
"Apa kabar, Arin...?" Seketika Arinda merasa tak berdaya. Seakan seluruh tulang yang menopang tubuhnya raib entah kemana. Arinda ingin terjatuh, namun ia berusaha menguasai diri. Hingga akhirnya tanpa sadar ia mundur selangkah ke belakang. Dalam keadaan lemah.
Arin, begitulah Ardan biasa memanggil Arinda dulu. Hanya Ardan, satu-satunya orang yang memanggilnya dengan sebutan itu. Ketika sekarang Arinda mendengar lagi panggilan itu, namun dalam keadaan yang sama sekali tidak ia inginkan, ia merasa seperti terjerembab ke tanah yang tandus.
Sepertinya semua telah berubah. Laki-laki itu ada di hadapannya dengan penampilan yang luar biasa berbeda. Dan mungkin dengan kepribadian yang berbeda juga. Hanya itu yang sempat terlintas di benak Arinda. Ia sedang merasakan sakit yang luar biasa karena ulah Ardan.
"Arin...!!!" Ardan terkejut saat melihat Arinda tiba-tiba terhuyung lemah. Bi Imah yang sedari tadi berada di belakang Arinda, berhasil menangkapnya dengan cepat. Dan berusaha membawanya ke kursi.
"Saya tidak apa-apa, Bi." Ucap Arinda lirih. "Terimakasih..." Lanjutnya. Ardan tetap berdiri di tempatnya. Begitu pun dengan orang-orang yang ada di sana, hanya diam dalam keterkejutan, karena tak ada perintah apapun dari Ardan.
Ardan tak bergerak sedikit pun, apalagi ikut menangkap Arinda. Dirinya sama sekali tak memiliki keberanian untuk menyentuh sembarang wanita. Ia sudah cukup lega melihat Bi Imah melakukannya tepat waktu. Meskipun masih ada gurat kekhawatiran terlukis di wajah Ardan.
Bergegas Ardan beranjak, duduk di kursi yang ada di seberang Arinda. Mereka terpisahkan meja yang diatasnya sudah tertata dengan rapi secangkir kopi panas untuk Ardan, secangkir cokelat hangat untuk Arinda dan disertai aneka kudapan pagi. Arinda memandangi semua yang tersaji di depannya, dan ia baru menyadari bahwa semua memang sudah dipersiapkan.
"Kenapa Bi Imah tidak memberitahuku apapun tentang hari ini...?" Berbisik dalam hati, merasa paling bodoh. "Mereka menyusun semua ini dengan sangat rapi..."
"Hhh,,," Terdengar suara nafas Arinda yang masih bergetar.
"Kamu baik-baik saja, Arin..." Tanya Ardan yang memandang lekat wajah Arinda. Ia yakin, Arinda masih tetaplah gadis sekuat baja seperti dulu.
"Hmm..." Arinda mengangguk perlahan. Ia meraih cangkir cokelat hangat di depannya, dan meneguknya pelan. Ia mencoba menguasai diri, saat menyadari pandangan Ardan tak beralih darinya.
Hening beberapa saat. Ardan memberikan waktu kepada Arinda untuk menata kekacauan di dalam hatinya. Ardan paham situasi itu. Akan cukup sulit bagi Arinda mencerna dan menerima semua peristiwa yang terjadi beberapa hari ini padanya. Apalagi semua itu adalah bagian dari skenario yang telah disusun Ardan.
"Arin..." Suara Ardan memecah keheningan. "Maafkan aku, karena telah membuatmu menunggu terlalu lama..." Ardan tulus meminta maaf. Arinda hanya menatapnya tajam. Tanpa suara.
"Apa...!!! Maaf karena aku menunggu terlalu lama...??? Bukankah seharusnya kamu meminta maaf karena telah melakukan kejahatan ini...?" Pekik Arinda di dalam hati.
Ada senyum di ujung bibir Ardan setelah mengatakannya. Namun itu justru membuat hati Arinda hancur berkeping-keping. Arinda menelan ludah, sebelum berani bertanya sesuatu kepada Ardan. Ia masih tajam menatap Ardan. Terluka. Ada sisi lain di hatinya yang merasa dihianati.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku...? Dan apa tujuan kamu melakukan semua ini...?" Tanya Arinda sinis. Ingin sekali ia mencakar wajah Ardan dan membenamkannya ke dalam bumi.
Ardan mengangguk pelan. Sepertinya ia sudah menduga Arinda akan menanyakan itu.
"Kamu tidak ingin berbasa-basi dulu denganku...?" Jawab Ardan dengan pertanyaan yang menyebalkan. Ingin mencairkan suasana yang sepertinya tidak mungkin lagi. Ardan masih berharap, mereka bisa berceloteh bersama seperti dulu. Padahal ia tahu itu mustahil untuk saat ini. Apalagi, melihat Arinda memicingkan mata di hadapannya. Tampak mengerikan.
"Jangan membuang waktu, Ardan. Aku tidak terbiasa dengan itu." Arinda serius.
"Baiklah,,,kalau memang kamu ingin tahu alasanku melakukan semua ini. Boleh aku menjawab sekarang...?" Ardan melihat reaksi Arinda yang tak bergeming. Ia pun kehabisan kata-kata untuk sekedar bernostalgia.
__ADS_1
Nostalgia kepalamu...!!! (ini kalo penulis yang jadi Arinda..hahaha )
Ardan menatap lekat mata Arinda. Ia tahu pasti, Arinda tidak akan siap dan tidak akan mudah menerima apa yang akan ia ucapkan. Ardan tahu, mungkin setelah ini Arinda akan mengumumkan pada dunia bahwa dirinyalah musuh terbesarnya. Dan akan menyulut api peperangan.
Dada Ardan bergemuruh. Jantungnya berdegup kencang, seakan hendak terlempar dari tempatnya berada. Namun Ardan sudah bersiap sejak lama. Hari ini akan menjadi bagian dari masa depannya.
Ardan mulai menarik nafas dalam. Berusaha fokus dan menguasai dirinya.
"Aku mencintaimu, Arin. Dan aku ingin memilikimu..." Pengakuan Ardan membuat Arinda terperanjat. Seolah Ardan sedang mencabik-cabik seluruh hati dan tubuhnya sekaligus. Mata Arinda terbelalak untuk ke sekian kalinya. Terasa disambar petir di siang bolong.
Semua terdiam. Bahkan angin pun seakan ketakutan. Tak ada suara apa pun. Seluruh mata yang ada di ruangan itu terbelalak. Semua orang menjadi tegang, seolah bernafas pun menjadi sebuah dosa saat itu. Tak terkecuali Victor dan Bi Imah yang menyaksikan Ardan mengutarakan perasaannya dengan tiba-tiba. Karena Ardan tak pernah mengatakan akan melakukannya sekarang.
Arinda pun tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka, Ardan akan melukai hubungan persahabatan mereka. Ia tak percaya Ardan bisa melakukan itu. Terlebih lagi Arinda tahu, Ardan sudah menikah.
Ya..., Ardan sudah menikah. Istrinya adalah desainer ternama di ibukota. Pernikahannya 4 tahun lalu, terpaksa menjadi akhir keakraban Ardan dan Arinda. Entah kenapa, Ardan tak mengundang teman-temannya di acara pesta pernikahannya. Termasuk Arinda.
Padahal Ardan adalah sosok seorang yang rendah hati. Ia sangat baik, sopan dan ramah kepada siapa pun. Komunikasi Ardan dengan Arinda terputus sejak hari itu. Tak pernah saling memberi kabar lagi. Dan Arinda pun tak pernah tahu, apa alasan dibalik sikap Ardan yang tidak mengundang Arinda dan teman-temannya saat itu.
Benar yang dipikirkan Ardan. Seharusnya pertemuan mereka saat ini, menjadi pertemuan yang menggembirakan. Bisa berkumpul bersama, bahkan mungkin dengan beberapa sahabatnya yang lain juga. Berbicara dari hati ke hati tentang pernikahan Ardan waktu itu, saling memaafkan, kemudian bersenda gurau lagi seperti dulu. Bernostalgia tepatnya.
Tapi apa daya, kini mereka bertemu dalam keadaan yang tak seharusnya. Arinda sempat berkaca-kaca. Melihat Ardan yang sekarang telah menjadi pengusaha yang hebat. Arinda tahu, perjuangan Ardan tidaklah main-main untuk sampai di titik ini. Ardan telah bermetamorfosis dari pemuda yang polos menjadi lelaki gagah yang disegani.
"Arin..." Ardan memanggilnya dengan lembut. Bergegas Arinda menyeka butiran bening yang belum sempat menetes itu. "Katakan sesuatu..." Pinta Ardan kemudian.
"Aku... Aku tidak tahu..." Arinda menjawab sekenanya. Ardan hanya diam. "Aku mau pulang sekarang..." Lanjutnya.
"Maaf, Arin. Kamu tidak bisa pulang sekarang..."
"Kenapa...?"
"Karena kamu harus tetap disini bersamaku..."
"Apa...?"
Ardan terdiam. Arinda bangkit dari duduknya.
"Antar aku pulang, Ardan...!!!"
Ardan menggeleng. "Kamu akan tetap disini, Arin. Bersamaku..."
__ADS_1
"Hhh..." Arinda mencibir. "Aku tidak bisa. Aku kecewa sama kamu, Ardan. Kamu jahat... kamu menculikku, membawaku ke tempat asing ini dan memisahkan aku dari orang tuaku. Hari ini mungkin aku bisa selamat, tapi besok mungkin kamu sudah menj*mahku, men*daiku, atau bahkan kamu akan membunuhku..."
Ardan hanya mampu memejamkan mata mendengar Arinda mulai tak mampu menguasai dirinya. Membabi buta, menuduhnya yang tidak-tidak.
"Maafkan aku, Arin. Mungkin aku sudah melukai perasaanmu. Tapi aku tidak akan pernah menyakitimu dengan sengaja. Percayalah...!!! Dan tenanglah, papa dan mama kamu sudah tahu, kamu di sini bersamaku..."
"Apa kamu bilang...?"
Ardan tak menjawab. "Ponselku, Vic..." Ucapnya kemudian meminta ponselnya yang selalu dibawa Victor. Ia menggeser layar ponselnya, mencari sebuah nomor. Setelah dapat nomor itu, ia melakukan video call.
"Halo, Om... Tante..."
"Halo, Ardan. Apa kabar...?"
"Baik, Om.. Tante..."
Arinda terkejut. Lalu ia terduduk kembali. Ia mengenal suara yang ada di ponsel itu. "Mama... Papa..."
"Dimana Arinda...? Apa kamu sudah membawanya jalan-jalan...?"
"Maaf, Tante... Saya belum sempat mengajaknya berkeliling. Karena saya baru pulang dari Singapura kemarin. Arinda ada disini bersama saya, Tante."
Ardan memberikan ponselnya kepada Arinda.
"Rinda...!!!" Suara mama dan papa Arinda memanggilnya bersamaan. Arinda mencoba tersenyum semanis mungkin. "Apa kabar, Sayang...?"
"Baik, Ma... Pa..."
"Syukurlah, Sayang..." Mama Arinda.
"Rinda, nikmati liburanmu di sana, ya...! Ardan akan mengajakmu berlibur dan jalan-jalan. Bersenang-senanglah..." Papa Arinda.
"Tapi, Pa..."
"Hey, jangan mencoba mengacaukan apapun, Rinda. Kamu hanya harus menikmati waktu liburanmu. Menurutlah apa yang dikatakan Ardan."
Arinda hanya mengangguk, mendengar setiap ucapan kedua orangtuanya. Sepertinya mereka adalah partner Ardan hingga dirinya sampai kesini. Ia memberikan ponselnya kembali kepada Ardan.
"Ardan, Om dan Tante titip Arinda ya. Jaga dia baik-baik." Ucap kedua orangtua Ardan sebelum mengakhiri obrolan mereka.
__ADS_1
Arinda menatap Ardan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ardan yang paham apa yabg dibutuhkan Arinda, meminta Bi Imah membawa keluar seluruh pelayan yang ada di sana. Victor pun berjalan keluar kamar. Ia sendiri bangkit dari duduknya. Dan segera meninggalkan Arinda.
Suara tangis pecah di balkon setelah semua pergi. Arinda butuh sendiri untuk menumpahkan tangisnya itu. Arinda meratap. Tanpa ia sadari, Ardan masih berdiri di kamar Arinda. Menyandarkan diri di dinding di sebelah pintu geser menuju balkon. Kepalanya tertunduk lesu, matanya terpejam, mendengarkan rintihan Arinda, yang seperti telah mengiris hatinya.