Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Luqi merasa bahwa hubungannya dengan Azea barangkali memang sudah cukup sampai di sini. Dia ingin mengakhiri kerjasama tersebut dan melepaskan Azea, membiarkan gadis itu hidup dengan tenang tanpa dirinya. Dengan begini mereka sudah tidak punya urusan atau masalah lagi.


Namun pada malam itu, ketika dia kembali mendatangi minimarket, ternyata Azea tidak ada di sana, dia hanya melihat Elena yang merupakan salah satu orang yang paling akrab dengan Azea di antara para pegawai lainnya. Dan tanpa segan sekalipun dia langsung bertanya kepada Elena tentang keberadaan Azea saat ini.


"Malam ini dia tidak masuk. Kemarin dia bilang ingin mengantar ibunya ke rumah sakit."


Luqi mengerutkan kening. Jelas ada rasa penasaran dalam dirinya tentang apa yang membuat perempuan itu sampai harus membawa ibunya ke rumah sakit. Yah, setiap orang memang bisa sakit kapan saja. Barangkali apa yang dialami oleh ibu Azea adalah sesuatu yang biasa dan sering juga dialami oleh banyak orang, seperti demam atau juga terkena virus.


"Ke rumah sakit yang mana?" tanya Luqi yang merasa bahwa dia harus berbicara dengan Azea secepat mungkin. Elena malah mengangkat bahu tanda tidak tahu. Kemarin dia hanya mendengar dari Azea kalau temannya itu tidak akan masuk dalam satu hari untuk menemani ibunya di rumah sakit. Azea sama sekali tidak memberitahu rumah sakit mana yang dia tuju.


"Aku tidak tahu sama sekali. Dia tidak memberitahuku juga. Bagaimana kalau kau menelponnya saja? Aku yakin dia akan memberitahumu kalau memang ada sesuatu yang penting untuk kau sampaikan padanya."


Luqi pun keluar dari minimarket tersebut dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dari sana. Dia pun menelepon Azea. Azea sempat tidak mengangkat telepon tersebut hingga Luqi mencobanya sebanyak tiga kali.

__ADS_1


"Halo, kau ada di mana sekarang?" tanya Luqi tanpa basa-basi. Azea yang sedang tertidur di ruang tunggu rumah sakit merasa terganggu karena telepon dari lelaki itu. Dia berdecak kesal, berharap lelaki itu mendengar dan mengerti kalau dia merasa sangat kesal ketika Luqi mendadak menelepon di saat seperti ini.


"Ada apa? Apa kau tidak puas menggangguku? Apakah aku tidak berhak untuk waktuku sendiri? Sejak kedatanganmu, aku merasa kalau aku sudah tidak bisa hidup tenang."


Luqi terkejut ketika untuk pertama kalinya dia mendengar perempuan itu begitu emosi, bahkan lebih emosi ketika mendapati ketiga teman Luqi menghancurkan banyak barang di minimarket. Luqi menebak bahwa barangkali saat ini Azea merasa sangat lelah.


"Maaf, kalau aku terlalu mengganggu di saat seperti ini. Aku hanya ingin berbicara denganmu. Kau ada di mana sekarang? Elena sudah mengatakan kepadaku kalau kau tidak masuk karena ingin menemani ibumu di rumah sakit. Kalau ada di rumah sakit mana? Aku bisa datang ke sana sekarang juga."


Azea menghela nafas panjang. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki ini. Seharusnya Luqi bisa memanfaatkan teknologi di sekitarnya. Memang sepenting apa hal yang akan dibicarakan oleh Luqi? Kenapa harus saling bertemu? Rasanya malah seperti sedang rapat di kantor saja.


Luqi terdiam. Benar juga, memang apa salahnya apabila dia langsung membicarakan hal itu lewat telepon saja. Kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk segera menemui Azea sekarang terlebih lagi ketika mendengar bahwa perempuan itu membawa ibunya ke rumah sakit. Entahlah, dia hanya merasa terlalu penasaran dengan ibu Azea yang saat ini dirawat di rumah sakit.


"Ok, aku memang terlalu bodoh. Aku tidak terpikirkan hal itu. Oke, aku hanya ingin mengakhiri kerjasama ini denganmu. Ketiga temanku juga sepertinya sudah tidak terlalu peduli dengan hubunganku denganmu. Mereka sudah puas ketika mengetahui bahwa aku berhasil mendapatkanmu. Itu sudah cukup. Hanya itu saja yang ingin kukatakan."

__ADS_1


Rasanya Azea ingin sekali mengumpat mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki itu di seberang sana. Hanya untuk mengatakan hal itu sampai harus meneleponnya. Kalaupun ingin mengakhiri hubungan atau kerjasama itu, tidak masalah sama sekali apabila Luqi tidak mengatakan apa pun. Meninggalkannya sendirian tanpa kabar pun juga bukan masalah. Mengingat bahwa selama ini mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka tidak memiliki hubungan yang istimewa selain kerjasama palsu untuk menyenangkan ketiga teman Luqi atau untuk mengangkat harga diri lelaki itu kembali.


"Astaga, hanya itu yang ingin kau katakan. Sudahlah, kamu buang waktuku saja."


Azea langsung menutup sambungan telepon itu. Dia merasa kesal karena Luqi hari ini. Di satu sisi dia juga merasa sangat khawatir pada ibunya. Sudah bertahun-tahun ibunya mengalami penyakit maag. Selama itu pula dia hanya bisa memberikan obat di apotek untuk ibunya. Dia tidak pernah bisa memberikan sesuatu yang lebih daripada itu. Inilah pertama kalinya dia mengajak ibunya ke rumah sakit. Dia nekat membawa ibunya ke rumah sakit ketika tabungannya sudah hampir habis.


Beberapa saat yang lalu ibunya terlihat sesak nafas. Beruntung pada saat itu Azea bisa mengendalikan kepanikannya sehingga dia langsung menelepon ambulans, tidak lagi berpikir hal lain. Tidak lagi memikirkan kalau setelah ini tabungannya akan habis tak bersisa. Mungkin memang sudah tidak ada pilihan lain selain mengutang kepada orang untuk menutupi kekurangan itu. Kesehatan ibunya jauh lebih penting daripada hal lain.


Awalnya dia mengira kalau ibunya akan langsung keluar dari rumah sakit keesokan harinya. Namun pada saat itu dia justru mendapatkan kabar yang jauh lebih buruk dari yang dia duga selama ini. Dia baru mengetahui bahwa ternyata ibunya bukan hanya mengalami penyakit maag, melainkan juga ada tumor di organ pencernaannya sehingga harus dioperasi secepat mungkin.


Azea merasa sangat putus asa sampai dia tidak bisa bekerja pada hari itu. Dia menelepon Elena dan mengabarkan kondisinya saat ini di rumah sakit.


"Jadi untuk sekarang kau belum bisa masuk kerja?" tanya Elena di seberang sana yang sudah mengetahui apa yang terjadi kepada Ibu dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Yah, aku akan menanggung resikonya kalaupun bos harus memecatku nanti. Ibuku harus segera dioperasi dan aku harus memikirkan bagaimana cara mendapatkan uangnya."


Elena merasa sangat kasihan kepada sahabatnya, namun dia sendiri juga tidak bisa membantu banyak. Hanya bisa berdoa dan berharap dalam hati.


__ADS_2