Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Seratus Ribu?


__ADS_3

Pagi hari.


Beberapa pelayan tampak sibuk berberes, merapikan meja makan, mencuci pakaian dan piring, lalu ada yang merawat taman, dan lain-lain. Seorang Nyonya nan cantik dengan rambut di sanggul turun bersama suaminya, menggelayut di lengan kekar suaminya. Dia adalah Yolanda Suryani, dan suaminya adalah Hardian Davey, kedua orang tua Luqi.


Mereka duduk di meja makan. "Luqi sudah bangun dan bersiap berangkat kuliah, Bi?" tanya Yolanda.


"Tadi sudah dibangunkan Nyonya. Kata Den Luqi, dia tidak masuk kuliah hari ini, katanya kepalanya sakit," jawab maid itu.


"Sakit apa ngantuk karena begadang?" timpal Hardian Davey, "Anak itu selalu saja bermalas-malasan, buang-buang uang, keluyuran nggak jelas sana sini, begadang, heran deh papa sama anak kita satu-satunya itu," lanjut Hardian kembali.


"Udah lah Pa, anak kita cuman satu, kita berdua bekerja keras mencari uang kan untuk dia juga. Jadi, nggak apa-apa kan, jika dia buang-buang uang yang penting jangan melakukan hal-hal buruk seperti memperkosa, memakai obatan terlarang, membunuh, mencuri, dan hal-hal kejahatan yang lainnya, selama ini Luqi kan tidak melakukan hal-hal buruk, dia hanya bersenang-senang saja," jawab Yolanda membela putranya.


"Kalau dibiarkan terus Ma, tanpa ditegur, nanti dia bisa menjadi keras kepala karena terlalu dimanja. Dia sudah besar, sudah waktunya dia mandiri, Mama tolong batasi uang yang dikasih untuk Luqi lagi, nanti dia terlalu semena-mena sehingga nanti dia tidak bisa bertanggung jawab pada anak dan istrinya," protes sang suami mulai merasa resah akan cara asuh istrinya.


"Iya Pa, nanti pasti deh Luqi akan menjadi suami yang baik, dia kan anak mama dan papa, enggak mungkin lah buah itu jatuhnya jauh banget dari pohonnya kan?" Yolanda tersenyum mengelus punggung tangan suaminya. "Lebih baik, Papa sarapan deh, jangan sampai mood-nya buruk pagi-pagi ini, nanti rezekinya bisa hilang, kan pekerjaan di kantor banyak, kalau mood-nya buruk nanti pekerjaannya bisa nggak beres!"


Yolanda pun mengangguk dan tersenyum manis pada suaminya, Hardian pun juga tersenyum membalas istrinya. Akhirnya, mereka berdua pun sarapan dengan baik tanpa Luqi.

__ADS_1


Setelah sarapan. Yolanda membantu suaminya membawakan tas bekerja dan mengantarkan sang suami ke depan. "Papa berangkat kerja dulu, Ma." Cium sayang, kening dan pipi.


"Iya Pa. Papa hati-hati. Sayang Papa banyak-banyak." Yolanda balas ciuman itu lebih manis dengan kecupan mesra mendarat di bibir suaminya.


Yolanda melambaikan tangan saat melihat kepergian suaminya yang menghilang seiring hilangnya mobil sedan hitam itu.


"Bi, aku akan berangkat ke distro dan toko jam, nanti kalo Luqi sudah bangun tolong masakkan apa yang dia mau, jika sakit kepalanya berlanjut, tolong kabari aku ya?" kata Yolanda.


"Iya, Nyonya."


Yolanda pun berangkat kerja juga. Pekerjaan lebih santai, hanya memeriksa pemasukan dan pengeluaran, serta memesan barang-barang yang akan di perjualbelikan, sementara bagian pekerjaan ada karyawan dan bawahan terpercaya.


Waktu sudah sore, Yolanda cukup sibuk, yang lebih apesnya lagi, mobilnya mogok, hari ini dia tidak pakai supir, karena pak supir libur istrinya melahirkan.


"Ck, buruk sekali sih hari ini! Penjualan tekor, dua jam tangan mehong rusak sama anak baru, haaaah!" Yolanda menghela nafas. "Duh, jalan di sini sepi lagi, agak jauh rumah orang!" Yolanda mencoba menelfon putra satu-satunya.


Masuk ada, tetapi tidak di angkat!

__ADS_1


"Luqi, angkat dong! Ini anak masih tidur atau gimana sih? Apa aku telfon Papa aja? Tapi pasti ngerepotin banget, Papa pasti juga sibuk!" Yolanda bingung.


Hingga berhenti dua buah motor dengan tiga orang. Mereka menarik ponsel dan tas Yolanda mengancam dengan pisau. Yolanda mempertahankan tas, karena isinya sangat banyak hal penting, surat menyurat, data diri dan lainnya, jika uang hanya lima ratus ribuan, tak ada perhiasan selain kalung, cincin dan anting yang dia pakai.


"Tolong!" teriak Yolanda. Jalan ini sepi, tetapi tidak terlalu sepi, ada orang tapi jauh. Sehingga saat mendengar Yolanda bersorak, sang pencopet mencoba memutus tas dengan pisau, sehingga melukai tangan Yolanda.


Kebetulan sekali, Azea lewat di sana. Dia menghentikan motornya, melepaskan sepatu, dan melempar kepala pencopet dengan kedua sepatu pansusnya, mereka kabur karena semakin banyak orang. Ponsel Yolanda raib bersama si pencopet, sementara tas Yolanda selamat. Namun, tangannya banyak mengeluarkan darah.


Dengan cepat Azea melakukan pertolongan pertama, dia merobek lengan baju kemejanya yang panjang, dia ikat tangan Yolanda yang berdarah agar menghentikan pendarahan.


"Ayo, Bu, kita ke puskesmas terdekat!" Azea membawa Yolanda dengan motor bebek buntut nya. Jujur saja, Yolanda sangat gugup, ketakutan dan sampai berpegang dengan sangat kuat, karena baru kali ini naik motor, biasanya kemana-mana selalu pakai mobil, dan kebetulan dia belum pernah mencoba mengendarai motor atau pun sepeda. Ada pun beberapa motor di rumah, itu motor Luqi, dan kebanyakan besar-besar.


Setelah menemani Yolanda berobat, Azea hendak berpamitan pulang, karena dia baru saja pulang kuliah dan akan segera pergi bekerja.


"Terimakasih banyak Nak. Oh ya, kalau boleh, Tante mau minta tolong lagi ya, pinjam poselnya, ponsel Tante tadi di curi, Tante mau nelfon anak Tante, biar dia jemput ke sini," kata Yolanda.


"Baik Tante." Azea pun memberikan ponsel pada Yolanda.

__ADS_1


Saat Yolanda mencoba memasukkan nomor Luqi dan melakukan panggilan, nama Luqi sudah tertera di sana dengan nama, seratus ribu.


‘Seratus Ribu?’ gumam Yolanda dan dia mencoba mengetik nomor sekali lagi, tetap saja itu, bahkan kini langsung diangkat oleh Luqi.


__ADS_2