk berkencan hanya dengan modal uang ini," ucap Glenn sambil mengangkat uang tersebut tepat di depan wajah sahabatnya.
__ADS_1
Luqi yang mendengar hal tersebut tentu saja terkejut. Dia tidak terbiasa dengan hal itu. Dia tidak terbiasa membelanjakan uang yang menurutnya sangat kecil nilainya apalagi harus membeli sepuluh jenis barang yang berbeda. Dia tidak mungkin bisa melakukan hal tersebut.
"Tidak, gue tidak mungkin bisa melakukannya. Uang ini terlalu kecil untuk bisa membeli sepuluh jenis barang yang berbeda, kalau sepuluh barang itu palingan cuma permen dengan beda merek, ciki-ciki pun sekotak saja bisa dua puluh lima ribu, yang benar saja, sepuluh barang lagi, apalagi ngajak cewek kencan modal seratus ribu? Beli mie sama teh es aja gitu!" ucap Luqi yang lupa, kalau uang itu bukanlah miliknya.
"Justru karena pemikiran seperti inilah kami menantang lo. Setidaknya mungkin Lo perlu melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan, yaitu membelanjakan uang yang nilainya kecil." Tiga temannya memainkan alis menantang Luqi.
Luqi berpikir sejenak. Menurutnya ini juga cukup menarik untuk dilakukan. Tidak ada salahnya apabila dia melakukan hal tersebut. Dia juga ingin melakukan sesuatu yang baru kali.
"Ok, gue rasa ini memang cukup menarik untuk dilakukan. Gue juga penasaran! Bagaimana rasanya mencari banyak barang dan harus menghabiskan uang sekecil ini."
Ketiga temannya tersenyum puas mendengar jawaban dari lelaki itu. Mereka penasaran dengan hasilnya. Sebenarnya mereka mungkin tidak terlalu yakin bahwa Luqi bisa melakukannya. Mungkin akan menjadi suatu hal yang cukup lucu melihat hal ini.
Sedangkan Azea di dalam merasa sangat bingung harus melakukan apa untuk menegur lelaki itu agar mengembalikan uangnya, karena sebagai pegawai toko harus di tuntut sopan dan lembut pada pelanggan bukan. Dia tidak tahu bagaimana cara mengatakan kepada Luqi bahwa dia sangat membutuhkan uang itu untuk pengobatan ibunya, lebih tepatnya untuk membeli obat nanti di apotik yang buka 24 jam di dekat tempat tinggalnya.
Walaupun dia sudah cukup akrab dengan Luqi, biar bagaimanapun ada banyak hal yang tidak bisa dia lakukan begitu saja. Masih ada rasa canggung dalam hatinya. Masih ada rasa ragu yang tidak bisa dia hilangkan begitu saja, terlebih lagi ketika harus ada ketiga teman Luqi di sana.
__ADS_1
Dia harus mengembalikan keberaniannya yang dulu untuk menegur seseorang sebagaimana dahulu dia menegur ketiga lelaki itu ketika membuat onar di minimarket mereka.