Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Mulai Akrab


__ADS_3

Luqi merasa bahwa minimarket kemarin ternyata cukup unik daripada minimarket pada umumnya. Bukan sekedar tempat berbelanja, di halaman depan minimarket itu juga ada tempat nongkrong sebagaimana yang sering dia lihat di sebuah cafetaria atau restoran mini. Mungkin memang tidak ada banyak kursi atau meja yang tersedia di sana, namun cukup menjadi tempat yang menyenangkan untuk berteduh atau juga mengerjakan tugas kuliah.


Karena itulah Luqi menjadikan salah satu minimarket itu sebagai salah satu tempat yang akan dia datangi setiap kali ada waktu luang atau sedang kelelahan. Tidak terlalu mewah, yang paling penting bisa membuatnya merasa nyaman dan juga mudah didatangi oleh semua temannya.


"Lu serius mau nongkrong di minimarket itu lagi? Bukankah kemarin kita membuat masalah dengan pegawainya?" tanya Glenn yang saat ini sedang berbicara lewat telepon dengan Luqi. Luqi yang mendengar hal tersebut mengerutkan kening dan tertawa kecil. Terkadang perkataan Glenn memang selalu bisa mengundang tawa baginya.


"Kita? Yang memecahkan barang-barang di minimarket itu memangnya siapa? Ya, kali gue ada di sana pas barangnya pecah?"


Glenn hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tahu bahwa apa pun yang diinginkan oleh Luqi, maka tidak boleh ada siapa pun yang membantahnya. Tidak boleh ada penolakan. Luqi sudah terbiasa dengan sebuah penerimaan. Bila ada satu orang saja yang membantah permintaannya, maka itu sama dengan menghina Luqi. Karena Luqi selalu merasa bahwa penolakan adalah tanda bahwa dia gagal dan kalah dalam menundukkan siapa saja. Itu yang sering dia pelajari dari ayahnya. Mungkin ayahnya tidak pernah berkata langsung seperti itu, namun Luqi mempelajarinya lewat pengamatan dan apa pun yang terjadi pada kehidupan ayahnya.


"Ok, gur tahu kalau itu salah kami dan lu sama sekali tidak terlibat. Gue rasa tempat itu memang tidak ada salahnya dijadikan tempat nongkrong. Ditambah lagi, para pegawainya juga cantik," ucap Glenn sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa dibilang Glenn memang menjadi salah satu orang yang paling playboy di antara mereka. Mungkin akan terlihat garang di depan lelaki mana pun, namun akan kalah apabila melihat wanita cantik.


Luqi tertawa. Dia mengakui hal itu. Entah bagaimana pemilik minimarket itu menyeleksi para pegawainya. Mungkin salah satu persyaratan untuk menjadi pegawai di sana adalah wajah yang cantik dan juga tampan. Pemilik minimarket itu pasti juga mengutamakan para pegawai yang masih muda dan belum menikah, mengingat kalau minimarket itu buka dua puluh empat jam sehari.

__ADS_1


"Yah, gue akui apa yang lu katakan, bahkan mungkin termasuk pegawai yang memarahi kalian ke mana. Dia tampak polos namun juga tampak garang hanya dalam satu waktu."


Glenn tersenyum nakal. Dia tahu kalau dalam situasi seperti ini sahabatnya itu pasti sudah tertarik kepada pegawai yang memarahi mereka kemarin ketika mereka memecahkan beberapa barang. Pegawai yang tidak lain dan tidak bukan adalah Azea.


"Jadi lu mau nongkrong di sana karena lu mau bertemu dengan pegawai itu lagi? Gue dengar namanya adalah Azea."


Luqi mengangkat alis, begitu mudah bagi Glenn untuk mengetahui nama seseorang secepat itu.


"Gue tidak peduli dengan dugaan konyol lo itu, tapi bagaimana cara lu mengetahui namanya dengan cepat seperti itu? Apa lu bertanya langsung kepadanya?"


Luqi akhirnya mengerti. Itu tidak membuatnya sama sekali membatalkan rencananya untuk nongkrong lagi di minimarket itu pada malam hari. Lagi pula memang ada sesuatu yang ingin mereka lakukan. Seperti biasa, hanya sebuah permainan sederhana yang barangkali memang sangat menyenangkan.


Bahkan dia seperti sudah terbiasa pergi ke minimarket itu sekalipun tanpa ditemani oleh teman-temannya. Semua makanan dan juga barang-barang yang ada di minimarket itu tidak pernah membuatnya bosan. Untuk pertama kalinya dia sangat tertarik pada barang-barang yang mungkin terlalu murah untuk standar orang seperti dirinya. Akan tetapi hal yang paling penting di sini adalah dia malah semakin akrab dengan Azea.

__ADS_1


Gadis yang tidak dia sukai pada awalnya karena terkesan meremehkannya pada pertemuan pertama mereka. Dia merasa kalau Azea ternyata pegawai yang baik di minimarket itu. Dia juga cukup takjub pada keberanian Azea yang harus pulang larut malam karena tuntutan pekerjaan.


"Lu pernah belajar bela diri? Entah itu secara otodidak atau punya guru sendiri?" tanya Luqi tiba-tiba ketika pada saat itu Azea sedang mengelap kaca kulkas. Azea yang terkejut karena kebingungan pun langsung mengerutkan kening dan menatap ke arah Luqi yang saat ini tidak menatapnya sama sekali.


"Sorry, apa tadi kau berbicara kepadaku?" tanya Azea sambil terus mengelap kaca kulkas itu. Luqi menoleh sekilas sambil mengangguk.


"Tentu saja, kau pikir aku ini orang gila yang berbicara sendiri?" tanya Luqi lagi. Azea hanya tertawa kecil mendengar hal itu.


"Tidak sama sekali. Aku tidak pernah belajar ilmu bela diri apa pun, entah secara otodidak apalagi memiliki guru. Tugas kuliahku sudah cukup membuatku merasa pusing akhir-akhir ini."


Luqi mengambil beberapa yogurt di sana. "Wow, kuakui keberaniamu. Atau mungkin rumahmu memang dekat dari sini sehingga kau tidak takut sama sekali apabila harus pulang tengah malam tanpa ditemani oleh siapa pun bahkan juga tidak bisa menguasai ilmu bela diri apabila ada orang yang mengganggumu nanti."


Azea tersenyum. Dia sendiri bahkan sudah lupa dengan kekhawatirannya itu. Berminggu-minggu bekerja di minimarket ini membuatnya sudah lupa dengan apa yang dia khawatirkan dahulu. Dia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, selagi jalan raya memang masih ramai dan masih ada banyak orang yang bisa mengawasinya. Keadaan yang ramai itu membuatnya merasa aman karena dia merasa kalau dia bisa berteriak apabila terjadi sesuatu pada dirinya. Pasti dengan mudah semua orang akan mendengar teriakannya dan akan menolongnya. Karena itulah setiap kali dia pulang, dia selalu memilih tempat paling ramai untuk dilalui.

__ADS_1


Azea sendiri juga tidak menyangka karena Luqi yang terlalu sering datang kemari, mereka malah semakin akrab dan seolah melupakan masalah yang kemarin. Luqi sering berbelanja di sana dan juga bersantai di sana walaupun sendirian.


Mereka sering kali mengobrol hal-hal random yang sebenarnya mungkin tidak terlalu penting. Namun hal itu cukup membuat Azea tidak lagi bosan dengan pekerjaannya. Setidaknya ada sesuatu yang bisa menghiburnya kali ini. Luqi juga sama sekali tidak canggung dengan gadis itu yang walaupun berasal dari keluarga yang miskin, itu sama sekali tidak membuat Luqi ragu untuk berbicara dengannya.


__ADS_2