Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 4 : Maaf


__ADS_3

Arinda Maharani, seorang gadis berusia 26 tahun. Ia lahir dari keluarga yang cukup terpandang dikotanya. Arinda adalah gadis mandiri yang memiliki sebuah Coffee Shop yang terletak di sekitar kampus tempat adiknya menimba ilmu. Hampir setiap hari Arinda berada di cafenya itu. Karena disana ia merasa memiliki lebih banyak keluarga, yaitu 15 orang karyawannya.


Para karyawan Arinda adalah orang-orang terpilih dan terampil. Mereka begitu setia kepada Arinda, dan sangat nyaman bekerja disana. Karena selain gajinya yang cukup tinggi, perlakuan Arinda yang baik dan santun, selalu membuat mereka tak pernah mampu membuat Arinda kecewa.


Ayah Arinda adalah seorang pengusaha furniture kelas atas. Brand furniture yang dimiliki ayah Arinda adalah brand yang berkelas. Tokonya terletak di beberapa kota besar, dan ada juga yang berada di dalam mall. Beliau sangat berkharisma di usianya yang sudah menginjak kepala 5. Raganya tampak masih kuat, sehat dan segar karena masih rajin berolah raga.


Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Meski begitu, tidak serta merta membuat beliau berdiam diri dirumahnya. Beliau suka sekali menghias rumah, merangkai bunga juga berkebun. Beliau hampir selalu mendampingi ayah Arinda, baik ketika dirumah, di tempat kerja, ataupun saat berolah raga dan sekedar bersantai di taman kota. Di usianya yang terpaut tidak jauh dari ayah Arinda, Ibunya masih terlihat cantik dan menawan. Selalu tampak anggun, meskipun dengan pakaian dan riasan sederhana.


Aura yang dipancarkan dari kedua orangtua Arinda, menunjukkan bahwa mereka adalah pribadi yang santun, teduh, hangat dan tenang. Dan sepertinya, aura itu menurun kepada Arinda dan adiknya. Mereka selalu tampak tenang dalam menghadapi setiap masalah yang datang. Mereka selalu mampu mengendalikan segala situasi, tanpa emosi yang berarti.


Adik Arinda, bernama Adinda Prameswari. Berusia 21 tahun dan masih kuliah di salah satu universitas favorit di kota. Ia sosok yang cerdas, selalu ceria kapan pun dan dimana pun berada. Mudah akrab dengan orang baru. Namun terkadang ia menjadi gadis yang cuek, jika moodnya sedang menurun. Ia sangat menyayangi Arinda. Dan hubungan mereka sangatlah dekat.


Keluarga Arinda memiliki 2 orang asisten rumah tangga, 1 orang security dan 1 orang sopir pribadi. Sudah lama mereka bekerja di rumah Arinda. Yaitu sejak Arinda masih duduk di bangku sekolah dasar. Hubungan keluarga Arinda dengan para pegawai di rumahnya itu sudah seperti hubungan saudara. Tak lain dan tak bukan, keramahan pemilik rumah lah yang membuat mereka begitu betah bekerja disana.


"Mama...Papa..." Bisik Arinda lirih, teringat kebersamaannya dengan keluarganya. Ia begitu merindukan orangtuanya. Ingin sekali bercanda dan bermanja-manja dengan mama papanya, seperti hari-hari yang telah lalu. Sambil menonton tivi bersama di ruang keluarga.


(Padahal pada kenyataannya, tivi lah yang terbiasa menonton mereka bercengkerama..hahaha.)


Karena mereka lebih bersemangat untuk saling menyapa dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Kerinduan yang tercipta seharian, dibayar dengan kebersamaan yang indah di ruang keluarga. Hampir setiap hari momen itu terjadi. Kecuali, ketika orangtua Arinda sedang mengunjungi toko-tokonya di luar kota, Arinda hanya akan bercengkerama dengan adik semata wayangnya.


Obrolan seputar kekasih, menjadi olok-olokan Arinda dan adiknya. Mereka tertawa lepas ketika membahas siapa yang akan terlebih dulu menikah. Karena meskipun Adinda lebih muda, ia lebih sering terlihat dekat dengan laki-laki, meskipun ia berdalih mereka hanya teman.

__ADS_1


Tidak dengan Arinda. Teman sejatinya adalah keluarganya dan kesibukannya sendiri. Dan ia seperti telah jatuh cinta dengan cafe miliknya. Hingga tak ada celah untuk memikirkan cinta yang lain.


"Din, siapa yang dapet giliran jadi abang ojek pribadi kamu hari ini..." Tanya Arinda menggoda adiknya.


"Idihhh Kak Rinda, gak ada istilah yang lebih keren apa...?" Timpal adiknya sambil senyum-senyum.


"Apa emangnya kalo bukan abang ojek, Din..? Kan kerjaannya anter jemput kamu..." Goda Arinda lagi.


"Yaa, Pahlawan kek...atau Pangeran gitu...mereka kan baik..." Jawab Adinda.


Tak ingin kalah, Arinda pun masih mencoba menggoda Adinda.


"Pangeran...? Pangeran kodokkk...aahahahaaa..." Gelak tawa mereka pun pecah. Memenuhi ruangan itu, dan asisten rumah tangga yang menyaksikan pun hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


Arinda tak mengerti, bagaimana mengartikan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Arinda bahkan merasa tak memiliki kemampuan untuk keluar dari masalah yang satu ini. Banyaknya penjaga dan lokasi yang tidak Arinda ketahui, membuat Arinda kehilangan keberanian untuk lari. Seperti tak ada sedikitpun celah untuknya.


Bulir bening tiba-tiba menetes dari ujung mata Arinda. Tak butuh waktu lama, tetesan itu menjadi aliran yang deras. Seketika pipinya basah kuyup dengan air mata. Begitu juga dengan bantal yang Arinda gunakan untuk menyembunyikan wajah dan matanya yang tengah menangis.


Dada Arinda begitu sesak. Dari pagi Arinda menahan air mata itu. Mencoba tetap berfikir positif dan bersikap tenang. Seperti ketika Arinda mendapati berbagai masalah sebelumnya. Namun sepertinya, tidak untuk kali ini.


Tangis Arinda pecah seiring keputusasaan yang merajai benaknya. Ia berteriak sekencang-kencangnya di balik bantal. Sekali lagi, ia tak ingin terlihat lemah dan konyol di hadapan orang lain. Termasuk di depan Bi Imah dan para prlayan serta pengawal di rumah itu.

__ADS_1


"Mama...Papa..." Ucapnya lagi. "Tolong Arinda, Ma...Pa..." Rasa putus asa menyelimuti hati dan pikiran Arinda. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia alami. Meskipun semua yang Arinda takutkan tak pernah terjadi di kamar itu, bahkan keistimewaan lah yang ia dapatkan. Namun tetap saja, semua itu tak mampu menutupi perasaan takut, sedih dan banyak lagi perasaan tak menentu yang bercampur aduk di benak Arinda.


Begitu tersiksanya batin Arinda hari itu. Tak pernah sedikitpun ia membayangkan akan mengalami hal menakutkan seperti itu. Arinda mengingat-ingat lagi, mungkinkah ia pernah menyakiti seseorang hingga akhirnya orang itu mendendam. Namun Arinda yakin, ia tak pernah menyakiti siapa pun. Atau mungkinkah ayahnya yang memiliki musuh dalam menjalankan bisnisnya, sepertinya itu pun mustahil.


Dalam lamunannya yang menyesakkan dadanya itu, Arinda merasa lelah dan akhirnya ia tertidur. Hingga tak mengetahui bahwa Bi Imah dan beberapa pelayan telah menyiapkan makan siangnya di sebuah meja khusus di salah satu sudut kamarnya.


Jegrek...


Bunyi pintu terbuka saat Bi Imah masuk ke kamar Arinda.


"Selamat siang, Mbak Arinda..." Sapa Bi Imah. "Sudah waktunya makan siang..." Lanjutnya. Namun tidak ada sahutan dari Arinda. Bi Imah pun mendekati Arinda, dan mendapati wajah dan mata gadis itu sembab. Terlihat dengan jelas bekas tangis disana.


Bi Imah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sambil memaksakan senyumnya, seolah-olah ia sedang bercakap-cakap dengan Arinda.


"Bersabarlah, Nona..." Gumam Bi Imah.


Kemudian Bi Imah memberikan kode kepada para pelayan untuk segera keluar dari kamar dan membiarkan gadis itu beristirahat.


"Semua akan indah pada waktunya, Nona..." Ucap Bi Imah lagi di dalam hatinya, sembari melangkah menyusul para pelayan keluar dari kamar Arinda. Melangkah dengan perlahan, berharap gadis itu tak terganggu dengan suara langkah kakinya.


Sesampainya di pintu, Bi Imah berhenti sejenak, kembali menatap Arinda dengan pandangan nanar.

__ADS_1


"Maafkan kami, Nona Arinda..." Bisiknya. Dan tak terasa, mata Bi Imah pun mulai basah. Bi Imah menangis, setelah menutup pintu kamar Arinda denga perlahan nyaris tanpa suara.


__ADS_2