Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Diblokir


__ADS_3

Azea merasa terkejut ketika ada orang asing yang menelepon nomornya. Awalnya dia mengabaikan telepon tersebut, namanya banyak orang di seberang sana seperti tidak menyerah sama sekali. Dia menelepon beberapa kali sampai Azea akhirnya menyerah dan mengangkat telepon itu. Dan ketika dia mendengar suara orang di seberang sana, dia langsung terdiam dan juga memastikan bahwa pendengarannya tidaklah salah.


"Luqi? Apa itu kau?" tanya Azea untuk memastikan kalau dia tidak salah di sini. Memang setelah beberapa hari suara lelaki itu sudah sangat familiar di telinganya, bahkan kalau pun berbicara lewat telepon. Dia sudah bisa mengenali suara Luqi.


Sejenak tidak ada yang menjawab di seberang sana, mungkin Luqi juga merasa gugup ketika menyadari kalau Azea langsung mengenali suaranya, atau mungkin sedang menyusun kalimat terbaik saat ini.


"Ya, ini memang aku. Maaf kalau aku menelepon malam-malam begini. Aku tahu aku mengganggu. Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu."


Azea memutar mata dengan malas. Entah apa lagi yang diinginkan oleh lagi itu darinya. Dia sudah terlalu malas untuk berhadapan dengan siapa pun saat ini, terlebih lagi dengan orang yang pernah membuat masalah dengannya. Sikap Luqi yang kemarin sudah bisa membuat Azea tahu bahwa dia harus menjauh dari lelaki semacam itu.


"Bicara apa? Kalau tidak terlalu penting, aku akan menutup teleponnya. Kau pasti tahu bahwa aku sudah terlalu lelah bekerja dan aku tidak punya waktu untuk berbicara sesuatu yang bahkan tidak membantu meringankan pekerjaanku."


Luqi tersenyum mendengar jawaban dari Azea. Dia tahu kalau perempuan itu sudah terlanjur kesal padanya. Namun dia juga sangat yakin, hanya dengan sedikit rayuan cepat atau lambat pada akhirnya Azea akan luluh karena dirinya.


"Aku tahu, aku sudah menduga kalau kau akan menjawab seperti ini. Kurasa aku tidak bisa berbasa-basi lagi, aku ingin mengajakmu berkencan besok. Besok kau tidak ada kelas, bukan? Dan kau juga masuk kerja pada malam hari. Jadi kita bisa menghabiskan waktu di pagi atau juga sore hari kalau kau mau."

__ADS_1


Azea sampai tidak bisa berkata-kata mendengar apa yang dikatakan oleh Luqi. Sebenarnya dia tidak mengerti sama sekali apa yang dipikirkan oleh lelaki itu. Seakan baru saja mereka bertengkar, sekarang malah timbul ide untuk berkencan. Lawakan macam apa ini? Azea merasa kalau Luqi ini sepertinya memang perlu dibawa ke rumah sakit jiwa. Dia menebak kalau Luqi adalah tipikal lelaki yang narsis, lelaki yang merasa kalau semua orang harus memandang tak juga arah dirinya, termasuk orang yang baru saja bertengkar dengannya.


Sepertinya Azea harus berhati-hati.


"Ide yang terlalu gila, bukan? Dan apakah kau pikir aku akan menerima tawaran? Aku lebih baik duduk di rumah untuk menjaga ibu dan juga adikku daripada harus menghabiskan waktu bersamamu."


Luqi menghela nafas. Dia berusaha bersabar dan tidak menyerah hanya karena ini. Dia tahu hanya dibutuhkan sedikit usaha untuk meluluhkan perempuan itu.


"Aku tahu kalau kau masih sangat marah padaku. Mungkin kau juga sudah malas berurusan denganku meskipun aku masih sering datang ke minimarket itu. Anggap saja kalau ini kulakukan sebagai permintaan maafku. Kau tahu kalau aku juga manusia, dan aku sadar kalau apa yang kulakukan kemarin memang salah dan aku harus mempertanggungjawabkannya."


"Dan kau pikir aku akan percaya pada apa yang kau katakan ini? Kemarin kau terlihat sangat sombong, mengapa dengan mudahnya sekarang kau terlihat rendah diri? Semua orang bisa berpura-pura, bukan?"


Luqi menengadah sambil menggaruk kepalanya. Dia tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan untuk meyakinkan gadis ini. Cukup susah, sangat susah untuk meyakinkannya. Terlebih apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua.


"Ayolah, lantas apa yang harus kulakukan untuk meyakinkanmu bahwa aku tulus ingin meminta maaf kepadamu kali ini? Hanya ini yang seringkali kulakukan apabila aku ingin meminta maaf kepada seseorang. Dan kau malah menganggapnya sebagai sebuah manipulasi. Jadi apa yang harus kulakukan sekarang agar kau memaafkanku."

__ADS_1


Azea sungguh merasa mual ketika mendengar suara Luqi yang terdengar terkesan dilembut-lembutkan. Luqi pasti merasa kalau Azea saat ini merasa luluh dengan suaranya. Namun sayangnya dia tidak bisa ditipu dengan semudah itu.


"Tidak, tolong Jangan menggangguku saat ini. Aku sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahku. Aku tidak mau diomelin lagi oleh dosenku hanya karena membuang waktuku yang berharga untuk orang seperti dirimu."


"Tunggu!" Luqi berteriak ketika Azea berniat untuk menutup telepon tersebut. Dia masih berusaha untuk memikirkan segala cara. Sedangkan Azea saat ini sudah tidak bisa lagi dibujuk. Dia sudah terlalu dewasa dan terbiasa mengalami hal semacam ini, dia tidak akan pernah tertipu sebagaimana yang sering dialami oleh gadis pada umumnya.


"Apa lagi?! Tolong jangan memancing emosiku saat ini. Aku bisa saja memblokir nomor ponselmu kalau pun aku mau. Dan itu hanya butuh waktu beberapa detik."


Luqi menghela nafas panjang. "Aku tahu kau merasa sangat kesal padaku. Pada awalnya aku juga merasa kesal padamu. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku. Apakah ada sesuatu yang bermasalah apabila aku melakukan hal tersebut? Aku yakin itu niat yang baik, bukan?"


Azea memilih untuk tidak lagi mendengar apa pun yang dikatakan oleh lelaki itu. Dia mematikan sambungan telepon itu begitu saja dan langsung memblokir nomor Luqi. Tidak lagi memikirkan apa pun yang dirasakan oleh Luqi di seberang sana.


Luqi langsung tidak bisa menahan diri untuk mengumpat bahkan juga semua nama kebun binatang itu keluar dari mulutnya. Gadis itu sudah terlalu membuatnya kesal. Dia berusaha untuk menghubungi Azea kembali, namun ternyata nomornya sudah diblokir. Azea tidak main-main dengan apa yang dia katakan sendiri.


"Sial, tunggu saja aku besok, Azea. Aku pasti akan mendapatkanmu. Kupastikan kau tidak akan tenang sebelum menerima tawaran dariku."

__ADS_1


Luqi memiliki rencana cadangan kalaupun gadis itu tidak menerima tawaran darinya, atau mungkin lebih tepatnya kalau gadis itu tidak juga jatuh cinta kepadanya. Dia tidak masalah kalaupun memilih cara paksa di sini. Dia tidak mau harga dirinya diinjak-injak lagi. Dia hanya ingin membuktikan semuanya kepada ketiga temannya.


__ADS_2