
"Kamu bekerja sungguhan?" Mungkin ini terdengar konyol, tetapi Yolanda benar-benar penasaran.
"Iya, Tante. Saya bekerja di toko, saat pulang kuliah, saya akan langsung bekerja setelahnya sampai jam dua belas malam," jawab Azea.
"Kamu sangat rajin," puji Yolanda.
Mereka berbincang akhirnya, karena Yolanda menelfon Azea, bercerita beberapa hal ringan, barulah berakhir perbincangan itu saat Azea beberapakali menguap.
Setelah mengakhiri panggilan, Yolanda menemui putranya Luqi di kamarnya. "Luqi, kamu bertemu di mana dengan Azea?" Yolanda langsung duduk di sisi ranjang putranya dan terlihat sangat kepo.
"Apa sih Mama, Azea itu hanya wanita biasa, masalah pernikahan itu, lupakan saja deh!" Luqi berdecak lidah, dia sedang tidur menelungkup sambil bermain game.
"Bego! Itu kawan di belakangmu, Glen!" serunya asik bermain game.
"Sial! Kasih gue darah Louq!" Terdengar juga suara temannya yang lain selain Gleen dari ponsel Luqi yang menampilkan permainan perang-perang itu.
Yolanda menarik ponsel dari tangan Luqi dan dengan lancang menutup ponsel itu.
"Mama!" jerit Luqi tak suka. "Luqi lagi main game Mom, lagi perang banget itu, ah!" Luqi berdecak lidah. "Siniin Ma!" pintanya.
"Enggak Mau! Kamu itu, Mama lagi ngomong, tapi enggak di dengar!" Yolanda melotot.
__ADS_1
"Ma, udah Luqi kasih tau kan, wanita itu hanya wanita biasa, nggak ada pernikahan atau lainnya lah!" Aluqi mengulurkan tangan ingin merampas ponselnya.
"Tapi, jelas-jelas kamu bilang akan menikah dengannya, Mama dengar sendiri kamu ngomong begitu! Apa kamu mempermainkan wanita tua, hah?" Yolanda menuding Luqi. Wanita tua yang disebut Yolanda adalah Ibu Azea.
Luqi memejamkan matanya, menutup kepalanya dengan bantal. Tak ingin mendengar sang Mama berciloteh!
"Mama akan menemui keluarga Azea besok, kamu keterlaluan jika mempermainkan wanita tua Luqi, tidak seharusnya kamu bermain tentang sebuah pernikahan, semuanya akan Mama sita!" ancam Yolanda serius.
"Loh, Ma?" Luqi terkejut mendengar perkataan ibunya. Bisa-bisanya wanita yang memanjakan dirinya sejak kecil itu, kini berpihak pada Azea.
Luqi bangkit dari ranjangnya, membuntuti Yolanda yang keluar dari kamarnya. "Ma, Mama enggak bisa gitu dong, ini semua jelas tidak adil!" Luqi protes.
Tiba-tiba, sang Papa malah pulang lebih cepat dari biasa, dan mendengar Luqi yang meninggikan suaranya pada Yolanda.
"Aluqi!" seru papanya.
"Berani nya kamu meninggikan suaramu kepada wanita yang melahirkan dan membesarkan kamu!" hardiknya.
"Pa-Papa!"
"Jangan sekalipun kamu membentak Mama kamu!" Papanya melotot marah.
__ADS_1
"Ma, ada apa Sayang?" Suaminya langsung memeluk Yolanda, mengusap punggung wanita itu.
"Ini Pa, Luqi katanya mau menikah dan melamar seorang gadis, dia sudah berkata seperti itu pada ibu sang gadis, tetapi rupanya dia hanya mempermainkan wanita itu," kata Yolanda.
"Anak kurang ajar! Kau terlalu dimanjakan selama ini Aluqi! Pernikahan itu bukan sebuah permainan! Jika begitu, kita harus melamar gadis itu dengan baik-baik bukan?" kata Suaminya menatap sang istri setelah melotot marah pada Luqi.
Yolanda mengangguk. "Iya, Pa. Gadis itu sangat baik, dia juga membantu Mama saat mama di ganggu pencopet, dia juga membawa Mama ke puskesmas untuk di obati. Dia rajin, bahkan saat kuliah saja, dia bisa bekerja sampai malam."
"Wanita sebaik itu kamu permainkan?" Papanya menatap horor Luqi kembali.
"Makanya Pa, ponselnya Mama ambil, nanti Mama mau nonaktifkan juga semua akses dan kartu debit dia, biar dia enggak mempermainkan wanita lagi." Yolanda melanjutkan ucapannya.
"Itu ide bagus Ma, sekalian juga kita temui gadis itu dengan keluarganya, kita minta maaf dan lamar baik-baik." Sang suami menyetujui usul istrinya.
"Ma–" Luqi hendak protes, tapi tidak di gubris dan langsung di potong oleh ucapan Papanya.
"Tidak ada bantahan Luqi! Semua fasilitas kamu akan diberikan kembali setelah kalian berdua menikah, kau tidak bisa berbuat seperti itu lagi, kau harus bertanggungjawab dan menikahi wanita yang telah kau janjikan itu!" Mama dan Papanya pergi ke kamar mereka setelah berkata seperti itu.
"Ma, Pa!" Aluqi berteriak dan memijit keningnya, karena ini jelas tidak seperti yang dia inginkan, mustahil bukan? Kedua orangtuanya itu akan menikahkan dia dengan Azea si gadis entah berantah itu? Begitulah pikir Luqi.
"Ah, ini tidak mungkin! Besok Mama pasti akan kembalikan ponselku, kalau tidak aku bisa beli ponsel baru lagi!" gumam Luqi. Seorang pemuda yang kaya dan manja sejak kecil itu bergumam penuh percaya diri.
__ADS_1