
Waktu bergulir dengan sangat lambat bagi Arinda. Hari yang sangat panjang dan melelahkan. Tak banyak yang bisa Arinda lakukan di kamarnya itu. Rasa jenuh mulai menghampiri diri Arinda. Namun ia masih tak bisa berbuat apa-apa.
Di luar sudah gelap. Sepertinya, tak mungkin lagi untuk bisa melihat keindahan danau seperti tadi siang. Udara di luar pun sangat dingin. Diiringi kabut yang semakin menebal.
Arinda sedang menyantap makan malamnya, ketika beberapa pelayan membersihkan dan merapikan kamar tidurnya. Sprei dan sarung bantal gulingnya sudah diganti dengan yang baru. Bed cover serta selimut juga sudah berganti.
Ada seorang pelayan yang baru saja masuk kedalam kamar dengan membawa beberapa buku di tangannya. Kemudian meletakkan buku-buku itu di atas meja nakas disamping tempat tidur. Arinda hanya meliriknya sebentar, dan melanjutkan makannya.
Ada juga pelayan yang keluar dari kamar mandi dan ruang ganti baju, dengan membawa keranjang berisi baju kotor Arinda. Pelayan itu juga mengganti tempat sampah di kamar mandi.
Bi Imah yang dari tadi berdiri di dekat Arinda, bertugas memastikan Arinda menyantap makanannya dengan baik. Arinda sebenernya merasa sungkan dan canggung harus diperlakukan seperti itu. Tapi lagi-lagi, ia tak bisa berbuat banyak.
Suapan terakhir sudah masuk ke mulut Arinda. Ia meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya yang sudah kosong. Beberapa lauk tidak tersentuh oleh Arinda. Karena Arinda hanya mengambil secukupnya saja. Tak lupa Arinda juga menghabiskan air putih di gelasnya. Makan malam pun selesai.
"Saya sudah selesai makan, Bi. Terimakasih..." Ucap Arinda kepada Bi Imah seraya tersenyum, meskipun ia tahu Bi Imah juga melihat bahwa ia sudah selesai makan.
"Terimakasih, Mbak Arinda sudah makan dengan baik. Biar nanti segera dibereskan..." Jawab Bi Imah.
Arinda sudah berdiri hendak meninggalkan meja makan khususnya itu. Tapi ia mencoba bertanya sesuatu kepada Bi Imah. Ia ragu-ragu menanyakan itu, tapi ia sudah siap dengan jawaban Bi Imah nanti.
"Mmm.. Bi Imah..." Ucap Arinda yang dibalas dengan tatapan datar oleh Bi Imah. "Bolehkah saya keluar kamar dan melihat-lihat rumah ini...?" Tanya Arinda kemudian.
Bi Imah hanya tersenyum sembari menarik nafas panjang.
"Boleh..." Jawab Bi Imah, membuat Arinda terkejut. "Hah...?" Teriak Adinda di dalam hati. Tapi Arinda masih tidak yakin dengan jawaban Bi Imah.
"Tapi tidak sekarang... nanti kalau sudah waktunya, pasti Mbak Arinda bisa melihat-lihat seluruh sudut rumah ini..." Lanjut Bi Imah.
__ADS_1
"Tuuu...kan...!!!" Arinda menggerutu kesal di dalam hatinya. "Sudah tau pasti bakalan kayak gini... masih aja banyak tanya..."
Arinda pun beranjak dengan perasaan kecewa. Ia duduk di tepi ranjangnya, sambil melihat tumpukan buku yang dibawa pelayan tadi. Dalam sekejap raut mukanya berubah cerah. Sorot matanya berbinar dan senyum mengembang di bibir tipisnya.
"Novel..." Ucapnya girang. Lalu ia menoleh ke arah Bi Imah. "Makasih ya, Bi..." Bi Imah ikut tersenyum dan hanya sedikit mengangguk.
Tak berapa lama, Arinda sudah menikmati waktu bersama novel-novelnya. Namun kemudian, Bi Imah menghentikan kenikmatan itu karena Arinda harus segera menggosok gigi dan membersihkan diri. Sebentar lagi Bi Imah harus segera meninggalkan kamar Arinda dan menyelesaikan tugasnya yang lain. Dan sebelum itu, ia harus memastikan Arinda dalam keadaan bersih saat istirahat nanti.
Arinda kembali ke tempat tidurnya setelah selesai membersihkan diri. Ia merasa memiliki semangat dan teman baru di kamarnya. Ia telah selesai membaca beberapa novelnya sebelum akhirnya tertidur dengan sebuah novel di tangan kanannya.
***************
Malam telah larut di belahan bumi bagian Singapura. Ardan dan Victor terlihat sangat lelah dan ada sedikit gurat kecewa di wajah mereka. Terutama Ardan. Mereka harus menerima keputusan bos besar untuk meeting sekali lagi esok paginya, karena ada beberapa hal yang belum terselesaikan malam ini. Dan otomatis kepulangan mereka dengan penerbangan paling pagi pun harus dibatalkan.
"Bersabarlah, Mas..., kan enak kalo proyek ini bisa kelar besok. Jadi kita gak perlu terbang kesini lagi buat meeting sama bos..." Ucap Victor mencoba menenangkan Ardan.
"Iya..." Hanya itu yang terucap dari mulut Ardan.
"Ntar..." Sahut Ardan yang sedari tadi hanya terbaring di ranjang dengan kedua kakinya masih menggantung di sisi ranjangnya. Ia bahkan enggan melepas kemejanya yang masih melekat rapi di tubuhnya.
Victor sedang mengecek email dari beberapa anak perusahaan yang dikelola Ardan di Indonesia. Hanya hening di kamar itu.
Victor tahu, Ardan tidak akan banyak bicara jika kondisi hatinya sedang tidak baik seperti itu. Dan ia mengerti benar kekecewaan yang Ardan rasakan. Menghadapi situasinya yang sekarang, Victor memilih untuk diam. Kemudian ia memutuskan untuk segera mandi dan mempersiapkan semua keperluan meeting mereka esok hari.
Saat berjalan menuju kamar mandi, Victor sempat melihat ke arah Ardan yang memejamkan mata di ranjangnya.
"Mas, saya mandi dulu ya..." Ucap Victor sekaligus mengetes apakah Ardan benar-benar tertidur atau tidak.
__ADS_1
"Hmmm..." Terdengar sahutan malas dari mulut Ardan. Victor yang mendapat jawaban, hanya mengangguk-anggukan kepala sambil berlalu menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, ponsel Ardan berbunyi. Ada suara panggilan masuk disana. "Bi Imah...?" Bisik Ardan yang kemudian segera bangkit dari ranjangnya. Ardan tau itu panggilan dari Bi Imah karena ia menggunakan nada dering khusus. Ia pun bergegas meraih ponsel yang diletakkan Victor di meja kerja Ardan.
"Halo, Bi..." Ucap Ardan menjawab panggilan itu.
"Halo, Mas Ardan..." Sahut Bi Imah di seberang sana. "Malam ini Mbak Arinda terlihat bahagia mendapatkan buku-buku itu, Mas. Dia kelihatan sumringah sekali..." Lanjut Bi Imah terdengar seperti sedang berbunga-bunga.
"O ya..???" Suara Ardan terdengar lebih sumringah lagi daripada Bi Imah. "Terus dia bilang apa...?" Ardan penasaran.
"Mbak Arinda bilang terimakasih, Mas... Tapi bilangnya buat Bibi bukan buat Mas Ardan...hehehe..." Terdengar suara candaan Bi Imah disana. Bi Imah memang sering sekali bercanda dengan Ardan. Hubungan mereka sudah seperti ibu dan anak, karena Bi Imah adalah pengasuh Ardan sejak bayi.
"Ehehe...enak Bibi ya, pasti Bibi dapet pujian terus dari Arinda." Ada tawa renyah di mulut Ardan tiba-tiba. Seakan lupa kalau dirinya sedang gundah gulana beberapa saat lalu.
"Ahh...syukurlah, Bi kalo dia seneng. Seneng juga dengernya. Tapi..." Suara Ardan menggantung. Ia menjatuhkan diri di kursi kerjanya.
"Ada apa, Mas Ardan..." Tanya Bi Imah merasakan ada sesuatu.
"Saya gak jadi pulang besok pagi, Bi. Ada meeting lanjutan..." Jawab Ardan.
"O gitu..." Sahut Bi Imah yang agak kecewa dan khawatir. "Jadi pulangnya kapan, Mas Ardan..? Kasihan Mbak Arinda kalau kelamaan terkurung di dalam kamar." Lanjut Bi Imah.
"Kemungkinan besok sore atau malam, Bi..." Jawab Ardan.
"O gitu ya...? Ya sudah gak papa, Mas Ardan. Konsentrasi saja sama meetingnya disitu. Mbak Arinda biar Bibi yang jaga." Kata Bibi. "Tapi kalau bisa, jangan mundur lagi ya, Mas. Kasihan Mbak Arinda..." Lanjut Bi Imah.
"Iya, Bi. Doakan ya biar semua lancar. Bibi mau dibawain oleh-oleh apa...?" Tanya Ardan kemudian.
__ADS_1
Percakapan mereka pun masih berlanjut saat Victor keluar dari kamar mandi. Ia melihat raut muka Ardan yang sudah berubah sumringah. Dan Victor pun tersenyum melihat pemandangan itu. Ia tahu, Bi Imah pasti melaporkan sesuatu yang menggembirakan.
"Asiikkk...meeting besok pasti berjalan lancar..." Gumamnya dalam hati.