
Kemudian, pada hari Minggu itu, ketika Azea tidak masuk kelas, dia memanfaatkannya untuk menelepon Luqi dan mengajak Luqi untuk bertemu. Tidak lain dan tidak bukan untuk membicarakan hal tersebut. Rasanya dia ingin sekali melampiaskan semua emosinya kepada Luqi.
Entah kenapa sekarang dia malah berpikir kalau Luqi ini tidak bisa berpikir kritis sebelum memutuskan atau mengatakan sesuatu. Kecerobohan yang membuat mereka berdua terjebak dalam keadaan semacam ini.
Luqi yang menerima telepon dari Azea tentu saja bisa menebak apa yang ingin dibicarakan oleh gadis itu. Sejenak dia membiarkan telepon itu berdering begitu saja dan tidak mengangkatnya. Dia terlalu gugup untuk berbicara dengan gadis itu setelah kejadian kemarin. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan nanti kepada Azea setelah ini.
Namun karena telepon itu terus berdiri, akhirnya dia sendiri yang menyerah dan mengangkat telepon tersebut lantas berbicara dengan Azea di seberang sana.
"Yah, aku tahu apa yang ingin kau bicarakan. Jadi bicarakan saja di sini," ucap Luqi tanpa basa-basi. Dia tidak mau menghabiskan banyak waktu untuk hal ini. Dia ingin menyelesaikannya secepat juga.
"Aku tidak bisa membicarakannya lewat telepon bersamamu. Aku ingin bertemu langsung denganmu. Dan tidak ada penolakan untuk urusan ini. Kau tahu kalau kecerobohanmu kemarin sudah menimbulkan situasi yang sulit seperti ini. Kamu itu tidak terlalu memikirkannya, namun bagiku sendiri aku tidak mau mengecewakan ibuku. Jadi aku ingin mendiskusikan ini denganmu."
Luqi langsung mengerutkan kening. Dia melipat tangan di atas meja kamarnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin, sedangkan ponsel itu sekarang tergeletak tepat di depannya.
"Jadi kau berpikir bahwa kita akan menikah karena kecerobohanku kemarin? Kau ingin merealisasikan apa yang kukatakan kepada ibumu ketika aku sendiri merasa bahwa itu tidak perlu direalisasikan. Kau pasti tahu bahwa aku tidak mungkin menikah denganmu."
__ADS_1
Azea sampai menghembuskan napas kasar. Memangnya siapa juga yang mau menikah dengan Luqi saat ini. Dia bisa membayangkan hidupnya pasti akan seperti di neraka ketika harus menikah dengan lelaki itu. Bisa dibilang Luqi sekarang menjadi musuh bebuyutannya. Dia tidak akan mau menikahi musuhnya sendiri. Itu sama dengan menggali kuburan sendiri.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu hari ini. Aku ingin membicarakan semuanya secara tuntas dan aku tidak punya waktu untuk membicarakannya lewat telepon. Anggap saja kalau pulsaku tidak cukup untuk membicarakan semua ini. Dan aku butuh melihat wajahmu."
Sambungan telepon itu terputus secara sepihak. Luqi sampai terdiam dan juga bingung dengan tingkah perempuan itu. Dia tahu kalau sekarang dia sudah membuat Azea marah besar kepada dirinya. Dan biar bagaimanapun dia harus mempertanggungjawabkan kesalahannya sendiri. Mungkin Azea hanya ingin meminta saran darinya agar membicarakan semua itu baik-baik kepada Luna tanpa harus menyinggung perasaan perempuan itu. Mengatakan bahwa mereka berdua tidak akan bisa menikah selamanya.
Pada akhirnya Luqi mendatangi alamat tempat seperti yang dikirimkan oleh Azea lewat SMS. Tempat itu adalah sebuah jembatan di mana biasanya para remaja menghabiskan waktu di sana ketika matahari terbit. Pada pagi hari seperti ini tempat tersebut sangat sepi, tidak datangi oleh siapa pun.
Betapa terkejutnya Luqi ketika gadis itu mendadak menamparnya segera setelah dia berdiri tepat di depan Azea. Tamparan yang cukup keras sehingga membuat Luqi meringis kesakitan dan mengusap pipinya. Dia menatap tidak percaya kepada Azea. Untuk kesekian kalinya Azea sangat berani melawan Luqi. Tidak pernah ada orang yang berani menamparnya selama ini kecuali Azea.
"Bisa tenangkan dirimu sedikit dalam hal ini. Aku yakin semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Biar bagaimanapun aku juga tidak menyangka kalau ibumu akan meminta kita agar segera menikah. Kemarin aku hanya iseng mengatakan kalau kita pacaran dan aku memperlihatkan semua foto dan video itu kepada ibumu. Aku rasa itu akan membuat ibumu semakin bahagia dan kondisinya akan membaik. Kau tahu bukan, kalau kondisi psikis berdampak besar kepada kondisi fisik. Semakin kita bahagia maka semakin kondisi fisik kita baik-baik saja."
Luqi malah tidak ragu untuk ceramah tentang kesehatan di hadapan Azea yang notabenenya saat ini sudah tersulut emosi. Azea tentu saja tidak mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh Luqi. Bagaimanapun lelaki itu menjelaskan untuk membela dirinya sendiri, semua itu hanya omong kosong bagi Azea, kecuali mereka sudah mendapatkan solusi untuk menolak pernikahan itu tanpa harus mengecewakan ibunya.
"Tidak perlu repot-repot menjadi dokter atau psikolog dadakan di sini. Karena untuk sekarang hal itu tidak dibutuhkan sama sekali. Aku hanya ingin solusi. Aku hanya ingin agar ibuku tidak kecewa ketika aku menolak pernikahan ini. Kau pasti mengerti hal itu."
__ADS_1
Luqi merasa sangat benci apabila harus dipaksa seperti ini untuk berpikir keras. Dia butuh waktu yang lama untuk mencari solusi terkait masalah semacam ini. Sebuah masalah yang ditimbulkan sendiri. Sebenarnya semakin dia mendapatkan omelan, semakin mumet kepalanya. Jangan pernah berharap dia bisa mendapatkan jalan keluar dalam keadaan seperti ini apalagi dimarahi oleh perempuan yang memang sudah membuat banyak masalah dalam hidupnya.
"Aku butuh waktu dan juga tempat untuk menyendiri. Kau tahu bukan kalau kebutuhan lelaki berbeda dengan kebutuhan perempuan dalam hal menyelesaikan masalah."
Azea menengadah menatap langit. Rasanya dia ingin kembali menampar wajah lelaki ini, namun dia berusaha untuk menenangkan diri. Dia tahu bahwa itu tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali. Emosinya juga sudah cukup mereda saat ini.
"Bukankah sudah kubilang jangan mendadak menjadi psikolog di sini."
"Aku sangat tahu! Tapi ini juga sangat bermanfaat untuk mencari jalan keluar. Aku tahu kalau perempuan butuh melampiaskan emosinya ketika sedang ada masalah, ketika emosinya sudah terlampiaskan, saat itulah dia bisa mengambil jalan keluar. Namun aku lelaki, aku butuh waktu untuk menyendiri. Hanya keadaan tenang yang bisa membuatku mencari solusi dari semua masalah yang kutimbulkan. Aku tidak bisa mencari solusi dalam keadaan seperti ini apalagi kau mengomel dan menamparku. Itu semakin membuatku pusing."
Azea sampai mendengus kesal kepada Luqi.
"Dan bagaimana caramu meyakinkan ku bahwa kau tidak akan lari dari hal ini? Siapa tahu kau malah lari ketika aku memberimu waktu dan tempat untuk menyendiri."
"Aku berjanji tidak akan pernah lari dari masalah ini. Aku akan kembali dan menyelesaikannya. Aku akan kembali dan berbicara dengan ibumu secara baik-baik."
__ADS_1