Kau Pinang Aku Sebagai Madu

Kau Pinang Aku Sebagai Madu
Episode 17 : Bulan-bulanan


__ADS_3

Cuaca sedang mendung di luar. Tak banyak yang bisa Arinda lakukan hari itu. Setelah sarapan bersama, Ardan mengantar Alvin pulang ke rumahnya, bersama Victor. Bi Imah dan para pelayan sedang sibuk dengan tugas masing-masing.


Arinda hanya duduk di balkon. Menikmati hari yang sepertinya akan hujan sebentar lagi.


"Hhh..., kapan Ardan akan mengantarku pulang...? Aku sudah ingin bekerja..." Senyum menghiasi bibir tipisnya yang selalu lembab. Ia teringat saat dirinya berada di cafe dan menggoda beberapa karyawannya. Mereka akan salah tingkah dan memancing temannya yang lain untuk ikut menggoda juga. Dan ternyata, itu bisa membuat suasana di cafe menjadi hangat dan lebih akrab.


"Apakabar kalian...? Aku sangat merindukan kalian..." Ucap Arinda lirih sambil menggeliat.


Titik air kecil mulai berjatuhan ke bumi. Gerimis menghiasi kecantikan danau di seberang sana, yang mungkin akan segera menghilang tertutup kabut. Arinda memilih meninggalkan balkon dan masuk ke dalam kamar. Kemudian...


Tok.. tok... tok...


Bi Imah sedang berada di balik pintu kamar, menunggu Arinda membukakan pintu itu untuknya.


"Bi Imah..." Sapa Arinda.


"Selamat siang, Mbak Arinda. Di luar sedang hujan, saya akan menutup pintu kacanya. Sama ini saya bawakan teh hangat dan kue. Buat teman Mbak Arinda, biar nggak kesepian karena nggak ada Mas Ardan..."


Bi Imah menggoda sampai hampir cekikikan karena melihat reaksi Arinda yang salah tingkah. Wajahnya memerah, hidungnya mengembang, ada senyum tertahan di bibirnya.


"Bi Imah ini, apaan sih..." Ucap Arinda malu-malu. Ia merasa tergelitik dengan ucapan Bi Imah. Tapi ada benarnya juga, Ardan sudah mewarnai beberapa harinya.


"Jangan gitu ah, Bi. Nanti istrinya denger lho..."


"Ups..." Bi Imah menutup erat mulutnya, seolah takut ada yang mendengar. Lalu mereka tertawa bersama.


Hujan semakin deras saat melewati tengah hari. Sudah waktunya makan siang. Arinda menuruni anak tangga dengan lunglai, karena berpikir akan makan siang sendirian di meja makan besar itu.


"Apa perlu aku gendong, Arin...?"


Tiba-tiba muncul suara yang tak asing dari arah belakangnya, ketika Arinda sudah melewati anak tangga terakhir. Ardan dan Victor sudah menunggunya, sambil berbincang di ruang keluarga. Langkah Arinda pun terhenti.


"Ardan...?" Arinda membalikkan badannya. "Kamu sudah pulang...?"


Wajah Arinda mulai cerah. Ia tersenyum sambil menunggu Ardan dan Victor yang mulai beranjak dari duduknya. Mereka menuju meja makan bersama.


"Maaf, aku agak lama tadi. Alvin tidak mau ditinggal, jadi aku harus membujuknya dulu." Ardan bicara saat Arinda mengisikan piringnya.


"Kenapa tidak diajak ke sini lagi...?"


"Dia kan sekolah besok."


Arinda terheran, mengerutkan keningnya sambil meletakkan piring di depan Ardan.


"Sekolah...? Bukankah dia masih 3 tahun...?"


"Dia sudah sekolah sejak umur 2 tahun. Tapi sekolah di rumah. Dia belajar bersama guru privat yang datang ke rumah setiap hari Senin sampai Kamis, dan hari Jum'at jadwalnya olahraga. Hari Sabtu dan Minggu dia baru libur."


Ardan menjelaskan panjang lebar selama mereka makan.Victor hanya menjadi pendengar setia. Arinda yang sesekali berkomentar hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.


Seusai makan, seperti biasa mereka akan istirahat sebentar di ruang keluarga. Membiarkan makanan dicerna dengan sempurna sambil membicarakan bermacam hal.

__ADS_1


Arinda memandangi tivi, tapi tangannya sibuk membalik halaman demi halaman sebuah majalah wanita yang disediakan di meja. Sementara Ardan dan Victor sedang membicarakan pekerjaan mereka.


"Arin..." Ardan memanggil Arinda setelah obrolannya dengan Victor selesai.


"Ya..."


"Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang."


"Hm..? Siapa...?"


"Panggil dia, Vic...!"


Victor segera memanggil orang yang dimaksud Ardan menggunakan ponselnya. Tak berapa lama, datang seorang lelaki bertubuh gempal berotot layaknya binaragawan, bersama lelaki yang serupa namun badannya sedikit lebih kecil.


"Hahh..., siapa mereka...?" Arinda bergumam dalam hati. Mengernyitkan dahi sembari memicingkan mata.


"Tunggu..., sepertinya aku pernah melihat mereka. Dimana ya...?" Arinda mengingat-ingat sesuatu.


"Selamat siang, Tuan Ardan, Tuan Victor, Nona..."


Mereka mengucapkan salam kepada semua yang ada di ruang keluarga itu sambil menganggukkan kepala.


"Siang Pak Alex dan Pak Johan. Ada yang ingin berkenalan dengan kalian." Ardan sedang ingin menggoda Arinda. Ia mengatakan itu dengan raut muka dan senyum liciknya. Dalam hati ia tertawa melihat tingkah menggemaskan Arinda.


"Apa...???" Arinda terkejut dengan ucapan Ardan. "Cihh, tadi kamu bilang ingin mengenalkanku dengan seseorang. Sekarang kamu bilang, aku yang mau kenalan sama mereka. Dasar licik..!!!"


"Halo Pak, saya Arinda." Arinda berdiri mendekati kedua orang itu, dan hendak berjabat tangan.


"Aku sedang berkenalan dengan mereka. Kan kamu yang menyuruhku berkenalan..." Sahut Arinda.


"Sudah cukup...!!! Biar aku saja yang memperkenalkan kalian. Duduk sana..." Ardan menyuruh Arinda duduk. Arinda pun melangkah kembali ke sofa dengan bibir manyun. Victor menjadi penonton setia dengan sesekali geleng-geleng kepala melihat tingkah Ardan yang tak seperti biasanya.


"Ini Pak Alex, kepala keamanan di rumah ini. Dan yang ini Pak Johan, dia kepala pengawal." Ardan memperkenalkan mereka satu per satu. Mereka sedikit menundukkan kepala, dengan masin melihat ke arah Arinda.


"Mereka ini orang-orang kepercayaanku. Pak Alex yang bertanggung jawab atas keamanan di seluruh sudut rumah ini. Sedangkan Pak Johan akan mengawalku kemanapun ketika dibutuhkan. Dan mereka ini......"


Ardan ragu melanjutkan kalimatnya. Ia melirik Arinda. Kemudian terkejut sendiri saat Arinda juga melihat ke arahnya. Arinda menunggu kalimat selanjutnya.


"E..." Ardan menelan ludah saat melihat Arinda menatapnya dengan lebih tajam.


"Dan apa...???" Ucap Arinda tiba-tiba dengan sedikit berteriak, membuat Ardan seperti lepas kendali.


"Mereka lah yang menculikmu malam itu...." Ardan mengucapkan itu dengan cepat karena terkejut.


"Apa...???" Arinda semakin berteriak, terkejut.


Pak Alex dan Pak Johan menundukkan kepalanya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Kalimat Ardan sungguh membuat mereka tersiksa. "Bukankah kami melakukan itu juga karena perintah anda, Tuan..."


"Oo..., jadi kalian orangnya...!!!" Arinda beranjak dari tempat duduk, mendekati kedua orang itu.


"Apa kalian bisa menjelaskan sesuatu padaku...?" Arinda memasang wajah mengancam dan tak bersahabat. Ia berdiri tepat di depan Pak Alex. Memicingkan matanya mengintimidasi. Satu tangannya melintang di dadanya, dan tangan lainnya sedang menopang dagu. Ia menatap mata Pak Alex tajam.

__ADS_1


Tak ingin berlama-lama sengan situasi itu, Pak Alex mulai membuka suara.


"Benar, Nona. Kami yang melakukan. Kami mohon maaf, Nona..." Ucap Pak Alex tegas, masih cukup tenang. Seolah tak terpengaruh dengan tatapan Arinda.


"Kenapa aku bisa pingsan waktu itu...? Apa kalian memukulku...?"


"Tidak, Nona. Kami tidak memukul anda. Kami hanya takut jika ada yang medengar teriakan anda, karena anda berteriak cukup keras saat itu. Jadi kami memakai obat bius untuk...."


"Apa...??? Kalian membiusku...??? Benar-benar tega ya kalian..."


"Sebenarnya, kami tidak berniat menggunakan bius itu, Nona. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Tapi ternyata, kami harus menggunakannya saat itu." Gantian Suara Pak Johan yang terdengar. "Anda memberontak cukup kuat dan berteriak keras sekali. Meskipun sedang hujan deras, tapi kami takut jika ada yang mendengar teriakan anda, Nona."


Arinda kesal mendengarkan penjelasan mereka. Ia membayangkan, betapa lemah dirinya saat itu.


"Maafkan kami, Nona..." Ucap keduanya hampir bersamaan.


"Siapa yang menyuruh kalian...?" Tanya Arinda kemudian. Meskipun sudah tahu jawabannya, Arinda ingin mereka menjawabnya.


Keduanya hanya melirik Ardan yang ada di sebelah kiri mereka. Sepertinya kedua orang itu sedang memberi isyarat dengan ekor mata mereka, karena tak mampu menyebutkan nama.


Arinda yang masih ingin mendengar jawaban mereka, mengulangi pertanyaannya lagi.


"Siapa yang menyuruh kalian...?" Kali ini, nada bicaranya cukup menakutkan, dan membuat kedua orang itu memilih bicara.


"T.. Tu.. Tuan Ardan, Nona..." Ucap Pak Alex yang ingin mengakhiri semua dengan cepat.


"Hey..., kalian..." Ardan tidak terima, ia menunjuk kedua orang bertubuh gempal itu. Tapi tatapan Arinda yang seperti hendak menelannya, membuat Ardan tak berani berkata apa-apa lagi.


Arinda tersenyum sinis sambi menatap mereka satu per satu. Terlihat jelas ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.


"Aku akan membuat perhitungan dengan kalian bertiga." Ucap Arinda.


"Apa...?Hey, kenapa tiga...?" Tanya Ardan yang masih tidak terima.


"Aku akan membalas perbuatan kalian...!!!"


Kedua orang kepercayaan Ardan itu hanya pasrah mendengar ucapan Arinda. Sedangkan Ardan yang ingin bicara lagi, seketika terdiam saat mata Arinda tiba-tiba menatapnya tanpa ampun. Mereka berdiri membeku di tempatnya.


Victor yang dari tadi menjadi penonton setia, cekikikan melihat tingkah mereka. Apalagi saat melihat Ardan yang tak berkutik di hadapan Arinda.


"Hey, kamu..." Tiba-tiba Victor menciut mendengar teriakan seseorang tertuju padanya. Ia memandang pemilik suara itu.


"Pikirkan balasan yang tepat untuk mereka...!!!"


"Hey, Nona. Kenapa kau melibatkanku..? Aku kan tidak melakukan apa-apa..." Victor berteriak tak berdaya ke arah Arinda yang sudah menaiki anak tangga.


"Aku menunggu jawabanmu...!!!"


Arinda berteriak. Victor merasa terintimidasi dengan tatapan sekilas Arinda yang cukup tajam dari lantai atas. Kemudian Arinda menghilang di balik pintu kamarnya.


Keempat lelaki gagah di lantai bawah, hanya saling pandang dan masih tak mengerti dengan apa yang yang terjadi. Menjadi bulan-bulanan gadis kecil yang mengerikan di siang bolong.

__ADS_1


"Ish.., Benar-benar.." Ardan merasa terjebak dengan permainannya sendiri.


__ADS_2