
Senja telah menjemput. Ardan dan Victor berpamitan untuk pulang, setelah perbincangan penting mereka selesai. Arinda beserta kedua orangtua serta Adiknya, mengantar Ardan hingga ke depan pintu utama. Disana sopir pribadi beserta mobil yang akan membawa Ardan sudah siap.
"Hati-hatilah di jalan Ardan, sampai jumpa lagi..." Ucap Papa Arinda saat bersalaman.
"Baik, Om, Tante. Doakan semuanya lancar." Ardan menyalami kedua orangtua Arinda dan mencium punggung tangan mereka.
Mama Arinda tersenyum simpul, tak terlihat ada sesuatu yang sebenarnya sedang ia khawatirkan.
Sebelum pergi, Ardan menghampiri Arinda dan melempar senyum padanya.
"Semoga perjalananmu lancar, Ardan."
Ardan mengangguk dan sempat mengucapkan sesuatu yang mulai mengusik ketenangan Arinda.
"Baiklah, Nona." Ardan menggoda. "Minggu depan aku akan menjemputmu."
"Apa...?" Arinda hanya bergumam dalam hatinya. Ardan sudah masuk ke dalam mobil. Kemudian bergerak perlahan meninggalkan Arinda yang dipenuhi tanda tanya. Arinda dan keluarganya menunggu, hingga mobil itu menghilang dari pandangan dan mereka pun kembali masuk ke dalam rumah.
Tak ada yang aneh. Masih seperti biasanya. Mereka bercengkerama sejenak. Lalu masuk ke kamar masing-masing. Kemudian bertemu kembali di meja makan untuk makan malam. Canda tawa kecil menghiasi kebersamaan mereka. Sampai makan malam pun usai.
Seperti biasa, Arinda dan Adinda mengobrol panjang lebar di ruangan keluarga. Membiarkan tivi tetap menyala, namun si empunya sibuk dengan obrolan mereka.
Tak berapa lama orangtua mereka bergabung, tapi suasana mendadak berubah. Dan tidak sehangat biasanya. Papa duduk di kursi utama di sebelah Arinda, kemudian Mama mengambil posisi duduk di sebelah Adinda. Menempatkan kedua anak gadisnya di tengah, diantara dirinya dan suaminya.
"Rinda, Papa sama Mama mau bicara serius sama kamu, Nak." Arinda memandang Adinda dan Mamanya bergantian. Kemudian kedua anak gadis itu membetulkan posisi duduknya. "Ada apa...?"
"Iya, Pa..."
"Rinda, dengarkan ucapan Papa baik-baik."
Ada raut tegas, namun tersirat sedikit kekhawatiran di wajah Papa. Mama hanya mengangguk perlahan, sembari tetap menampakkan senyum yang seperti dipaksakan. Arinda mulai curiga dengan sikap mereka. Adinda sudah siap menyimak, meskipun bingung dengan situasi yang ada di depannya.
"Rinda, Ardan akan menikahimu minggu depan."
Duaarrrr...!!!
Arinda seperti disambar petir mendengar itu. Seluruh tubuhnya membeku. Matanya membulat, dan bibirnya sedikit terbuka, bergetar. Tak tahu harus bicara apa.
"Apa..." Lirih terdengar dari mulut Arinda.
__ADS_1
Adinda yang tak kalah terkejut mendengar ucapan Papanya, menatap Arinda tak percaya. Ia tidak tega melihat kondisi Arinda yang benar-benar shock saat itu.
"Papa...!!!" Sahut Adinda ingin meluruskan sesuatu. Tapi seketika tangan Mamanya meraih bahu Adinda dan menggeleng perlahan, tanda larangan.
"Papa sudah menerima lamaran Ardan. Semua sudah dipersiapkan. Persiapkan juga dirimu untuk hari istimewa itu...!"
Tak ada yang berani berbicara. Semua diam membeku. Arinda menahan air matanya dengan sekuat tenaga, namun akhirnya tak mampu lagi. Ia tak percaya dengan ucapan Papanya. Namun ia paham, Papanya tidak sedang bercanda.
Arinda menangis sesenggukan. Adinda pun ikut menangis, merasakan kesedihan kakaknya. Ia hanya mampu menggenggam erat tangan kakaknya. Tak tahu harus bagaimana. Mamanya yang melihat itu, menghambur memeluk Arinda, mencoba menenangkannya.
Selama ini, Arinda sangat menghormati kedua orangtuanya. Ia selalu mendukung apa pun keputusan orangtuanya. Karena mereka hampir selalu benar dalam segala hal. Pengalaman hidup mereka tak pernah Arinda ragukan.
Namun kini, untuk pertama kalinya ia mencoba memberanikan diri untuk berkata tidak. Meskipun ia tahu, pasti banyak pertimbangan hingga orangtuanya mengambil keputusan besar itu. Tapi Arinda benar-benar tidak siap dengan semuanya.
"Pa, Rinda tidak bisa..." Ucapnya parau. "Ardan sudah menikah, Pa. Rinda tidak....."
"Papa sudah tahu. Dan Papa sudah mempertimbangkannya. Usiamu sudah...."
Saling memotong pembicaraan. Sama-sama mulai terbawa emosi. Suasana semakin tegang, memanas, memposisikan seluruh penghuni rumah dalam keadaan mencekam. Para pelayan dan penjaga di rumah itu kalang kabut, namun tak berani keluar dari rumah belakang.
"Rinda sudah dekat dengan seseorang, Pa..."
"Erik...???"
"Dia berbeda keyakinan dengan kita, Rinda. Itu akan menyusahkanmu nantinya..."
"Tapi Rinda menyayanginya, Pa..."
"Bagi Papa, Masa depanmu lebih penting, Rinda." Suaranya mulai datar. "Hanya Ardan yang bisa Papa percaya untuk menjagamu. Dia tulus mencintaimu, Rinda..."
"Tapi Rinda tidak mencintai Ardan, Pa. Rinda menyayanginya sebagai sahabat. Dan Rinda tidak bisa merubah semua itu..."
"Itu hanya masalah waktu, Rinda. Papa yakin, perasaanmu bisa tumbuh seiring waktu, jika kamu bersamanya."
"Rinda mohon, Pa..."
"Papa sudah memutuskan, Rinda. Percayalah, itu yang terbaik untukmu dan masa depanmu."
Mama masih tetap mencoba menenangkan Arinda. Dan Adinda hanya bisa menyaksikan perdebatan mereka, tak berani mengucapkan sepatah katapun, meskipun ingin. Arinda pun masih terus mencoba.
__ADS_1
"Kenapa harus Ardan, Pa...? Carilah pemuda yang lain untuk Arinda..." Mulai putus asa dengan dirinya.
"Siapa yang bisa Papa harapkan selain Ardan...? Jangan bilang kamu masih mengharapkan Papa memilih Erik. Itu tidak mungkin Papa lakukan, Rinda...!"
"Pa..., Rinda mohon, pahamilah perasaan Rinda, Pa...!"
Rinda menghambur, bersimpuh memeluk kaki Papanya, memohon dengan segala kemampuan dan ratapan pilunya. Mama dan adinda hanya bisa menangis menyaksikan itu.
"Rinda, apa yang kamu lakukan...? Hentikan Arinda...!!!" Papanya menjadi semakin murka melihat buah hatinya itu menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaannya. "Arinda Maharani...! Bangun...!!!"
"Pa..., Rinda mohon, Pa..." Masih memeluk erat kedua kaki Papanya. Namun, keputusan Papa sudah bulat. Dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Arinda Maharani...!!!" Sekali lagi suara lantang menggema memenuhi ruangan itu. "Pernahkah Papa mendidikmu menjadi gadis lemah seperti ini...??? Lepaskan Papa, Bangun...!!!"
Papa melepaskan tangan Arinda dengan paksa. Ada kekecewaan di wajahnya.
"Rinda, pandailah membawa diri. Jaga kehormatan orangtua dan keluarga kita. Dan jangan pernah meminta Papa untuk menjadi lelaki konyol dengan menjilat ludah sendiri...!!!"
Arinda masih bersimpuh tak berdaya di lantai. Masih di hadapan Papanya yang sudah bangkit. Meratapi nasibnya yang entah seperti apa nantinya. Ia sudah gagal meyakinkan Papanya.
Perlahan ia menoleh ke arah Mamanya. Berharap ada secercah harapan di sana. Namun Mama menggeleng. Bagi Arinda, itu sudah cukup menjadi jawaban, bahwa tak ada lagi jalan yang lain selain setuju dengan keputusan Papanya. Arinda tertunduk lemah, pasrah.
"Papa..." Adinda berniat membantu kakaknya. Tapi belum lagi ia bicara, ucapan Papa selanjutnya menunjukkan ia tak bisa merubah apa pun.
"Bersiaplah Arinda, Papa sudah membuat keputusan itu..." Nada bicaranya sudah datar. Sepertinya sudah mampu menguasai diri. Ada terenyuh di dalam hatinya, namun dirinya yakin dengan keputusannya.
Papa berlalu pergi. Diikuti Mama yang selalu mendampinginya. Arinda memandang punggung mereka yang memang tak lagi kokoh menopang tubuhnya. Ada desir yang menyayat hatinya.
Adinda yang tak mampu membantu apa-apa, mendekat dan memeluk tubuh kakaknya kuat. Mengangkatnya perlahan untuk segera berdiri. Dan memapahnya masuk ke dalam kamar Arinda.
Di sana Arinda semakin kacau. Ia menelungkupkan diri di ranjang dan memukul semua yang bisa ia raih. Tangisnya pecah, lebih hebat, lebih parah. Ia sempat mengumpat dan mengutuki Ardan dengan sumpah serapahnya. Adinda hanya mampu terdiam menjadi saksi kepedihan Arinda.
Sementara itu...
"Baik, Om. Ardan mengerti. Terimakasih banyak untuk usaha Om dan Tante. Ardan akan mempersiapkan semuanya mulai sekarang."
Girang bukan kepalang yang Ardan rasakan. Impiannya untuk mempersunting gadis pujaannya akan segera terwujud. Setelah sekian lama ia tersiksa dengan cinta yang tak pernah terungkap, kini perjuangan untuk meraih cinta pertamanya itu akan segera berakhir.
Ada binar terpancar jelas di matanya. Kegembiraannya seolah mampu memancarkan energi yang mengalir ke seluruh inderanya, melakukan segalanya dengan cepat dan sempurna.
__ADS_1
Dibantu oleh Victor dan orang-orang yang ahli di bidangnya, tak akan butuh waktu lama untuk mempersiapkan pernikahan Ardan dan Arinda. Apalagi acara pernikahan itu untuk sementara hanya sebatas mengesahkan, dan pesta sederhana untuk keluarga terdekat saja.
Malam sudah mulai larut. Ardan yang lelah karena perjalanannya dan kesibukannya memilih segala sesuatu yang spesial untuk acaranya nanti, sudah terlelap di ranjangnya yang empuk. Masih sendiri. Tapi tak lama lagi, ada gadis impiannya yang akan menemaninya sepanjang malam, dan mengisi hari-harinya yang sunyi.