Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Tolong Jelaskan Luqi


__ADS_3

Niat hati awalnya Luqi memang ingin berniat baik, menjelaskan pada Ibu Azea, bahwa mereka hanya pacaran sementara, dan sekarang mereka adalah teman. Akan tetapi, demi berlangsungnya rasa egois yang tinggi dari Luqi, niat baik itu berubah menjadi licik.


"Ah, bagaimana jika sekarang saatnya gue berbuat sebaliknya, supaya Azea terkesan ngejar-ngejar gue? Biar teman-teman gue percaya, dan lebih yakin lagi kalau gue memang tiada duanya!" gumam Luqi tersenyum devil.


ya, seperti yang di harapkan. Azea menelfon Luqi, tetapi pria itu syok sibuk dan tidak mengangkat ponselnya, malah pamer pada teman-temannya.


"Azea nelfon gue, kemarin baru saja gue putuskan!" Luqi berkata dengan sombongnya.


"Hah, beneran Luq?" tanya Glen.


"Ya, tentu saja, dan sekarang dia sepertinya sedang galau dan uring-uringan, sama seperti gadis lainnya. Semua wanita itu sama saja Sob, mereka bakalan luluh sama uang dan tampang! Gue kan punya keduanya," kata Luqi dengan jumawa.


"Lo memang juaranya dah! Kita-kita percaya banget dah!" ujar Glen dan yang lainnya pun menanggapi dengan mengangguk.


Sementara itu, Azea semakin panik, karena sudah dua hari ini, Luqi mengabaikan panggilan darinya, sang ibu selalu bertanya menuduh dia memarahi Luqi, padahal bukan seperti itu.


"Azea, kamu jangan bertengkar lagi dengan Nak Luqi. Dia pemuda yang baik, ibu berkata seperti ini dan menginginkan kalian menikah itu demi kebaikan kalian berdua, bukan asal permintaan yang konyol belaka. Ibu sudah tua dan sakit-sakitan, dua adikmu juga sudah hampir besar. Nicko sudah jelas tiga SMA, sebentar lagi juga sudah bisa cari duit, Rahma sekarang juga sudah SMP, kamu jangan terlalu di paksakan bekerja. Kamu juga butuh kehidupan sendiri dan kebahagiaan, raihlah bahagiamu sendiri juga Azea," tutur Luna.


"Bu, Nicko baru kelas tiga, belum tamat, itu membutuhkan cukup banyak uang untuk tamat, Rahma juga masih dalam bersekolah, ibu sakit, bagaimana mungkin aku menikah? Itu pikiran yang mustahil!" tolak Azea.


"Oleh karena itu, kamu dan Luqi bertengkar, karena kamu tidak ingin menikah, padahal Luqi ingin menikah, kemrin Luqi bilang bersedia menikah dan dia ingin berbicara denganmu," balas sang ibu.


"Apa?" Azea menghela nafas. Bagaimana cara Luqi meyakinkan ibunya waktu itu? Ini benar-benar bumerang!


"Bu, lebih baik ibu sekarang istirahat saja ya, jangan banyak pikiran. Masalah menikah, nanti saja Azea pikirkan lagi. Sekarang, Azea hanya butuh ketenangan agar bisa berpikir, dan juga kesehatan agar bisa selalu semangat bekerja." Azea tersenyum.


"Kau ini benar-benar keras kepala seperti ayahmu. Sikap keras kepalanya benar-benar menurun padamu, dan juga pekerja keras." Luna juga tersenyum pada putrinya dan mengalah, tak ingin lagi berdebat. "Akan tetapi, ibu tetap berharap kau bahagia sayang."


"Iya Bu, sekarang pun Azea tetap bahagia."


***

__ADS_1


Setelah pulang kuliah, Azea langsung pergi ke minimarket tempatnya bekerja.


"Bagaimana keadaan ibu kamu Azea?" tanya Elena.


"Alhamdulillah, sudah baikan, operasinya kemarin lancar El," jawab Azea.


"Syukur, Alhamdulillah." Elena tersenyum.


Mereka bekerja seperti biasa, dan sebelum pekerjaan Azea selesai, dia juga sudah menelfon Luqi, tapi tidak diangkat, sehingga dia meninggalkan sepuluh pesan untuk Luqi. Pesan itu bahkan sudah centang dua biru, namun tidak di balas.


"Benar-benar ya, kurang ajar sekali dia!" gerutu Azea kesal melihat ponselnya.


"Ada apa Zea? Kamu terlihat kesal. Tenang saja, satu jam lagi sudah waktunya kita pulang kok. Apa ada masalah di rumah kamu?" tanya Elena.


"Tidak ada kok El. Ini hanya pesan dari nomor palsu yang bilang menang undian belasan juta lah, ratusan juta lah, sejak kapan aku ada ikut undian," balas Azea berbohong.


"Ahahaha! Benar, aku juga sering dapat pesan begitu, aku abaikan saja. Kadang memang menjengkelkan sih. Blokir saja nomor itu," usul Elena.


"Malas, merepotkan saja, El. Lagian nggak penting, aku hapus saja, selesai." Elena dan Azea pun terkekeh kecil.


"Bye, El!" Azea melambaikan tangan juga membalas lambaian tangan Elena.


Lama, Azea menunggu bahkan panggilan terus dilakukannya, hingga perlahan terdengar nada suara dari ponsel, dan itu adalah Luqi.


"Luq, kamu lama banget sih datangnya, panggilan dan chat aku kau abaikan saja!" protes Azea.


"Ya, mau gimana lagi, kita kan sudah putus, Azea," jawab Luqi.


"Iya, kita memang sudah putus, tapi kita harus membahas tentang pernikahan kita, bukannya kamu mau menjelaskan pada ibuku tentang hubungan kita," kata Azea.


"Pernikahan? Azea jangan lucu deh. Siapa yang ingin menikah?" Luqi berkata sedikit terkekeh. "Udah ya Azea. Kita akhiri semuanya di sini. Kamu dan aku nggak ada hubungan apa-apa lagi. Jangan hubungi dan temui aku lagi." Setelah berkata seperti itu, Luqi langsung berjalan pergi ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari mereka berdiri.

__ADS_1


"Luqi, tunggu! Kau harus menjelaskan semua ini!" Azea menarik tangan Luqi.


Luqi hampir sampai di mobil. "Luqi, kau harus menemui ibuku, mari kita luruskan tentang pernikahan ini, ayolah Luqi, aku mohon!" kata Azea.


Luqi menepis tangan Azea yang memegang tangannya. "Sudah ya Azea. Jangan hubungi aku lagi."


"Tidak! Aku tidak mau! Kau harus bicara dengan ibuku tentang pernikahan itu!" Azea tak terima dan bersikeras, bahkan memegang baju Luqi lebih kuat.


"Kau!" Luqi memutar badannya dan langsung memegang pinggang Azea, memegang dagu gadis itu dan langsung mengecup bibir Azea.


Muah! Begitulah kira-kira. Azea syok luar biasa!


Plak! Azea langsung menampar pipi Luqi. "Bajingan kau Luqi!" Azea berlari dari sana sambil menghapus bibirnya.


"Wow!" Glen dan lainnya langsung keluar dari dalam mobil.


"Kalian sudah dengarkan dengan telinga kalian sendiri. Jika dia ingin menikah denganku!" Begitulah Luqi berbohong pada teman-temannya, berkata jika Azea ingin menikah dengannya, padahal Azea ingin Luqi bicara jujur dan meluruskan tentang pernikahan ini pada ibunya, karena ibunya tak percaya dia dan lebih percaya perkataan Luqi yang baik baginya.


"Sakit nggak pipinya?" tanya Gleen terkekeh.


"Dikit, tapi lumayan dapat ciuman kan! Hahahha." Yang lain menimpali sambil tertawa.


"Nah, sekarang kalian sudah percaya dan lihat buktinya. Fix, gue menang dalam taruhan ini," kata Luqi.


"Sempurna! Kau adalah Luqi sang pangeran tampan kaya raya sohib kita!" Mereka berempat pun berpelukan.


"Nahh, sekarang kita buat taruhan apa lagi?" tanya Gleen.


"Terserah, tapi sekarang bukan gue lagi, tapi kalian!" tunjuk Luqi pada wajah-wajah tampan sahabat nya itu.


"Hahah! Baiklah. Ayo, kita bertiga suit!" Mereka bertiga pun berduit dan yang kalah adalah Gleen.

__ADS_1


"Nah, taruhan apa yang harus Gleen lakukan?"


"Gue ada ide!" kata Luqi mengusulkan sesuatu pada teman-temannya.


__ADS_2