
Aluqi segera keluar dari kamar, berjalan ke arah dapur, dimana rumah ini hanya memiliki satu kamar mandi, dan itu dipakai bersama, intinya semuanya berbanding terbalik dengan rumah Luqi.
Saat masuk kamar mandi, dia meringis, tak ada bathup, tak ada westafel khusu dia cuci muka dan gosok gigi serta cermin, tak ada toilet duduk yang bisa membuat dia duduk lama di toilet sambil main game, tak ada shower yang dia hanya bisa berdiri saja air keluar tanpa capek-capek menggayung air.
Aluqi mencuci mukanya. Dia berdecak lidah, karena biasanya dia terbiasa sudah ada perlengkapan mandi terletak semua di sini. Sekarang tak ada. Dia melihat tiga kotak ember sabun, dia melihat tiga ember itu dan menebak yang mana punya istrinya.
"Oh, astaga! Bahkan semua gosok gigi di sini sudah melebar!" gumam Aluqi.
Gak ada sabun cair perawatan wajah segala macamnya. Aluqi hanya bisa bernafas lesu. Dia akhirnya memilih mencuci muka dan gosok gigi pakai tangan dan air. "Baiklah, aku akan ke pulang nanti, minta uang sama mama dan papa. Pasti dapat seharusnya, ini kan keperluan sehari-hari, bukan uang untuk main game atau hura-hura lagi!"
Aluqi keluar dari kamar mandi. Bertemu dengan Azea yang berdiri dengan kesal sambil melipat tangan di sana, handuk tersampir di pundaknya.
"Lama begitu, kirain mandi, rupanya cuma cuci muka doang?" kata Azea. Aluqi mengernyit.
"Awas mesum! Aku mau mandi!" Azea sengaja menabrakkan pundaknya ke tubuh Aluqi.
"Dasar kau ya! Mentang-mentang di rumah kamu, kamu bersikap kurang ajar padaku!" geram Aluqi tak terima. "Ini semua gara-gara mama dan papa! Aku tersiksa di sini!" gerutu Aluqi.
Aluqi berjalan ke arah meja. Ada tudung saji, teko, dan cawan di sana. Aluqi mengambil teko dan menuang air dalam teko itu ke dalam cawan. Lalu, dia duduk di sana dan minum segelas air.
"Hm, kemana ya orang-orang di rumah ini? Kok sepi?" gumam Aluqi. Dia tidak melihat atau mendengar suara Rahma dan Nicko, ataupun Ibu mertuanya Aluna.
"Perut aku perih, nggak ada susu atau roti di meja ini! Apa ada sesuatu ya di tudung saji. Apa enggak apa-apa kalau aku buka? Apa itu nggak sopan? Gimana nanti Bu Luna tahu aku begitu?" Aluqi bermonolog dengan dirinya sendiri.
Perlahan tangannya mengintip tudung saji. "Ada lauk pauk lengkap!" kata Aluqi setelah mengintip sempurna tudung saji itu.
"Hm, aku tunggu Azea aja deh, dari pada memalukan di depan ibu mertuaku nanti!" Akal Aluqi pun berjalan, dia menutup tudung saji lagi dan menuang segelas air, kemudian memilih duduk di sofa. Bermain ponsel, salah satunya game yang tengah musim saat ini.
__ADS_1
Tak lama, Azea keluar dari kamarnya, setelah usai mandI dan berpakaian lengkap. Dia juga sudah berbedak tipis, dan kini rambutnya tergerai karena masih basah habis keramas.
Azea berjalan ke arah meja. Lalu menoleh pada Aluqi. "Kau mau makan atau mau mandi dulu?" tanya Azea.
"Hah?Hm, makan aja deh," sahut Aluqi. Dia tersenyum tipis, setelah ditawari Azea.
Azea mengambil dua piring, bersama satu mangkuk nasi dari rice cooker. Meletakkan piring di depan Aluqi dan untuk dirinya.
Azea cekatan menyendok nasi dengan centong ke dalam piring untuk Aluqi. "Sudah atau tambah lagi?" tanyanya.
"Hah? Ah, sudah, sudah cukup!" jawab Aluqi. Dia merasa Azea cukup perhatian walau jutek. Dia pikir setelah hal terjadi tadI pagi, Azea akan semakin kurang ajar, mungkin tidak menawari dia makan, bahkan tadi dia sudah memikirkan cara kalau tidak ditawari makan.
Lalu, Azea juga memasukkan lauk pauk dan sayuran ke dalam piring yang sudah berisi nasi. "Cukup?" Azea bertanya lagi, dan Aluqi mengangguk.
Mereka pun makan dalam keheningan. Hingga piring Aluqi pun tandas. "Mau tambah?" tanya Azea.
"Sudahlah. Kita cuma berdua saja di rumah."
"Oh, begitu. Iya, aku mau nambah sedikit lagi, masakan Ibu enak sekali," jawab Aluqi tersenyum malu saat memuji.
Azea menambah nasi dan lauk serta sayur secukupnya, kemudian berkata, "terus masakan aku enggak enak? Aku lihat, kamu lahap juga semalam makannya!"
"Enak juga."
***
Aluqi tak tahu harus mengapa, dia malah memilih tiduran kembali ke dalam kamar, sementara Azea sibuk entah apa saja.
__ADS_1
Tiba-tiba, Aluqi mendengar suara cukup berisik di luar, dan salah satu suara itu dia kenal. Aluqi segera keluar.
"Mama!" Aluqi senang sekali saat melihat Mama Yolanda. Dia berlari kecil dan memeluk ibunya itu seperti sudah bertahun-tahun tak bertemu.
"Ma, Luqi kangen banget sama mama, Luqi baru aja kepikiran, mau pulang. Di sini enggak enak Ma, semuanya serba kurang. Tolong kasih Luqi uang untuk keperluan sehari-hari Ma," bisik Aluqi.
Yolanda melepaskan pelukan putranya, tersenyum dan mengabaikan aduan Luqi, lalu berjalan memeluk Azea yang baru muncul dari belakang.
"Tan–"
"Mama!" potong Yolanda cepat. "Kamu harus membiasakan memanggil Mama Zea. Kamu sekarang menantu Mama yang sama artinya anak mama juga," kata Yolanda.
Yolanda mengajak Luna, Luqi dan Azea ke suatu tempat. Rumah yang diberikan pada Luna sebelumnya, saat mereka membahas pernikahan kedua anaknya.
"Nah, mulai sekarang Bu Luna sekeluarga tinggal di sini, sementara Azea dan Aluqi tinggal di sebelahnya, rumah ini hadiah pernikahan Mama untuk kamu Azea, rumah itu atas nama kamu," kata Yolanda.
Aluqi tersenyum senang, dia tidak tinggal di rumah reot lagi. "Makasih Mama!" Aluqi yang lebih antusias.
"Tapi Tan-Eh, Ma. Kenapa memberikan hadiah sebesar ini. Kami tidak bisa menerimanya," kata Azea tegas.
"Kamu harus menerima, ini hadiah, tak ada do'a penolak rezeki loh. Kamu menantu Mama, jadi itu sangat wajar." Yolanda tersenyum.
"Oh ya, ini kartu debit untuk kamu. Isinya ada 800 juta. Ini hadiah juga, Mama berharap ini mampu untuk membayar kuliah kamu dan Aluqi, lalu untuk keperluan sehari-hari," kata Yolanda.
Mata Aluqi dan Azea terbelalak, tetapi keduanya beda respon.
"Ma? Yang benar saja, 800 juta untuk kehidupan sehari-hari dan uang kuliah aku dan dia? Apa Mama masih marah padaku, ini keterlaluan Ma! Aku anak Mama satu-satunya!" seru Aluqi.
__ADS_1
"Tante ... jumlah uang ini terlalu besar, aku tidak bisa menerima .... " Begitulah perbandingan jawaban keduanya.