Karena Uang Seratus Ribu

Karena Uang Seratus Ribu
Menikah Beberapa Hari Lalu


__ADS_3

"Kok Tante sih? Mama dong Sayang!" Yolanda selalu mengingatkan menantunya itu, agar selalu memanggilnya dengan Mama, bukan Tante.


"Ma-Mama, uang sebanyak itu, Azea tidak bisa, itu—"


"Tidak, kamu bisa Azea," potong Yolanda. "Ayo, kita lihat-lihat dulu rumah ini," kata Yolanda.


Azea, Aluqi, dan Yolanda melihat rumah besar itu, dari kamar, segala ruang-ruang dalam rumah besar itu. "Ini adalah rumah dari Mama dan Papa sebagai hadiah atas pernikahan kalian." Yolanda tersenyum, menggenggam punggung tangan Azea dengan kedua tangannya.


"Mama dan Papa berharap, kalian langgeng, selalu manis dan romantis," kata Yolanda, membuat alis kedua sejoli itu berkerut.


Romantis? Hah, yang benar saja!


Mereka saja jarang sekali akur, namun Azea mencoba tersenyum dan berkata, "Ma, hadiah ini terlalu besar dan—"


"Tidak. Ini hadiah yang cocok untuk kalian. Surat menyurat ya juga sudah Mama buat atas nama kamu Azea. Sini, sini!" Yolanda mengajak Azea berjalan ke ruangan yang berisi beberapa kemari, meja dan sofa, di lemari banyak buku, seperti berada di perpustakaan mini saja.


Yolanda menarik laci meja, memperlihatkan surat rumah. "Nih, atas nama kamu." Azea tercengang.


"Ma—" Aluqi mau protes, tapi Yolanda melotot.


"Mama dan Papa tidak bisa mempercayai surat menyurat penting sama kamu. Lalu, uang yang Mama berikan itu, harus Azea yang pegang. Jika kamu mau belanja dan minta lain-lain, kerja sendiri! Azea saja sebagai istri kamu bisa bekerja sendiri kok!"


"Apa!!" Aluqi terbelalak.

__ADS_1


***


Hari ini, keluarga besar Azea pindah. Ibu dan adiknya ke sebelah rumahnya yang lebih mini, sementara Azea tinggal di rumah besar yang waktu itu Yolanda bilang untuk sering-sering di lihat oleh Luna. Rupanya, maksud Yolanda, memperhatikan anak dan menantu mereka, lalu taman bunga yang begitu luas terlihat indak di depan rumah mereka.


"Bu Yola. Saya merasa enggak enak sekali." Luna tersenyum sungkan.


"Tidak apa-apa Bu Luna. Saya itu senang sekali, karena ada Azea. Anak saya Luqi itu terlalu saya manja sejak kecil, jadi sikapnya begitu, saya ingin dia mandiri bersama Azea."


Aluqi cemberut sejak beberapa hari lalu, saat dia mendengar penuturan ibunya tentang surat-surat dan uang belanja yang dipegang Azea.


"Gue minta uang! 5 juta!"


"Untuk apa?" tanya Azea, melihat sifat congkak suaminya yang sombong menampung tangan ke arah dia.


"Oh. Kalau begitu pinjam ponselmu."


"Untuk apa?" Alis Aluqi berkerut. "Kau mau periksa ponselku? Kau cemburu?"


"Cemburu? Aku? Hellow ...! Sorry ya, aku enggak akan cemburu. Aku hanya ingin menjalankan amanah ibu kamu. Agar memastikan uang yang akan dikeluarkan benar-benar sangat penting. Kalo cuma mau nongkrong, kerja dong!" Azea membalas.


"Nggak usah ngelunjak ya! Itu uang Mama gue!"


"Juga uang mertua gue! Beliau nyerahin uang itu Ama gue, dan mengeluarkan sebaik-baiknya perhitungan!" balas Azea juga pakai loe gue karena kesal dengan sikap Aluqi.

__ADS_1


"Ah, sialan! Nih, ponsel aku!" Aluqi pasrah menyerahkan ponselnya.


"Nama Glen siapa di sini?" tanya Azea.


"Teh Pahit," jawab Aluqi.


Azea melirik Aluqi sebentar, lalu melakukan video call ke nama teh pahit. "Hallo!"


"Eh? Azea? Hallo juga. Kok ponsel Aluqi ada sama kamu?" tanya Gleen.


"Oh, iya, kami sudah menikah beberapa hari lalu, Gleen," jawab Azea.


"Apa!" teriak Gleen tidak percaya.


...****************...


Author Note


Hai pembaca, nanti aku update lagi ya!


Sebelumnya, aku mau promosi novel baru aku juga yang berjudul DUDA PERJAKA SALAH KAMAR, sudah 21 Bab.


__ADS_1


__ADS_2