Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 15 : Di Taman Hiburan


__ADS_3

"Tante Arin ingin mewarnai...?" Tanya Alvin dengan polosnya. Ia melihat Arinda yang sedari tadi memperhatikannya. Ia pikir Arinda ingin mewarnai gambar di buku mewarnai seperti dirinya.


"Umm, emangnya Alvin mau meminjamkan itu buat tante...?" Arin seperti mengiyakan apa sedang Alvin pikirkan.


"Boleh dong, Tante." Ucap Alvin girang. Matanya berbinar saat mengatakan itu. Lagi-lagi Alvin merasa bahagia mendapat teman. Teman mewarnai sekarang.


"Tante mau mewarnai yang mana...?" Alvin membolak-balik lembaran di buku mewarnainya. Memperlihatkan beberapa gambar yang belum sempat ia warnai kepada Arinda.


"Tante mau yang itu. Boleh...?" Jawab Arinda sambil menunjuk gambar sebuah kapal di atas laut.


Bergegas Alvin menyodorkan buku mewarnai beserta pensil warna miliknya kepada Arinda.


"Terimakasih, Alvin." Arinda mengambilnya dengan suka cita. Tetapi tiba-tiba Alvin berdiri dari tempat duduknya, berpindah ke pangkuan Arinda.


"Alvin mau melihat tante mewarnai..." Ucap Alvin tanpa merasa canggung sedikit pun. Arinda pun mempersilahkan dan menyiapkan pangkuannya agar Alvin merasa nyaman duduk di sana.


Mereka pun menikmati momen seru itu. Arinda dengan sabar menjawab setiap pertanyaan yang tak henti-hentinya keluar dari mulut mungil Alvin. Ardan yang menyaksikan itu terlihat sangat bahagia. Ada perasaan lega yang tergambar di wajahnya. Ia tersenyum puas sambil melihat segala sesuatu yang tampak di luar jendela mobilnya.


Victor yang tampak tenang dibalik kemudi mobil, ternyata merasakan hal yang sama.


"Maafkan saya, Nona. Saya terlalu bahagia karena mereka sangat bahagia." Gumam Victor di dalam hati.


.


.


Di Taman Hiburan...


"Tante mau naik yang mana dulu...? Yang itu atau itu..." Alvin memberikan pilihan kepada Arinda, sambil menunjuk wahana permainan kincir angin dan komedi putar.


"Um, mau yang itu..." Jawab Arinda menjatuhkan pilihan pada kincir angin.


"Alvin mau yang itu, Papi..." Alvin langsung menarik tangan Arinda sambil berlari tak sabar menuju kincir angin. Ardan dan Victor pun mengikuti mereka di belakang.


Mereka menaiki kincir angin bersama. Melihat pemandangan alam di sekitar taman hiburan dari ketinggian. Victor mengambil beberapa gambar dengan ponsel milik Ardan. Momen saat kebersamaan mereka bertiga, saat tak ada apapun yang mengalahkan tawa riang mereka.


Setelah selesai dengan kincir angin, Alvin menarik tangan Arinda untuk naik wahana komedi putar. Sebelum naik, lagi-lagi Alvin memberi pilihan kepada Arinda.


"Tante mau naik kuda atau keretanya..."


"Umm, tante mau naik kuda aja..."


"Alvin mau naik kuda juga, Papi..."


Arinda menahan senyum sambil melirik Ardan. Alvin bergegas menarik tangan Arinda. Lalu mereka naik kudanya masing-masing di wahana itu. Alvin berdua dengan Ardan, dan Arinda sendirian. Victor tidak ikut naik. Ia menunggu di pagar, sambil mengambil gambar kebersamaan ketiga orang yang sedang kelewat bahagia itu.

__ADS_1


Hari sudah siang ketika Alvin berhasil menyelesaikan beberapa wahana. Matahari cukup terik hari itu. Sesekali Arinda mengibaskan tangannya untuk mengusir gerah. Ardan pun segera mengajak mereka untuk istirahat terlebih dahulu.


"Alvin, Tante Arinda kelelahan. Kita istirahat dulu ya..."


Arinda mengernyitkan dahi, saat tahu Ardan sedang memanfaatkan dirinya sebagai alasan. "Ish..." Ucap Arinda lirih sambil melirik ke arah Ardan.


Alvin menatap Arinda, seolah menanti sebuah persetujuan. Arinda yang paham situasinya, tersenyum lembut dan mengangguk kepada Alvin.


Mereka mencari tempat yang teduh di sudut taman. Dan duduk santai di sebuah bangku. Victor masih berdiri.


"Alvin mau minum...?" Tanya Victor kepada Alvin.


"Mau..."


"Mau minum apa...?"


"Mmm..." Berpikir sambil melihat ke arah Arinda. "Tante mau minum apa...?"


"Hmm, apa ya...?" Cuaca yang sangat panas saat itu, membuat Arinda ingin sekali minum cola dingin. Tapi ia khawatir Alvin akan ikut memilih apa yang ia pilih.


"Jus mangga..." Ucap Arinda menjatuhkan pilihan. "Esnya sedikiiittt saja..." Lanjutnya.


"Aku juga mau jus mangga esnya sedikiittt saja, Papi."


"Alvin juga mau es krim, Papi." Ucap Alvin kemudian.


"Boleh. Es krim vanila kan...?" Ardan menebak, sudah hendak meminta Victor membelikan es krim vanila kesukaan Alvin. Seperti biasanya. Tapi sepertinya, hari ini akan jadi tidak seperti biasanya.


"Tante Arin suka es krim rasa apa...?" Tiba-tiba Alvin bertanya kepada Arinda. Membuat Ardan curiga.


"Apa...?" Arinda terkejut.


"Kenapa harus aku lagi." Pikirnya tergelitik. Membuatnya senyum-senyum sendiri, sambil melirik Ardan.


"Cokelat..." Jawab Arinda jujur. Tentu saja, itu kan memang kesukaan Arinda.


"Alvin mau es krim rasa cokelat, Papi."


Victor sudah menduganya. Ia tersenyum melirik Ardan. Sepertinya ia sudah ingin tertawa cekikikan.


"Ya sudah, terserah Alvin aja..." Ucap Ardan merasa kalah.


Victor sudah hendak melangkah, ketika semua sudah memilih minuman serta camilan yang akan ia beli di cafetaria.


"Alvin ikut, Uncle..." Tiba-tiba Alvin merosot dari tempatnya duduk, berlari menuju Victor dan meraih tangan Victor. Ardan mengangguk ke arah Victor tanda setuju.

__ADS_1


Tinggal Ardan dan Arinda di bangku itu. Arinda meluruskan kakinya yang tampak lebih jenjang dengan celana jeansnya.


"Maaf ya, Alvin pasti merepotkanmu." Ucap Ardan.


"Hm.., siapa bilang." Sahut Arinda. "Alvin anak yang menyenangkan. Dia juga cerdas. Aku senang bisa bersama Alvin."


"Benarkah...?"


"Hu um, serius. Dia tampak lebih dewasa dari usianya. Dan sepertinya, dia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri."


"Andai kamu tahu, bagaimana kurangnya perhatian dan kasih sayang yang Alvin dapatkan dari ibunya, mungkin kamu akan merasa iba, Arin." Ardan bergumam dalam hatinya. Mengutuki keadaan yang dialami putera kesayangannya itu.


Tapi kemudian Ardan sadar, ia tak ingin larut dalam kesedihan. Hari ini, ia ingin bersenang-senang bersama Alvin dan menyenangkan Arinda, serta Victor sekaligus. Ardan tahu, Victor lah yang sudah bekerja sangat keras untuknya selama ini. Jadi, Victor juga berhak bersenang-senang bersamanya.


Setelah mereka puas beristirahat, mereka pun melanjutkan aktivitasnya di taman hiburan itu. Mereka benar-benar senang dan puas dengan berbagai hiburan di sana. Hingga waktu beranjak sore, mereka baru selesai.


Semua tampak bahagia, meskipun ada sedikit rasa lelah yang terlupakan. Mereka sudah berada di mobil, Alvin sudah tertidur di pangkuan Arinda. Ia terlihat sangat nyaman berada di sana. Sesekali Arinda membelai kepala Alvin dan menepuk lembut pahanya. Membuat Alvin semakin pulas dibuai mimpi.


Di sepanjang perjalanan pulang, Arinda melihat ke segala arah, siapa tahu ia mengenal jalanan di daerah sana. Tapi hasilnya nihil. Ia sama sekali tak tahu, kini ia berada di pelosok negeri yang sebelah mana.


Mobil sudah masuk ke halaman rumah megah, saat Arinda masih bekutat dengan pikirannya sendiri. Sebenarnya rumah itu adalah salah satu villa milik Ardan. Arinda tak menyangka, rumah yang ia tempati selama ini sangat luar biasa megah dan mewah dilihat dari sisi depannya. Ia mengagumi rumah itu, dan mengagumi pemiliknya.


Ia memandang ke arah Ardan, yang saat pulang tadi memilih duduk di belakang. Ardan kini telah menjadi seorang ayah, namun kenapa dengan mudahnya ia menyatakan cinta kepada Arinda. Itu membuat Arinda semakin pusing memikirkannya.


Hari sudah menjelang malam saat mereka tiba di rumah. Mereka kemudian masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Ardan membawa Alvin menuju kamarnya saat Alvin masih terlelap. Anak itu cukup lelah sepertinya.


Mereka kemudian bertemu lagi di meja makan untuk makan malam. Alvin sudah bangun dan sudah rapi malam itu.


"Hai, Tante Arin..." Sapa Alvin lebih dulu.


"Hai juga, anak ganteng..."


"Tante Arin senang hari ini...?" Alvin bertanya seperti seorang pria dewasa.


"Tante Arin senang sekali hari ini. Terimakasih Alvin karena sudah mengajak tante Arin ke taman hiburan..."


Mereka pun segera makan malam setelah Bi Imah mempersilahkan. Seusai makan malam, Alvin langsung masuk ke kamar Ardan untuk melanjutkan istirahatnya. Arinda sudah hendak naik ke kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika Ardan memanggilnya.


"Arin. Terimakasih sudah menemani Alvin hari ini..."


"Iya, sama-sama. Aku juga seneng. Makasih ya..."


"Hhmm..."Ardan mengangguk. "Istirahatlah...!"


Arinda masuk ke dalam kamarnya saat Ardan dan Victor tampak menuju ruang kerja Ardan.

__ADS_1


__ADS_2