Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 12 : Angel dan Alvin


__ADS_3

"Silahkan, Mas Ardan, Mbak Arinda..." Bi Imah mempersilahkan Ardan dan Arinda duduk di bangku taman yang telah disiapkan. Sudah ada hidangan makan siang di meja.


"Mmm..., makan lagi...?" Arinda gelisah, memegang perutnya yang belum lama tadi terisi sepiring makanan.


"Aku melewatkan sarapan untuk menemanimu." Sahut Ardan. "Sekarang aku mau sarapan sekaligus makan siang, giliran kamu menemaniku..." Lanjutnya.


Arinda terperanjat mendengar itu. "Kasihan Ardan.." Bisiknya dalam hati. Dipandanginya Ardan yang hendak mengambil nasi. Tanpa berpikir panjang, Arinda meraih piring itu. Mengambil nasi, lauk dan sayur untuk Ardan. Ia merasa bersalah karena bisa-bisanya ia makan sendiri, tanpa bertanya Ardan sudah makan atau belum tadi.


Ardan terkejut sebenarnya dengan apa yang dilakukan Arinda. Namun rasa bahagianya lebih besar, karena ia merasa mendapat perhatian kecil yang sangat berarti dari seorang Arinda. Bi Imah pun merasakan hal sama. Bahagia ketika Ardan bahagia.


Ardan melirik Bi Imah yang berdiri di seberangnya. Menunjuk apa yang dilakukan Arinda dengan lirikan mata dan alis yang meliuk. Senyum kemenangan terlukis di bibirnya.


"Makasih, cantik..." Ucap Ardan sedikit genit.


"Ishh..." Arinda menahan senyum dengan panggilan itu. Matanya melirik kesal ke arah Ardan. "Makanlah yang banyak, kamu butuh banyak tenaga untuk bekerja. Jangan sampai kamu sakit."


"Ya, Tuhan..." Ardan memuji Arinda di dalam hati. "Benar-benar anugerah yang indah..."


Ardan sangat menikmati makan siangnya kali ini. Suapan demi suapan yang terasa lebih lezat dari yang sebenarnya.


"Mmm..., Ardan..." Arinda memanggil Ardan di tengah-tengah makannya. "Boleh aku mengatakan sesuatu...?"


"Hhmm..." Ardan mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. Masih menikmati makan istimewanya.


"Bilang pada Victor, jangan memanggilku "nona". Aku merasa tidak nyaman dengan panggilan itu."


"Kenapa...?"


"Aku lebih suka kalau dipanggil nama saja. Atau "mbak" seperti Bi Imah memanggilku."


Ardan hanya diam. Berpikir sejenak.


"Tidak..." Kemudian menjawab dengan tegas.


Arinda terbelalak. "Ohh..., okey..." Pasrah. Tak berani mengatakan apa pun lagi mendengar nada bicara Ardan.


Hening. Hanya suara kicau burung yang terdengar sesekali.


"Hey.. kamu nggak ke kantor hari ini...?" Arinda membuka obrolan.

__ADS_1


"Kenapa...?"


"Mmm, Gak papa..." Jawab Arinda merasa konyol.


"Aku kan pimpinannya di sana. Jadi terserah aku mau ke kantor atau gak." Ardan menjawab pertanyaan Arinda dengan santai. "Lagi pula, ada Victor. Dia yang akan menyelesaikan urusan pekerjaanku. Aku hanya ingin berlibur sejenak. Bersamamu..."


Arinda mengangguk sambil menarik ujung bibirnya ke bawah.


"Aku mau ikannya lagi..." Ardan meminta Arinda mengambilkan ikan untuknya lagi. Arinda segera melakukannya dengan penuh ketulusan. Ardan melempar senyum kepada Arinda. Lalu Arinda membalasnya.


"Makasih, Arin cantik..." Ucapan Ardan membuat wajah Arinda memerah. Ia tersipu. Dan gagal menyembunyikan itu dari Ardan. Ardan yang melihat itu terus menggoda Arinda dengan memanggil sebutan cantik berulang-ulang.


"Ihh..., Apaan sih..." Tiba-tiba Arinda memukul lengan Ardan.


"Aawww..." Terdengar teriakan Ardan. Arinda terkejut sendiri, menyadari sesuatu yang telah ia lakukan.


"Ss..Sory sory...!!! Sory Ardan, aku gak sengaja..." Ucap Arinda cepat. Kedua tangannya menyentuh lengan Ardan yang tadi sempat dipukulnya. Kemudian mengusapnya cepat, seolah itu bisa meredakan rasa sakit di sana. Sembari mengutuki dirinya yang entah kenapa bisa melakukan itu.


Ardan melirik tangan Arinda yang menempel di lengannya. Menyadari dirinya melakukan hal konyol, Arinda secepat kilat melepas lengan Ardan.


"Aduhhh, sory Ardan. Aku....." Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Ardan tergelak. Ia tertawa melihat Arinda yang salah tingkah. Arinda malu. Memijat tengkuknya yang tak pegal. Sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang entah sekarang menjadi kuning atau hijau.


Makan siang istimewa Ardan berakhir dengan bahagia. Bi Imah pun bahagia. Ardan dan Arinda masuk ke dalam rumah setelahnya. Berbincang sebentar bersama Victor di ruang keluarga. Kemudian Ardan mempersilahkan Arinda istirahat siang di kamarnya.


Ardan menuju ruang kerjanya bersama Victor. Melanjutkan pekerjaan mereka yang belum terselesaikan.


"Gimana Angel, Vic...?" Ardan bertanya sambil membolak-balik berkas yang masih ia pelajari.


"Saya sudah menghubunginya, Mas..."


"Lalu...?"


"Mmmm, masih sama. Karena masih ada beberapa agenda di sana hingga 2 minggu ke depan."


"Apa dia tidak bisa pulang sebentar saja...? Sehari mungkin, atau beberapa jam saja..." Ardan sedikit gusar.


Victor menggeleng ragu. "Tapi saya akan terus menghubunginya, Mas. Saya akan terus mencobanya. Tapi......."


Ardan menunggu kalimat Victor selanjutnya.

__ADS_1


"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, Mas..." Lanjut Victor. Ardan menghela nafas dalam.


"Apa saya susul saja dia kesana, Mas...? Saya akan membawanya......." Ardan memotong ucapan Victor yang belum selesai.


"Tidak perlu, Vic...!!! Dengan begini, kita akan tahu seberapa pentingnya diriku untuknya. Sepertinya dia masih akan memilih pekerjaannya..." Suara Ardan semakin lirih di ujung kalimatnya.


"Maafkan saya, Mas..." Ucap Victor yang merasakan kesedihan di hati Ardan.


"Sudahlah, Vic, ini bukan salahmu. Aku tahu, ini bukanlah pekerjaan mudah untukmu. Kamu sudah berusaha dengan baik sejauh ini. Kamu hebat, Victor..." Ardan menunjukkan ibu jarinya kepada Victor.


Victor hanya diam. Pujian Ardan tidak mampu menghiburnya. Melihat kekecewaan di raut wajah atasannya itu, membuatnya seperti telah gagal dalam menjalankan tugasnya.


Ya, Tugas Victor yang satu ini memang cukup menantang. Meskipun Ardan hampir bisa memastikan hasilnya zonk.


Angel adalah istri sah Ardan yang dinikahinya 4 tahun yang lalu. Ia seorang desainer ternama. Ia sangat handal dalam merancang berbagai busana untuk berbagai keperluan. Dan selalu mendapat respon positif dari berbagai kalangan.


Hari demi hari penggemar karya-karyanya semakin bertambah. Karirnya melejit hingga kini ia berada di puncak.


Berbagai event berhasil ia gelar di dalam negeri dan di berbagai negara, dengan hasil yang memuaskan. Itu membuat dirinya selalu menempatkan karir di atas segala-galanya. Karir sudah seperti menjadi tujuan utama hidupnya.


Biasanya, Angel akan tampak berada di rumah beberapa hari. Ia gunakan waktu itu untuk istirahat sekedarnya. Dan selebihnya, ia akan memilih berada di ruang kerjanya lebih lama. Tak banyak waktu yang tersisa untuk Ardan. Juga untuk Alvin, putra semata wayang mereka.


Sebenarnya bagi Ardan, tidak mengapa jika Angel bersikap seperti itu kepadanya. Ardan akan mengerti posisi dirinya bagi Angel. Namun ia selalu tidak tega melihat Alvin yang hampir tak pernah bisa bersama ibunya. Alvin berusia 3 tahun, masih begitu polos. Yang ia tahu, ia hanya ingin seperti anak-anak yang lain.


Suatu ketika Alvin merengek meminta ibunya keluar dari ruang kerja di rumahnya, hanya untuk bisa sekedar makan siang bersama.


"Alvin mau Mami. Alvin mau makan sama Mami,, Hwaaaaa, Mami..."


Bahkan tangisan Alvin pun tak bisa membuat Angel bergeming. Padahal keinginan Alvin sangatlah mudah dilakukan. Ia hanya ingin bisa bersama sebentar saja. Bisa nonton film kesukaannya bersama, berjalan-jalan ke taman bermain bersama, bahkan bisa mendengar dongeng sebelum tidur dengan kedua orang tua berada di sampingnya.


Ardan hanya mampu menghela nafas jika mengingat kondisi mereka saat ini. Meskipun Ardan akan selalu berusaha ada untuk Alvin, kapan pun Alvin mau, tapi itu masih dirasa kurang. Yang Alvin harapkan adalah bersama dengan ibunya. Tapi itu seperti hanya sekedar mimpi buat Alvin.


Tidak banyak yang bisa Ardan lakukan untuk memenuhi keinginan Alvin bersama ibunya. Tapi setidaknya, Ardan akan memberikan lebih banyak waktu untuk Alvin di akhir pekan. Mereka akan pergi kemana pun yang Alvin inginkan.


Victor yang sudah cukup akrab dengan Alvin, akan selalu menemani kebersamaan ayah dan anak itu di akhir pekan. Tetapi, keakraban mereka bertiga terkadang dipandang aneh oleh sebagian orang. Karena Ardan dan Victor sudah seperti pasangan g*y, yang mengasuh seorang anak kecil.


(Hahaha...


Sabar ya Victor...)

__ADS_1


__ADS_2