
"Putra Mama, kamu sudah datang!" Yolanda tersenyum.
"Mama kenapa, tangannya kok luka?" tanya Luqi, lalu dia menoleh pada Azea yang berada di sampingnya.
"Ini? Luka karena ada pencopet. Untung saja ada calon istrimu yang menolong Mama dari pencopet, ponsel Mama di ambil, dan untung saja tas Mama enggak, soalnya banyak barang-barang penting di sini," jawab Yolanda.
"Tante, saya dan Luqi tidak seperti yang Tante pikirkan, kami tidak akan menikah," jelas Azea.
"Tapi, tadi Luqi bilang kalian membahas tentang pernikahan?" Yolanda menatap putranya yang diam saja. "Luqi? Iya kan Nak?" tanya Yolanda.
"Aku dan Azea ada sedikit masalah Ma. Jadi, jangan bahas tentang pernikahan ini dulu," kata Luqi. "Oh ya, ini sudah selesaikan, ayo kita pulang," ajak Luqi.
"Gue akan berkunjung ke rumah Lo besok." Luqi menatap Azea yang berdiri dan berucap pada gadis itu.
"Besok? Mama ikut ya," sahut Yolanda.
"Ngapain Mama ikut? Aku mau bicara dengan Azea berdua saja," ujar Luqi.
"Mau kenalan juga sama calon ibu mertuamu juga, ya kan Azea?" Yolanda tersenyum.
__ADS_1
"Aduh Ma. Ayo deh kita pulang aja! Aku mau menyelesaikan masalahku dengan Azea dulu, jangan kenalan dulu deh!" Luqi mendesah dan menghela nafas malas.
"Loh, apa masalahnya? Jangan bilang kamu hanya bermain-main dengan Azea, sampai mempermainkan ibunya juga? Kamu bisa kualat Nak, jika begitu kepada orang tua, paham?" Yolanda bicara tegas dengan wajah ayu nya.
"Iya Ma. Aku tidak seperti itu kok," bohong Luqi, karena jelas dia membuat Ibu Azea salah paham.
"Oh. Baiklah, kalau begitu, Azea saja yang berkunjung ke rumah, yuk Nak!" ajak Yolanda memegang tangan Azea.
"Ah, maaf Tante, nggak bisa, soalnya Azea ada keperluan mendesak, kapan-kapan saja deh Azea pergi ke rumah Tante ya," balas Azea.
"Ya udah deh. Tante senang bertemu kamu Azea. Nanti telepon ya!"
Mereka pun berpisah. Azea melanjutkan aktivitasnya, sementara Yolanda pergi ke kointer hp, membeli ponsel baru bersama Luqi. "Mama maunya yang ini!" tunjuk Yolanda. "Gimana menurut kamu Luqi?" tanya Yolanda.
"Bagus Ma," jawab Luqi memberi pendapat.
"Saya beli ini saja ya!" pinta Yolanda pada penjual.
Setelah membeli ponsel, Yolanda berbelanja cemilan, barulah dia pulang.
__ADS_1
"Luqi, Mama minta nomor nya Azea ya?" pinta Yolanda.
"Buat apa Ma?" tanya Luqi malas memberikan nomor Azea.
"Mau ngobrol-ngobrol sama calon menantu Mama lah, mau apa lagi!" jawab Yolanda.
"Tapi Ma—"
"Udah, nggak usah tapi-tapi! Sini nomor Azea! Mama tadi udah janji mau nelfon dia!" Yolanda memaksa putranya meminta nomor Azea. Dan akhirnya, Yolanda pun mendapatkan nomor Azea dari Luqi.
Setelah mendapatkan nomor Azea, Yolanda langsung menelfon Azea, tetapi tidak diangkat oleh gadis itu, karena dia sedang bekerja. "Loh, kok Azea nggak angkat-angkat sih? Apa aku kirim pesan dulu aja, mungkin dia nggak mau diganggu nomer baru?" pikir Yolanda.
Yolanda pun mengirim pesan. "Azea, ini Tante, Mamanya Luqi. Kamu sudah sampai rumah? Tante telfon kok nggak diangkat, kamu baik-baik saja kan? Apa langsung tertidur, sampai di rumah?" Begitulah isi pesan Yolanda.
Sayangnya tak ada balasan, sampai jam sembilan malam, barulah Azea membalas pesan Yolanda.
"Tante, maaf ya, baru balas sekarang, Azea lagi bekerja," jawab Azea membalas pesan itu.
Yolanda dengan cepat membaca pesan di ponselnya. ‘Bekerja? Malam-malam begini?’ gumam Yoalnda berpikir.
__ADS_1