
Jekrek..jekrek..
Suara dari pintu kamar Arinda. Membuat Arinda terperanjat, merasakan takut yang luar biasa.
"Rupanya terkunci dari luar.." gumam Arinda di dalam hati.
"Siapa yang datang..? Ya Tuhan..kejutan apa lagi yang akan Kau suguhkan padaku..?" Lanjut Arinda, yang diikuti perasaan cemas, takut, dan tiba-tiba seluruh badan Arinda merinding. Ketika ia teringat seperti apa keadaan dirinya saat ini.
Arinda membelalakkan matanya, sambil dengan cepat tangannya menutup seluruh badannya dengan selimut, hingga sampai ke lehernya. Tangannya mulai gemetar, dan detak jantungnya semakin berdegup kencang.
Saat pintu terbuka.
"Ehh.., Selamat pagi Mbak Arinda.." Suara ramah seorang perempuan yang sedikit terkejut melihat Arinda sudah bangun dan duduk di ranjangnya itu. Arinda yang sedari tadi hanya memejamkan mata sambil tertunduk ketakutan, mulai berani membuka mata dan menoleh ke sumber suara.
"Selamat pagi.." balas Arinda kepada seorang wanita yang menyapanya. Rambut wanita itu sudah mulai memutih itu. Dengan balutan setelan kebaya sederhana dan bawahan kain jarik. Kostum khas pembantu di sinetron-sinetron televisi.
Di belakang wanita itu, 2 orang gadis yang jauh lebih muda mengikutinya. Dengan satu orang membawa nampan berisi botol-botol kecil, dan seperti tungku kecil. Entah apa itu, Arinda tak peduli. Dan satu orang lainnya membawa setumpuk baju. Arinda pun tak begitu menghiraukan itu.
"Mbak Arinda mau mandi sekarang..?" tanya wanita tua itu.
"Iya bu.." jawab Arinda tanpa berpikir panjang. Ia hanya ingin segera membersihkan diri dan ganti baju. Itu yang paling penting saat ini, pikirnya. Karena ia merasa risih dengan baju tidur yang ia pakai.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum, kemudian memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah.
"Saya Imah, kepala rumah tangga di rumah ini.." Melihat Arinda yang sedikit heran dengan apa yang ia sampaikan, wanita itu menjelaskan kembali kalimatnya.
"Saya kepala pembantu, Mbak.." lanjutnya masih dengan senyum di bibirnya. "Panggil saja Bi Imah.." lanjutnya lagi, sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Ooh.. iya Bi.." jawab Arinda singkat sambil mengangguk pelan.
"Kalau begitu, biar Indah dan Siti membantu Mbak Arinda mandi.." kata-kata Bi Imah membuat Arinda terperanjat, dan spontan Arinda menggeleng cepat dan mengibaskan kedua tangannya, tanda tidak setuju. Hingga selimut yang ia pakai untuk menutup badannya pun melorot.
"Ah.. nggak usah Bi..,, saya bisa sendiri.." sahut Arinda, sambil kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Wajah Arinda memerah, malu karena selimutnya yang sempat melorot.
"Tidak apa-apa mbak Arinda.., tadi malam kami juga yang mengganti baju mbak Arinda.." Bi Imah memberitahukan sesuatu untuk menepis rasa malu Arinda. Ia tahu, Arinda merasa malu saat itu.
"Apa..?" pekik Arinda di dalam hati. "Bajuku basah, dan aku pingsan." Sambil memejamkan mata, Arinda mencerna kata-kata Bi Imah dan mencoba mengingat-ingat sesuatu. Belum menemukan sesuatu yang Arinda cari, kedua gadis yang dibawa Bi Imah mengajaknya untuk segera mandi.
"Ayo Mbak Arinda, saya bantu ke kamar mandi.." kata seorang gadis itu. "Saya Indah, saya akan bantu Mbak Arinda pijat dan luluran." katanya lagi.
"Dan itu Siti, dia akan membantu mbak Arinda mencuci rambut dan merapikan kuku Mbak Arinda." lanjutnya sambil menunjuk ke arah Siti.
"Hahh..? Mereka ini apa-apaan sih.." gumam Arinda di dalam hati. Arinda masih belum mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Ia merasa telah diculik, tapi kenapa mereka memperlakukan ia dengan cukup istimewa seperti ini. Tapi kalau bukan diculik, kenapa ia sampai di tempat asing ini. Atau jangan-jangan, mereka sedang syuting sinetron, dan membawaku kesini untuk peran pengganti. Celingukan sambil mencari-cari, siapa tahu ada kamera tersembunyi. "Tidak ada.." pikirnya.
__ADS_1
Lalu Arinda mengerutkan dahinya, mencurigai mereka bertiga. Atau jangan-jangan, mereka akan menjualku. Mereka bilang akan membantuku mandi, pijat, luluran, mencuci rambut, merapikan kuku. Setelah aku mandi, rapi dan wangi, mereka akan menyerahkanku kepada om-om mata keranjang. Tiba-tiba seluruh badan Arinda merinding, membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Versi dia sendiri tentunya, hehehe. Arinda sibuk sendiri dengan khayalan menakutkannya.
"Tidak..." teriak Arinda tiba-tiba. Ketiga wanita itu pun kaget mendengar suara teriakan Arinda yang memenuhi kamar itu. Bahkan Arinda sendiri pun terkejut dengan teriakannya. Krik..krikkk.., krik..krikkk.. suasana mendadak hening. Tiga pasang mata sedang tertuju kepada Arinda. Dan Arinda hanya mampu mengedipkan mata dengan cepat berulang kali.
"Mmm.., Maksud saya.., tidak usah dibantu, saya bisa mandi sendiri.." Arinda menjelaskan maksud teriakannya tadi (Meskipun sebenarnya bukan itu. Hihihi). Sambil mencoba tersenyum semanis mungkin, tapi gagal. "Aduhhh.." gumamnya lirih sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal dan menyembunyikan wajah malunya.
Bi Imah menangkap perasaan khawatir dari raut muka dan sikap Arinda. Lalu dengan lembut memberikan pengertian kepada Arinda, bahwa disini dia akan baik-baik saja dan tidak akan celaka. Justru disini, Arinda akan dilayani seperti ratu. Tidak ada yang perlu Arinda kerjakan. Hanya perlu menikmati hari-harinya disini, sampai saatnya tiba.
"Tenang saja Mbak Arinda, kami akan menjaga Mbak Arinda dengan sebaik-baiknya." Ucapan Bi Imah menenangkan. Lalu tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Arinda pun memberanikan diri bertanya kepada Bi Imah.
"Sebenarnya ini dimana, Bi..?" tanya Arinda yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Bi Imah. Lalu Arinda bertanya lagi, "Siapa pemilik rumah ini, Bi..?"
Bi Imah hanya menjawab, "Saat semua sudah siap nanti, Mbak Arinda akan tahu semuanya.." dan beberapa pertanyaan Arinda juga dijawab dengan kalimat yang sama. Sebelumnya, Bi Imah sudah memberikan nasehat agar Arinda tidak banyak bertanya, tidak banyak berpikir yang tidak-tidak, tidak berprasangka buruk dan tidak menyusahkan para pekerja dirumah ini dengan mencari informasi melalui mereka.
"Kalau ada yang Mbak Arinda butuhkan, katakan saja kepada penjaga di depan pintu kamar. Mereka akan menyampaikan kepada kami." kata Bi Imah mengakhiri pertemuan pertamanya dengan Arinda hari ini.
"Ada 2 penjaga di depan pintu kamarku. Ada 2 orang yang sedang membantuku mandi sekarang. Ada kepala rumah tangga. Yang pasti, ada segala kemewahan di tempat ini. Pasti tempat ini sangat luar biasa." Pikir Arinda. "Tapi itu tetap tidak berhasil membuatku menikmati hariku di tempat ini." Batin Arinda masih berkecamuk tidak karuan. Ia hanya berusaha untuk menenangkan diri. Mencerna dan mempercayai kata-kata Bi Imah. Dan meyakinkan diri bahwa dirinya akan baik-baik saja, seperti yang sudah disampaikan Bi Imah tadi.
Karena apa pun pertanyaan Arinda kepada siapa pun di rumah ini, mereka hanya akan menjawab dengan kalimat yang sama.
"Saat semua sudah siap nanti, Mbak Arinda akan tahu semuanya."
__ADS_1
Arinda menghela nafas dengan pelan. Sambil menatap langit-langit kamar mandi mewahnya, Arinda benar-benar menikmati mandi paginya hari ini, bersama 2 pelayan yang memandikannya.