
Aluqi meraih handuk di sampingnya dan pakaian Azea cepat, lalu melindungi tubuh Azea di sebalik selimut dan menghadang dengan tubuhnya. "Cepat pakai pakaian kamu!" perintah Aluqi memberikan handuk dan pakaian Azea.
Rombongan polisi itu mengalihkan pandangan saat Azea menyeret tubuhnya ke kamar mandi dengan handuk bersama pakaian.
Mereka berdua diinterogasi, kartu identitas penduduk Azea dan Aluqi diambil, lalu mereka di bawa ke kantor polisi, apapun alasan Aluqi dan Azea, rombongan polisi itu tidak akan percaya, karena tadi saja Azea tidak berpakaian lengkap, Aluqi juga tak memakai baju, hanya pakai celana.
Azea membela diri jika baju basah, tapi siapa yang percaya? Rumah ini adalah rumah kuning, semua yang tertangkap membuat alasan hampir serupa, bahkan ada yang bilang, dia tak tahu apa-apa, tetapi kenyataannya di kamar ada alat pengaman.
"Kalian bisa menjelaskan lebih lengkap di kantor polisi!" tegas polisi-polisi itu.
Ada kisaran enam orang yang tertangkap, delapan orang dengan Azea dan Aluqi, selebihnya kabur, entah kemana, tetapi kendaraan mereka di tahan. Rumah kuning itu juga sudah di berikan garis polisi.
***
Pagi-pagi sekali, Yolanda sudah berseru memanggil suaminya yang tengah mandi dan bersiap akan bekerja di kantor.
"Pa, Papa!" teriak Yolanda.
Sang suami mandi terburu-buru dan keluar dengan handuk. "Apa sih Ma, Papa jadi mandinya gak bersih!" protes sang suami.
__ADS_1
"Anak kita Pa. Aluqi!"
"Ada apa lagi dengan anak manja itu!" Ayah Aluqi mendengus, berjalan pergi ke arah lemari pakaian. "Sampai Mama lupa ambilkan papa pakaian, gegara ulah anak yang sudah besar itu!" sewot sang suami.
Yolanda terburu-buru, meraih celana dan baju kemeja sang suami, lalu dasi yang senada bersama jas.
"Kita harus ke kantor polisi dulu pagi ini Pa. Pekerjaan serahkan saja pada asisten dulu," ucap Yolanda.
"Ngapain? Jangan bilang, anak itu tawuran, atau nabrak orang karena mabuk!" Ayah Aluqi menghela nafas.
"Bukan Pa. Bukan itu masalahnya, ini beda lagi!" ujar Yolanda.
"Apa?" Sang suami melihat Yolanda.
"Apa? Kok bisa?" Mata ayah Aluqi terbelalak terkejut. "Apa mereka—"
"Entahlah Pa. Makanya kita harus ke sana!" Yolanda segera membantu sang suami, memakai kancing kemeja, lalu Yolanda juga merapikan rambutnya, mengambil tas yang senada dengan dreesnya, lalu memakai parfum.
Ayah dan Ibu Aluqi menaiki mobil. "Pa, kita ke rumah Azea dulu, jemput ibunya," kata Yolanda.
__ADS_1
"Loh? Apa enggak sebaiknya kita aja menyelesaikan ini Ma?" tanya sang ayah.
"Ih, Papa, ini adalah moment kita bisa paksa mereka berdua menikah!" Yolanda tersenyum devil.
"Wah, Mama benar juga!" Sang suami juga tersenyum.
Begitulah akhirnya, Orang tua Aluqi membawa Ibu Azea juga, mendatangi kantor polisi dan menyelesaikan semuanya. Di kantor polisi, mereka berkata akan segera menikahkan keduanya agar tidak melakukan hal memalukan sepeti itu lagi.
Azea dan Aluqi pun menandatangani surat kebebasan dan lain-lainnya, salah satunya bahwa mereka akan menikah.
Setelah keluar dari kantor polisi, mereka tidak langsung pulang, tapi ke restoran dan mereka masuk keruangan VVIP.
"Mama dan Papa tidak tahu yang pastinya, apa kalian sampai melakukan itu?" tanya Yolanda.
"Tidak Tante!" Azea dengan cepat menjawab.
"Apa benar Aluqi?" tanya sang Ayah.
Aluqi diam saja, dia tampak berpikir, jawaban apa yang harus dia berikan. Azea mencubit kaki Aluqi dengan jari kakinya di bawah meja, matanya melotot marah. Bibirnya komat Kamit menjelaskan, 'Awas saja jika kau berkata macam-macam!'
__ADS_1
Sayangnya Aluqi malah menjawab. "Kami sepasang kekasih, kami baru saja baikan, tetapi kami tidak melakukan hubungan suami istri, kami hanya saling bersentuhan sewajarnya, hanya saja mereka tidak percaya." Awal perkataan Aluqi adalah kemurkaan Azea.
Dengan kuat Azea menendang kaki Aluqi dari bawah. "Sialan kau!" kata Azea dengan isyarat bibir dan mata menatap marah.