
Perlahan Arinda membuka mata. Masih cukup terasa berat dan pening di kepalanya. Bahkan mengedipkan mata pun terasa tak sanggup ia lakukan. Ia kembali memejamkan matanya lebih kencang, berharap bisa segera membukanya dengan lebih baik.
Seluruh badannya terasa lemas tak berdaya. Seakan beban ribuan ton menindihnya. (Aduhh..lebay gak sih si Arinda ini..? Hehe..)
Masih berusaha untuk membuka mata, sekedar melihat jam berapa sekarang. Sedikit cahaya yang berasal dari lampu meja di samping kiri kanan ranjang, sebenarnya semakin membuatnya lebih nyaman untuk memejamkan mata lagi.
Sekali lagi, dengan susah payah Arinda membuka matanya perlahan. Meskipun berat, tapi ia tetap harus melakukannya. Akhirnya, setelah perjuangannya bermenit-menit, Arinda pun berhasil membuka matanya dan hanya berhasil membukanya sedikit saja. Kemudian terpejam lagi.
Namun ketika matanya masih mencerna apa yang baru saja dilihatnya, Arinda merasakan ada sesuatu yang janggal. Otaknya berfikir bersama matanya yang masih terpejam.
Beberapa detik kemudian, Arinda menyadari sesuatu.
"Ini bukan kamarku..!!!" Hanya itu yang mampu ia simpulkan.
Seketika itu juga, Arinda seperti mendapat energi ribuan kali lipat. Bukan hanya mampu membuka mata dengan sempurna, tapi secepat kilat ia pun mampu bangun dengan cepat dan terduduk, masih di tempat tidurnya.
Sementara, Arinda hanya menatap lurus ke arah depan. Sambil menata pikirannya yang super kacau. Perlahan Arinda menyapu sekeliling kamar itu dengan pandangan tak menentu.
__ADS_1
Awalnya, Arinda hanya melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri, ke atas juga ke bawah tanpa menggerakkan kepalanya sedikit pun. Mengawasi sekeliling melalui sudut matanya. Hanya alisnya yang sesekali ikut bergerak naik turun tanpa dikomando.
"Dimana aku..?" Tanyanya di dalam hati, dan mulai berfikir yang tidak-tidak.
Sambil mengingat-ingat apa yang terjadi hingga ia sampai di tempat ini, Arinda mulai menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Menyisir ke seluruh bagian kamar itu. Dan berharap tidak menemukan seseorang disana. Meskipun sebenarnya, ia sendiri juga butuh seseorang untuk memberinya banyak informasi saat ini.
"Apa ini..?"
"Ada apa ini..?"
"Apa yang terjadi..?"
"Bagaimana ini..?"
"Ya Tuhaaan..mimpi buruk macam apa ini..?" Teriaknya di dalam hati diiringi ribuan pertanyaan yang entah kapan bisa terjawab.
Perasaan takut mulai mengisi setiap inci jiwanya. Dan setelah ia berfikir bahwa tidak ada siapapun di kamar itu, Arinda mencoba memberanikan diri untuk bergerak. Menundukkan kepala, dan melihat selimut tebal yang menutup tubuhnya.
__ADS_1
Semakin menunduk lagi, betapa terkejutnya ia mendapati dirinya sudah memakai baju tidur minimalis berbahan tipis, namun sangat dingin dan nyaman dipakai. Dengan tali kecil di bagian bahunya. Ada renda cantik yang menghiasi bagian dadanya, dengan sentuhan pita kecil bertali di bagian tengahnya.
"Dada.." gumam Arinda sembari mengernyitkan dahinya, berharap yang dirasaknnya itu salah. Tapi setelah tangan kirinya mer*ba bagian dadanya, benar saja tidak ada b*a yang terpasang disana.
Terkejut yang luar biasa. Arinda menarik nafas mendadak melalui mulutnya, hingga mulut itu terbuka lebar. Seakan berteriak, namun tanpa suara. Matanya terbelalak lebar, dan semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
Pikiran buruk semakin menjadi setelah Arinda mendapati penampilan dirinya yang luar biasa itu. Apakah aku sudah ternoda..? Apakah seseorang sengaja menodaiku..? Apakah aku korban pem*rk*saan..? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Spontan tangan Arinda mengacak-acak kepala yang penuh berisi pertanyaan tanpa jawaban itu. Dalam keputusasaannya, matanya menangkap sebuah jam dinding yang terpasang di atas pintu kaca lebar di seberang tempat tidurnya. Jarum disana menunjukkan pukul 05.25 pagi.
Sembari memejamkan matanya lagi, tertunduk tanpa daya, dengan kesedihan yang mendalam, Arinda hanya mampu berteriak di dalam hati.
"Ya Tuhan..kejutan macam apa yang kau kirimkan pagi ini..???"
Ingin rasanya Arinda berteriak, namun ia adalah gadis yang tak pernah ingin dilihat lemah oleh orang lain. Arinda selalu ingin terlihat sekuat baja, karena itulah ia tak pernah sekalipun memperlihatkan air matanya kepada siapa pun.
Sesakit dan sepedih apapun saat ia mendapat masalah, ia akan menyimpannya serapi mungkin. Hingga tak seorangpun yang tau ia sedang bersedih. Senyumnya selalu ia tampakkan untuk membungkus air mata yang tersembunyi. Dan pembawaannya yang selalu ceria, semakin membuat semua orang percaya bahwa tidak ada cela dalam hidupnya.
__ADS_1
Hari ini, adalah hari yang tak biasa buat Arinda. Ia terbangun di sebuah kamar asing yang luasnya 2x luas kamarnya. Dengan ranjang mahal yang lebar, bantal guling lembut dan seprei serta selimut yang terlihat mewah & mahal.
Disamping kiri kanan ranjang terdapat meja nakas minimalis yang tampak sangat elegan. Dengan lampu tidur yang cantik. Aroma pengharum ruangan yang mendominasi membuat kamar itu semakin menyenangkan.